Mabok world-cup belum sembuh juga. Sore dalam bis umum
pulang dari London, kepenasaran berita terkini world
cup tak bisa ditunda-tunda. Teman duduk disebelah
mengeluarkan tv saku. Menyimak highlite pertandingan
Korea melawan Spanyol tadi pagi….lumayan
Karena England sudah jadi pecundang. Semua englishman dirundung nestapa.
Score dipojok nggal jelas terlalu kecil. TV hanya gambar
tanpa suara. Kepenasaran akhirnya mendorong tangan
merebut TV dari genggaman sang kawan.
Dalam genggaman, volume suara tivi dibesarkan…tapi
masih jauh lebih pelan dari suara bus dan suara
bicara orang dari beberapa penumpang.
Sedang asyik, hidmat menikmati hasil pertandingan adu
penalti dengan tv ditempel ke telinga. Tiba-tiba beberapa
orang penumpang dari depan dan kursi belakang berdiri
disebelah…..
“Matikan…..matikan sekarang juga…!”, ngancam.
Saya lirik, gede-gede kepala plontos potongan rambut
seperti Mills atau Ferdinand….
Karena merasa tidak mengganggu orang….terusin denger.
Salah seorang menjulurkan tangan mau merebut TV. Tentu
saja TV cepat disembunyikan kedalam saku baju.
“Aku…tak mau dengar apapun tentang sepakbola….matikan..!”.
orang yang kurusan ngancam serius…..
“Tapi saya tak membunyikan apa-apa ?”, saya berkilah.
“Kamu sedang mendengar berita sepak bola…bukan ?” dia ngotot.
“Lalu…kenapa ?”, saya coba sekedar mempertahankan hak.
“Aku tak mau kamu dengerin bola…..apalagi senyum segala “.
“Sorry….”, lalu saya matikan…masukkan TV kedalam tas
Tadinya saya mau minta voting…..boleh kagak saya dengerin bola.
Tapi pengalaman yang sama kemarin mengajarkan kebijakan lain…
Sekarang semua penumpang dalam bus angkat dua jempol tanpa senyum.
Memang sih….saat bersedih tak boleh senyum-senyum.
Nanti dikira gila……tapi gila bola….boleh-boleh saja.
20020624
DjayaWikarta
Komentar Terakhir