Arsip untuk April, 2007

ganti pesawat

Re: Larangan kepada WNI Amerika untuk terbang dengan airline Ind
— In apakabar@yahoogroups.com, “Martha” <homegirl92504@…> wrote:
>
> Pemerintah Amerika menghimbau agar warga nya travel to and from
> Indonesia, supaya fly straight to the destination dengan
> menggunakan international carriers dari negara yang CIVIL
> AVIATION AUTHORITIESNYA MEET THE INTERNATIONAL AVIATION SAFETY
> STANDARDS.
> >>>>

Saya setuju warning ini, tapi seharusnya….Pemerintah USA
juga WARNING atau kalau perlu juga melarang Boeing Company
menjual pesawat Boeing 737 bikinannya untuk diterbangkan
oleh maskapai penerbangan Indonesia.

Statistik kecelakaan yang menurunkan rating safety Indonesia
rasanya melulu terkait kecelakaan Boeing 737 akhir-ahkir ini.

Kecelakaan type pesawat lain ….belum seburuk 737.
Boeing 747 masih OK,
atau ganti saja semua pesawat Boeing 737 di Indonesia
dengan pesawat-pesawat buatan Airbus, masih banyak pilihan
pesawat dari Airbus A318, A319, A320, A321

Kalau mau yang lebih gede dari 747 juga tersedia A380 :)
Salam,
DjayaWikarta

Mencoba menyelamatkan Tuhan

Re: British town votes to change a church to a mosque

— In apakabar@yahoogroups.com, “hadjar_wish” <hadjar@…> wrote:
>
> Yang jangan anda lupakan:
>
> selama orang Islam masih mau jadi korban kibulan orang Arab, artinya
> selama orang Islam masih percaya bahwa al-Mushaf itu berisi wahyu
> Allah …. dst.
>>>>

Justru saya merasa HARUS membenarkan “kibulan” orang Arab,
bahwa al-Mushaf itu HARUS dibaca sebagai kata-kata Tuhan.

Tuhan itu HARUS bukan fakta dan bukan data yang bisa diciptakan
oleh otak manusia.
Tuhan itu HARUS tidak ada yang bisa menyamainya.
tidak ada pula yang bisa me-wakilinya di dunia.

Karena itu, maka tidak seorang manusia-pun di dunia
yang ber-hak mengatas-namakan tindakannya sebagai PERINTAH Tuhan.
tentu tidak juga berhak mengatasnamakan tindakannya sebagai
perintah al-Mushaf….yang semuanya “sekedar” kata-kata Tuhan.

“pencurian” adalah urusan hukum manusia di-dunia…
dan bukan urusan Tuhan…..juga bukan urusan al-Mushaf nya Tuhan.
urus saja dengan hukum “bikinan” Khalifah-nya dunia…..manusia.
Misalnya, semua pencuri harus dihukum makan 3 x sehari.

karena “…kamu manusia lebih tahu bagaimana mengurus dunia”..

So… make it everything simple.

DjayaWikarta

Menerapkan ayat kitab suci ?.

Menerapkan ayat Kitab Suci ??.

— In apakabar@yahoogroups.com, “Achmad Chodjim” <chodjim@…> wrote:
>
> Dalam menerapkan ayat kitab suci di kehidupan sosial, maka
> seseorang harus bisa arif. Dan, itu bukan monopoli orang Islam.
> Perjanjian lama penuh ayat yang menyeru Israel untuk melakukan
> pemunahan umat manusia.
>>>>

Per-”definisi”, ayat kitab suci merupakan “kalimat Tuhan”.
Per definisi juga, Tuhan tidak mengambil bagian dalam
kehidupan sosial manusia…..karena tidak level.

Jika tidak ada satu-pun yang menyamai Tuhan, lalu bagaimana
mungkin ada MANUSIA yang bisa “menerapkan” ayat Tuhan ?.
Bahkan, dengan puncak ke-arif-an pun, tetap saja
manusia mustahil ber-hak MENERAPKAN kata-kata Tuhan.

