Arsip untuk Februari 18th, 2007

Tentu saja setiap orang bisa menjadi HEBAT

Anak cikal saya selalu nanya,
Bagaimana caranya menjadi orang HEBAT.
Memang sih tidak betulan nanya, tapi kerasa nanya.

awalnya, saya merasa anak saya mulai berani nyindir
tapi belakangan saya memaksakan diri untuk mikir
karena bagaimanapun saya menyayanginya,
Bagaimanapun saya bertanggung jawab untuk masa depannya,
tapi anak saya tetap saja orang lain.
Seperti kata Kahlil Gibran, saya merasa memilikinya,
tapi anak saya lebih merasa memiliki masa depannya.
Beda masa selalu beda rasa. Dan ini wajar.

Juga wajar ketika anak saya tiba-tiba nyerocos…

“Pak, koq bokapnya Puji mah gemuk, bersih, punya banyak
anak buah,  dasi-an, pernah nongol di Tivi dan kalau
pergi kekantor teh selalu pake sopir…..pokoknya kayak
bos lah….pokoknya mah hebat-lah”.

Lalu dia menambahkan,
“Asyik ya pak kalau aku jadi orang HEBAT….”.

Tadinya seperti biasa, mau saya debat pake jurus “yang
penting menang”. Juga pake jurus “information power”.
Jurus-jurus berdebat sontoloyo….

Dulu saya mendebat dan selalu bilang sama anak saya
tentang “kehebatan orang Inggris….
” Tahu nggak, kalau orang Inggris selalu jalan kaki,
selalu masak sendiri, bikin rumah sendiri, betulin
mobil apalagi nyupir sendiri, berangkat gelap pulang
gelap….mana inget tampil rapi untuk masuk di TV….”

Tapi mungkin karena saya beberapa hari ini sudah insyaf,
Saya tidak jadi berdebat. Penjelasan sanggahan diatas
hanya sampai rongga mulut lalu saya telan kembali.

Karena …bukankah anak saya memiliki jiwa-nya sendiri…
Pasti juga punya ke-hebatan-nya sendiri.

Tapi tentu saja saya selalu bilang kalau saya sekarang
merasa lebih hebat daripada tahun-tahun kemarin.
Tanpa harus memaksakan agar “kehebatan orang Inggris”
menjadi “tujuan hebat anak saya”.

Dorongan demokratisasi anak-bini inilah mungkin yang
membuat saya tidak pernah akan menyanggah apapun
dengan straight forward. Kecuali kalau lupa.

“Do not be afraid of greatness…”, saya coba mengeja
hafalan kata-kata Shakespeare atau entah siapa…
Dan anak saya melongo…entah kagum ..entah bingung.

tarjamah bebasnya atau tarjamah asal ng’jeplak-nya
….jangan khawatir dengan kehebatan….lah.

saya sendiri tidak tahu mau menjelaskan kearah mana….
Tapi saya yakin, “there are no mistake in love”
dan saya sangat menyayangi anak saya.
Saya hanya berharap suatu saat kelak anak saya menemukan
arti kehebatan sekaligus mendapatkannya.

semua orang tidak terkecuali, punya kesempatan untuk hebat..
ada orang yang memang dilahirkan menjadi orang hebat
ada juga yang menjadi hebat karena usahanya yang keras
tapi ada juga yang terdorong oleh kekuatan yang hebat.

So…don’t worry be happy…semua akan kebagian hebat.

IOW – 2006
DjayaWikarta

Mas Majid lebih faham BUKU

Hari biasa perpustakaan tutup jam sembilan
seharian menghabiskan siang sampai malam
bersunyi dibalik benteng buku-buku
biarkan ruang kuliah diisi orang lain saja

berjalan berpetualang disela pikiran orang
buku dibuka mencari pikiran terbuka
buku ditutup lalu jalani hidup
membiarkan pikiran berjalan
berguru tidak sama dengan meniru

belum jam sembilan penjaga sibuk berkemas
lampu neon dipojokan jauh dipadamkan
jam pulang selalu membuat kelonggaran
ada alasan pinjam buku lebih dari aturan

lima buku berukuran batako dibawa pulang
ditenteng dalam kegelapan pohon mahoni dan damar
semerbak kotoran kuda menyengat penciuman
buku ternyata berat nian
karena ilmu pengetahuan pun tidak ringan

sejarah penelitian ratusan tahun
seolah akan terlahap habis dalam dua pekan
tapi biar lah
menenteng buku tebal juga kebanggaan
tidak banyak orang memboyong buku malam-malam

angkot terakhir hanya berisi sopir
duduk sendiri di belakang tanpa banyak pikir
tumpukan buku lebih sepertiga meter
sengaja didekap diatas pangkuan
“Sedang musim ujian…?”, sopir sekedar menyapa.

Satu jam berlalu angkot dhentikan buku diturunkan
mas Madjid tukang sate madura tersenyum riang
mas Madjid nyaris menghamparkan karpet merah
bakaran sate ayam selalu sudah disiapkan
penuntut ilmu selalu makan sate ayam setiap malam.

