Dialektika yang tolol

— In apakabar@yahoogroups.com, “Pemerhati Bangsa” wrote:
> >>>>
> Sebaliknya, dalam filosofi ‘to call a spade a spade’, di sini hun-hun siucay jelas menyalahi kodratnya sbg penulis yg harusnya netral dan tajam utk memperbaiki mutu kehidupan pluralisme di endonesha. Di sini saya rasa hun-hun siucay telah ‘melalaikan’ tugasnya so to speak utk menyumbang sesuatu yg baik bagi masyarakat endonesha.
> >>>

Ha ha ha, saya merasa sepintas sedang membaca DIALEKTIKAnya
Tan Malaka…
salah satunya kira-kira, memperoleh manfaat dari RESULTANT
dari dua “gaya” yang beda arah tapi satu titik tangkap masalah.
Resultan yang benar berguna tentu saja hanya akan dihasilkan
oleh “gaya-gaya” yang benar dan titik tangkap yang benar.

Tapi kalau “just to speak”, maka selain anda memainkan
gaya yang tidak benar…juga titik tangkap anda entah dimana.
Mustahil anda bisa menghasilkan resultan sumbangan yang baik.
Kecuali sumbangan untuk kepuasan masturbasi anda sendiri.

Anda TOLOL jika ingin MENYUMBANG sesuatu yang BAIK bagi Indonesia
tapi tanpa tahu titik tangkap masalah yang sebenarnya sama.
“Masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang amat sangat”.
Titik-tangkap AGAMA, mustahil bisa berada dalam satu-titik yang sama.
Bahkan pasti lebih dari 2 milyard titik-tangkap beda bidang.
Mustahil bisa menghasilkan RESULTANT

Tapi…demi demokrasi, anda-anda bermasturbasi OK-OK saja….
Tapi jangan mengaku untuk memberi sumbangan yang BAIK.
Kecuali anda penipu yang sedang memamerkan ketololan…

DjayaWikarta

> Obat yg harus ditelan supaya sembuh dari sakit itu biasanya PAHIT. Obat manjur itu biasanya PAHIT. Dan ndak ada atau jarang.. kritik yg terdengar enak di telinga. Kritik yg baik dan tegas justru biasanya MENYAKITKAN bagi pihak ttt.
>
> Tergantung bgmn anda melihatnya. Dari satu sudut pandang saya, saya justru berpendapat hun-hun siucay bisa jadi menyesatkan banyak pihak dgn mengatakan ‘nothing gets really wrong’.
>
> Saya jadi teringat ttg turis jepang yg ngotot plesir ke Irak tahun lalu. Nurut org jepun di kantor saya, dia ini sudah diingatkan famili/koleganya utk jangan plesiran ke tempat yg bak neraka itu, apalagi bagi kafiran spt dia. Dia ini ngotot (berpendapat kenapa orang muslim irak mesti menjahati orang tak ada urusan apa2 spt dia?) dan ignore semua nasihat dan larangan. Not until that doomed day, he did realize nasehat2 itu begitu nyata waktu pisau penggorok leher di tangan militan2 islam itu bergerak sedikit demi sedikit menggorok lehernya sampai putus bak menggorok leher ayam potong. But it is all too late for him.
>
> It is all pilihan bagi Hun hun siucay. Semoga dia tidak pernah menyesalinya.
>
> PB
> _________________________________________________________
> dikirim lewat http://forums.apakabar.ws – tanpa moderasi
>

0 Tanggapan ke “Dialektika yang tolol”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.