Yang selalu mengganjal saya, kenapa pada saat kita menganggap
“ajaran” Tuhan itu mutlak benar-nya…
Koq, kita seperti DIPAKSA menyebutkan SUMBER ajaran-nya.
Mustahil Tuhan yang Maha Besar akan nuntut manusia
ke pengadilan negeri hanya karena manusia mem-plagiat
ide-ide Tuhan….memangnya Tuhan seperti penulis Novel
yang sedang kekurangan biaya nyekolahin anak ?.

Seperti misalnya “daging babi haram”, kalau yakin “ajaran”
ini benar sekalipun ayat ini paling susah untuk difahami,
Akan elok sekali, cukup saja bilang
“Untuk SAYA babi haram titik”.
Alasan ini lebih “elegan” dan tampak lebih percaya diri…

Tapi orang-orang malah ngasih alasan yang bukan alasan….
“karena menurut Quran…haram”….dan orang pun hiruk-pikuk.
Makanya jangan salahkan, jika Tuhan jadi sasaran kesalahan
karena para ulama dan pendeta hanya lempar batu sembunyi tangan.
Dan malah nyari penghidupan dari jualan “ayat Tuhan”.

Orang Islam lebih doyan “mengibar-ngibarkan BENDERA Islam”
daripada menjadikan BENDERA Islam sebagai SAJADAH ditengah malam.
Lebih doyan “menyampaikan ayat” daripada
“membaca, membaca, dan membaca ayat”

mang Dulloh bilang, cukup ayat dibaca-baca-baca saja,
tidak perlu buru-buru atau terpaksa ambil kesimpulan…
Dan terutama sekali….jangan buru-buru menjual.

Jika misalnya ada ayat berbunyi “Bunuh jusfikun..”
Saya akan seumur hidup baca-baca and baca ini ayat
….tanpa refot-refot ngebunuh jusfikun.

Inilah “ke-ARIF-an” yang sebenarnya sangat logis, cari aman.
karena kita tidak pernah tahu persis kata-kata Tuhan.
Yang pasti, semuanya harus konsis….
Tuhan mustahil merugikan manusia ciptaannya sendiri…
termasuk juga tidak akan pernah mencelakakan si Jusfikun.

Aman-nya…kalau kita kebelet pengen BERTINDAK atas nama ayat
Cukup terapkan saja dulu ayat-ayat yang tidak “menyentuh”
manusia lain. Kecuali kalau yakin bisa “menyenangkan manusia”.

masih ribuan banyaknya ayat yang akan menyenangkan orang
daripada terpaku pada ayat yang seolah “memerintahkan da’wah”.
Padahal ternyata, Tuhan maunya kita hanya baca-baca-baca-baca.
Karena, Tuhan sendiri yang akan menanamkan pemahamannya
langsung kedalam dada manusia, dengan cara special Tuhan.

AGAMA seharusnya jalan manusia menuju Tuhan
bukan malah dipake sebagai alat untuk menguasai manusia.

seperti sekarang…..

DjayaWikarta

> —– Original Message —–
> From: hadjar_wish
> To: apakabar@yahoogroups.com
> Sent: Monday, April 09, 2007 6:09 PM
> Subject: [apakabar] Re: British town votes to change a church to
a mosque
>
>
>
> Menyejukkan?
>
> Yang dilakukn oleh orang-orang seperti Achmad Chodjim ini (atau
> Darwin Bahar) adalah penipuan..
>
> Ka
>

Sekuler dan Jilbab

Re: Siapa lagi yang mau negara sekuler..?

