Menjelang aku pulang lebaran dia masuk, tempat duduknya tepat
diseberang diagonal kotak partisi. Namanya Kenneth, sebulan
job-less setelah perusahaannya mengurangi jumlah karyawan.
Alasan PHK seperti sudah diduga, 11 September pembawa cilaka.
Tak ada yang ajaib dari orang Manchester ini, aksen englishnya
tidak sesulit orang-orang dari england utara lainnya.
Dan yang lebih memudahkan, dia selalu bicara dengan volume
diatas 50 desibell….seluruh ruangan yang berisi 60 an bisa
mendengar kalau dia sedang bisik-bisik.
Imbal balik….aku juga kalau ngomong harus teriak agar tidak
berulang-ulang dia mendekatkan kuping dan bilang say-again.
Sudah setengah bulan ini, tiap pagi dan sore aku terkantuk-kantuk
menemani Ken yang nyopir sepanjang jalan bebas-hambatan M5.
Setiap kantunk hilang, maka cerita apapun berkembang.
Dari soal sepak-bola, politik, ekonomi sampai French girl-friend nya.
“Nikah…belum terpikir…masih sibuk mikir job yang lebih bagus”
dia menjelaskan kenapa tidak juga beristri.
Alasan saya gentayangan di negerinya….akhirnya juga terbahas.
Sebagai ganti kenyamanan ngantuk sepanjang jalan, hampir setiap
hari aku sekalian ambilkan dua cangkir kopi untuk berdua.
“Saya senang jika kamu enjoy disini…”…suatu saat dia bergumam
bersamaan dengan tuas persenelling digeser ke gigi rendah.
“Thanks….”, satu-satunya jawaban yang mudah untuk pengganti diam.
Tadi siang setelah istirahat makan, orang-orang yang dinas luar
dikumpulkan untuk mendengarkan briefing dadakan….
Dari seberang, dalam ruang kerja perusahaan garapan,
Ken melambai lamaikan selembar foto copy-an…memanggil
“Come mate…bad news for us….”, bisikannya membuat orang-orang
terbangun dari kantuk sehabis makan siang.
“Read it….liburan kita tidak perlu nunggu musim panas…isn’t it ?”
“Ya….kopor ku malah belum sempat dibuka sejak pindah…”
“O..dear…..aku masih bisa balik ketempat kerja yang dulu…You ?”
“I’m thinking…..”, aku memang berpikir hanya pada saat-saat seperti ini.
“Anyway….aku lebih buruk…aku baru 6 bulan kerja..”, Ken menghibur.
tidak berhenti menghibur sampai masuk ruangan briefing.
Sekalipun diperlukan, segala kata-kata hiburan tentu saja tidak akan
merubah isi tulisan yang masih ku-baca berulang-ulang.
Briefing pun berlangsung dalam ruang tertutup, enam pendengar dan
seorang wakil dari kantor pusat yang memberi penjelasan.
Intinya, perusahaan berniat mengurangi setengah jumlah karyawan.
“Perusahaan kita dikalahkan dengan telak oleh saingan”, demikian
orang dari pusat memberi alasan off-the-record katanya.
Perusahaan berniat saving money….tidak boleh rugi.
Dua teman pekerja permanen dan tenaga kontrak sisanya….
berlomba memberi komentar…..management stupid….intinya.
“Tidak ada keburukan dari PHK…kecuali main dadakan…
tapi….PHK tidak pengaruh besar buat kita tenaga kontrak”, Ken
menggebu-gebu.
Dan briefing berakhir sesuai dengan tujuannya…hanya supaya tahu.
Matahari jam 4 sore terik dari arah selatan-barat. Ken kembali
dibelakang kemudi Renault Laguna gres dinas…..kembali komentar
soal PHK meluncur deras dari mulutnya….wacky…sacky dan lain-lain.
Aku hanya sekali-sekali saja menyalakan kompor….lalu.
“Kamu lihat di parkiran kita….Jaguar..TVR..Ferrari….dimana-mana
apa-nya yang rugi…!”, Ken menjadi-jadi dan ber-api-api.
Sekarang aku diam melayang tidak terasa lagi mobil melaju kencang.
Tiba-tiba….
“Kamu…..punya rencana ?”, Ken menoleh.
“Still….thinking….he…he…he”, aku benar-benar mencoba mikir…susah.
motorway M5 pantai barat terasa begitu luas tak terlihat ada batas.
“Aku mau balik kerja di London….emmm .I will get a job for you…mmm
aku…mmm kamu pasti dapat kerja…..aku pasti bisa mencarikannya….
aku masih punya koneksi….ya..ya you ‘ve got it “, Ken sekarang tersenyum.
“Thanks Ken…a good news…”, lalu perjalanan hanya diisi gemuruh ban.
diam….karena selama ini…bad news selalu sama baik dengan good news.
“Hey….are you happy….?”, Ken berteriak seperti biasa….
“What…!”, aku tak kalah berteriak karena terperanjat.
“I’m happy for a cup of coffee…..” lalu Ken bernyanyi dengan iringan
ketukan jari pada lingkaran kemudi.
“….I’m really happy….lebih happy dari mendengar good news….”, aku
bergumam senang…karena manusia ternyata ada juga dimana-mana.
padahal aku sedang serius berpikir untuk pulang saja….
kembali ke negeri yang mengenal pemecatan sebagai keanehan.
—————–
Bristol, 20020515
DjayaWikarta
Komentar Terakhir