Arsip untuk Maret, 2007

UU berbasis AGAMA

— In apakabar@yahoogroups.com, chenno qure <cqure@…> wrote:
>
> perlu ada undang-undang yang mengatur kehidupan
> beragama di negeri yang kusut ini…!!!
> >>>

Wah…kehidupan beragama koq harus di-atur-atur.
Ini mah pikiran “pancasilais orba”.
tambah jauh saja dari cita-cita majoritas Apakabarian…sekuler.
Sekuler justru “membebaskan” negara dari urusan agama.

lagipula sangat tidak demokratis jika negara
harus ngurus BASIS pikiran dari macam-macam orang.

Kalau keberatan dengan UU yang berbasis Injil, berbasis Quran,
atau keberatan berbasis tripitaka….lalu kenapa sekuler tidak
keberatan dengan UU berbasis “humanism”, berbasis “etnis”,
berbasis “sosial”, berbasis “liberal” juga tidak keberatan
dengan UU yang berbasis abrakadabra ?.
Sangat terasa double standard :)

Negara cukup mengatur TINDAKAN untuk manfaat bersama.
dan harus membebaskan segala bentuk BASIS Pikiran…

Lalu…Tuan Sok-Sekuler berpidato…
“Kalau nanti “UU”-nya mewajibkan orang ke gereja atau
ke mesjid…atau ke pura gimana ?”.

Simple…abaikan saja UU-nya, karena “UU” ini salah
sejak lahir….ingat-ingat..kan negara HARAM ngurus agama.

Semua kitab suci…
tentulah meng-claim memuat lengkap “aturan Tuhan”.
tentu pula para penganut-nya yakin bahwa Tuhan-nya Maha Besar,
atau Maha Kasih, atau Maha Kuasa, atau Maha Tunggal…
dan para penganut yang benar juga yakin “Tuhan mustahil disamai”

Lalu..kalau tiba-tiba
“Isi Quran, atau Injil, atau Tripitaka, atau Weda…..PLEK
dituliskan menjadi isi UU…gimana?”

Simple juga….tinggalkan dan kosongkan saja ….
karena manusia mustahil bisa hidup dalam “negara Tuhan”.
Manusia hanya bisa hidup di-negara manusia, dengan aturan manusia.

So…
UU dan aturan BERBASIS Injil, Quran, Weda, tripitaka monggo saja.
Tapi UU atau Aturan yang mengatur kehidupan beragama orang…
pastilah dibuat oleh orang SABLENG yang merasa SETARA Tuhan.
pastilah penipuan….menipu Tuhan juga menipu manusia.

Rasanya,
Demokrasi tidak pernah mengharamkan BASIS dan PIKIRAN apapun…

Kecuali mungkin….satu-satunya keajaiban dunia
demokrasi pancasila yang mengharamkan “pikiran atheist”.
salam,
DjayaWikarta
> — rahardjo mustadjab <bapakjewel@…> wrote:
>
> >
> > — walsuparmo <walsuparmo@…> wrote:
> >
> > > Salam,
> > > Sebentar lagi orang Bali ingin hukum berdaarkan
> > > agama Hindu dan yang
> > > B
>

Englishman penjajah yang “overstatement”

Barusan baca tulisan pak Mustadjab tentang understatement..
rasanya JRENG saya menemukan hal “lain” dari kebiasaan
para Englishman yang malah berlebihan dalam memuji.
Fantastic, Excellent, fenomenal, sensational, brilliant,
perfect, superb, awesome, beautiful, amazing, marvelous,
remarkable, astonishing, wonderful, fabulous, spectacular,
unbelievable, sampai ke pujian kelas biasa..very good,
lovely, well done, cool, great..atau thank you indeed.

Kata-kata pujian ini mencelat begitu saja dari mulut
Englishman setiap kali saya mengerjakan hal paling lumrah,
atau sekedar menghindar sedikit dari jalur mereka berjalan.
Dan sangat amazing…bunyi-bunyian yang sayup-sayup
terdengr saat mereka ‘ngerumpi”pun hanya sejenis brilliant.

Dan aneh-nya, sekalipun setiap mereka bernafas bunyinya…
Thaknyou…good…excellent..fantastic…brilliant…
tapi koq…tidak pernah terjadi INFLASI pujian.
Dan ajaibnya, mereka tidak pernah kecapek-an tersenyum…
Doyan memuji ini bisa jadi semacam keramahan yang ILMIAH.

