Early Summer In London

Home Office Inggris mirip departemen dalam negeri nya NKRI, tapi disini
juga berurusan dengan segala kegiatan orang asing. Sebagai TKI, tentu
juga saya harus berkenalan dengan Home Office. Karena itulah, hari
Kamis kemarin saya bersama seorang teman TKI diminta datang ke London
untuk company audit. Karena perusahaan yang mendatangkan pekerja migran
harus diaudit oleh Home Office.

Mungkin kebetulan saja, saya berdua dengan teman terkena sampling
random. Sekedar dua sample mahluk pekerja migran diantara puluhan yang
telah didatangkan perusahaan. Sekalipun dianjurkan untuk santai-santai
saja tidak perlu takut atau tegang, tapi saya dan teman tetap saja full
persiapan. Bukan hanya paspor, segala dokumen kembali dipelajari, visa
dan teruatama ijin kerja dan kontrak dibaca bolak-balik. Untuk urusan
seperti ini, paspor saja terkadang tidak menolong

Jam 7:30 saya sudah antri tiket Ferry sekalian disini pesan tiket
Kereta Api. Lumayan mahal hampir 70 GBP (sekitar 1,3 juta rupiah) untuk
day return dari Cowes – SouthamptonLondon dan sebaliknya. Mahal
katanya karena tiket business-day sebelum jam 9. Harga ongkos itu
termasuk discount karena menunjukkan kartu-karyawan, comapany card.
Sebelumnya saya selalu wanti-wanti untuk selalu membawa Company-Card
agar ongkos Ferry dapat kortingan,

Sepuluh menit kemudian saya sudah ngebut diatas jet-ferry, sailing
crossing the Solent perairan dengan tol termahal sa-dunia.  Tidak ada
yang istimewa, semua penumpang tenggelam dengan koran pagi, The
Independent, Trafalgar, Daily Morning atau dengan laptop nya
masing-masing. Sebagian anak anak membuka Nintendo DS, dan orang muda
sibuk menggoyang-goyangkan kepala karena kedua kupingnya tersumbat
microphone iPod.. Saya sendiri sibuk chatting dengan pikiran sendiri,
nanti di London harus ngomong apa ?.

Deg-degan saya, boleh jadi sama dengan yang dirasakan para TKW yang
bekerja di Timur Tengah setiap kali harus menghadap Petugas dari negara
tuan rumah. Tentu saja tidak ada yang lebih nyaman daripada hidup
nyaman di negeri sendiri. Sekalipun mungkin lebih deg-deg-an jika
mendapat panggilan polisi POLSEK di Bandung. Karena konon anggota POLRI
lebih terampil dan selalu sukses dalam menanyai orang.

Jika kali ini ada yang membuat saya percaya diri, tentulah karena
kemarin saya sudah minta ijin cuti khusus ke line-manager saya, cuti
atas panggilan negara istilah dulu waktu di Bandung. Selebihnya,
sebagaimana ucapan Ida salah seorang TKW yang dulu sempat ketemu di
bandara Abu Dhabi, katanya,
“Ya… kalau sampai diapa-apain mah atuh…. Kita pasrah saja sama Yang
Diatas.”.

Dan saya juga masih terngiang sepenggal syair lagu yang diteriakkan
buruh demonstran yang bernyanyi di Trafalgar Square, “ … kami tidak
takut bekerja keras….  Kami tidak takut mati…… kami hanya tidak mau
bekerja pada orang yang serakah….!!”.

Dengan bekal quote dari Ida yang TKW, teriakan berani para pekerja yang
sedang berdemo, dan keyakinan bahwa semua manusia menyenangkan pada
dasarnya. Maka saya hentikan segala deg-deg-an dan kecurigaan.

Tidak lebih setengah jam kemudian, jet-ferry merapat di pelabuhan
Southampton. Jaket hitam multi purpose, yang setia menyelimuti saya
selama lebih 3 tahun ini terpaksa dibuka. Karena summer is coming,
karena semua orang juga menenteng jas nya ditangan. Lebih dari itu,
karena pagi ini terasa hangat dan terang benderang.

Berlomba jalan cepat keluar dermaga  menuju bus-stop ternyata punya
cerita sendiri. Saya yang spesialis pedestrian tentu saja unggul lebih
duluan mencapai pintu bus City Link, bus gratis pemkot Southampton.
Saya berdiri disamping bapak bule senior seusia Abah saya yang berdiri
dengan sedikit tremor. Saat bunyi joss hidrolik pintu bus mulai
terbuka, saya persilakan si bapak naik duluan….dan,

“Oooo thank you …young man… God bless you”, katanya tersenyum yang
menampakkan deretan gigi abu-abu nya sambil nepuk-nepuk pundak saya.
“No problem….”, saya niru jawaban umum Englishman, “semoga negeri anda
juga tambah makmur dengan kehadiran saya…..”, tapi yang ini dalam hati
saja.

Southampton Central station masih seperti 7 tahun lalu, bangku-bangku
besi cat putih dan lantai platform bergaris kuning tebal yang
memperingatkan calon penumpang supaya tidak berdiri terlalu dekat rel
kereta. Berbagai Kereta datang dan pergi silih berganti. Dengan cat
warna warni, sesuai selera operator, Virgin masih dominan merah, Cross
Country yang baru kombinasi abu putih dan biru, Wessex dan juga
SouthWest Train biru merah yang akan membawa saya ke London.

Ritual duduk didalam kereta api, rupanya sama dengan ritual duduk di
atas Ferry. Orang-orang buka koran, buka laptop, chatting pake Black
Berry atau Nokia atau juga sekedar geleng-geleng kepala dengan penutup
putih di kuping. Cuma saja orang di samping dan di seberang saya sibuk
membuka-buka lembaran kertas HVS dan sama-sama memberi catatan dengan
pinsil, yang satu terbaca Dubai draft contract, satunya lagi … Malaysia
Finance ….…. samar-samar.

Tanpa suara, tanpa gemuruh, tanpa lonjakan, tanpa goncangan, kereta
begitu saja meluncur. Terus saja sunyi sampai stasion Waterloo London,
bahkan tidak terdengar percakapan apapun. Kecuali bunyi tik-tik
keyboard dan gemerisik kertas koran dibuka. Sepertinya, jam kerja
dimulai sejak orang duduk di kursi kereta.

Kereta calling for Winchester, singgah maksudnya, dan penumpang yang
naik dari sini yang semuanya tampak lebih perlente membuat gerbong
menjadi penuh. Dan pagelaran lembar HVS yang bertulisan “contract” pun
lebih meriah. Ini pula yang membuat saya lebih nyaman, karena artinya
pasti akan semakin banyak job disini.

Seperti biasa, kereta api Inggris dikenal sebagai kereta karet diantara
perkereta api-an negeri Eropah. Melewati station Vauxhall, speaker
bersuara memecah keheningan dengan suara permintaan maaf sang
masinis…..apologise for 5 minutes late…. Terdengar nyaring dengan suara
tenor yang mantap.

Konon, menurut teman-teman yang bekerja di Jerman, Perancis, dan
Belanda, toleransi keterlambatan KA di negeri-negeri itu 0.0 detik,
entahlah. Tapi dulu waktu saya cerita soal kereta karet Inggris, si Ken
yang orang Manchester berkilah, katanya karena British Railway dikelola
manusia, dikelola secara human. Tidak seperti railway nya negara-negara
Eropa daratan yang dikelola oleh Machine….

Pledooi nya si Ken membuat saya sempat takjub. Mungkin karena dikelola
oleh human juga, makanya perkerata-api-an Indonesia selalu rugi dan
kumuh. Tapi entahlah.
Karena menurut si Ken, Kereta terlambat 5 menit atau 1 jam, sangat
manusiawi.

Station Waterloo juga ternyata masih seperti dulu, rame serasa di
bandara. Orang-orang pada berdiri begerombol menonton display
elektronik deretan jadwal kereta ke berbagai jurusan Inggris sampai
jadwal Eurostar ke daratan Eropa.

Karena semua orang berjalan selalu cepat, maka saya terpaksa ikutan
jalan cepat, sekalipun belum tahu mau berjalan kearah mana. Teman saya
yang aselinya dari Ciroyom berteriak cukup jauh dibelakang. Dia
menunjukkan papan bergambar bulatan biru yang khas dengan tulisan
Underground merah ditengahnya. Ditengah lalu lalang orang, sangat jelas
terdengar suara teman saya yang sangat berbeda….
“Itu….euy tube…”, kecuali tube, ini teriakan aseli Sunda, bahasa darah
daging saya yang bergema ke seantero Station Waterloo yang beratap
tinggi trusses baja.

