Once Upon Time in Somerset

 Sebelas quit cuma….harga di Argos superstore
 maka alat cukur elektrik telah dipermilik
 kaliber satu mili, tujuh mili, sampai se-inchi
 tiggal pilih seberapa panjang rambut diimpikan
 tanpa keahlian tanpa keinginan mencukur
 maka rambut di kepala sang kawan pun rapi seragam
 
 pasang ukuran tigabelas mili
 pijit tombol maka tangan pun ikutan berdengung
 memotong harus melawan arah tumbuh…
 didaerah unyeng-unyeng pencukur memutar
 Tapi dengan pencetak pastilah rambut rata tanpa pitak
 
 satu jam lamanya pencukur mondar-mandir saja
 sang kawan pun hampir tertidur lelap dalam cuaca dingin
 dicukur sesama kawan bisa bebas tanpa baju
 keseragaman dan kerapian sekedar fungsi waktu
 
 Amatiran, keahlian, kebodohan dan kepintaran lupakan saja
 karena hidup-pun hanya perlu ukuran dan aturan
 
 Dua jam kemudian sang kawan terbangun
 setelah nyenyak ternina bobok dengung cukuran
 cermin ditangannya me-refleksikan ketidak benaran
 ”Bos…seekor rambut ini koq masih berdiri sendirian…?”
 
 Tukang cukur tak perlu bicara…..cukup bekerja saja
 beberapa lembar rambut rupanya tampil beda saat diraba
 maka alat cukur didengungkan kembali…
 Tapi tak ada bunyi-bunyi gemelitik tanda rambut terpotong
 ”Bos….rambutnya bandel ya ?”, sang kawan tak sabar.
 
 Padahal, ukuran telah menjamin rambut sama panjang.
 tapi sama panjang tidak menjamin berdiri sama tinggi.
 karena orang pendek bisa tampak lebih tinggi
 ketika yang lain tiduran orang pendek berdiri sendirian….
 
 Tampil beda rupanya tidak pernah dilahirkan
 menjadi sama-pun sekedar keinginan.
 Kalau ingin jas-dasi-an kenapa dipaksa harus batik-an
 
 Beberapa lembar rambut masih mencuat sendirian….
 Tapi jika aturan diterapkan maka seharusnya dibiarkan
 dipaksa seragam malah akan pitak betulan…
Sommerset Avon, Mar-2002
DjayaWikarta

0 Tanggapan ke “Once Upon Time in Somerset”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.