Arsip untuk Maret 7th, 2007

Dilarang Berisik disaat Sedih

Mabok world-cup belum sembuh juga. Sore dalam bis umum
pulang dari London, kepenasaran berita terkini world
cup tak bisa ditunda-tunda. Teman duduk disebelah
mengeluarkan tv saku. Menyimak highlite pertandingan
Korea melawan Spanyol tadi pagi….lumayan
Karena England sudah jadi pecundang. Semua englishman dirundung nestapa.

Score dipojok nggal jelas terlalu kecil. TV hanya gambar
tanpa suara. Kepenasaran akhirnya mendorong tangan
merebut TV dari genggaman sang kawan.
Dalam genggaman, volume suara tivi dibesarkan…tapi
masih jauh lebih pelan dari suara bus dan suara
bicara orang dari beberapa penumpang.

Sedang asyik, hidmat menikmati hasil pertandingan adu
penalti dengan tv ditempel ke telinga. Tiba-tiba beberapa
orang penumpang dari depan dan kursi belakang berdiri
disebelah…..
“Matikan…..matikan sekarang juga…!”, ngancam.
Saya lirik, gede-gede kepala plontos potongan rambut
seperti Mills atau Ferdinand….
Karena merasa tidak mengganggu orang….terusin denger.

Salah seorang menjulurkan tangan mau merebut TV. Tentu
saja TV cepat disembunyikan kedalam saku baju.
“Aku…tak mau dengar apapun tentang sepakbola….matikan..!”.
orang yang kurusan ngancam serius…..

“Tapi saya tak membunyikan apa-apa ?”, saya berkilah.

“Kamu sedang mendengar berita sepak bola…bukan ?” dia ngotot.

“Lalu…kenapa ?”, saya coba sekedar mempertahankan hak.

“Aku tak mau kamu dengerin bola…..apalagi senyum segala “.

“Sorry….”, lalu saya matikan…masukkan TV kedalam tas
Tadinya saya mau minta voting…..boleh kagak saya dengerin bola.
Tapi pengalaman yang sama kemarin mengajarkan kebijakan lain…

Sekarang semua penumpang dalam bus angkat dua jempol tanpa senyum.
Memang sih….saat bersedih tak boleh senyum-senyum.
Nanti dikira gila……tapi gila bola….boleh-boleh saja.

20020624
DjayaWikarta

Terbang…terbanglah anak-ku

“Pak…aku naik kelas “, anak-ku berteriak dari sebrang.

“Rangking ?”, aku tadinya basa-basi.

“Rata-rata dooong… pasti !”, cadel anak-ku pe-de banget.

“Lho…koq rata-rata siih, nggak kesatu?”, jujur aku nggak ngerti.

“Nggak mau….nanti aku nggak punya temen..!”, tegas dia.

Tapi sampai kapanpun, bapak harus tetap bicara unggul…
“OK, tetaplah jadi demokrat…well done !”, suara dibuat riang,
nyesel karena merasa salah mengarahkan …….sembunyikan saja.
Atau benar ?.

Sekarang tinggal aku arahkan agar temannya juga harus dilawan.
step-by-step demikian menurut alan-parson-project.

WSM-20010711
DjayaWikarta

Scotland Welcomes You

Tata bahasa bukan lah perkara
orang bicara….cukup bicaralah saja
Bukankah jika aku tidak mengerti
Kau bisa ulangi lagi
dan aku bisa dengarkan lagi
aku Scottish bercakap dengan rasa dan hati

Sudah cukup bagiku kau datangi Highland
bicaralah tak perlu sungkan
Dan dari cengkraman sangkaan….
jauhkan bayangan pedang yang tak pernah aku sarungkan
Aku faham jika aku selalu sukar untuk faham
karena selalu akan……Scotland welcome you……

Aku lahir, besar, beranak dan bercucu disini
bernafas bersama jutaan domba, perahu dan tenunan tartan
Luas pandangku hanya bukit-bukit biru bertirai kabut putih
langkahku hanya riak-riak kecil air dipermukaan ratusan danau
sambutanku hanya sehangat angin arctic
tapi…. Scotland welcome you

Jangan tatap aku dengan mata beku
tersenyumlah ….karena aku juga bikin kue susu
terbuat dari terigu
sengaja aku tanam dan kutumbuk dalam gilingan kayu
diolah dengan susu lembu berponi dan bermantel bulu
cicipilah kue putih kering renyah Highland
rasakan manisnya sebelum berpikir untuk melupakan

:
Demi biru pekat yang melatari garis-garis bias putih
ingin suatu saat nanti aku kembali
meresapi manisnya bukit danau Highland bertirai misteri…

20020605 – Inverness
DjayaWikarta

WELSCH

Saat pasang surut
pasir putih beige terhampar jauh
dua jam keledai berjalan
air laut hanya terasa di kelembaban pasir.