Suatu saat saya hampir membatalkan kesimpulan “overstatement”
dari “englishman”….
Ketika si Bob yang diatas 50-an berambut gondrong, kumel,
sejak datang paling pagi, duduk, langsung mata hijaunya
nempel ke layar monitor…tak pernah peduli ada orang lewat,
tak peduli ada bunyi alarm latihan emergency…apalagi
untuk peduli tersenyum ramah, Bob tetap anteng dan cuek.
Maka saya hampir membatalkan keyakinan saya.

Setiap hari, tepat jam 12, dia bersihkan meja kerja, lalu
bergegas ke dapur untuk seperempat jam masak besar…
kembali ketempat kerja ..langsung gelar “DINER” siang hari
…lengkap sendok garpu, pisau, celemek dan desert.
Dan, ketika saya dengan amat sangat terpaksa harus
“berurusan” dengan si Bob…nanya program Visual basic
bikinannya …maka tahulah saya. Ternyata tertawanya
keras sekali, bodoran-nya gak henti-henti, dan malah
sampai ngajarin saya teknik-teknik programming komputer.
Sekalipun saya ogah2an…tetap saja si Bob semangat.

Si Bob memang lain. kelainan dari englishman yang saya kenal,
karena dia WELSCH…orang cyamru…yang dikenal nyentrik.

Juga jika menemukan kelainan “englishman” yang lain-lain
….amati saja…dan kalau DINGIN pastikan dia dari UTARA.
Atau malah british immigrant dari luar pulau Britania Raya.

Sekarang kesimpulan saya bahwa Englishman banjir pujian…
dan Englishman yang Overstatement kembali utuh.
Dan ini “watak” englishman yang mungkin bisa dikait2kan
dengan komentar Napoleon Bonaparte sebelum kalah di Waterloo.
“Bangsa England adalah bangsa penjaga Warung” begitu kira-kira
Napoleon mencemooh englishman. Padahal dia tahu, Perancis
merupakan negara paling sering dijarah oleh Englishman
setelah bangsa Scotland.

Mungkin maksud Napoleon, Englishman tidak becus bertempur
cuma selalu memenangkan peperangan dan sukses jadi penjajah.
Karena ternyata untuk memenangkan peperangan dan sukses
menjajah lebih diperlukan ke-CERDIK-an ilmu berdagang.
Sebagaimana kecerdikan PENJAGA WARUNG yang ramah, pandai
memuji dengan “tulus”…pasti diminati bangsa-bangsa lain
untuk menjadi langganan…menjadi jajahan Englishman.

Dan …bagaimana dengan “keramah-tamahan” Indonesian ?.
Koq bangsa Indonesia belum pernah terbukti menang perang …

Ada dua kemungkinan, pertama salah penerapan keramahan
karena tidak tahu hubungan antara pujian dengan keramahan.
Kemungkinan kedua karena bangsa Indonesia kurang LATIHAN.

Coba saja, bahasa Indonesia ternyata sangat miskin PUJIAN,
yang tentu menyulitkan orang Indonesian berlatih memuji.
Dan juga mungkin orang Indonesia “berbudaya waham keBESARan”
sehingga pasti sulit untuk sekedar membiasakan MUJI orang lain.

padahal terbukti, semakin pandai memuji..semakin bessuar jajahan
sebaliknya, semakin KELU memuji….lebih nyaman dijajah saja.
20070321,
DjayaWikarta

Re: Calon Presiden Harus Sarjana Untuk Jegal Megawati ?

Re: Calon Presiden Harus Sarjana Untuk Jegal Megawati ?

Persyaratan ini saya kira bukan untuk jegal Megawati.

Justru, dengan mem-blow-up “keanehan” persyaratan
maka sangat kentara untuk menaikan rasa “belas-kasihan” rakyat.

Bukankah pengalaman menunjukkan, rakyat Indonesia selalu
menentang HUKUM ALAM….
dengan selalu memilih pemimpin yang tampak paling teraniaya ?.
memilih calon pemimpin yang TAMPAK paling lemah.

