Saya tidak percaya ada orang ber-selera MUSIK CLASSIC
seperti halnya saya tidak percaya ada orang punya selera
DISPLIN atau doyan-nya BEKERJA KERAS.
Kuping kita manusia dilahirkan untuk hal-hal yang menyenangkan.
Berdisiplin dan kerja keras tentu saja sangat tidak menyenangkan.
Meminati musik klasik pasti juga bukan bakat, bukan pula
kesenangan “naluriah”.
Jika kita “tiba-tiba” menjadi doyan work-alcoholic, ulet,
pantang menyerah dan berdisiplin tinggi. Atau “ujug-ujug”
kita sekarang sangat bisa menikmati musik klasik…
pastilah karena kita dulu “ada yang mencekoki”…atau
karena kita telah sadar dan telah terlebih dulu berusaha
untuk bisa menikmatinya.
saya sangat percaya, kalau musik klasik sangat bermanfaat
karena untuk bisa menikmatinya …kita perlu berusaha.
Lain dengan musik dang-dut, sampai jungkir balik saya
menutup kuping….tapi pinggul saya selalu otomatis bergoyang.
Pinggul ditahan, tangan kaki diikat…eh tapi
jempol saya tetap saja bergoyang, senang dengan otomatis.
Kebaikan yang sesungguhnya selalu beyond the hill.
Susah dilihat…juga susah didaki.
Itulah mungkin kita selalu lebih doyan “dangdut”.
karena untuk hal yang tidak baik…kita gampang goyang-nya.
Ber-selera musik klasik….sesungguhnya bukan selera tinggi
tapi buah kerja keras dan mungkin malah…buah penderitaan.
he he he…
20070222,iow
0 Tanggapan ke “Musik Classic beyond the hill”