Dan saya segera saja menyusul dia menuju station kereta bawah tanah.
Persis pengalaman pertama, kali ini juga sengaja beli karcis dari mesin
yang sama seperti 7 tahun lalu. Seolah berusaha melestarikan sejarah.
Hanya saja kali ini beli tiket pake kartu debit, tidak seperti dulu
mengucurkan recehan coin. Ada kemajuan lah karena teman saya sekarang
berani bayar-bayar apapun pake kartu plastik saja.

Sesuai tujuan ke Finchley Road, maka Jubilee Line adalah jalur tube
yang akan dipergunakan. Dan karena seperti orang Banjaran udik yang
kebetulan traveling ke Jakarta, maka akan bersenagja melihat-lihat
jakarta biarpun sudah berkali-kali. Saya juga aji mumpung, mumpung di
London sepantasnya lah berkeliling dulu kota London. Untuk itu dipilih
tiket one-day traveler, naik tube sekenyangnya. Ongkosnya 9.4 pounds
(sekitar 170 ribuan). Cukup murah dibanding ongkos-ongkos di tempat
saya Isle of Wight.

Empat baris tangga elevator turun yang menuju platform Jubilee Line
dipenuhi orang. Sadar sedang berada di terowongan raksasa yang dalamnya
sampai 100 m dibawah tanah, selalu saja menerbitkan pikiran-pikiran
buruk. Kalau-kalau listrik mati, elevator mati, lalu gelap pula. Atau
lebih seru lagi kalau-kalau banjir seperti rutin menenggelamkan kota
Jakarta, gimana ?. Tapi orang sini enteng saja, cukup percaya sama
pemerintah saja, atau cukup percaya saja pada tukang-insinyur.

Menunggu kereta datang yang akan keluar dari lubang hitam pekat,
ternyata asyik juga. Tanda-tandanya jika tiba-tiba terasa ada angin,
maka kereta sudah dekat. Karena ukuran penampang kereta mepet sekali
dengan ukuran lubang terowongan. Maka jika kereta bergerak, seperti
plunyer bergerak didalam tabung pompa. Dan kita yang berdiri di
platform merasakan angin hasil pompaan gerbong kereta.

Gerbong Kereta masih menyediakan cukup ruang untuk penumpang berdiri.
Karena mungkin jam 9 orang-orang masih sibuk ditempat kerja, Cukup
kencang kereta melaju dan gemuruh pula. Saat speaker mengumumkan “next
station is Swiss Cotage”, saya mulai pasang kuda-kuda. Karena satu
perhentian lagi akan sampai tujuan. Station Finchley Road berada diatas
tanah, tapi stationnya tetap saja disebut “underground”, dan orang
menyebut keretanya juga masih “tube”.

Sekeluarnya dari station, seperti biasa saya mengajak teman saya untuk
melakukan ritual turis Amerika dan Australia yang datang ke London.
Ritual berteriak, tapi pelan saja, “ Here we are in London..”. Entah
apa maksudnya. Mungkin mereka yang jaman dulu datang ke London serasa
kembali ke peradabannya setelah hidup dalam pembuangan atau juga
kembali dari penjelajahan.

Kantor tempat bertemu dengan petugas Home Office berada di lantai 5,
yang berupa penthouse. Ternyata saya sampai ditempat masih 2 an jam
lagi sampai pada “moment of truth”. Menunggu memang tidak nyaman.
Apalagi menunggu pemeriksaan, pikiran mencoba menebak-nebak kira-kira
apa yang akan ditanyakan, akan sedetail apa materi pemeriksaan, juga
akan se-sangar apa tampang si pemeriksa. dsb. dsb.

Jam 10 an bel tamu berbunyi, di TV monitor tampak laki-laki bule
setengah baya bicara minta ijin masuk, tapi suaranya tidak terdengar.
Resepsionis menekan tombol remote pembuka pintu. Dan kita dua TKI
segera merapikan diri, sekaligus berlomba ke WC. Sesuai teori
psikologi, konon WC selalu menyediakan perlindungan bagi orang yang
sedang stress.

Beberapa saat kemudian, tamu bule perlente berjas biru tua bersama 2
temannya sudah sampai dilantai atas. Tapi, kepada resepsionis dia
bilang bahwa dia building manager dari bangunan kantor dan minta ijin
untuk ke atap gedung melalui jendela yang ada disini. Rupanya, mereka
tukang betulin atap, dan bukan petugas Home Office yang sedang
ditunggu-tunggu. Ketegangan di-dada pun me-reda.

Ketika jam menunjukkan 11 kurang 5, bel tamu kembali berbunyi. Dilayar
TV monitor kembali tampak kepala, tapi muda dan rada gundul. Setelah
terdengar suara perempuan, resepsionis memberi tahu, “Now…. They are
Home Office guys..”. Tapi kali ini, saya tidak tegang lagi. Ketegangan
sudah habis oleh tukang betulin atap.

Ketegangan semakin sirna setelah kita bersalaman, mereka berdua laki
dan perempuan yang masih muda-muda. Tentu saja, confident pun naik ke
kepala. Dan saya besemangat untuk maju jadi yang pertama diwawancara.
Betul saja seperti orang bilang, “Jika adu keyakinan, maka usia yang
akan menentukan”. 

Saya camkan saja dalam hati, saya puluhan tahun hidup, datang jauh-jauh
kesini untuk cari hidup. Sementara mereka, tidak lebih lama merasakan
hidup tapi sudah sejak lahir disini selalu menikmati hidup. Dan
jampi-jampi ini mujarab. Sejauh ini audit berjalan mulus. Atau seperti
si Jason owner kantor bilang saat neraktir special lunch di restoran
China …so far so good. Semoga saja begitu hasilnya nanti.

Karena so-far-so-good itu pula, berdua dengan teman TKI saya bisa enjoy
menikmati teriknya summer di London. Naik-turun dan keluar masuk lubang
Underground, jeprat sana jepret sini foto-foto. Juga selonjoran di
taman Hyde Park. Tapi sementara ratusan atau ribuan orang berjemur
dibawah terik matahari sore, kita ikutan berjemur dibawah pohon rindang
saja. Karena panas-panasan sudah bosen saat di Bandung.

Seolah tidak mau rugi karena telah beli tiket kereta Underground untuk
seharian. Sekalipun dengkul mulai gempor tapi semangat mencicipi Tube
tetap menyala. Lalu lihat buku kecil Tube-Map kembali, Station terdekat
Marble Arch ambil Central Line nanti ganti di Bond Street lalu ambil
Jubilee Line turun di Westminster, karena aneh kalau ke London kok
tidak menziarahi Big-Ben.

Hampir seribu foto-foto hasil jepretan sejak 2001, mulai kamera film
sampai digital, ternyata isinya Big-Ben, parliament buiding, London
Eyes melulu. Tapi kali ini tetap saja gantian bergaya lagi dengan latar
belakang Big-Ben. Seolah Inggris identik dengan Big-Ben.

Jam 8 petang langit masih terang. Tapi karena dengkul mulai gempor
dipake keluyuran, maka diputuskan untuk mengahiri acara summer in
London. Waterloo station dekat saja jaraknya dari Westminster.
Keinginan berfoto-foto rupanya mengalahkan “tak mau rugi” telah beli
tiket one-day Underground. Maka dengan kamera tetap ditangan, kita
berjalan kaki menuju station Waterloo.

Gerbang masuk station Waterloo melalui footbridge gedung Shell company.
Perjalanan sangat lambat karena setiap 10 meter kita berpose foto-foto.
Tepat dimulut pintu masuk station ada patung perunggu. Tentu saja
jepret lagi jepret lagi, sampai kedalam hall station yang rangka
atapnya dari trusses baja, juga menarik untuk di jepret. Tapi kali ini,
semangat menjepret harus diakhiri….

Lima orang polisi, celana biru tua, baju putih lengan pendek, berjaket
rompi kuning spotlite menghampiri kita berdua. Komendan nya sambil
mengarahkan matanya kearah kamera yang dipegang teman saya, menyapa
dengan ramah, katanya “You must be in traveling…..”.

Tentu saja seperti semua orang, saya juga senang jika ada yang menyapa
dengan ramah. Dan kita menjawabnya dengan tak kalah ramah. Teman saya
orang Sipil, dengan antusias menjelaskan ketertarikannya dengan
struktur atap station. “Ya…ya,… it’s great structure design…
beautiful…” dan entah apalagi sambil nunjuk-nunjuk ke langit-langit
gedung.