Saya ingin sekali….sekali-sekali….
rakyat Indonesia memilih pimpinan atas dasar pertimbangan
PALING KUAT, PALING CERDAS, PALING BIJAKSANA, PALING JUJUR,
PALING BERANI, PALING TEGAS dan PALING DEMOKRATIS tentu saja.

bahkan bangsa Singa, Bangsa Hyena, bangsa banteng, bangsa monyet
di belantara Afrika selalu tunduk pada hukum alam…..
“pilih-lah satu pimpinan yang paling KUAT diantara kamu”

Tapi Indonesian….lebih bangga sebagai bangsa lemah
lebih memilih pemimpin yang tampak paling lemah.
Budaya KORUPSI lebih marak tumbuh jika pimpinan lemah.
Pemimpin KORUP lebih pasti lahir dari bangsa yang lemah…

Jika tujuan persyaratan ini untuk memotong “AKAR BUDAYA LEMAH”.
maka saya sangat setuju

Ini pesan sponsor dari Pak Iim…guru SD saya di Bandung…
Jadilah bangsa yang kuat ..
dan mulailah DOYAN memilih pimpinan yang tampak paling KUAT.
karena demokrasi hanya bisa dijalankan oleh bangsa yang KUAT

DjayaWikarta

Angin bertiup mengarah Bristol

Angin bertiup mengarah Bristol
Sajak DjayaWikarta

terlahir di ranjang kesayangan rumah sendiri
tidak bermimpi se liar puting beliung berlari
namun ditanah kelahiran hanya sibuk menghitung hari
ketidak jelasan akhirnya mengubur impian anak negeri

Bukan aku pembakar biduk
sengaja jalan pulang diuruk

angin Southampton telah aku tunggangi
ke barat atau ke timur kemana saja dia pergi
membeku mencair atau melarut
aku sekedar menurut

aku bukan pemegang ketangguhan
kemana saja angin bertiup menghempaskan
kesana pula langkah dijadikan harapan

Bristol…..
kenapa aku pernah tanpa sengaja menyebutnya sekali
semoga bukan keajaiban jika kota ini harus kusinggahi

sarapan pagi dengan nasi liwet berkuah ketakutan
entah sampai kapan….

IoW, 03-08-01
DjayaWikarta

Takut Ketinggian

Takut Ketinggian
Sajak DjayaWikarta

Saya takut naik gedung pencakar langit
takut juga pergi pake pesawat terbang

saya takut setiap kali berada di ketinggian
apalagi ngeri kalau tiba-tiba saja ada di ketinggian

bukan takut jatuh berantakan menimpa batuan
kepala dan badan berantakan tidak lah seberapa

saya hanya takut ketinggian
melayang terus lupa daratan…..

IoW,

DjayaWikarta

Dia…matahari siang dan malam

dalam kuasa langit
matahari tak kenal terbit

dalam lindungan alam
matahari tak pernah terbenam

matahari adalah nyala kehidupan siang dan malam
tak seorang berkuasa menjadikannya padam
andaipun gerimis menjadikan banjir tangis
tapi bara api matahari tak juga habis

temaran petang bukan ajakan pulang
pun juga fajar pagi bukan tanda kampiun datang
tak ada yang meng-akhiri harapan seperti Sangkuriang
juga tak ada yang mempersilahkan jadi pemenang

Hanya alam yang berhak menjadi pengemudi matahari
bukan aku, bukan kau, bukan dia…. juga bukan mereka.

Aku mengikuti dan menikmati hangat dan terang-nya cahaya…..
kuharap….kau juga.
Seperti kau bilang…biarkan matahari mengajak kita menari…..
biarkan alam memasak segala bahan yang kita berikan..

Matahari tak pernah menjanjikan apapun, juga tak pernah
mengharap apapun…..
kecuali dia tak pernah sedetik-pun berhenti memberi …..

Bandung 16-10-2000,
DjayaWikarta

Antara ABU DHABI dan JAKARTA

Setelah menunggu lima jam terkantuk-kantuk karena harus
transit di bandara Abu Dhabi, akhirnya saya bisa ikut
masuk barisan. Terselip sendirian diantara antrian
panjang kaum perempuan selalu saja menyenangkan.