Lima bundel batako ditumpuk dengan botol acar ketimun
buku ditepuk-tepuk dan dibuka-buka
sepuluh tusuk sate segera saja siap terhidang
Mas Madjid ikut menimang-nimang buku pengetahuan

ditangan mas Madjid buku terlihat ringan
padahal ilmu dalam buku sangatlah berat

“Berat juga….mas berapa sekarang harga buku se kilo…..?,
mas Majid dengan ringan bertanya.
——————————————————————————

Somerset – 030801
DjayaWikarta

Obrolan Munggah dengan Abah

Sesaat tombol-tombol ditekan
suara diseberang terdengar pelahan
Seperti getaran yang telah lama tersimpan
memantul dari ulu hati
lalu merayap dari kepala ke ujung kaki

Cukup sepenggal kalimat pembuka
“Tentu kau senang di sana…Jang…?”
lalu kerongkongan ku terganjal sembilu
diam…terbata-bata pun tidak
aku malah menekan gagang telepon
berusaha memasuk-kan nya kedalam telinga

Sekarang dada ikutan menggelegak
lupa cara nafas di tenggak
Beruntung…….aku masih tangguh…..
tidak sampai kelojotan atau luluh

Microphone telepon sekedar hampir termakan
entah apa yang terdengar diseberang sana
saat Abah melanjutkan obrolan-nya sendiri
“Semua disini sehat…baik-baik saja…”
tapi aku menjawab hanya dengan tiupan hidung
memompa keluar masuk udara campur air

Keinginan bicara
dikalahkan lupa buka suara
bibir malah dilipat dengan keras
gagang telepon hampir pecah diremas

“Sekarang lengkap, yang lain sudah…..
nggak apa… kamu kan jauh…..”.
Abah tenang saja mengalir sendiri

Obrolan Abah membuat aliran darah ke-otak lancar
nafas mulai bisa dikendalikan untuk ku memulai bicara…
” A…Abah….Abah…sehaaat ?.”
itu saja….

“Yaaa…tentu…Abah do’a-in kalian semua….”.

Ah….aku memang pendebat paling hebat.
bisa berbincang tanpa lebih sepenggal kalimat terucap.

Lanjutkan membaca ‘Obrolan Munggah dengan Abah’

Bersandar ke Dinding Angin

Konon sebentar lagi akan datang setengah juta immigrant
dari eropa timur ke UK untuk mengisi banyak lowongan job.

konon juga Enaknya tidak perlu visa kerja segala rupa.
Briton tampaknya hepi-hepi saja, malah sukurlah katanya
supaya nanti gak ada lagi sampah yang terlambat diangkut.
Juga supaya enak, tidak lagi betulin rumah sendiri..DIY.
Bayar tukang British bisa jebol, 30 sampai 50 pound sejam.
Sementara Polish sudah cukup enjoy dibayar 6.5 pound saja.

Padahal saya sudah ancang-ancang ganti keahlian, mau ikutan
jadi tukang apasaja, bangunan, plumber atau listrik atau
atau montir sekedar meneruskan keahlian tanpa ijasah saya.
Saya bisa ngolongin mobil 12 jam penuh. Bayangin saja
potensi penghasilan saya kalau 50 pound perjam.

Tapi begitulah, rencana tinggal rencana. Orang polandia
sekarang sudah berkeliaran dimana-mana. Bahkan mungkin
Sebentar lagi akan juga merangsek ketempat kerja saya.
Bukan cuma berkeliaran pagi buta jadi bin-man atau field-man
di kebun sayur dan peternakan.

Seperti tentara Vietnam saat di saigon menunggu serangan Vietcong,
saya tidak bisa melawan atau mencegah ancaman serbuan. Hanya
bisa menunggu dan memantau sudah sampai mana para jobseeker
Eropah Timur sekarang berada. Apa masih di pelosok perkebunan,
masih di jalan-jalan, atau sudah mulai kerja diruangan….

kalau pantat bule-bule Polandia dan Hungaria itu pun sudah
mulai doyan duduk nongkrongin komputer…..maka saya harus juga
mulai siap packaging. saya harus tau diri seperti tentara
Vietnam yang sudah ditinggalkan induk semang-nya USA.
Tentara Vietcong mungkin masih punya jenderal Giap atau siapalah
yang melindungi punggung mereka…jika mereka terancam.

Dibelakang punggung serdadu Vietnam ….eh dibelakang punggung
saya….hanya ada angin. Sama-sama tidak jelas nasib kabisa saya
jika nanti tentara Vietcong…eh jobseeker Polandia memasuki bidang
pekerjaan saya. Memang Polish itu mungkin hanya menjadi warga
kelas dua tapi mereka masih bisa kerja cukup bermodal kemauan.
Tapi jika “specified job” penuh karena lebih murah, maka saya
sebagai warganegara dari “not eligible country” …tentulah
saya juga harus patriotik…..pulang.

Jobseeekr Polandia punya jenderal EU yang menjamin mereka bisa
berparade melewati Triomph de Arc atau juga Trafalgar Square.
Dan saya mungkin seperti tentara Vietnam….terlantar
tanpa kerja di Indonesia seperti jutaan teman2 saya penganggur
layaknya pengungsi tapi amat sangat membebani negeri sendiri.

Sekarang saya tahu….. kenapa negara saya harus maju dan makmur.
saya tau kenapa negara saya harus diurus dengan betul sekalipun subur

supaya jutaan anak-cucu saya kelak tidak lagi menganggur
dan jika merantau pun tidak setiap saat diancam tergusur
karena dibelakang punggung saya ada NEGARA yang tak pernah kabur.

IOW – 20061117
DjayaWikarta