Arsip untuk Maret 21st, 2007

Englishman penjajah yang “overstatement”

Barusan baca tulisan pak Mustadjab tentang understatement..
rasanya JRENG saya menemukan hal “lain” dari kebiasaan
para Englishman yang malah berlebihan dalam memuji.
Fantastic, Excellent, fenomenal, sensational, brilliant,
perfect, superb, awesome, beautiful, amazing, marvelous,
remarkable, astonishing, wonderful, fabulous, spectacular,
unbelievable, sampai ke pujian kelas biasa..very good,
lovely, well done, cool, great..atau thank you indeed.

Kata-kata pujian ini mencelat begitu saja dari mulut
Englishman setiap kali saya mengerjakan hal paling lumrah,
atau sekedar menghindar sedikit dari jalur mereka berjalan.
Dan sangat amazing…bunyi-bunyian yang sayup-sayup
terdengr saat mereka ‘ngerumpi”pun hanya sejenis brilliant.

Dan aneh-nya, sekalipun setiap mereka bernafas bunyinya…
Thaknyou…good…excellent..fantastic…brilliant…
tapi koq…tidak pernah terjadi INFLASI pujian.
Dan ajaibnya, mereka tidak pernah kecapek-an tersenyum…
Doyan memuji ini bisa jadi semacam keramahan yang ILMIAH.

Suatu saat saya hampir membatalkan kesimpulan “overstatement”
dari “englishman”….
Ketika si Bob yang diatas 50-an berambut gondrong, kumel,
sejak datang paling pagi, duduk, langsung mata hijaunya
nempel ke layar monitor…tak pernah peduli ada orang lewat,
tak peduli ada bunyi alarm latihan emergency…apalagi
untuk peduli tersenyum ramah, Bob tetap anteng dan cuek.
Maka saya hampir membatalkan keyakinan saya.

Setiap hari, tepat jam 12, dia bersihkan meja kerja, lalu
bergegas ke dapur untuk seperempat jam masak besar…
kembali ketempat kerja ..langsung gelar “DINER” siang hari
…lengkap sendok garpu, pisau, celemek dan desert.
Dan, ketika saya dengan amat sangat terpaksa harus
“berurusan” dengan si Bob…nanya program Visual basic
bikinannya …maka tahulah saya. Ternyata tertawanya
keras sekali, bodoran-nya gak henti-henti, dan malah
sampai ngajarin saya teknik-teknik programming komputer.
Sekalipun saya ogah2an…tetap saja si Bob semangat.

Si Bob memang lain. kelainan dari englishman yang saya kenal,
karena dia WELSCH…orang cyamru…yang dikenal nyentrik.

Juga jika menemukan kelainan “englishman” yang lain-lain
….amati saja…dan kalau DINGIN pastikan dia dari UTARA.
Atau malah british immigrant dari luar pulau Britania Raya.

Sekarang kesimpulan saya bahwa Englishman banjir pujian…
dan Englishman yang Overstatement kembali utuh.
Dan ini “watak” englishman yang mungkin bisa dikait2kan
dengan komentar Napoleon Bonaparte sebelum kalah di Waterloo.
“Bangsa England adalah bangsa penjaga Warung” begitu kira-kira
Napoleon mencemooh englishman. Padahal dia tahu, Perancis
merupakan negara paling sering dijarah oleh Englishman
setelah bangsa Scotland.

Mungkin maksud Napoleon, Englishman tidak becus bertempur
cuma selalu memenangkan peperangan dan sukses jadi penjajah.
Karena ternyata untuk memenangkan peperangan dan sukses
menjajah lebih diperlukan ke-CERDIK-an ilmu berdagang.
Sebagaimana kecerdikan PENJAGA WARUNG yang ramah, pandai
memuji dengan “tulus”…pasti diminati bangsa-bangsa lain
untuk menjadi langganan…menjadi jajahan Englishman.

Dan …bagaimana dengan “keramah-tamahan” Indonesian ?.
Koq bangsa Indonesia belum pernah terbukti menang perang …

Ada dua kemungkinan, pertama salah penerapan keramahan
karena tidak tahu hubungan antara pujian dengan keramahan.
Kemungkinan kedua karena bangsa Indonesia kurang LATIHAN.

Coba saja, bahasa Indonesia ternyata sangat miskin PUJIAN,
yang tentu menyulitkan orang Indonesian berlatih memuji.
Dan juga mungkin orang Indonesia “berbudaya waham keBESARan”
sehingga pasti sulit untuk sekedar membiasakan MUJI orang lain.

padahal terbukti, semakin pandai memuji..semakin bessuar jajahan
sebaliknya, semakin KELU memuji….lebih nyaman dijajah saja.
20070321,
DjayaWikarta