— In apakabar@yahoogroups.com, “hadjar_wish” <hadjar@…> wrote:
>
> Dan saya juga akan ngotot menuntut supaya, seperti di Turki dan
> Perancis misalnya jibab kudu dilarang di gedung milik negara, termasuk
> di sekolah dan universitas negeri.
>>>>>

Saya kira, sekuler tidak identik dengan fascist yang selalu
mengharuskan manusia berkepala sama….tidak berjilbab misalnya.

katanya sekuler tidak mencampur-adukan agama dengan negara.
Urusan negara harus bebas dari urusan agama. Juga sebaliknya.
Jika agama itu juga semata-mata urusan individu
tentulah juga sekuler harus menjamin kebebasan individu

Jilbab itu urusan individu perempuan, bukan urusan negara.
Jika ada perempuan berjilbab jadi presiden, bukan berarti
negaranya doyan ngurus jilbab.
Juga kalau rakyat dan presiden-nya selalu pake bikini.
Urusan elok… elok pake bikini atau elok pake jilbab.

lain halnya dengan BURKAH yang hanya menyisakan kerlingan mata.
tapi ini-pun bukan karena burkah TIDAK SEKULER….tapi tidak elok.

Saya setuju Jack Straw mantan menlu yang meminta konstituen
perempuan untuk membuka penutup muka saat berhadapan dengan dia.
Karena mungkin si Jack sangat doyan yang elok-elok.
Seperti saya….

DjayaWikarta

Indonesia hanya perlu Knowledge Tukang Jahit

Sejak setahun terakhir, tempat kerja saya kebanjiran
anak-anak muda dari India. Dan tampaknya, para bos-bos
di- tempat kerja sangat hangat menyambut kedatangan mereka.
Saya dan puluhan pekerja immigrant dari daratan Eropah hanya
bisa tersenyum-senyum penuh arti setiap kali para bos dengan
sangat ceria mengantar mereka berkeliling ruangan kantor,
Memperkenalkan mereka dengan kita-kita….

Acara plant-tour untuk pegawai baru sangat tidak lazim.
Saya, hari pertama datang langsung menghadap line manager
sesuai arahan yang didapat melalui telepon atau e-mail.
Selesai berkenalan, si manager langsung konfirmasi
keahlian yang saya miliki sesuai isi CV, lalu setelah
menunjukkan meja kerja, dia menceritakan “permasalahan”
yang sedang dihadapi kantor….dan dilepas sendirian.

Tapi mereka, Ashok, Kumar, Silvaraj, Raja, Srinivas,
Ameet dan puluhan teman-temannya selalu dalam “lindungan”
para bos. setiap saat di-emong, tidak dikejar schedule.
Yang diceritakan kepada mereka pun selalu “keunggulan”
yang dimiliki perusahaan….tak ada permasalahan.

Dan ternyata menurut teman-teman TKI senasib saya, mereka
bukan cuma membanjiri Inggris yang bekas induk semangnya,
tapi juga membanjiri daratan Eropah dan Amerika utara.

Sesuai berita-berita koran dan TV, Mata dan telinga Orang-
orang Eropah sekarang sedang tertuju ke India dan China.
Tentu bukan karena disana ada bencana. Tapi karena hampir
semua barang ecek-ecek, industri raksasa, hi-tech sampai
urusan harga emas dunia selalu berbau India dan China.
Orang pinter bilang, sekarang India dan China sedang jadi
raksasa ekonomi….maksudnya negara yang punya banyak duit.

Banjirnya Indian ini, mungkin sama seperti tahun 80-an,
saat Indonesia sedang “dilirik” oleh mata dunia ?, entahlah.
Cuma bedanya, mungkin….Indian bukan cuma berjejalan duduk
dibangku University dan college, tapi mereka juga belajar
ngantor, magang kerja, sampai training menjadi “jobshopper”.

Yang mengherankan adalah alasan kedatangan mereka…
Orang India ini semua sedang belajar mempertajam KNOWLEDGE
dari negeri yang sudah tahu arti-nya knowledge, dari Negeri
yang sudah terbukti bisa mengambil BENEFIT dari knowledge.

Belajar KNOWLEDGE ?.

Padahal saya tahu, India sudah punya bom nuklir, punya segala
macam dari otomotif, biotek, nano-tek, roket sampai sateleet.