Tapi polisi-polisi itu tidak tertarik dengan keindahan bangunan. Mereka
hanya sedang bertugas mengamankan fasilitas umum dari segala ancaman
teroris. Dan menurut penjelasannya, salah satu yang bisa dianggap
sebagai suspected kelakuan teroris adalah mengambil foto struktur.
Pemerintah Inggris boleh jadi trauma dengan kejadian bom London 7/7
2005. tapi juga sangat hati-hati dengan ekses tertembaknya seorang
warga Brazil yang tidak bersalah.

Orang Barzil ini yang bekerja di Inggris ketika itu tidak tahu ada
polisi yang menghampirinya, perhatian dia sedang tertuju ke arah Kereta
Api yang akan dinaikinya. Saat kereta mulai bergerak maju, dia berusaha
lari mengejar. Dan polisi yang bermaksud menanyainya mengira orang ini
melarikan diri dan…di dor lah.
Setelah itu tidak ada lagi polisi di tempat umum yang pegang senjata
api. Juga kali ini, para polisi bertangan kosong. Kalau saya iseng
lari, paling juga hanya diteriakin.

Pak polisi berulang-ulang menjelaskan bahwa mereka tidak bermaksud
offense. Tapi semata-mata random saja, kebetulan juga kita berdua
menggendong tas yang massive, alias buntelan besar karena berisi jaket
dan perlengkapan kamera.

Tanya jawab lebih mirip obrolan ramah tamah ketimbang interogasi
didepan umum. Tapi tetap saja mereka mengisi form pertanyaan, mulai
nama, alamat, berat dan tinggi badan, pekerjaan sampai wana baju dan
sepatu.

Dan beruntunglah, kita membawa Company-Card, kartu karyawan. Dan waktu
mereka membaca nama perusahaan, mereka pun riuh…..
“Oo… you are aerospace engineer…..this is a big…big company…isn’t
it…”.
Katanya.
Dan sekarang gantian kita berdua yang tercengang.

Sementara saya nungguin teman yang sedang di-“interogasi”, saya tanya
ke polisi satunya lagi, apa saya juga perlu memberi keterangan seperti
teman saya. Setengah bingung, polisi yang lebih senior malah menyuruh
polisi yang lebih muda untuk menanyai saya…. “ You handle him…….”,
katanya kepada si polisi muda.
Lalu mendekati saya dan berbisik…”He is a policeman but he is an
avionic engineer ….as well…”, sambil tersenyum dan ngeloyor pergi.

Polisi muda ini pun menghampiri saya sambil senyum-senyum, dan sebelum
dia nanya, saya tanya duluan…..  “Ah…. you are an avionic
engineer…aren’t you ?”.

Bukannya menginterogasi, si polisi malah cerita pengalaman kerja dia.
Dulu lulusan universitas di Australia. Pernah kerja di perusahaan
avionik, pernah pula jadi orang struktur… status sekarang sebagai
engineer di angkatan udara, yang mulai 6 bulan lalu ditugas rangkapkan
sebagai polisi. Dan, surprisingly, dulu pernah melamar ke perusahaan
tempat saya bekerja sekarang…. But I was failed, katanya.

“How did you get your qualifcation….?”, dia nanya.
“That was my twenty years experience…… I spent almost the half of my
life time for this….. and now I am here”, saya serasa curhat dengan
sesama teman senasib.

Saat dia nanya usia saya, dia rupanya baru sadar tugas dia sebenarnya..
Lalu mengeluarkan form isian dan melanjutkan pertanyaan, “Your birth
day ?”, tanyanya.

Tapi setelah saya jawab, malah dia kembali diam mikir sambil
mengetuk-ngetukan ballpoint ke telapak tangan kirinya. “ 20 tahun kerja
dimana ?”….penasaran dia.

Setelah cukup panjang saya curhat sampai cerita krismon Indonesia, dia
menimpali…. “ O…. dear…. I know, that was a bad thing for your
country..”.
Saya ingat betul raut mukanya saat dia mengatakan kata-kata ini.

Dan saya tidak sungkan saat meminta alamat email-nya, barangkali saja
suatu saat dia ingin mendapatkan info tentang perusahaan tempat kerja
saya, yang dulu dia gagal melamarnya. Karena, menurut teman polisi muda
satunya lagi, yang belakangan ikut nimbrung, dia masih berminat kerja
diitempat kerja saya sekarang sebagai orang struktur.

Begitulah, early summer in London.
Polisi, petugas Home Office, supir bus, masinis kereta api, TKW dan TKI
adalah manusia juga. Sekedar menjalani hidup dan selalu berupaya
mencari penghidupan yang lebih baik.

Hyde Park,, 20080510

Selembar Sarung Lebaran

Selembar sarung lebaran

Terlipat rapi di sudut kopor, maka cukup alasan untuk dikira
baju flanel koboy…atau kain rok peniup trompet orang Skot…
tapi…lipatan yang ku pegang nyata-nyata selembar sarung….

Enak jatuhnya, dan lembut laksana sutera…
lembek dan nyaris transparant….
Sarung-ku katun randu asli tenunan Majalaya
pemberian Mmak-ku di lebaran selikur tahun lalu
Sebagai pelipur agar aku tidak merajuk minta baju baru

Sarung-ku se-sakti baju astronot…kosmonot juga…
penghangat rasa dingin dan sepi
tapi juga penyejuk saat udara dan hati panas membara

Aku belum bilang, sarungku berudara tekan
terutama saat-saat dalam kesendirian….
Sekaligus mengurangi tekanan saat under pressure..

Sarung-ku boleh dibilang berwarna pastel teramat muda….
tapi teman madura-ku ngotot…warnanya “biruh daon” dan pudar…
Ya..biar saja, mau pudar ..mau pastel yang penting rasanya…
rasanya itu lho….mmmmmmmhhh
Bahkan overcoat 50 pound tak bisa menyaingi tali rasa
yang embedded dalam jalinan benang tenunan….

Pagi ini sarung-ku sengaja kukeluarkan
dengan khidmat laksana membuka bendera pusaka
Lalu…aku hamparkan ke arah tenggara…..
sekedar pelipur lara…

Kebiasaan menghampar, kebiasaan orang susah seperti ini
biasa aku lakukan hanya jika ketemu rasa suka atau rasa duka…

Tapi jika tak punya perasaan….aku suka meninggalkan….

Sarung-ku sarung lebaran…sarung saat aku dalam ketakutan.

IoW, june 2001

Bacaan, Pemilahan, Timbangan dan Pengulangan

Bacaan adalah referensi yang tidak berubah,
tidak boleh diubah oleh pikiran, tidak lapuk karena waktu.
Dan tidak juga terurai, kecuali menjadi deretan huruf-huruf
mulai alif sampai hamzah iya…. (yang wallahualam artinya  apa
sebagaimana arti alif-lam-mim atau tho-ha).

Bacaan adalah zat dasar, sebagaimana unsur-unsur kimia dalam
daftar periodik unsur-unsur…
Mengurai unsur-unsur hanya akan mendapatkan proton, elektron & netron.
Tapi tidak akan mendapatkan molekul atau materi yang siap telan.

Pemilahan adalah upaya pencarian, pengenalan, pengelompokan,
pemisahan makna-makna unsur yang tergali atau ditemukan. Untuk kemudian
membentuknya, menyusunnya atau membangunnya menjadi rancangan
molekul, benda gas cair padat atau bangunan apapun.

Timbangan adalah neraca, penaksir atau penilai yang dipergunakan untuk
menentukan apakah suatu rancangan molekul, benda atau bangunan memiliki
manfaat besar atau kecil atau malah mudarat.

Hidup … persis seperti pelajaran “Design Process”.
Harus ada DR&O, referensi, philosophy design, harus ada development,
ada preliminary, ada detail, ada CDR dan cek-ricek serta ada iterasi

Bahkan pun setelah masuk proses produksi….harus ada conformity
dan sertifikasi…. dan tetap saja harus ada cek-ricek dan iterasi.

ENGINEER .. tidak akan pernah bicara tentang KEBENARAN Absolut.

Dia hanya berpikir,  bekerja dan bahkan hidup atas dasar kesepakatan-
kesepakatan yang telah mendahuluinya, atas dasar kebenaran relatif
dan sementara. Dan mengolahnya dengan segala kemampuan isi KEPALA.

Dan semua manusia… hakekatnya seorang Engineer, yang sanggup
memBACA, rajin meMILAH, dan selalu tidak lupa meNIMBANG.

