Tiada pilihan diantara banyak kehidupan para ayam
Saat ratusan peti dari ribuan butir telor dijajakan
berderet mengisi pojok ruangan supermarket ASDA
harga boleh pilih dari 6 sampai 12 pences per butir.
Rachel gadis umur tiga tahunan
mendorong trolley berbendera “shopper in training”
berkeliling diantara tingginya rak-rak pajangan.
Sang mommy mengisi troley nya dengan dua krat “smart eggs”
Smart eggs dari smart price-nya sang supermarket
“eggs shoud be the first to purchase”…katanya
Disini….telor rupanya telah menggantikan nasi
bangsa pemenang adalah bangsa yang sadar gizi
Rachel kecil adalah benih Margaret Tatcher si Iron Lady
karena semua perempuan bisa jadi apa saja
semua orang bisa dan boleh jadi apa saja
tidak ada alasan anak pimpinan harus paling layak memimpin
Jutaan pemimpin di-benihkan
Jutaan telor pun telah pula di ejankan ayam-ayam di peternakan
Jika kita tidak berkenan memimpin…jadilah ayam petelor saja
jangan ayam pedaging yang umurnya 48 hari cuma
quality life is longer life…..
jika manfaat continuesly dihasilkan
Lalu akupun memilih jadi ayam petelor
agar tidak disembelih sesegera manfaat diinginkan peternak
agar tetap kandang bersih bersanitasi dan berpenghangat
hidup-pun aman sampai ribuan telor dihasilkan
leherpun akan tetap tersambung selama telor menggelundung
Maka aku pun harus tetap bertelor……agar tetap hidup.
aku dan kau seharusnya disembelih jika tak lagi bertelor
————————–
“Locking Road” 20020302
DjayaWikarta
0 Tanggapan ke “Jadilah Ayam Petelor….tetaplah bertelor”