Arsip untuk Maret 16th, 2007

Antara ABU DHABI dan JAKARTA

Setelah menunggu lima jam terkantuk-kantuk karena harus
transit di bandara Abu Dhabi, akhirnya saya bisa ikut
masuk barisan. Terselip sendirian diantara antrian
panjang kaum perempuan selalu saja menyenangkan.

Tidak seperti saat antri pergi dari Sukarno-Hatta, atau
queing di Gatwick yang sunyi dari suara percakapan.
Antri di Abu Dhabi betu-betul meriah. Semua perempuan
dalam barisan tidak pernah kehilangan percakapan. Akumulasi
suara ratusan percakapan bahasa Indonesia, Sunda dan Jawa
secara simultan hanya menghasilkan satu bunyi…dengung.

Sangat mengagumkan, perempuan-perempuan muda ini masih
bisa mendengarkan lawan bicara dan sekaligus menanggapinya.
Dan daya pilah frequensi suara mereka sangat luar biasa,
mereka bisa mengenali frekuensi suara bisikan teman bicara
diantara kebisingan yang memenuhi lorong antrian.

Walhasil, selama masa antrian dan boarding, saya tidak
bisa memetik satu-pun cerita. Padahal mereka kelihatannya
sangat ceria, bersemangat dan berbinar-binar bercerita.
Dan cerita-cerita minor tentang TKWI sepertinya mustahil
terjadi. Saya tidak melihat muka mereka ada yang sedih.

Abu Dhabi untuk mereka selalu identik dengan KOLEGA BARU
dan INFO PELUANG terbaru. TKWI segala penjuru rendevous disana.

Layaknya LAPANG GOLF untuk anggota DPR, Pejabat dan Pengusaha.
Yang berdiskusi merundingkan cara MENGOSONGKAN duit negara.

Sementara di Abu Dhabi, para perempuan itu “berseloroh”
untuk bisa lebih banyak dan langgeng NAMBAH devisa negara.

Saya seperti biasa memilih kursi aisle rada dibelakang,
supaya gampang kalau mau ke WC. Sejauh mata memandang
kedepan, kebelakang dan kesamping…..semua perempuan.
Dikursi tengah namanya Dedah, di kursi window…Ida.

Pesawat Boeing 777 yang hampir penuh oleh perempuan pun
merangkak ke angkasa dengan ringan dan hening….
Namun ke-hening-an hanya dirasakan a couple of minutes,
dan keriuhan celoteh pun kembali kumat seperti tadi.

Untung saja, akustik kabin pesawat tidak seburuk bandara.
Disini kita bisa menangkap semua percakapan dan obrolan.
Lalu-litas percakapan sekarang lebih sporadis dan riuh.
Lawan bicara bukan cuma orang yang duduk disamping, Ida
yang duduk di jendala kanan, dengan asyiknya ngobrol
dan ngegosipin majikannya dengan Ningsih di jendela kiri.

Juga Titin di kursi ekor yang nyender ke aft bulkhead
pesawat dengan leluasanya mendiskusikan suaminya yang
nganggur dengan Romlah di kusi tengah didaerah sayap.

lama sekali saya menunggu kesempatan untuk bisa mendapat
kesempatan bicara dengan Ida, yang tampaknya sudah senior
dalam pengetahuan “handling majikan” di arab…
Dan kesempatan itu akhirnya datang ketika waktu makan,
saat yang terdengar hanya deru mesin jet dan suara-suara
kecipak mulut mengunyah.

Ida, ternyata berusia “sudah tua dua-enam tahun”, katanya.
pengalaman “baru delapan lebih setengah” tambahnya pula.

“Dulu saya pernah di Kuwait, tapi jahat-jahat, terus saya
pindah ke Doha, sekarang saya di Riyadh….alhamdulillah
yang sekarang mah ….baik-baik”, mulut Ida senyum
menunjukkan sisa daging ayam tika masala di-gigi-nya….

“Lho…koq, Kuwait jahat-jahat bagaimana, kan yang jahat
mah agen-agen yang suka meres dan nilep upah ?, saya coba
diskusi dengan modal pengetahuan berita koran Indonesia.

“Kalau agen-nya jahat mah atuh gimana…?” Ida malah nanya
sambil matanya fokus kearah garpu stainless mengkilat.