Modal “kebenaran” engineer hanya make-sense.
Modal “tukar pikiran” engineer hanya sikap demokratis
Modal “guideline” engineer hanya BERUSAHA konsisten….

Manusia bukan Iblis, karena
Iblis tidak perlu lagi berusaha konsisten, karena SUDAH konsisten.
Iblis tidak perlu demokratis, karena Iblis MERASA tahu ILMU Tuhan.
Iblis tidak perlu make-sense, karena Iblis FAHAM kebenaran Tuhan.

manusia adalah engineer yang tidak tahu persis kebenaran Tuhan,
tapi manusia selalu ingin menjadi kekasih Tuhan.
Iblis adalah seekor mahluk yang yakin tahu persis kebenaran Tuhan.
tapi Iblis tidak ingin dikasihi Tuhan…

Walhasil….
manusia yang tidak make sense, tidak mau demokratis,
dan tidak berusaha konsisten
Maka selain bukan engineer…pasti juga lebih buruk daripada Iblis.

BTW,
Thanks untuk cerita tentang “Adam-Iblis”,
ini explorasi baru sekaligus challenge untuk saya.

Fish and Chips makanan khas Inggris

“FISH and Chips…,” si Jason menjawab tanpa berani menatap saat dulu
saya tanya makanan khas Inggris.

“What?” saya pura-pura kaget, dan si Jason rupanya melihat adanya
maksud ledekan melalui kerutan mata saya. Memang betul saya ingin
meledek. Makanan khas yang konon bisa menjadi ciri budaya suatu bangsa,
kok simple banget.

“Ya…ah…that’s it.” Begitulah mungkin maksud si Jason. Dia yang
lahir dan besar sebagai orang Inggris tampaknya menyesal kenapa British
tidak sekreatif bangsa-bangsa lain yang memiliki ratusan makanan khas
dengan ribuan rasa yang bisa dibanggakan.

Fish and Chips tentu saja bukan makanan luar biasa, mengolahnya juga
pasti tidak perlu keahlian khusus, tidak perlu rahasia bumbu khusus
seperti bikin lotek Bandung, gudeg Yogya, rendang Padang, rawon Jawa
Timur, lumpia Semarang, sop kaki Betawi, nasi goreng dan ribuan makanan
khas Indonesia lainnya.

Fish and Chips makanan khas Inggris tak lebih dari goreng kentang dan
goreng ikan dibalut tepung tawar. Kalaupun ada yang luar biasa atau
aneh karena Fish and Chips disajikan tanpa bumbu apapun. Lidah kita
yang penuh cita-rasa tentu saja serasa berada di ruang hampa. Serasa
dingin biar pun kentang dan ikan panasnya minta ampun.

Berlainan dengan goreng ikan mas atau gurame atau bahkan ikan nila yang
sekali pun tanpa bumbu selalu harum dan terasa lezat, goreng ikan cod
rasanya tawar-tawar saja, juga haddock yang serat dagingnya berbeda,
aroma dan rasanya hanya samar-samar.

Kalaupun ada bumbu yang selalu pelayan tawarkan, bumbu itu hanya cuka.
Makanya, supaya bisa rada lancar makan, saya selalu memastikan untuk
sengaja minta saos tomat dan garam dan wanti-wanti jangan pake vinegar.

Seperti umumnya porsi makanan di sini yang serba jibeuh, Fish & Chips
juga jibeuh. Daging ikan laut cod atau haddock warna putih sebesar
telapak tangan dengan chips potongan kentang yang menggunung hanya
sanggup terlahap setengahnya. Sisanya terpaksalah dibagi-bagi untuk
burung merpati dan camar yang selalu merubung setiap kali kita
menikmati makanan di bangku taman.

Chips Ahoi nama warung Fish & Chips di Victoria Road. Namanya asing
berbau oriental, juga mungkin pemiliknya oriental tapi mulai tukang
masak, pelayan sampai tukang sapunya semua asli lokal islander
Englisman. Setiap petang selalu penuh antrean orang yang membeli
makanan pokok “ikan dan kentang” sebagai makan malam.

Restoran  yang lain adalah tandori-nya orang India yang menyediakan
ayam tika masala. Kalau yang punya orang Pakistan atau Bangladesh,
namanya menjadi tandori halal balti. Restoran Thailand juga cukup
banyak disukai orang Inggris. Tapi semua restoran ini hanya
dipergunakan untuk “dinner”, makan malam sungguhan, makan malam yang
punya alasan. Berbeda dengan Fish & Chips warung makan-nya British yang
selalu didatangi tiap hari mulai breakfast, lunch sampai supper.

Kuping saya selalu susah menangkap aksen bicara pelayan di sini. Dulu
saat pertamakali mencoba beli Fish & Chips, sekalipun tidak jelas
terdengar tapi saya jawab saja  Yes thank you. Dan lunch di kursi taman
saat kentang dicicipi, langsung saja lidah dan bibir saya mengkeret
karena rupanya seluruh kentang telah basah kuyup oleh vinegar. Vinegar
pengganti cuka yang umumnya di sini terbuat melalui fermentasi buah
apel.

Rupanya tadi yang dibilang Barbara si pelayan Woulf you like vinegar.
Tapi saya kira dia menawarkan air minum, memang jauh artinya. Akhirnya
saya ikhlas saja meneruskan lunch dengan mata dan mulut
dikerut-kerutkan.

Saya rada hapal aroma vinegar karena sama dengan cuka apel. Dulu teman
saya di Bandung pernah bilang, katanya cuka apel obat asam urat. Saya
pernah mencobanya tapi dengan banyak campuran madu. Kalau cerita
khasiat cuka apel ini benar, maka mungkin karena itu pula orang Inggris
tidak ada yang mengeluh asam urat.

Orang Inggris tampaknya juga takut segala macam “zat-kimia” termasuk
asam asetat atau cuka di Indonesia, juga meminimalkan konsumsi natrium
Chloride alias garam dapur dan gula. Ini juga tampak dari iklan-iklan
makanan disini yang menggembar-gemborkan bahwa makanan ini rendah
kandungan garam, bebas gula dan tentu saja rendah lemak.

Mungkin orang Inggris menganut prinsip “tidak semua makanan harus
dimakan”, kecuali makanan yang jelas asal muasalnya. Harus ada
kepastian kandungan bahan makanannya. Atau bisa juga ada yang menjamin
kejelasan pembuatnya. Karena itu, istilah Home Made Cake biasanya lebih
laku untuk dibagi-bagi sebagai kue perayaan apapun.

Home made boleh jadi lebih tepat diartikan makanan ini dibuat dengan
sepengetahuan saya. Atau juga boleh diartikan, makanan ini dibuat
dengan penuh perasaan cinta.Karena seperti kemarin teman kerja saya
Edgar ulang tahun, bawa kue-kue yang katanya My beloved wife made, maka
di luar kebiasaan antre, kali ini teman-teman satu grup pada berebut.
Penuh canda dan penuh pujian Nice cake, lovely cake sampai brilliant
cake. Semua kemeriahan dan pujian tentu saja untuk my beloved wife made
alias home-made.

Lain pula ceritanya, ketika si John, manajer saya dapat bingkisan besar
kue-kue dari teman yang baru pulang dari India. Dia seperti biasa kalau
punya makanan suka bagi-bagi. Kali ini pun juga sama, dia tumpuk
kotak-kotak warna-warni yang tampaknya berisi kue-kue lezat di meja
rapat. Lalu orang-orang pada berdatangan. Tapi hanya bergerombol
menonton tumpukan kue. Kemudian bubar meninggalkan kue-kue tetap utuh.

Saya sempat nguping beberapa komentar, “Fabricated cake,” katanya
sambil membaca nama pabrik dalam kemasan kue. Dan sepertinya karena
tidak kenal nama pabriknya maka mereka tidak ada yang berani makan kue.

Saya ingat, dulu kakek saya pernah bilang katanya hati-hati dengan
perut kamu, jangan mengisinya dengan sembarang makanan, apalagi diisi
dengan rejeki yang tidak halal. Saya tidak tahu apakah orang Inggris
tahu halal-haram. Tapi yang pasti orang Inggris tidak sembarangan
memasukkan apapun ke dalam perut.

Pemerintah Inggris juga menyayangi perut warganya dengan menerapkan
aturan ketat pengawasan dan sertifikasi makanan.

