Arsip untuk Agustus, 2007

SUMPAH BOLA GOLF

Tadinya saya sempat tercengang, bingung, terenyuh dan
entah perasaan apalagi saat teman-teman saya di Tanah Air
ngajak saya nanti ikutan gabung ….untuk main GOLF.

Apa dunia sudah kiamat, apa dunia berputar terlalu cepat
semenjak saya dengan sangat berat meninggalkan semua kerabat.
Atau karena saya tertidur terlalu lelap, disaat
semua teman-teman saya berevolusi menjadi konglomerat ?.

saya ingat, dulu sering diajak berdemo menentang pejabat
yang doyan main Golf ditengah rakyat yang masih melarat…
saya ingat teriakan demonstran disaat mentari menyengat
“Bermewah-mewah disaat rakyat melarat adalah terlaknat”.

layaknya tidak mau kalah oleh Sumpah Palapa Gajahmada…
kita pun sempat bersumpah “bola golf”

Bahwa kita tidak akan pernah memamah bolah golf
sebelum mulut dan perut rakyat di Sabang sampai Merauke
sanggup mengunyah segala kesejahteraan yang diimpikannya.

Saya tidak anti Golf karena saya tidak anti olahraga
Seperti halnya Gajahmada yang pasti tidak anti buah Palapa.
dulu saya tidak suka Golf karena lebih suka sepakbola
Juga mungkin gajahmada yang lebih doyan duwegan kelapa.

Jika kemudian akhirnya terpaksa mengharamkan GOLF…..
yaaa karena apa hendak dikata….
karena tahun bertambah
kayaknya tidak juga kesejahteraan rakyat bertambah.

tapi….teman-teman saya bilang.
“Dunia sudah lama berubah … !!”.
“Permainan Golf sekarang sudah jauh lebih MURAH MERIAH…!!”.
“main sepak bola sekarang malah jauh lebih mewah…!”

Lalu, tadi sore saya jalan-jalan ke toko DirectSport…..
berjajar stik Golf dipajang……macam-macam bentuk
segala ukuran tersedia…..semua mengkilat tentu saja.
Silver, gold, platinum tinggal pilih semaunya

Dan benar….apa kata teman-teman.
Peralatan Golf ternyata murah-murah
Sekeranjang bola, selusin stik, sepasang sepatu….
tidak menghabiskan gaji dua minggu.
Sepatu bola malah ….terasa mahal banget.

Dan troley belanjaan pun penuh dengan muatan barang MURAH.
Siap memasuki antrian panjang “pay here” didepan cashier.
Asyik juga kalau nanti pulang, bermain Golf bersama teman.

Nunggu antrian perlu kesabaran rupanya.
Tapi text SMS panjang yang berdenyut dua-kali digenggaman
samasekali tidak bernada kesabaran….SMS dari adik saya….

“A….kontrakan rumah habis, si bungsu perlu uang sekolah,
uang gajian sudah habis untuk nyicil motor kantor….”

kelanjutan SMS sudah tidak mampu terbaca apalagi teringat.

Dan aneh…..saya malah teringat “sumpah bola Golf”
Juga teringat untuk segera mengembalikan semua barang
permainan murah ini ketempat-nya yang seharusnya MEWAH….

Dan Kesejahteraan, untuk jutaan adik saya belum juga murah
Sekalipun memang….Dunia akan selalu cepat berubah….
juga sumpah dan sampah.

20070824
DjayaWikarta

Mengaku tidak rasis

— In apakabar@yahoogroups.com, “ArtuDitu” <artuditu@…> wrote:
>
> Ada orang di AK ini yang menuduh Artu Ditu rasis.
> Dengan ini saya katakan bahwa saya bukan rasis.
> Tapi, ya terserah sajalah. Apalah artinya sebutan/julukan.
> Walau Artu dikatakan seharum mawar, toh tetap saja salah,
> karena ternyata Artu lebih harum dari mawar.
>>>>

Saya malah lebih setuju, bahwa semua manusia yang memiliki
keyakinan, kepercayaan diri, memiliki selera, memiliki
kesukaan dan ketidak sukaan………pasti juga memiliki
“bakat genetik rasis”….ini bagian dari hukum alam.

Jika saya dan anda sekarang mengaku…merasa tidak rasis
maka kita sekedar sedang mengumumkan kepada halayak….bahwa
kita sedang ingin menghilangkan bakat genetik kita.
Atau, at least sedang berjanji…..tidak akan pernah memilih
tinkadan dan ucapan “rasis” dengan sadar (tidak drunk).