Lalu ….sambil memasukkan garpu kedalam saku jaketnya….

“Iya betul jahat-jahat…kan biasanya mah paling dua atau
sampai enam bulan nggak dapat upah…teman saya malah
sampai pulang dua tahun nggak dapat juga upah-nya”, panjang
lebar Ida cerita tentang banyaknya “kejahatan”. Tapi
berita HOT yang saya tunggu-tunggu tidak juga keluar…
Berita hot tabloid, penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan.

Waktu saya pancing-pancing bahwa ada TKWI yang disiksa…
malah Ida melongo….malah

“O..ya…terus UPAH-nya dikasih ?”, Ida nanya tanpa berkedip.

Rupanya, untuk Ida dan teman-teman-nya dan mungkin juga saya…
Ada yang lebih penting dari SIKSAAN….atau kematian.

20061212
DjayaWikarta

Dialektika yang tolol

— In apakabar@yahoogroups.com, “Pemerhati Bangsa” wrote:
> >>>>
> Sebaliknya, dalam filosofi ‘to call a spade a spade’, di sini hun-hun siucay jelas menyalahi kodratnya sbg penulis yg harusnya netral dan tajam utk memperbaiki mutu kehidupan pluralisme di endonesha. Di sini saya rasa hun-hun siucay telah ‘melalaikan’ tugasnya so to speak utk menyumbang sesuatu yg baik bagi masyarakat endonesha.
> >>>

Ha ha ha, saya merasa sepintas sedang membaca DIALEKTIKAnya
Tan Malaka…
salah satunya kira-kira, memperoleh manfaat dari RESULTANT
dari dua “gaya” yang beda arah tapi satu titik tangkap masalah.
Resultan yang benar berguna tentu saja hanya akan dihasilkan
oleh “gaya-gaya” yang benar dan titik tangkap yang benar.

Tapi kalau “just to speak”, maka selain anda memainkan
gaya yang tidak benar…juga titik tangkap anda entah dimana.
Mustahil anda bisa menghasilkan resultan sumbangan yang baik.
Kecuali sumbangan untuk kepuasan masturbasi anda sendiri.

Anda TOLOL jika ingin MENYUMBANG sesuatu yang BAIK bagi Indonesia
tapi tanpa tahu titik tangkap masalah yang sebenarnya sama.
“Masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang amat sangat”.
Titik-tangkap AGAMA, mustahil bisa berada dalam satu-titik yang sama.
Bahkan pasti lebih dari 2 milyard titik-tangkap beda bidang.
Mustahil bisa menghasilkan RESULTANT

Tapi…demi demokrasi, anda-anda bermasturbasi OK-OK saja….
Tapi jangan mengaku untuk memberi sumbangan yang BAIK.
Kecuali anda penipu yang sedang memamerkan ketololan…

DjayaWikarta

> Obat yg harus ditelan supaya sembuh dari sakit itu biasanya PAHIT. Obat manjur itu biasanya PAHIT. Dan ndak ada atau jarang.. kritik yg terdengar enak di telinga. Kritik yg baik dan tegas justru biasanya MENYAKITKAN bagi pihak ttt.
>
> Tergantung bgmn anda melihatnya. Dari satu sudut pandang saya, saya justru berpendapat hun-hun siucay bisa jadi menyesatkan banyak pihak dgn mengatakan ‘nothing gets really wrong’.
>
> Saya jadi teringat ttg turis jepang yg ngotot plesir ke Irak tahun lalu. Nurut org jepun di kantor saya, dia ini sudah diingatkan famili/koleganya utk jangan plesiran ke tempat yg bak neraka itu, apalagi bagi kafiran spt dia. Dia ini ngotot (berpendapat kenapa orang muslim irak mesti menjahati orang tak ada urusan apa2 spt dia?) dan ignore semua nasihat dan larangan. Not until that doomed day, he did realize nasehat2 itu begitu nyata waktu pisau penggorok leher di tangan militan2 islam itu bergerak sedikit demi sedikit menggorok lehernya sampai putus bak menggorok leher ayam potong. But it is all too late for him.
>
> It is all pilihan bagi Hun hun siucay. Semoga dia tidak pernah menyesalinya.
>
> PB
> _________________________________________________________
> dikirim lewat http://forums.apakabar.ws – tanpa moderasi
>