Cukup semalam di Glasgow. Singgah sekedar memenuhi
kepenasaran. Glasgow pernah besar karena perang dunia.
Saat mainland selatan digempur pesawat dan roket Jerman,
maka kota ini hidup dan sibuk membangun kapal-kapal perang.
Kesibukan selalu membawa keberkahan, tak peduli untuk
memelihara damai atau untuk mempersiapkan perang.
Limapuluh tahun lalu Glasgow sejahtera, sampai duapuluh
tahun kemudian berkah ini dipake membuat jalan, dan juga
membangun perumahan bertingkat puluhan.
Perumahan harus bertingkat tinggi untuk ngirit lahan. Padahal
sebagian besar daratan Scotland hanya lapangan rumput hijau.
Domba dan sapi lebih dimulyakan dalam soal jatah lahan.
Untuk manusia, lahan 6×10 cukup untuk duapuluh keluarga.
Lahan dimurahkan untuk rumput, belukar dan domba.
Glasgow tetap bangga sebagai penyandang kota terbesar kedua.
Kebanggaan tersisa dari flat-flat tinggi tanpa penghuni
serta jalan raya mulus licin dengan serakan sampah dan sunyi.
Tapi uang selalu bicara jujur saat harga-harga lebih murah disini.
Murah meriah tapi tetap merasa kota besar….jujurnya pernah besar.
Siang selalu sunyi bukan karena hari ini libur panjang.
Ke tanah Indian dan juga Brisbane mereka banyak pindahan.
Gelap baru mulai jam 10 malam, itupun karena mendung hujan.
Bermalam di Glasgow serasa memasuki goa kelelawar….
sesaat gelap maka ribuan orang tumpah ruah ke jalan.
Malam dipusat kota Glasgow adalah kemeriahan orang-orang.
Semua orang bernyanyi, berteriak, menjerit, terbahak-bahak.
Orang mabuk hanya orang yang menunduk dibangku duduk.
Parkir mobil sesulit cari tempat parkir di jalan Banceuy siang hari.
Dua kali mengelilingi kota akhirnya dapat celah sempit, tepat
didepan pintu masuk Bar yang dijaga dua lelaki berjas hitam.
Sesuai tarip yang tertera, 3.6 pound koin untuk 2 jam susah payah
dimasukan kedalam kotak bayar parkir. Sementara dari kemacetan
ditengah jalan, dua pengemudi mobil berteriak-teriak melambai
dan menunjuk-nunjuk pergelangan tangan……..
Buru-buru seluruh koin recehan dijejalkan…lalu mendekat kearahnya.
Tersenyum-senyum dia…..
“Mulai jam delapan parkir bebas…”, katanya, dan tampak menyesal…
tapi aku tidak……malah senang ada orang mau ngasih tahu
Sauchyhall Street mirip High Street-nya kebanyakan England.
Jalan besar belgia, berlantai batu-batu persegi. Jalan lebar
hanya untuk pedestrian. Disana-sini ada bangku buat selonjor.
Saucyhall remang saja tanpa kemeriahan gemerlap lampu.
Dalam naungan bangunan tinggi toko-toko yang sudah tutup
ditengah malam diantara hirup pikuk suara orang,
dua pengamen asyik melantunkan Hey Jude dengan iringan
keyboard Roland dan gitar listrik entah apa mereknya.
Lagu Beatles…..ternyata enak….sejuk tapi hangat terasa.
Tanpa sadar, tangan bertepuk kencang seusai lagu menghilang.
Beruntunglah….akhirnya tidak bertepuk sendirian.
Tidak perlu malu karena tersihir kagum….
Langit tidak juga menjadi hitam pekat, ketika jam satu hampir lewat.
Kembali ke TravelLodge, hotel disewa 50 pound hanya untuk mandi
dan nonton bola world-cup pagi hari.
Besok….menziarahi Highlander di Fort William, LochNess, Inverness
dan mencium batu granite dari rumah-rumah Aberdeen….
01-06-02
DjayaWikarta
.
0 Tanggapan ke “Lewat Glasgow”