Dahulu, negeri ini merasa jadi bagian kebanggaan romawi
Welsh…demikian orang muara membahasakan dirinya.
Bahasa dengan untaian huruf-huruf konsonan….
tentu saja susah dibaca dan di-lafal-kan.

Kami bukan english..bukan bramish..bukan irish..
juga bukan scottish…
kami turunan Romawi….penemu budaya kamar Mandi
datanglah ke Bath….
salah satu sisa kebesaran kami ada disana.
Juga Brythe dan Cardidde….

Keledai….adalah kesetiaan yang kami wariskan
agar orang-orang bisa suatu saat merasakan kecerdasan.

Brythe, 20010909
DjayaWikarta

Cinta

Kamu benar….
Dia memang Sang Pemberi
juga Maha Berlebih
kamu diberiNya taman
saat kau hanya meminta sekuntum bunga
DiberiNya lautan
saat kau hanya memohon setetes air

Maka,
aku tak lagi akan meminta kekalahan
nanti diberiNya aku keangkuhan
juga aku tak akan minta kemenangan
agar aku tak diberiNya ketakutan

Tapi sekarang kamu merasa telah diberiNya cinta
kurasa….kamu telah keliru meminta
mungkin….kamu lupa dan selalu lupa
terus berdoa tapi tidak meminta apa-apa
sehingga Sang Berlebih tak lagi memberi lebih….

WSM 20010607
DjayaWikarta

Lewat Glasgow

Cukup semalam di Glasgow. Singgah sekedar memenuhi
kepenasaran. Glasgow pernah besar karena perang dunia.
Saat mainland selatan digempur pesawat dan roket Jerman,
maka kota ini hidup dan sibuk membangun kapal-kapal perang.

Kesibukan selalu membawa keberkahan, tak peduli untuk
memelihara damai atau untuk mempersiapkan perang.
Limapuluh tahun lalu Glasgow sejahtera, sampai duapuluh
tahun kemudian berkah ini dipake membuat jalan, dan juga
membangun perumahan bertingkat puluhan.

Perumahan harus bertingkat tinggi untuk ngirit lahan. Padahal
sebagian besar daratan Scotland hanya lapangan rumput hijau.
Domba dan sapi lebih dimulyakan dalam soal jatah lahan.
Untuk manusia, lahan 6×10 cukup untuk duapuluh keluarga.
Lahan dimurahkan untuk rumput, belukar dan domba.

Glasgow tetap bangga sebagai penyandang kota terbesar kedua.
Kebanggaan tersisa dari flat-flat tinggi tanpa penghuni
serta jalan raya mulus licin dengan serakan sampah dan sunyi.
Tapi uang selalu bicara jujur saat harga-harga lebih murah disini.
Murah meriah tapi tetap merasa kota besar….jujurnya pernah besar.
Siang selalu sunyi bukan karena hari ini libur panjang.
Ke tanah Indian dan juga Brisbane mereka banyak pindahan.

Gelap baru mulai jam 10 malam, itupun karena mendung hujan.
Bermalam di Glasgow serasa memasuki goa kelelawar….
sesaat gelap maka ribuan orang tumpah ruah ke jalan.
Malam dipusat kota Glasgow adalah kemeriahan orang-orang.
Semua orang bernyanyi, berteriak, menjerit, terbahak-bahak.
Orang mabuk hanya orang yang menunduk dibangku duduk.