Konon, KNOWLEDGE bukanlah isi kepala, bukan ingatan, bukan
sekedar “pengetahuan”, dan pasti bukan pula “merasa tahu”,
dan pasti bukan “sok-tahu” apalagi cuma modal berGAYA.
.
“Knowledge is what benefits.”

Seperti Indonesia, India sungguh tidak kekurangan orang pintar,
banyak orang cerdas, keahlian dan pengetahuan serba ada dan
belimpah, tapi kemiskinan pun tetap saja lebih banyak tersedia.

Namun sekarang bangsa India sudah menemukan “KNOWLEDGE”
dan sedang belajar mengartikannya kedalam bentuk BENEFITS
Saat kita orang Indonesia celakanya sudah merasa completed
hanya dengan merasa banyak tahu….malah merasa GAYA.
Konon, “penemuan” tertinggi dari umat manusia bukan relativitas
Einstein, bukan gravitasi Newton, bukan psikoanalisa Freud,
bukan teori evolusi Darwin, bukan Mendel, bukan komputer,
bukan distribusi Pareto, bukan Emanuel Kant, bukan Da Vinci,
bukan pula yang bukan-bukan….. tapi pemahaman ORGANISASI.

Dengan organisasi…
maka semua penemuan-penemuan “besar”
dan juga bahkan setiap “kecerdasan yang kecil”
akan bisa menghasilkan MANFAAT.

Tapi lagi-lagi…celakanya adalah “pemahaman organisasi”
ternyata tidak terkait dengan kecerdasan.
Organisasi berpikir, organisasi bertindak, organisasi bersikap,
organisasi bekerja sama, organisasi rasa, organisasi system….
dan juga “well organized”…. kita belum pernah punya.

Mungkin, keterampilan organisasi lebih mirip keterampilan
yang dimiliki TUKANG JAHIT langganan emmak saya di Bandung..

Segala macam harus diukur, tanpa harus jadi budak ukuran.
Selalu bertanya enaknya kemauan emmak bagaimana….
segalanya harus pas, tidak berlebih tidak kekurangan bahan.
Baju yang dijahit malam takbiran, selalu bisa dipake lebaran.

sesungguhnya, Indonesia hanya tinggal memerlukan TUKANG JAHIT
yang bisa menjahit lebih 220 juta potongan-potongan keahlian,
keterampilan dan pengetahuan supaya bisa menjadi MANFAAT.
20070406
DjayaWikarta

hijrah

Awal Januari 2001 saya bersama 7 teman mengikuti “jejak nabi”,
istilah keren-nya mah HIJRAH. Melakukan upaya perjalanan
dengan tujuan agar masih bisa melihat harapan yang lebih baik.
Karena konon, harapan itu solar sekaligus steering untuk Isuzu
panther saya. Isuzu diisi harapan supaya bisa melaju ke tujuan.

Saya typical ordinary people yang selalu enjoy jadi follower.
Saat saya dulu “nekad” hijrah juga ternyata karena ada teman.
kalau gak ada teman, bisa jadi arti hijrah untuk saya hanya
sekedar penanggalan lain selain masehi dan tahun shaka.

Lalu delapan biji kepala yang masih kosong pengetahuan naik
pesawat tapi merasa ahli ngitung pesawat inipun bersepakat
untuk beli tiket Malaysian Airways. Alasan paling optimal,
tiket Garuda mahal. Airline yang lain gak dipilih karena
pilotnya pasti tidak pake bahasa melayu. Bisa repot kita.
Tapi alasan utamanya, tiket boleh diutang sampai gajian.

Menjelang berangkat laksana rombongan ziarah ke Mekah,
lengkap anak bini, ayah-bunda serta tetangga berkumpul
di Cimahi. Segala urusan yang berkaitan dengan hijran
dituntaskan, terutama soal penandatanganan utang-piutang.
That’s all about keinginan melihat harapan….