Soal asam-asaman, hampir segala makanan di sini cenderung asam.
Terutama buah-buahan seperti jeruk mangga, anggur, apel lebih banyak
asamnya daripada manis. Sampai pisang pun terkadang rada-rada kecut.
Buah-buahan yang manis yang biasanya matang justru dijual lebih murah.
Beli satu gratis satu, buy-one-get-one-free, malah kadang dapat tiga.
Saya beruntung karena lebih doyan buah yang manis dan kebetulan lebih
murah.

Saya tidak tahu, apakah rasa asam itu berkorelasi dengan segar dan
alami. Tapi yang jelas, harga sayuran segar di sini selalu labih mahal
daripada makanan olahan atau kalengan. Padahal di Bandung, sayuran
segar ini sering jadi lalaban gratis di restoran-restoran.

Di sini makanan cukup berlimpah, tapi hampir semua bahan makanan hasil
pertanian merupakan produk impor dari berbagai negara. Buah-buahan
segar terutama datang dari Spanyol, Prancis dan Brasil. Beras murah
dari Amerika dan beras yang sedikit lebih mahal tapi enak datang dari
Thailand.

Hanya sayang, di supermarket dan toko umum di sini tidak terlalu mudah
menemukan bahan makanan yang ada tulisan made-in Indonesia. Kita harus
sengaja berburu ke toko Cina yang berada di lain kota. Mi instan, saos
cabe dan kecap buatan pabrik di Jakarta biasanya selalu tersedia di
toko Cina. Kadang kalau beruntung, kita juga bisa menemukan krupuk
udang Sidoarjo, made-in Indonesia.

Kebanyakan bumbu-bumbu khas Nusantara di sini ternyata jelas tertulis
made-in Holland pada kemasannya. Padahal, kalau saya perhatikan,
bungkus kemasannya biasa-biasa saja. Juga bumbu di dalamnya seperti
merica, ketumbar, tumeric, ginger masih beraroma utuh, aroma Indonesia.
Kalau pun ada pengolahan paling-paling hanya digerus lembut. Sepertinya
akan lebih pantas kalau tertulis made in Indonesia dan digerus oleh
Holland.

Belakangan saya mulai learning by doing, hasil bumi Nusantara pastilah
sangat banyak berkeliaran di tanah Britania. Cuma saja mungkin untuk
mencantumkan made-in Indonesia” pada kemasan bumbu dapur atau makanan
yang akan masuk perut orang Inggris, kita  perlu keberanian lebih.
Keberanian untuk menjamin bahwa bumbu atau makanan yang kita jual
adalah makanan yang telah kita olah dengan penuh perasaan dan
kesungguhan pikiran.

Boleh jadi, kalau kita ingin bumbu atau bahan makanan made-in Indonesia
laku dan disukai  orang Inggris, kita harus membuat bumbu atau bahan
makanan seperti Home Made. Kita harus seperti seorang ibu yang memasak
makanan untuk anak-anaknya tercinta. Atau seperti istrinya si Edgar
yang bikin kue ulang tahun karena dia menyayangi si Edgar.

Orang Inggris sepertinya menganggap bahwa setiap makanan memiliki
pawang, memiliki tuan atau master. Dan yang paham betul kelakuan
makanan tentulah si pawang. Pawangnya ini adalah si pemasak dan juga
yang menyediakan bahan makanan. Kalau makanan yang tidak jelas
pawangnya keburu masuk perut, lalu makanan itu berbuat macam-macam di
dalam perut kita, terus harus mau kemana kita mencari pawang yang bisa
menaklukkan makanan yang mengamuk dalam perut?

Fish and Chips, bisa dianggap sebagai makanan khas sekaligus makanan
pokok. Sekadar makanan yang sangat sederhana tanpa bumbu apapun. Bahan
dan cara membuatnya sangat mudah dikenali. Makanan ini tidak menawarkan
kemeriahan rasa, tapi juga tidak mengundang rasa curiga. Boleh jadi,
Fish & Chips hanya menyediakan gizi yang dibutuhkan, dan rasa kenyang
tentu saja.

Castle Street, 20060410

Mobil Inggris murah tidak perlu Klakson

MUNGKIN ini tentang keramah-tamahan atau kesabaran “orang bule” saat
berkendaraan di jalan raya. Atau mungkin juga tentang kekeliruan kita
sebagai orang Indonesia yang selalu mengaku dan merasa lebih ramah dan
sabar daripada orang asing.

Cowes, kota kecil yang terletak di pantai utara pulau kecil Isle of Wight. Untuk menyebranginya hanya perlu waktu 30 menit pelayaran ferry kecil atau bisa juga satu jam dengan ferry besar dari Southampton kota pelabuhan di selatan England.

Pulau Isle of Wight lebih kecil sedikit dari luas Kota Bandung.
Statistik penduduk hanya sekitar 130.000. Tapi setiap akhir minggu atau
liburan musim panas bisa sampai 500.000, dipenuhi turis lokal Britain
dan orang Eropa daratan.

Hidup di sini serasa berada di perkebunan Malabar dan Pangalengan di
tahun 70-an. Hanya saja di sini lebih sering terasa berada dalam
kulkas. Hidup serba hijau asri, sekalipun lebih banyak hijau lapangan
rumput daripada hamparan hijau teh. Dan tentu juga, pagi disini lebih
meriah oleh kicauan segala jenis burung yang dibiarkan hidup bebas.

Tapi kemiripan kota kecil Inggris dengan perkebunan Malabar baheula
hanya dalam hal lebar jalan yang kecil, kesejukan dan kehijauan. Soal
fasilitas listrik, air, gas, telepon, internet dan tranportasi umum
mungkin terlalu jauh untuk dibandingkan. Bahkan mungkin masih di atas
fasilitas kota Jakarta.

Juga tingkat kepemilikan mobil, boleh jadi tidak kalah oleh penduduk
Jakarta atau Bandung. Cuma saja kemacetan lalu lintas di sini selain
jarang, juga hanya sampai tingkat “padat merayap”. Tidak sampai
macet-mati dan tidak sampai macet yang bikin mules seperti Bandung.

Harga mobil di sini relatip lebih murah daripada di Indonesia, terutama
mobil bekas. Sedan kecil 95-an dibawah 900 GBP. Tapi harga bensin dan
solar turun naik dikisaran 1 GBP, kurang lebih 18500 rupiah seliter.
Juga parkir antara 1-2 GBP per 2 jam, bayar sendiri dan tidak ada
tukang parkir seperti di jalan Banceuy.

Harga mobil semakin terasa murah lagi jika dibandingkan harga makanan
pokok dan Upah Minimum yang 5 GBP per jam. Makanya “kuli bangunan” dan
bin-man alias tukang sampah pun kalau mau bisa “ngantor” pake mobil.

Yang repot di sini kalau kita yang terbiasa nembak ingin punya SIM.
Ujian tertulis sampai ujian praktek tampaknya jauh lebih susah daripada
ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia. Juga biaya “bim-bel 5 jam
nyupir” dan biaya bikin SIM nya yang sampai 200 GBP bisa melayang
hangus kalau tidak lulus.

Kakak saya di Bandung sempat nanya biaya “SIM tembak”, tentu saja di
Inggris tidak ada. Karena seperti dalam urusan apapun, orang Inggris
bukan hanya tidak mau, tapi juga tidak kenal cara-cara NEMBAK, tidak
kenal biaya siluman. Karena mungkin di Inggris tidak ada yang
memelihara siluman.

Tapi sekalipun bikin SIM susah dan mahal, mengendarai mobil di sini
tampaknya jauh lebih mudah dan nyaman. Tidak sedikit penderita cacat
atau disable yang memiliki SIM dan aman-aman saja mengemudikan
kendaraan dalam keramaian.

Dan yang saya suka, karena memarkir mobil dimanapun perlu perjuangan
berat. Maka setiap lahan parkir selalu menyediakan tempat atau space
khusus penderita cacat. Space khusus ini hanya ditandai dengan cat
putih diaspal dan biasanya tersedia untuk 3 atau 4 mobil. Dan jika
orang segar-bugar ikut parkir di tempat khusus disable, maka akan kena
denda lumayan 60 pounds.

Memang betul, untuk mendapatkan SIM Inggris tentu saja tidak perlu
keterampilan mengemudi sekelas Lewis Hamilton. Ketidaklulusan
kebanyakan karena salah membaca rambu. Teman saya tidak lulus karena
terlambat masuk jalur kiri setelah nyalip. Teman yang lain lagi tidak
lulus karena salah tempat saat menunggu lampu merah.