Parkir mobil sesulit cari tempat parkir di jalan Banceuy siang hari.
Dua kali mengelilingi kota akhirnya dapat celah sempit, tepat
didepan pintu masuk Bar yang dijaga dua lelaki berjas hitam.
Sesuai tarip yang tertera, 3.6 pound koin untuk 2 jam susah payah
dimasukan kedalam kotak bayar parkir. Sementara dari kemacetan
ditengah jalan, dua pengemudi mobil berteriak-teriak melambai
dan menunjuk-nunjuk pergelangan tangan……..
Buru-buru seluruh koin recehan dijejalkan…lalu mendekat kearahnya.
Tersenyum-senyum dia…..
“Mulai jam delapan parkir bebas…”, katanya, dan tampak menyesal…
tapi aku tidak……malah senang ada orang mau ngasih tahu

Sauchyhall Street mirip High Street-nya kebanyakan England.
Jalan besar belgia, berlantai batu-batu persegi. Jalan lebar
hanya untuk pedestrian. Disana-sini ada bangku buat selonjor.
Saucyhall remang saja tanpa kemeriahan gemerlap lampu.

Dalam naungan bangunan tinggi toko-toko yang sudah tutup
ditengah malam diantara hirup pikuk suara orang,
dua pengamen asyik melantunkan Hey Jude dengan iringan
keyboard Roland dan gitar listrik entah apa mereknya.
Lagu Beatles…..ternyata enak….sejuk tapi hangat terasa.
Tanpa sadar, tangan bertepuk kencang seusai lagu menghilang.
Beruntunglah….akhirnya tidak bertepuk sendirian.
Tidak perlu malu karena tersihir kagum….

Langit tidak juga menjadi hitam pekat, ketika jam satu hampir lewat.
Kembali ke TravelLodge, hotel disewa 50 pound hanya untuk mandi
dan nonton bola world-cup pagi hari.
Besok….menziarahi Highlander di Fort William, LochNess, Inverness
dan mencium batu granite dari rumah-rumah Aberdeen….

01-06-02
DjayaWikarta

.

Edinburgh Castle

Telah berulang pergantian ratu, raja dan penguasa
saksi redup terang berabad cerita bangsa
cadas hitam Edinburgh tetap tegak sepanjang masa

bola besi tembakan meriam telah menghantam ribuan
silih berganti serangan lawan dan bekas kawan
berjuta ajal lelaki melayang bersama runtuhan
Kastil Edinburgh selalu pulih berdiri dengan perkasa
menjulang memayungi keagungan kota

Milyaran tahun lalu Sang Pemberi berbaik hati
menganugrahi tanah Din Eidyn dengan cadas perut bumi
menjadi tonggak kokoh acuan bagi setiap hati untuk kembali
agar ringan bangsa Scotland pergi mengikuti putaran matahari

dipuncak bukit hitam kini Kastil Edinburgh berdiri
menantang laut dengan moncong meriam terisi amunisi
mengawasi inci-inci kota sampai seberang pantai Kirckaldy
menatap lembut helai-helai rumput dan bulu putih biri-biri
memperdengarkan dentum meriam sekali-sekali

Kastil Edinburgh adalah juga harga-diri
terpelihara terjaga melebihi nyawa-nyawa pribadi
menyimpan segala pusaka bangsa sampai scotch-whisky
tak ada kekonyolan dan keagungan sejarah ditutupi…
kemenangan dan kekalahan tersimpan dalam satu peti
biar putaran dunia yang akan menilainya sendiri

Edinburgh bertahan dari badai dan pasang surut sejarah
tak ada keperkasaan mampu membuatnya menyerah
Maka alam-pun berkenan….
pedang terhunus Highlander tetap setajam pena Englishman….
kekuasaan England adalah juga kekuasaan Scotland

dalam kejujuran tak satupun bisa terkalahkan….

030602
DjayaWikarta

Dua Pound bekal ke Surga ?.

Sarapan pagi kebiasaan bagus
lupa sarapan lupa hal-hal bagus
selalu lupa selalu tak pernah bagus

jam sepuluh perut mulai menggerutu
mulai minta diisi barang bagus
padahal lunch-break masih dua jam lagi
duit koin berkepala queen elizabeth dirogoh
ditimang…ditimbang,
sumpal perut koq musti duadelapan rebu

longok-longok didepan lemari self-service
pilih-pilih makanan yang ji-beuh….hiji seubeuh
cari bungkusan yang guede…..
bungkus biru muda….onion+
bungkus pink…..barbeque+
masing-masing satu pound….

bismillah….
sebiji koin dimasuk-kan
lalu tombol pilihan di tekan
grubrak…..bungkus biru jatuh
koin kedua juga dimasukkan
tombol ditekan….bungkus pink jatuh juga