Dan doa-pun bersama-sama dibisikkan. Saya pribadi dapat
doa dari Abah saya khusus….doa memasuki tempat GELAP.
Padahal saya baru tahu belakangan kalau Inggris lebih
terang benderang daripada alun-alun cimahi dimalam minggu.

Abah membekali saya doa ini karena mendengar cerita bahwa
ke delapan orang ini tidak ada yang tahu cara going abroad.
Tidak ada yang kenal orang yang dituju siapa, gak tahu
akan tinggal dimana, gak tahu sampai kapan, gak tahu akan
mengerjakan apa, dan lupa….kenapa saya harus pergi juga.

Bus tentara yang sarat dengan penumpang dan barang bergerak
pelahan seolah enggan. Semua penumpang hening, membalas
lambaian tangan dari para pengantar yang juga tanpa suara.

Sampai Padalarang tapi hanya suara bus dan celoteh anak
anak saja yang terdengar. Bapak-bapaknya entah mikir apa.
Tapi yang jelas, saat itu saya sendiri merasa sedang melongok
kedalam lubang sumur yang sangat dalam.
Gelap, keringat dingin, bulu kuduk juga serasa tegak.
Hanya saja kadang sekilas terlihat pantulan gemerlap air
….air harapan.

Cianjur dan Puncak terlewati begitu saja. Tapi di JAgorawi
panas didalam bus tanpa AC mulai membuyarkan lamunan.
Jendela bus semua dibuka tapi keringat tambah deras saja.
Saat dipuncak derita, seperti biasa kita ingat orang lain.
dan mulai ingat kalau supir bus harus makan.
Supir bus makan, dan kitapun piknik buka lontong perbekalan.

Saat bus melaju di Jalan Tol Cengkareng dengkul saya mulai
serasa kehilangan persendian karena melihat pesawat beterbangan.
Entah takut pesawat entah takut terbang entah takut apalagi….
Tapi penumpang dibelakang mulai riuh soal perbekalan.
Rupanya ada hal paling penting terlupakan, lupa bawa beras.
karena harapan boleh saja diawang-awang tapi kalau gak ada beras
apalah jadinya kehidupan kita didunia.

Lalu tanpa ba-bi-bu lagi…saya teriakin sopir supaya minggir
dan segera keluar dari jalan tol. Sekalipun supir tentara
kalau diteriakin dengan serius rupanya kaget juga dia.
Menjelang gerbang cengkareng ada “jalan keluar”, kesanalah
bus melompati rumput dan sedikit tanggul beton masuk jalan
kampung tanpa aspal. Beruntung kita dapat warung yang jual
beras dan sembako. Sekarang rasanya rada siap going abroad.

Menunggu hampir 5 jam di bandara serasa sekejap saja.
Bertahun-tahun bersama anak-isteri….baru saat seperti itu
terasa kalau waktu saya sangat kurang bersama mereka.
Saya bisikin teman saya…. kalau nanti mau masuk CHEK IN
jangan coba-coba tengok kebelakang, jangan coba-coba balas
lambaian tangan….jangan tunjukin mata yang mulai memerah.

Dan delapan jagoan pun sekarang duduk dengan tegap didalam pesawat MAS.
Tegap seperti serdadu, dada lurus, mata lurus tidak ngobrol
menunggu harap-cemas apa yang akan terjadi dengan pesawat….
AC pesawat biasa-biasa saja normal dingin, cuma keringat
di jidat terasa lebih dingin. Pramugarinya ramah, nawarin
kita-kita obat pusing….padahal sama sekali gak pusing.

Dan aneh, kita-kita sama sekali tidak tampak ngantuk padahal
telah melalui perjalanan yang melelahkan dan semalam begadang.

Saat transit di KualaLumpur rombongan Inggris bertemu dengan
rombongan lain tapi perempuan semua, muda-muda, ceria, banyak
bicara pake bahasa sunda dan jawa. Rombongan mereka antara 30
sampai 40 orang. Katanya baru pulang mudik berlebaran.
Mereka…..jobshopper juga seperti saya.