Tidak seperti saat antri pergi dari Sukarno-Hatta, atau
queing di Gatwick yang sunyi dari suara percakapan.
Antri di Abu Dhabi betu-betul meriah. Semua perempuan
dalam barisan tidak pernah kehilangan percakapan. Akumulasi
suara ratusan percakapan bahasa Indonesia, Sunda dan Jawa
secara simultan hanya menghasilkan satu bunyi…dengung.

Sangat mengagumkan, perempuan-perempuan muda ini masih
bisa mendengarkan lawan bicara dan sekaligus menanggapinya.
Dan daya pilah frequensi suara mereka sangat luar biasa,
mereka bisa mengenali frekuensi suara bisikan teman bicara
diantara kebisingan yang memenuhi lorong antrian.

Walhasil, selama masa antrian dan boarding, saya tidak
bisa memetik satu-pun cerita. Padahal mereka kelihatannya
sangat ceria, bersemangat dan berbinar-binar bercerita.
Dan cerita-cerita minor tentang TKWI sepertinya mustahil
terjadi. Saya tidak melihat muka mereka ada yang sedih.

Abu Dhabi untuk mereka selalu identik dengan KOLEGA BARU
dan INFO PELUANG terbaru. TKWI segala penjuru rendevous disana.

Layaknya LAPANG GOLF untuk anggota DPR, Pejabat dan Pengusaha.
Yang berdiskusi merundingkan cara MENGOSONGKAN duit negara.

Sementara di Abu Dhabi, para perempuan itu “berseloroh”
untuk bisa lebih banyak dan langgeng NAMBAH devisa negara.

Saya seperti biasa memilih kursi aisle rada dibelakang,
supaya gampang kalau mau ke WC. Sejauh mata memandang
kedepan, kebelakang dan kesamping…..semua perempuan.
Dikursi tengah namanya Dedah, di kursi window…Ida.

Pesawat Boeing 777 yang hampir penuh oleh perempuan pun
merangkak ke angkasa dengan ringan dan hening….
Namun ke-hening-an hanya dirasakan a couple of minutes,
dan keriuhan celoteh pun kembali kumat seperti tadi.

Untung saja, akustik kabin pesawat tidak seburuk bandara.
Disini kita bisa menangkap semua percakapan dan obrolan.
Lalu-litas percakapan sekarang lebih sporadis dan riuh.
Lawan bicara bukan cuma orang yang duduk disamping, Ida
yang duduk di jendala kanan, dengan asyiknya ngobrol
dan ngegosipin majikannya dengan Ningsih di jendela kiri.

Juga Titin di kursi ekor yang nyender ke aft bulkhead
pesawat dengan leluasanya mendiskusikan suaminya yang
nganggur dengan Romlah di kusi tengah didaerah sayap.

lama sekali saya menunggu kesempatan untuk bisa mendapat
kesempatan bicara dengan Ida, yang tampaknya sudah senior
dalam pengetahuan “handling majikan” di arab…
Dan kesempatan itu akhirnya datang ketika waktu makan,
saat yang terdengar hanya deru mesin jet dan suara-suara
kecipak mulut mengunyah.

Ida, ternyata berusia “sudah tua dua-enam tahun”, katanya.
pengalaman “baru delapan lebih setengah” tambahnya pula.

“Dulu saya pernah di Kuwait, tapi jahat-jahat, terus saya
pindah ke Doha, sekarang saya di Riyadh….alhamdulillah
yang sekarang mah ….baik-baik”, mulut Ida senyum
menunjukkan sisa daging ayam tika masala di-gigi-nya….

“Lho…koq, Kuwait jahat-jahat bagaimana, kan yang jahat
mah agen-agen yang suka meres dan nilep upah ?, saya coba
diskusi dengan modal pengetahuan berita koran Indonesia.

“Kalau agen-nya jahat mah atuh gimana…?” Ida malah nanya
sambil matanya fokus kearah garpu stainless mengkilat.

Lalu ….sambil memasukkan garpu kedalam saku jaketnya….

“Iya betul jahat-jahat…kan biasanya mah paling dua atau
sampai enam bulan nggak dapat upah…teman saya malah
sampai pulang dua tahun nggak dapat juga upah-nya”, panjang
lebar Ida cerita tentang banyaknya “kejahatan”. Tapi
berita HOT yang saya tunggu-tunggu tidak juga keluar…
Berita hot tabloid, penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan.