Mengemudi mudah, nyaman, aman dan selamat sampai tujuan betul-betul
menjadi tujuan semua orang. Mudah untuk pengemudi, modalnya faham dan
mematuhi rambu. Tapi pemerintah semacam DLLAJR Inggris sedikit lebih
berat, karena bertanggung jawab menjamin rambu-rambu harus benar, jelas
dan juga jalan tetap terpelihara.

Kalau ada tabrakan hadap-hadapan misalnya, dan ternyata tidak ada rambu
seperti cat putih tanda pemisah jalan, maka pemerintah pasti ikut
disalahkan.

Yang paling saya terkesan, disini hampir tidak pernah mendengar bunyi
KLAKSON. Mungkin hanya setahun sekali saat tahun baru. Sisanya, bunyi
klakson selalu identik dengan kesalahan atau juga bad-news.

Sekalipun klakson menjadi perlengkapan setandar mobil. Tapi klakson di
Inggris lebih berfungsi sebagai indikator kemarahan sopir. Atau
terkadang juga sebagai alat penegur jika sopir melihat mobil lain
melakukan manuver yang membahayakan.

Saking jarangnya klakson dipergunakan, teman kerja saya baru tahu
klakson-nya tidak berfungsi hanya setelah mobil-nya di MOT semacam kir
yang setahun sekali.

Jarangnya klakson berbunyi bukan semata karena lalulintas yang tertib,
tapi lebih mungkin karena tangan orang Inggris tidak segatal orang
Indonesia yang sebentar-sebentar membunyikan klakson.

Lebar jalan umum rata-rata hanya cukup dua jalur, termasuk jalur yang
dilewati bus umum. Terkadang malah satu sisi penuh dipake peruntukan
parkir penduduk. Ajaibnya, kondisi serba sempit seperti ini tidak
menimbulkan kemacetan dan tidak juga merangsang orang untuk berlomba
adu bising bunyi klakson.

Di saat kondisi jalan tidak memungkinkan saling berpapasan, malah
pengemudi pada berhenti dan seolah berlomba saling memberi lampu
panjang, nge-dim istilah orang Bandung. Arti nge-dim disini ternyata
untuk memberi tahu pengemudi dari arah berlawanan untuk jalan duluan.
Dan supir yang telah diberi jalan, cukup melambaikan tangan yang cukup
dibalas dengan senyuman.

Setiap kali naik bus, saya selalu menyaksikan atraksi saling “nge-dim”
yang menakjubkan. Yang sekaligus menggugurkan pelajaran sekolah…bahwa
saya orang Indonesia bangsa yang ramah dan penyabar. Karena puluhan
tahun saya hidup di Indoneia. saya hampir tidak pernah menyaksikan
atraksi “nge-dim”, atraksi saling mempersilakan dijalan raya.

Saya lebih merasa sebagai manusia dari bangsa yang sangat doyan
membunyikan klakson. Bangsa yang suka sekali menyuruh manusia lain
untuk minggir.

Sekitar dua tahun lalu saya sempat baca berita konyol. Ada sopir
dianiaya oleh pengemudi mobil didepannya. Gara-gara si korban
sebelumnya membunyikan klakson disaat padat merayap. Konon si-pelaku
merasa tidak marah, tapi merasa terhina semata-mata karena korban
“memarahi” pelaku tanpa sebab. Padahal, si korban hanya membunyikan
klakson.

Mungkin karena saya masih memiliki reflek memainkan klakson, kebiasaan
mengemudi saat di Bandung. Saya merasa masih tidak-sabaran, maka saya
sampai sekarang belum berani memiliki mobil. (*)

Semangat British membangun taman kota

Banyak cara untuk mengenang sekaligus mengabadikan orang tercinta yang
telah tiada. Seperti di tanah air, ada yang dengan membuat monumen. Ada
yang dengan menerbitkan buku biografi. Ada yang cukup dengan mengadakan
pengajian rutin. Ada juga yang menghias batu nisan kuburan, bahkan
konon  tidak sedikit kuburan di Cikadut dibangun lebih mewah daripada
rumah almarhum semasa masih hidup.

Untuk kerabat, mengabadikan orang yang telah tiada ini tentu saja
selalu memiliki nilai tinggi. Karena nilai kecintaan tidak tergantung
murah atau mahalnya biaya yang dikeluarkan.  Ukuran kedalaman cinta
atau  yang bisa menilai besarnya jasa-jasa almarhum semasa hidup
tentunya hanya yang bersangkutan. Dalam hal ini, nilai kenangan juga
berarti sangat pribadi.

Dalam ukuran negara atau bangsa juga mungkin sama. Karena bangsa
merupakan kumpulan orang-orang yang pasti juga memiliki perasaan dan
kecintaan terhadap orang yang telah berjasa.  Perasaaan ‘negara’ dalah
juga perasaan orang-orangnya. Kebiasaan negara Britain dan bangsa
British adalah juga kebiasaan Briton.

Dan saya mulai percaya, tampilan baik atau buruk negara kita juga
semata-mata hasil dari kebaikan atau keburukan sikap dari kita-kita
juga.

Saya tidak tahu persis mulai sejak kapan hampir setiap kota Inggris
selalu punya taman kota. Dan anehnya, bentuk kursi taman pun hampir
sama dimana-mana. Juga sama dengan kursi taman yang banyak dijual di
Bandung. Pinggiran besi cor dengan dudukan dari jejeran papan kayu
berukuran 10 centian.
Hanya bedanya, kursi taman di Bandung jarang ada ditaman kota. Malah
lebih banyak sebagai kursi hiasan teras rumah.

Disini kita bisa menemukan kursi besi cor ada dimana-mana, ditaman, di
trotoar jalan juga di pinggi-pinggir sungai. Tapi kita kita tidak akan
menemukan kursi besi cor nongkrong dipekarangan rumah. Karena kursi
besi cor sepertinya identik dengan kursi taman kota, kursi khusus
diluar rumah.

Awalnya saya pikir, kok pemerintah daerah rajin sekali dan mau-maunya
menyediakan kursi taman sampai ke pelosok tempat. Bahkan tempat
terpencil yang pasti hanya terlewati orang yang sengaja hiking atau
cross-country. Belakangan saya tahu tanpa sengaja, ternyata tidak semua
kursi taman disediakan oleh pem-kot.

Karena mungkin ikutan orang disini, saya juga jadi doyan jalan kaki.
Acara libur maupun jam kerja atau lembur tetap saja jalan kaki. Dan
banyaknya kursi taman menambah confident setiap orang untuk
memberdayakan kaki. Karena jika kebetulan dengkul terasa copot, maka
kursi besi cor tersedia setiap saat.

Mngkin itu sebabnya, orang di Indonesia jarang mau jalan kaki. Karena
selain gampang keringatan, juga tidak ada jaminan tersedia tempat untuk
sejenak meluruskan kaki. Sangat tidak lucu kalau orang loyo pada duduk
di trotoar.

Kecuali mungkin HM Queen, yang menduduki tahta seumur hidup. Pada
dasarnya orang-orang Inggris tidak suka menduduki kursi terlalu lama,
apalagi kursi publik.. Juga saya jika kebetulan  jalan berkeliling
pulau, tidak akan lama menduduki kursi. Duduk lama di satu kursi, tidak
baik untuk kesehatan.

Karena jarang-lama duduk dikursi taman, maka baru belakangan saya
mendapat titik terang. Siapa lagi selain pemkot yang menyediakan kursi
taman. Ternyata mereka bukanlah perusahaan besar sponsor, bukan pula
konglomerat. Tapi warga biasa yang telah kehilangan kerabat, kehilangan
isteri, kehilang suami, kehilangan anak, kehilangan orang tua,
kehilangan pacar, bahkan ada pemain gelandang sepakbola yang kehilangan
kipernya.

Menjelang musim dingin tahun kemarin saya belanja bulanan ke kota
Portsmouth. Berlayar melintasi the Solent, selat yang memisahkan pulau
dengan mainland, Pelayaran hanya ada hari Sabtu, berangkat jam 9 pagi
pulang jam 5 sore. Setelah berlayar 1 jam, kapal berlabuh di bawah
Spinnaker. Sementara kita-kita jalan dan belanja didalam kota, kapal
punya urusan sendiri melayani turis berkeliling kantong pelabuhan
melihat kapal-kapal perang.

Berat beban barang belanjaan untuk sebulan, jalan kaki lebih 5 jam,
maka duduk selonjor di kursi taman tentu saja menjadi keharusan.
Menduduki kursi taman saat itu cukup lama, karena sekalian makan nasi
perbekalan. Dan saat itu jari-jari dingin saya tanpa sengaja menyentuh
pelat logam dingin yang menempel di senderan kursi taman. Ternyata ada
tulisan-nya.

