Antara Cikudapateuh dan Kiaracondong
hujan meyisakan genangan diatas bantalan kayu
garis-garis rel sejajar menghilang dibalik percikan air
telapak kaki dingin menapaki kilatan besi baja
Menyusuri rel ….bukan menghitung bantalan
jumlah hitungan dan raihan tak lagi diimpikan
ujung rel kereta entah berakhir dimana
langit redup mendahului senja
asap kemenyan sayup merambat dari pekuburan Maleer
benteng berlumut diseberang deretan rel membisu
hujan berlanjut menetes turun dari helaian rambut.
dibawah rumpun bambu….sungai semakin bergemuruh
rasa takut tidak sirna karena usapan tangan dimuka
tak juga hilang saat kelopak mata dipejam
pisau paku hasil karya rel kereta dipegang erat
karena genggaman selalu menghadirkan teman
Stasion Cibangkong hanya dihuni seekor kucing
berhias pohon pisang dan bau pesing
disini…. garis-garis rel beranak pinak
simpangan dan pilihan bertambah banyak
Namun….semua ujung rel tak pernah tampak
Tahun-tahun bertambah
langkah mengalir melarutkan segala kebetulan
kadang tenang terkadang bergemuruh
lalu terlupakan…..
Southampton stasion membangunkan ingatan
kesendirian Cibangkong adalah juga Southampton alone
Derit roda kereta menambah garis-garis rel baja
simpangan semakin banyak …semakin banyak
Semua ujung rel di Cibangkong tak pernah tampak
rel-rel baja di Southampton bukan ujung Cibangkong
ujung rel kereta entah berakhir dimana
————–
Sat May 18, 2002 10:31 pm
DjayaWikarta
0 Tanggapan ke “Antara Cibangkong dan Southampton”