Tapi sepeti mereka bilang….Kita-kita mah memang hebat-hebat…..
karena kita-kita sarjana semua….
lalu saya dan rombongan pun bagi tugas, setiap orang pegang 4 sampai 6

orang….bantu mereka ngisi formulir kedatangan dari Immigrasi Malaysia.

Mereka rata-rata tak bisa baca…..umur paling tua dua-lima.
Pimpinan rombongan namanya sebut saja Lela, Lela orang Indramayu
usia 20 tahun. Baru kerja 6 bulan di Malaysia. Pulang lebaran sekalian
jemput kawan-kawan…dari hampir seluruh pelosok pulau Jawa dan Lampung.

Mereka hampir semua keluar dari kampungnya saja baru kali ini.

Mereka harus bersusah payah mengisi formulir isian sebelum keluar Bandara.
mereka tidak tahu akan berhadapan dengan apa, akan ber-tuan siapa.
Tapi keyakinan langkah-nya jauh diatas saya yang dipenuhi ketakutan.
Mereka lebih lantang menjawab pertanyaan duane….
Mereka sangat percaya diri saat bertanya kepada siapa saja….Bahkan

sangat confidence saat minta saya mengisi kan tanda tangan-nya sekalian.
“Mas…penakut sekali sih…”, katanya saat saya hanya mau mengisi semua
formulir kecuali tanda-tangannya itu saja….

Karena melihat keberanian dan kehebatan mereka….Lela, Sulastri, Romlah, Teti,
Sumirah, Sunarsih, Asih, Iyem, Eni, Komariah….dan banyak lagi.
Maka saya tahu…..negeri hebat kita telah salah urus.

saya sekarang….juga malu kalau mengaku lebih hebat dari mereka.

IoW, 20061119

Ingat mang Dulloh…ingat Dzikir

Duluuuu sekali saya diajari “dzikir” sama mang Dulloh.
Sekarang beliau sudah arrmarhum, dulu beliau manusia.
maka mengajari saya juga pake “bahasa” manusia.
Dan saya tidak merasa salah jika saya memahami ajarannya
juga sebagai ajaran manusia.

Saya ingat, beliau mengajari dzikir 33×3, dzikir 1000x
sampai dzikir yang yang tak pernah henti-henti.
Saya menangkap ajaran beliau “apapun harus didzikirkan”.

Beliau tidak mengajari saya kegagalan atau keberhasilan.
katanya…
Apalah artinya kegagalan jika malah menjadi pelajaran.
Apalah arti keberhasilan jika nanti kamu menyesalinya.

Dan saya “santri” yang patuh, cukup meng-amini nya saja.

Katanya, “dzikir” itu sekedar proses upaya pengulangan.
proses membiasakan untuk supaya manusia BISA.
layaknya proses mengasah yang berulang agar pisau tajam.
Atau menggosok berlian yang keras getas agar mengkilat.

Tapi, kalaupun otak saya tetap saja tak bisa-bisa
atau pisau tidak pernah bisa setajam yang diharapkan
atau berlian pun juga tetap tak bisa cemerlang

Maka, cukup pastikan…bahwa “dzikir” selalu kamu lakukan.
hasil satu dari 100, dari 100000 tak perlu jadi tuntutan.

Juga dengan “BACAAN”, cukup baca dan baca dan baca
dan baca lagi berulang-ulang.
tak perlu terburu-buru harus bisa meng-ARTI-kan.
jangan pula merasa telah mendapatkan KESIMPULAN

Bukankah untuk “dzikir” kita hidup ?.
untuk mengulang-ulang tanpa henti setiap upaya..

Jika TUJUAN ternyata diperlukan
maka ciptakan saja MIMPI, lalu simpan ditempat terjauh
dibalik galaksi yang tak mungkin kau sentuh
Agar kamu tetap ber-upaya
tanpa perlu lagi terganjal keberhasilan atau kegagalan…

demikian mang Dulloh duluuuu sekali mengajarkan,
demikian saya sekarang menuliskan.