Diantaranya saya  saya kutip dari bangku yang saya duduki,:
“Joan Haggar 1933-1999: Loving Wife and Mother, You were the Wing
Beneath The Wing”, 
dan dari bangku sebelahnya saya baca:
“Eileen Davids (Pidge) A Loving Wife, Mum and Grandma. This is not
goodbye Pidge just Cheerio”, Love Husband Fred, Kevin, Jayne, Aaron and
Jake.

Rupanya, ratusan bangku taman yang berjejer rapi menghadap laut ini
berfungsi sebagai monumen kenangan untuk almarhum yang dicintai. Juga
berfungsi sebagai batu nisan yang makamnya entah berada dimana.

Berbekal penemuan dari Portsmouth itulah, sekarang saya selalu
perhatikan setiap senderan kursi taman, dan dibiasakan membaca seksama
setiap tulisan.
Membaca ungkapan cinta, sekaligus membaca orang yang berjasa membangun
taman-kota….. dengan menyediakan kursi taman dari kayu dan besi coran.

Rupanya, semangat British membangun taman kota….. terbawa kealam baqa.

Salam,
Sutresna

British memang cinta KEBEBASAN

RANTING-ranting tanaman pagar hidup sepanjang Whippingham Road pagi ini
mulai menampakkan bintik-bintik putih dan ungu. Padahal kemarin masih
seperti semua pohon di sini yang hitam gundul meranggas karena
kedinginan.

Seolah alam menugaskan angin untuk menyelamatkan pepohonan dari
sengatan musim dingin. Selama Oktober sampai November, angin musim
gugur telah memaksa pohon-pohon untuk melepaskan semua daun-daunnya.
Lalu selama Desember sampai Februari ini, pepohonan hidup meranggas
tanpa daun.

Karena mungkin, fungsi daun kurang diperlukan saat mendung panjang
musim dingin. Dan tugasnya sebagai penyejuk dan penghijau kota, pun
diliburkan. Tapi pagi ini pohon-pohon seolah memberi tahu saya bahwa
mereka akan memulai bekerja kembali. Dengan menunjukkan kuncup-kuncup
bunganya terlebih dulu di sekujur batang dan ranting. Dan tentu saja,
sebentar lagi saya akan menikmati pohon-pohon penuh bunga tanpa daun di
mana-mana.

Saya ingat hari Sabtu pagi cerah kemarin, tetangga sebelah dengan susah
payah memunculkan kepalanya dari balik pagar halaman belakang. Dan
hanya untuk berteriak, “Spring is coming..isn’t it..”.

Tentu saya yang sedang terpaku diam pikiran melayang, kaget luar biasa
sampai meloncat.

Muka Pak Kevin, tetangga saya itu yang kelihatan selalu rajin ber-DIY,
do-it-yourself kebun se-emprit-nya, tampak cerah sekali. Dan dia
maklum, kalau saya sedang tersihir oleh tingkah-polah segala jenis
burung. Burung yang hidup bebas merdeka, burung-burung yang tidak
mengenal sangkar.

Rupanya, burung-burung yang rame kemarin di halaman belakang itu sedang
pesta kuncup bunga. Dan ternyata, burung-burung di sini lebih duluan
tahu dan lebih sigap merayakan datangnya musim semi.

Boleh jadi, sekalipun `science dan teknology’ telah canggih dalam
meramalkan cuaca dan musim. Malah BMG-nya Inggris hampir selalu tepat
meramalkan cuaca. Tapi untuk datangnya musim semi yang penuh berkah dan
harapan, orang Inggris lebih mempercayai burung, Tentu saja burung yang
bukan di dalam sangkar.

Karena mungkin kita semua hanya bisa mempercayai orang-orang merdeka
daripada mempercayai narapidana yang hidup di dalam sangkar. Maka orang
Inggris juga lebih memilih orang bebas dan burung bebas sebagai teman.

Rumah-rumah di Inggris hanya seemprit saja luasnya. Lebar rumah
rata-rata hanya empat langkah lebih sedikit. Lahan memanjang ke
belakang sekitar 20 meteran. Tapi setengah lahan harus dibiarkan
terbuka, sebagai garden dan jemuran tentu saja. Juga tempat menggantung
segala daleman.

Sekali pun menanam pohon di sini tidak semudah di Indonesia, yang konon
tongkat kayu pun bisa jadi tanaman. Tapi tetap saja banyak orang
Inggris memimpikan punya pohon. Dan untuk Englishman yang mimpi punya
pohon ini saya kadang terenyuh.

Banyak rumah di sini tidak beruntung. Tanah Lembang yang hitam
per-kubik mahal pula harganya. Tapi orang Inggris tidak kehilangan akal
untuk bikin “pohon-pohonan” yang mungkin diharapkan bisa diminati atau
supaya burung-burung berkenan untuk datang bertandang.

“Pohon palsu” ini dari tiang kayu atau besi. Yang penting tingginya
lebih rendah dari ketinggian mata. Di bagian atasnya diberi semacam
ranting dan cabang. Beberapa rumah, terlihat ada yang memasang semacam
Heli-Pad kecil, bahkan ada yang bikin semacam rumah-rumahan boneka
Barbie.

Tentu saja, jika melihat hanya bentuknya, pohon-pohonan, atau pohon
palsu ini tidak menarik. Malah mengganggu pemandangan. Dan untuk supaya
“pohon palsu” ini tampil seindah pohon surga, maka di atas Heli-Pad dan
pada “dahan-dahannya” diberi makanan. Tentu saja harus makanan burung.

Dan “pohon-palsu” akan betul-betul tampil menjadi pohon surga, jika
burung-burung pada berkenan datang. Apalagi sebentar lagi musim semi.
Kita akan menikmati musim semi dengan hiburan murah dan perasaan damai
sempurna. At least, kita akan bisa punya banyak burung segala macam.
Tanpa perlu beli, tanpa perlu sangkar, dan tanpa perlu berdosa
memenjarakan makhluk hidup.

Makanan burung di sini banyak dijual ditoko-toko. Ada yang sudah paket
“multi-burung”, isinya macam-macam biji-bijian. Untuk berbagai jenis
burung. Ada makanan burung yang terbungkus kantong jaring kenur,
tinggal menggantungnya di dahan. Burung-burung bisa dengan leluasa
mengambili biji-biji tanpa hawatir tumpah atau berceceran.

Burung-burung boleh datang dan pergi sebebasnya. Burung kecil biasa
mecoba mematuki semua biji sebelum menikmatinya. Tapi jarang yang
berani mematuki temannya. Burung gagak hitam lebih bergaya preman,
berteriak-teriak dan menghardik kesana-kemari. Tapi mereka lebih suka
melahap ceceran dan bekas makanan.

Burung camar dan albatros sekalipun disini banyak, tapi sepertinya
gengsi kalau harus ikutan medatangi pohon kita untuk ikut mencicipi
biji-bijian. Tapi biar saja, karena burung camar lebih kuat terbang
jauh dan tinggi.

Tapi untuk makanan burung, saya memang tidak pengalaman. Toko sayuran
di Newport menjual kacang tanah atau suuk. Suuk disimpan dalam karung
besar yang terbuka. Berderet dengan segala macam biji-bijian lain.
Karena sudah lama tidak lihat suuk mentah dan kebetulan saya kangen
makanan lotek. Dan kebetulan lagi harganya murah sekali, maka saya
langsung ambil 2 kg.

Waktu membayar, si ibu kasir mengorek-ngorek suuk belanjaan saya. Lalu
mata biru-nya menatap saya lama. Dan dengan tersenyum bilang.

“Barangkali kamu mau saya tambah dengan biji-bijian lain ?”.

“Oh, no thanks…”, saya jawab tanpa rasa bersalah, Hanya waktu keluar
toko, saya melewati tumpukan karung suuk lagi. Dan kali ini baru
terbaca, ada tulisan tangan yang asal-asalan…seed for bird, maksudnya
mungkin suuk ini bukan untuk lotek, dan juga mungkin, artinya kacang
kedele ini bukan untuk tahu atau tempe.

Tapi, cerita soal burung liar ini, teman-teman saya di Cimahi suka
protes, “Boro-boro ngasih makan, Yang didalam kandang saja pada mati
kelaperan, apalagi burung yang hidup liar.”

Dan ingat reaksi marah kakak saya di Bandung , “Malah di-bedil-in…
coba.”

