Jason teman saya lahir dan besar di London. Kawasan Soho
pernah menjadi play-ground-nya sampai dia remaja. Tapi
mulai kakek-buyut sampai insyaallah anak bayi laki-laki
nya kelak menjadi besar dan akan menjadi CHELSEA sejati…
Tidak seperti kebanyakan englishman. Lima tahun lalu
dia beristri, perempuan cantik pinter dan mandiri.
Yang pasti, isterinya lebih cerdas dan lebih educated.
Dua tahun lebih mereka melayari rumah tangga selalu akur
dan selalu tampak seperti orang berpacaran.
Lalu Dua tahun lalu mereka cerai. Jason bilang dua alasan
prinsip yang susah nyambung…..pertama karena isterinya
gak mau punya anak, kedua karena soal perbedaan “agama”.
Kedua alasan sama-sama aneh. Karena lumrah orang Inggris
tidak mau punya anak. Juga yang lebih aneh koq englishman
mempermasalahkan agama. Karena jendela dan pintu gereja
disini sudah lama ditutup triplek. Lebih banyak dihuni
burung merpati, gagak dan camar….dan rubah merah.
Belakangan si jason baru ngaku, dia dengan isterinya
bertengkar dua kali dalam seminggu. Dan puncak perkelahian
terjadi dua-kali dalam setahun….Rupanya, pertengkaran
selalu bersesuaian dengan jadwal sepak bola Liga Premier.
Setiap kali Chelsea atau Arsenal bertanding maka si Jason
juga bertanding dengan isterinya. Perang sengit diantara
mereka terjadi setiapkali Chelsea berhadapan dengan Arsenal.
si JAson menyesal, dulu waktu pertama kenalan tidak sempat
nanya-nanya silsilah kakek-buyut isterinya. Yang ternyata
keturunan ARSENAL….dia sendiri berdarah Chelsea.
Tapi, cerita si jason teman saya ini bukan cerita LUCU.
Tapi boleh jadi sisi lain dari cerita serius yang menjadi
bagian sejarah panjang peradaban demokrasi Inggris…
para orang tua dan juga tokoh-tokoh Englishman kayaknya
telah dengan sengaja meng-encourage semua warga negara
untuk memeluk “agama FOOTBALL” saja.
karena mungkin, mereka sudah sangat tahu….
Manusia yang sehat tidak akan pernah lepas dari rasa
“fanatik etnik” dan “fanatik agama”…..
fanatik etnik masih bisa di-kendurkan dengan banyak kenal
orang asing…..tapi fanatik agama….mana bisa ?.
Lagipula, penyalah-gunaan teknologi ETNIK untuk politik
terlalu gampang terlihat dungu-nya dan tidak laku pasar.
Tapi, penyalah gunaan “teknologi teologi” selalu tampak
menawarkan “surga”. Dan selalu laku keras dipasar politik.
Untuk itulah mungkin, peran sepak bola diharapkan bisa
menggantikan pelampiasan manusia untuk menyalurkan bakat
bakat FANATIK-nya.
fanatik SEPAKBOLA, sangat controllable dibanding fanatisme
terhadap agama.
Benar-salah nya dibatasi oleh luas lapangan rumput stadion,
bisa disaksikan oleh ribuan bahkan jutaan mata penonton,
Dan waktunya dibatasi 2 x 45 menit sampai tiupan peluit wasit.
Kalaupun sampai kejadian seperti si jason teman saya…
itu memang kebetulan. karena Chelsea dan Arsenal sama-sama
berada di London, klub papan atas, dan sama-sama saya suka.
fanatisme agama Sepakbola sangat layak untuk manusia.
fanatisme agama langitan….hanya layak untuk Tuhan saja.
20070401
DjayaWikarta
0 Tanggapan ke “Fanatisme agama Football”