20070406
DjayaWikarta

Fanatisme agama Football

Jason teman saya lahir dan besar di London. Kawasan Soho
pernah menjadi play-ground-nya sampai dia remaja. Tapi
mulai kakek-buyut sampai insyaallah anak bayi laki-laki
nya kelak menjadi besar dan akan menjadi CHELSEA sejati…

Tidak seperti kebanyakan englishman. Lima tahun lalu
dia beristri, perempuan cantik pinter dan mandiri.
Yang pasti, isterinya lebih cerdas dan lebih educated.
Dua tahun lebih mereka melayari rumah tangga selalu akur
dan selalu tampak seperti orang berpacaran.

Lalu Dua tahun lalu mereka cerai. Jason bilang dua alasan
prinsip yang susah nyambung…..pertama karena isterinya
gak mau punya anak, kedua karena soal perbedaan “agama”.

Kedua alasan sama-sama aneh. Karena lumrah orang Inggris
tidak mau punya anak. Juga yang lebih aneh koq englishman
mempermasalahkan agama. Karena jendela dan pintu gereja
disini sudah lama ditutup triplek. Lebih banyak dihuni
burung merpati, gagak dan camar….dan rubah merah.

Belakangan si jason baru ngaku, dia dengan isterinya
bertengkar dua kali dalam seminggu. Dan puncak perkelahian
terjadi dua-kali dalam setahun….Rupanya, pertengkaran
selalu bersesuaian dengan jadwal sepak bola Liga Premier.
Setiap kali Chelsea atau Arsenal bertanding maka si Jason
juga bertanding dengan isterinya. Perang sengit diantara
mereka terjadi setiapkali Chelsea berhadapan dengan Arsenal.

si JAson menyesal, dulu waktu pertama kenalan tidak sempat
nanya-nanya silsilah kakek-buyut isterinya. Yang ternyata
keturunan ARSENAL….dia sendiri berdarah Chelsea.

Tapi, cerita si jason teman saya ini bukan cerita LUCU.
Tapi boleh jadi sisi lain dari cerita serius yang menjadi
bagian sejarah panjang peradaban demokrasi Inggris…

para orang tua dan juga tokoh-tokoh Englishman kayaknya
telah dengan sengaja meng-encourage semua warga negara
untuk memeluk “agama FOOTBALL” saja.

karena mungkin, mereka sudah sangat tahu….
Manusia yang sehat tidak akan pernah lepas dari rasa
“fanatik etnik” dan “fanatik agama”…..
fanatik etnik masih bisa di-kendurkan dengan banyak kenal
orang asing…..tapi fanatik agama….mana bisa ?.

Lagipula, penyalah-gunaan teknologi ETNIK untuk politik
terlalu gampang terlihat dungu-nya dan tidak laku pasar.
Tapi, penyalah gunaan “teknologi teologi” selalu tampak
menawarkan “surga”. Dan selalu laku keras dipasar politik.

Untuk itulah mungkin, peran sepak bola diharapkan bisa
menggantikan pelampiasan manusia untuk menyalurkan bakat
bakat FANATIK-nya.

fanatik SEPAKBOLA, sangat controllable dibanding fanatisme
terhadap agama.
Benar-salah nya dibatasi oleh luas lapangan rumput stadion,
bisa disaksikan oleh ribuan bahkan jutaan mata penonton,
Dan waktunya dibatasi 2 x 45 menit sampai tiupan peluit wasit.

Kalaupun sampai kejadian seperti si jason teman saya…
itu memang kebetulan. karena Chelsea dan Arsenal sama-sama
berada di London, klub papan atas, dan sama-sama saya suka.

fanatisme agama Sepakbola sangat layak untuk manusia.
fanatisme agama langitan….hanya layak untuk Tuhan saja.
20070401
DjayaWikarta