Ya, begitulah mungkin, saya tadinya ingin cerita tentang orang Inggris
yang sangat menghormati kebebasan berpikir dan pelopor freedom of
speech . Tapi malah jadi cerita orang Inggris yang suka melihat burung
yang bebas merdeka. Karena mungkin orang Inggris perlu teman menikmati
indahnya spring, dan teman terbaik adalah mahluk-mahluk yang merdeka.

Mudah-mudahan, teman-teman di tanah air bisa bertahap, sekarang sudah
mulai suka membebaskan orang. Nanti akan suka ngasih makan orang. Nanti
jika sudah mulai suka melihat burung bebas, maka pasti nantinya lagi
akan suka juga ngasih makan burung seperti di sini.

Semoga saudara-saudara di tanah air bisa segera mencintai kemerdekaan.
Agar musim hujan dan musim kemarau bisa juga seindah musim semi di
sini.

iow, 20080226

Archbishop William tidak ngajak berkelahi

Konon perang itu “perkelahian” diantara dua kekuatan
yang setara.
Jika tidak setara namanya pembantaian atau penjajahan.

Perang juga hanya hobby dan ciptaan mereka yang kuat.
Tapi pencipta perang tidak pernah ikut berkelahi,
tidak pernah ikutan bertempur, tidak juga terluka.
Yang berkeringat dan berdarah hanya mereka yang lemah.

Karena yang hobbynya berkelahi… .ya hanya yang lemah.
Orang yang lemah ditakdirkan untuk selalu berkelahi…
tapi tidak akan mampu menciptakan peperangan.
Orang yang lemah selalu berkelahi untuk perang yang
bukan miliknya dan bukan ciptaannya.

Uang adalah satu-satunya wujud kekuatan.
Faith, love, fairness, humanism, keinginan berbagi…
adalah sekedar bagian dari cita-cita yang dimiliki manusia.
Cita-cita yang mendorong manusia menolong manusia lain…
sekaligus juga menjadikan manusia tega melukai manusia lain.

Dan UANG, kekuatan yang memainkan keseluruhan cita-cita.
sudah takdirnya… .orang lemah hanya punya cita-cita.
dan sangat mudah untuk disuruh berkelahi demi cita-cita.

Boleh jadi, dunia hanya terbagi dua sayap..

Left-wing yang terdiri dari koalisi marxist, sosialis,
religius apapun (dari anglican, islam, kristen sampai kejawen),
para pekerja dan orang-orag yang sedang merasa terpinggirkan.

Right-wing yang terdiri dari koalisi kapitalis,
bangsawan manapun (dari inggris, arab sampai melayu dan jawa),
orang yang kebetulan sedang berkuasa atau juga orang yang
sedang merasa sukses.

Dunia hanya terbagi dua….
yang lebih beruntung dan yang belum beruntung.
yang lebih kuat dan yang lebih lemah
Sayap-kanan dan sayap-kiri.

Archbishop Willian…hanya salahsatu pemimpin kaum lemah…
pemimpin ummat SAYAP-KIRI yang hanya memiliki cita-cita.
Ajakannya untuk “menyatukan” seluruh ummat sayap-kiri
tentu saja akan merusak tatanan dunia yang selama ini ada.

karena kalau semua umat sayap-kiri.. atau umat yang lemah,
ummat yang hanya bermodal cita-cita mau bersatu
menjadi “kekuatan BARU”.
Maka mustahil lagi ada yang bersedia BERKELAHI.
mustahil pula kaum SAYAP-KANAN merancang dan menggelar perang.

Jika ajakan Archbishop William malah melahirkan perkelahian. ..
maka sungguh terbukti…
bahwa MENGANUT AGAMA APAPUN sekedar wujud kelemahan.
dan menjadi permainan empuk penguasa uang, kaum-kanan.

Maka….
jangan pernah mau berkelahi, jangan pernah mau bertempur,
jangan mau buru-buru mati demi cita-cita.

Jadilah penganut agama … bukan karena lemah.

20080209,
DjayaWikarta

Pendidikan dinegara ini yang kurang bermutu atau

Bung Jasp wrote in apakabar@:
> Inilah yang terjadi dengan dunia pendidikan di Indonesia, mungkin
> mutu yang kurang bagus, mungkin daya serap pasar yang tak bergairah
> dan mungkin juga memang pemerintah tak sanggup menciptakan
> lapangan kerja.
>>>>>
Saking terbiasanya mendengar “MUTU Pendidikan” atau kalimat
“pendidikan yang bermutu”. Sehingga suatu saat saya ditanya,
hanya bisa menjawab otomasti….

“Pendidikan bermutu…jika lulusannya mudah NYARI KERJA”.

Dan jika semua lulusan Amrik dan Eropah berbondong-bondong
datang ke Indonesia…. untuk nyari kerja maupun bikin kerjaan….

Maka saya jamin, kita akan mendapat kesimpulan baru…
pendidikan Amrik dan Eropah…. sangat TIDAK BERMUTU.

Saya kira, “mutu pendidikan” atau “pendidikan yang bermutu”
sekedar JARGON KOSONG… selama kalimat ini dikaitkan dengan
penyerapan tenaga kerja.
Atau paling juga sekedar iklan kursus keterampilan menjahit….

Kalaupun harus dipaksakan … akan lebih tepat kalau dikatakan…
“Sempitnya lapangan kerja di Indonesia adalah akibat dari
BURUKNYA MUTU pendidikan dari ORANG-ORANG PINTER Indonesia.

Pengangguran sekarang adalah akibat BURUKNYA MUTU orang-orang
yang sekarang memiliki pekerjaan dan memiliki penghidupan.

Mereka… yang sekarang menganggur adalah korban dari
kerakusan orang yang berkuasa dan kerakusan kita-kita juga
yang sekarang BERUNTUNG punya kerjaan.

Jika kerakusan “orang-orang beruntung” seperti sekarang
terus ebrlanjut…. maka jangan salahkan kalau sebentar lagi
akan lahir Marxist-Marxist Indonesian yang lebih buruk daripada
sekedar minta pemerataan kesempatan kerja.
_________________

DjayaWikarta

Re: Megawati: Kenapa Dulu Tidak Pilih Aku?

[quote="Bung Jasp"]

Sekarang mau mencalonkan diri lagi ? Masak PDIP nggak punya orang
muda yang memiliki potensi ? Presiden SBY mungkin saja menari
Poco-poco, tapi kan nggak mengkhianati kader partai pendukungnya ?
Pengkhianat kader partai nggak layak menjadi pemimpin bangsa , ntar
bangsa Indonesia yang dikhianati gimana ? [/quote]

Saya masih terkesan dengan kelahiran PDIP.
Seperti bayi raksasa yang dilahirkan ibu rumah tangga.

Bukan salah ibu rumah tangga karena telah melahirkan…  tentu saja.
Siapapun berhak melahirkan, termasuk melahirkan partai.

Kesalahan terletak pada “bapak-bapak nya”… para kader PDIP
yang telah melihat opportunity serta memaksa si ibu melahirkan raksasa….
dan lalu memanfaatkan ke-lugu-an si-ibu yang “teraniaya” penguasa.

Cilakanya, makanan pokok yang telah membesarkan PDIP sehingga
menjadi raksasa di Pemilu 98….hanya BELAS KASIHAN.
Keter-aniaya-an si ibu dan juga keter-aniayaan Sukarno bapaknya si ibu
terus dijadikan modal kampanye oleh kader PDIP.

Jualan BELAS KASIHAN ditengah masyarakat yang “ajeg teraniaya”
tentu saja seperti mengobral Blue Chip di bursa-efek… laku keras.
Tapi… komoditas BELAS KASIHAN adalah NARKOTIC
komoditas yang menggiurkan tapi sekaligus menciptakan halusinasi.

Gaya baru PDIP sekarang, yang selalu offensive…kritik sana-sini
malah terkesan aneh…. karena modal PDIP bukan kritikus….
Kritikus bukan benih yang membuat PDIP lahir.

Menurut saya… bayi raksasa PDIP harus dilahirkan ulang….
supaya gen yang dipenuhi narkoba “teraniaya” ikutan hilang.

Karena memilih pemimpin bangsa dengan alasan “teraniaya”
merupakan pelanggaran bangsa Indonesia terhadap hukum alam..  
Dan para kader yang dulu dengan sadar memanfaatkan keteraniayaan
bolehlah digolongkan telah melakukan kebiadaban alam….    :cry:      

DjayaWikarta

Halaman Berikutnya »