Waktu saya pancing-pancing bahwa ada TKWI yang disiksa…
malah Ida melongo….malah

“O..ya…terus UPAH-nya dikasih ?”, Ida nanya tanpa berkedip.

Rupanya, untuk Ida dan teman-teman-nya dan mungkin juga saya…
Ada yang lebih penting dari SIKSAAN….atau kematian.

20061212
DjayaWikarta

Dialektika yang tolol

— In apakabar@yahoogroups.com, “Pemerhati Bangsa” wrote:
> >>>>
> Sebaliknya, dalam filosofi ‘to call a spade a spade’, di sini hun-hun siucay jelas menyalahi kodratnya sbg penulis yg harusnya netral dan tajam utk memperbaiki mutu kehidupan pluralisme di endonesha. Di sini saya rasa hun-hun siucay telah ‘melalaikan’ tugasnya so to speak utk menyumbang sesuatu yg baik bagi masyarakat endonesha.
> >>>

Ha ha ha, saya merasa sepintas sedang membaca DIALEKTIKAnya
Tan Malaka…
salah satunya kira-kira, memperoleh manfaat dari RESULTANT
dari dua “gaya” yang beda arah tapi satu titik tangkap masalah.
Resultan yang benar berguna tentu saja hanya akan dihasilkan
oleh “gaya-gaya” yang benar dan titik tangkap yang benar.

Tapi kalau “just to speak”, maka selain anda memainkan
gaya yang tidak benar…juga titik tangkap anda entah dimana.
Mustahil anda bisa menghasilkan resultan sumbangan yang baik.
Kecuali sumbangan untuk kepuasan masturbasi anda sendiri.

Anda TOLOL jika ingin MENYUMBANG sesuatu yang BAIK bagi Indonesia
tapi tanpa tahu titik tangkap masalah yang sebenarnya sama.
“Masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang amat sangat”.
Titik-tangkap AGAMA, mustahil bisa berada dalam satu-titik yang sama.
Bahkan pasti lebih dari 2 milyard titik-tangkap beda bidang.
Mustahil bisa menghasilkan RESULTANT

Tapi…demi demokrasi, anda-anda bermasturbasi OK-OK saja….
Tapi jangan mengaku untuk memberi sumbangan yang BAIK.
Kecuali anda penipu yang sedang memamerkan ketololan…

DjayaWikarta

> Obat yg harus ditelan supaya sembuh dari sakit itu biasanya PAHIT. Obat manjur itu biasanya PAHIT. Dan ndak ada atau jarang.. kritik yg terdengar enak di telinga. Kritik yg baik dan tegas justru biasanya MENYAKITKAN bagi pihak ttt.
>
> Tergantung bgmn anda melihatnya. Dari satu sudut pandang saya, saya justru berpendapat hun-hun siucay bisa jadi menyesatkan banyak pihak dgn mengatakan ‘nothing gets really wrong’.
>
> Saya jadi teringat ttg turis jepang yg ngotot plesir ke Irak tahun lalu. Nurut org jepun di kantor saya, dia ini sudah diingatkan famili/koleganya utk jangan plesiran ke tempat yg bak neraka itu, apalagi bagi kafiran spt dia. Dia ini ngotot (berpendapat kenapa orang muslim irak mesti menjahati orang tak ada urusan apa2 spt dia?) dan ignore semua nasihat dan larangan. Not until that doomed day, he did realize nasehat2 itu begitu nyata waktu pisau penggorok leher di tangan militan2 islam itu bergerak sedikit demi sedikit menggorok lehernya sampai putus bak menggorok leher ayam potong. But it is all too late for him.
>
> It is all pilihan bagi Hun hun siucay. Semoga dia tidak pernah menyesalinya.
>
> PB
> _________________________________________________________
> dikirim lewat http://forums.apakabar.ws – tanpa moderasi
>

Lawyer

Komentar Pak Wal sangat mengenaskan…..nyuut-nyuut ulu hati.
dan menyadarkan saya untuk hopeless…..
Memang, kalau berhenti pada urusan moral dan berhenti pada
kenyataan-nya memang begitu, maka kita harus hopeless.

tapi, tanggapan pak RM saya rasa sangat jernih dan positip.
(he he he…dasar manusia, bilang jernih karena merasa cocok)
Barangkali, dengan pembenahan PARADIGMA hukum seperti uraian
pak RM, akan bisa mengurangi hopeless saya dan pak Wal.