Dua bungkusan sekarang tenteram di saku jas……
dimeja kerja….pejamkan mata sebentar
bayangkan nikmatnya makan
biru dulu….ah…pink dulu saja
roti isi segede betis perempuan langsing dalam genggaman
ujungnya tanpa ba-bi-bu langsung amblass ke mulut

huuuenaaak gila……rasanya laen.
barang bagus disayang-sayang
iseng semua tulisan kecil-kecil dipelototin…
disana terselip……english pork 60%
padahal baru satu gigitan…belum tertelan betulan

ojo gumuman…ojo kagetan…kata pak harto
tarik nafas dalam-dalam….pikir matang-matang
OK…..biar yang ini disimpan dulu….
buka bungkusan satunya lagi yang biru
pengalaman mengajarkan ketelitian…..
bungkus dibaca seksama sebelum dibuka….
dan…..scottish bacon with onion….kecil ada disana

kekagetan menghentikan kerubukan di perut
rasa sedap masih menggumpal dimulut
sepuluh menitan nimbang terus makan atau buang…..
dua pound bukan duit kecil sembarangan
rasa sedap dimulut menawarkan kesehatan di perut

tapi….hitungan ekonomi mulai jalan
sekarang satu-satunya kesempatan masuk surga terbuka
haji…tidak cukup dua pound
syarat puasa belum tentu kesampaian
shalat hanya saat-saat memerlukan
zakat….lebih banyak perhitungan daripada melaksanakan

maka dengan segala perhitungan profit dan benefit
kunyahan dimulut dikeluarkan
kedua roti dibungkus rapi kembali……
dengan hidmat……dengan rasa penyesalan yang dalam
kedua bungkusan disimpan rapi dalam keranjang sampah.

kalau saja aku boleh lupa…..
karena aku sudah lupa sarapan
tentulah makanan enak ini tak perlu jadi tabungan
tapi….hidup memang sekedar dipenuhi pilihan.

Dua pound mau ke surga….cukupkah ?
entahlah……
karena kelakuan keranjang sampah masih saja aku lakukan

————————
WSM _ Apr 16, 2002
DjayaWikarta

Do’a saat paceklik

terimakasih Tuhan…
untuk hati yang Kau beri teryata penuh rasa takut
dan untuk anugrah kalbu yang ternyata selalu kalut

namun biarkan ketakutan tenteram dalam perasaan
biarkan kekalutan merontokkan semua pikiran
Agar aku bisa belajar membutuhkan Tuhan…

111102
DjayaWikarta

Antara Cibangkong dan Southampton

Antara Cikudapateuh dan Kiaracondong
hujan meyisakan genangan diatas bantalan kayu
garis-garis rel sejajar menghilang dibalik percikan air
telapak kaki dingin menapaki kilatan besi baja

Menyusuri rel ….bukan menghitung bantalan
jumlah hitungan dan raihan tak lagi diimpikan
ujung rel kereta entah berakhir dimana

langit redup mendahului senja
asap kemenyan sayup merambat dari pekuburan Maleer
benteng berlumut diseberang deretan rel membisu
hujan berlanjut menetes turun dari helaian rambut.
dibawah rumpun bambu….sungai semakin bergemuruh

rasa takut tidak sirna karena usapan tangan dimuka
tak juga hilang saat kelopak mata dipejam
pisau paku hasil karya rel kereta dipegang erat
karena genggaman selalu menghadirkan teman

Stasion Cibangkong hanya dihuni seekor kucing
berhias pohon pisang dan bau pesing
disini…. garis-garis rel beranak pinak
simpangan dan pilihan bertambah banyak
Namun….semua ujung rel tak pernah tampak

Tahun-tahun bertambah
langkah mengalir melarutkan segala kebetulan
kadang tenang terkadang bergemuruh
lalu terlupakan…..

Southampton stasion membangunkan ingatan
kesendirian Cibangkong adalah juga Southampton alone
Derit roda kereta menambah garis-garis rel baja
simpangan semakin banyak …semakin banyak

Semua ujung rel di Cibangkong tak pernah tampak
rel-rel baja di Southampton bukan ujung Cibangkong
ujung rel kereta entah berakhir dimana

————–
Sat May 18, 2002 10:31 pm
DjayaWikarta

Halaman Berikutnya »