hijrah

Awal Januari 2001 saya bersama 7 teman mengikuti “jejak nabi”,
istilah keren-nya mah HIJRAH. Melakukan upaya perjalanan
dengan tujuan agar masih bisa melihat harapan yang lebih baik.
Karena konon, harapan itu solar sekaligus steering untuk Isuzu
panther saya. Isuzu diisi harapan supaya bisa melaju ke tujuan.

Saya typical ordinary people yang selalu enjoy jadi follower.
Saat saya dulu “nekad” hijrah juga ternyata karena ada teman.
kalau gak ada teman, bisa jadi arti hijrah untuk saya hanya
sekedar penanggalan lain selain masehi dan tahun shaka.

Lalu delapan biji kepala yang masih kosong pengetahuan naik
pesawat tapi merasa ahli ngitung pesawat inipun bersepakat
untuk beli tiket Malaysian Airways. Alasan paling optimal,
tiket Garuda mahal. Airline yang lain gak dipilih karena
pilotnya pasti tidak pake bahasa melayu. Bisa repot kita.
Tapi alasan utamanya, tiket boleh diutang sampai gajian.

Menjelang berangkat laksana rombongan ziarah ke Mekah,
lengkap anak bini, ayah-bunda serta tetangga berkumpul
di Cimahi. Segala urusan yang berkaitan dengan hijran
dituntaskan, terutama soal penandatanganan utang-piutang.
That’s all about keinginan melihat harapan….

Dan doa-pun bersama-sama dibisikkan. Saya pribadi dapat
doa dari Abah saya khusus….doa memasuki tempat GELAP.
Padahal saya baru tahu belakangan kalau Inggris lebih
terang benderang daripada alun-alun cimahi dimalam minggu.

Abah membekali saya doa ini karena mendengar cerita bahwa
ke delapan orang ini tidak ada yang tahu cara going abroad.
Tidak ada yang kenal orang yang dituju siapa, gak tahu
akan tinggal dimana, gak tahu sampai kapan, gak tahu akan
mengerjakan apa, dan lupa….kenapa saya harus pergi juga.

Bus tentara yang sarat dengan penumpang dan barang bergerak
pelahan seolah enggan. Semua penumpang hening, membalas
lambaian tangan dari para pengantar yang juga tanpa suara.

Sampai Padalarang tapi hanya suara bus dan celoteh anak
anak saja yang terdengar. Bapak-bapaknya entah mikir apa.
Tapi yang jelas, saat itu saya sendiri merasa sedang melongok
kedalam lubang sumur yang sangat dalam.
Gelap, keringat dingin, bulu kuduk juga serasa tegak.
Hanya saja kadang sekilas terlihat pantulan gemerlap air
….air harapan.

Cianjur dan Puncak terlewati begitu saja. Tapi di JAgorawi
panas didalam bus tanpa AC mulai membuyarkan lamunan.
Jendela bus semua dibuka tapi keringat tambah deras saja.
Saat dipuncak derita, seperti biasa kita ingat orang lain.
dan mulai ingat kalau supir bus harus makan.
Supir bus makan, dan kitapun piknik buka lontong perbekalan.

Saat bus melaju di Jalan Tol Cengkareng dengkul saya mulai
serasa kehilangan persendian karena melihat pesawat beterbangan.
Entah takut pesawat entah takut terbang entah takut apalagi….
Tapi penumpang dibelakang mulai riuh soal perbekalan.
Rupanya ada hal paling penting terlupakan, lupa bawa beras.
karena harapan boleh saja diawang-awang tapi kalau gak ada beras
apalah jadinya kehidupan kita didunia.

Lalu tanpa ba-bi-bu lagi…saya teriakin sopir supaya minggir
dan segera keluar dari jalan tol. Sekalipun supir tentara
kalau diteriakin dengan serius rupanya kaget juga dia.
Menjelang gerbang cengkareng ada “jalan keluar”, kesanalah
bus melompati rumput dan sedikit tanggul beton masuk jalan
kampung tanpa aspal. Beruntung kita dapat warung yang jual
beras dan sembako. Sekarang rasanya rada siap going abroad.

Menunggu hampir 5 jam di bandara serasa sekejap saja.
Bertahun-tahun bersama anak-isteri….baru saat seperti itu
terasa kalau waktu saya sangat kurang bersama mereka.
Saya bisikin teman saya…. kalau nanti mau masuk CHEK IN
jangan coba-coba tengok kebelakang, jangan coba-coba balas
lambaian tangan….jangan tunjukin mata yang mulai memerah.

Dan delapan jagoan pun sekarang duduk dengan tegap didalam pesawat MAS.
Tegap seperti serdadu, dada lurus, mata lurus tidak ngobrol
menunggu harap-cemas apa yang akan terjadi dengan pesawat….
AC pesawat biasa-biasa saja normal dingin, cuma keringat
di jidat terasa lebih dingin. Pramugarinya ramah, nawarin
kita-kita obat pusing….padahal sama sekali gak pusing.

Dan aneh, kita-kita sama sekali tidak tampak ngantuk padahal
telah melalui perjalanan yang melelahkan dan semalam begadang.

Saat transit di KualaLumpur rombongan Inggris bertemu dengan
rombongan lain tapi perempuan semua, muda-muda, ceria, banyak
bicara pake bahasa sunda dan jawa. Rombongan mereka antara 30
sampai 40 orang. Katanya baru pulang mudik berlebaran.
Mereka…..jobshopper juga seperti saya.

Tapi sepeti mereka bilang….Kita-kita mah memang hebat-hebat…..
karena kita-kita sarjana semua….
lalu saya dan rombongan pun bagi tugas, setiap orang pegang 4 sampai 6

orang….bantu mereka ngisi formulir kedatangan dari Immigrasi Malaysia.

Mereka rata-rata tak bisa baca…..umur paling tua dua-lima.
Pimpinan rombongan namanya sebut saja Lela, Lela orang Indramayu
usia 20 tahun. Baru kerja 6 bulan di Malaysia. Pulang lebaran sekalian
jemput kawan-kawan…dari hampir seluruh pelosok pulau Jawa dan Lampung.

Mereka hampir semua keluar dari kampungnya saja baru kali ini.

Mereka harus bersusah payah mengisi formulir isian sebelum keluar Bandara.
mereka tidak tahu akan berhadapan dengan apa, akan ber-tuan siapa.
Tapi keyakinan langkah-nya jauh diatas saya yang dipenuhi ketakutan.
Mereka lebih lantang menjawab pertanyaan duane….
Mereka sangat percaya diri saat bertanya kepada siapa saja….Bahkan

sangat confidence saat minta saya mengisi kan tanda tangan-nya sekalian.
“Mas…penakut sekali sih…”, katanya saat saya hanya mau mengisi semua
formulir kecuali tanda-tangannya itu saja….

Karena melihat keberanian dan kehebatan mereka….Lela, Sulastri, Romlah, Teti,
Sumirah, Sunarsih, Asih, Iyem, Eni, Komariah….dan banyak lagi.
Maka saya tahu…..negeri hebat kita telah salah urus.

saya sekarang….juga malu kalau mengaku lebih hebat dari mereka.

IoW, 20061119

0 Tanggapan ke “hijrah”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.