Saya sangat percaya, “moral bobrok” akan bisa diperbaiki
melalui cara-cara “ilmiah dan logis”, melalui penataan
system pendidikan misalnya.
Juga sangat yakin, bahwa moral hanya buah evolusi dari system.
Kita rasanya tidak akan pernah bisa membangun moral dengan
mengandalkan argumen-argumen MORAL semata.

andai…andai….andai saja
pak RM mau jadi mendik-nas, atau dirjen Dik-Ti khusus hukum.
Bisa jadi, kita bisa berharap 20 tahun lagi hukum di Indonesia
akan sekurangnya….tidak menjadi “badut yang biadab”.
sumber tertawaan sekaligus sumber ketakutan yang amat sangat.

tapi entahlah…..harus mulai dari mana.
Moral dulu atau logika dulu.

Atau…melalui cara demokratisasi dulu ?.
Cara satu-satunya untuk meng-extrapolasi keinginan Tuhan….

Salam,
DjayaWikarta

— In apakabar@yahoogroups.com, “walsuparmo” wrote:
>
> Salam,
> Kalau mau menjadi lawyer di Indonesia, syarat yang PALING penting
> bukannya menguasa ilmu2 seperti matematika, sosiologi dsb tetapi
> kemampuan BERNEGOSIASI sehingga dapat masuk kalangan MAFIA PERADILAN
> (dengan Jaksa,Hakim,Polisi dsb).Jadi menguasai DAGANG hukum bukan
> Hukum Dagang.
> Wsalam,
> Wal Suparmo
>
> — In apakabar@yahoogroups.com, rahardjo mustadjab
> wrote:
> >
> >
> > — djayawikarta wrote:
> >
> > > Anak perempuan teman saya pengen banget nanti
> > > jadi LAWYER, untuk itu harus jadi sarjana hukum
> >
>

Lawyer koq harus pandai Matematika

Anak perempuan teman saya pengen banget nanti
jadi LAWYER, untuk itu harus jadi sarjana hukum dulu.
Sekarang dia sedang menempuh A-Level, semacam
matrikulasi university atau mirip-mirip bimbingan
belajar ….tapi koq ada ujiannya ?, entahlah.

Bolak-balik dia konsul sama guru-nya, minta pengarahan.
Bolak-balik juga guru-nya yang penuh perhatian dan dengan
bijaksana menyarankan agar memilih bidang lain saja…

“Matematika kamu tidak cukup bagus” katanya.

Si anak (dan ibunya) bandel, cari konsulatan lain,
sampai coba test psikologi…ke-dukun belum.
Hasilnya…tetap saja tidak disarankan jadi Lawyer.
Karena katanya, “si Anak kurang minat matematika..”.

Aneh….apa hubungan-nya hukum dengan matematika ?.

Akhirnya, minta saran sama saya….saya tahu fakultas
Hukum di Indonesia termasuk jalur IPS yang non matematik
dan nyaris un-logik.
Tapi penjelasan saya blass tidak nyambung dengan kondisi
yang ada disini.

Maka, kita rame-rame menanggap guru-konsul pendidikan…
mendengarkan panjang lebar dia cerita tentang jurusan
kuliah tingkat Bachelor degeree di PT United Kingdom.
Si guru-konsul akhirnya ngasih jalan keluar….

“Kamu kuliah Hukum tanpa matematika dulu di Indonesia
setelah lulus….nanti pasti kamu bisa kuliah hukum
disini tapi level Master…
Banyak jalan menuju Roma koq”….katanya.

Memang banyak cara untuk menjadi ahli hukum….

Tapi, yang tetap ng’ganjel…koq ahli hukum harus pandai
matematika, harus cerdas memainkan logika segala rupa ?.

Sepengetahuan saya,
untuk menjadi ahli hukum Indonesia mah…
cukup kerongkongan kita tetap basah,
agar tidak cepat serak karena setiap saat buka mulut.

kalau pun kerongkongan kering….
tapi yang lain-lain pasti akan selalu basah…

Aneh memang.

20070313-iow
DjayaWikarta

Halaman Berikutnya »