Hanya itu arti pengakuan “saya tidak rasis”.

tapi setiap tindakan, ucapan atau tulisan tentu saja mutlak
menjadi kewenangan pembaca atau pendengar atau pemirsa.
Pemirsa sangat berhak dengan pemahamannya menuduh rasis.
mungkin si pembaca menemukan kalimat-kalimat kebencian ???
atau mungkin juga belum membaca Wikipedia ??

tapi yang paling menyenangkan adalah, bahwa setiap kali
seseorang menuduh orang lain rasis….. maka secara inherent
orang itu sedang mengaku “saya tidak rasis”.
Fantastic !!!

Semoga saja.
Karena Hitler tidak pernah mengaku “tidak rasis”,
juga Hitler tidak pernah menuduh orang lain rasis.
karena Hitler…..rasis tulen dengan segala kesadaran…..
atau malah rasis jujur mengikuti ajaran genetik naluriah-nya ?.

Untuk saya, “sikap anti rasis” itu ENDEAVOUR…..untuk
mengalahkan penyakit naluriah bawaan setiap manusia.
Tentu juga, pikiran-pikiran yang mencederai ENDEAVOUR ini
tampak jelas sebagai upaya pembangkitan sikap rasis.

Olah raga…dan tentu SEPAKBOLA adalah endeavour paling
make sanse, paling feasible untuk menghabisi akar-akar rasis.

Meng-insiasi dengan kecurigaan, atau dugaan, atau malah
ngarang-ngarang adanya “diskriminasi ras dalam sepakbola”
adalah jelas tantangan untuk membangkitkan naluri rasis.

kata si Geoffrey, orang Welsch tua yang lima tahun lalu
meja kerjanya tepat disebelah kanan saya…bilang,
“You say best about racism is…when you say nothing at all”.

karena Briton sangat sadar ringkihnya issue rasis….
maka ketika di Sussex ada orang bule nembak orang Asia….
yang hanya karena satu alasan…..tidak suka asia.
Semua koran hanya memberitakan cukup sekali saja di headline…
yang inti judulnya….”rasisme tidak boleh ada ampun”
tidak ada bahasan….tidak ada komentar apapun.

Rupanya untuk kasus rasis dilarang ada komentar lanjutan.
Dilarang ada publikasi ucapan simpati terhadap korban
Dilarang ada publikasi kutukan terhadap pelaku.
Komentar apapun tentang satu kasus RASIS ….akan salah.

Karena katanya, “kasus rasis” hanya wajib ditindak hukum
dan sangat terlarang untuk dibicarakan apalagi diperdebatkan.
kecuali mungkin diruang-ruang kuliah…..seperti Apakabar….  :)

Lalu….siapa yang meMULAI memamerkan pikiran rasis disini ?.
Sehingga semua komentator menjadi ikutan rasis…..
Untuk kasus rasis Sussex…..tentu saja si bule yang nembak.
sehingga semua koran …sekalipun hanya sekali, jadi ikutan rasis.

saya setuju, bahwa kita tidak pernah bisa memilih ibu,
tidak bisa memilih tempat lahir.
Juga tidak pernah mampu memilih hidup sebagai “pribumi”,
dan karena itu……. saya tahu dirilah….tidak cerewet.

Cukup pastikan, bahwa “anti-rasis” merupakan endeavour bersama.
salam,

DjayaWikarta

karena Indonesia pelit ilmu pesawat

Musibah….tentu saja urusan Tuhan.
Juga urusan selamat atau kecelakaan dari pesawat.

Ketika komisi penerbangan Eropah melarang semua maskapai
penerbangan Indonesia mengoperasikan pesawatnya
untuk melintasi Eropah, maka segala pikiranpun berlomba
menduga-duga. Mulai reaksi pembelaan patriotik, tanggapan
introspeksi sampai komentar ….rasain lho….

Juga “hipotesa analisis” segera saja berhamburan, coba
dengar saja…
“Ini sekedar persainagn Boeing-Airbus…”
“Ini memang karena statistik kecelakaan yang tinggi…”
“Ini memang karena orang Eropah sentimen saja…”
“Ini sudah wajar…seharusnya seluruh dunia melarang…”

Tapi mencari tahu alasan sesungguhnya pelarangan terbang
tentu saja akan sesulit mengetahui isi hati orang.
bahkan mengetahui isi hati anak sendiripun mustahil.

akhirnya, segala reaksi dan tanggapan yang muncul di media
tentang pelarangan terbang oleh Eropah yang kemudian diikuti
Arab saudi, bisa dilihat sekedar sebagai pengumuman sikap…

Tentu saja sangat layak ketika menteri perhubungan RI
bersikap membela diri malah konon akan membalas.
Layak pula para pemakai jasa penerbangan melihat
larangan terbang ini sebagai tantangan untuk perbaikan.
Juga layak, para kompetitor bisnis penerbangan yang
diuntungkan berkomentar puas.

tapi, menyaksikan investigator kecelakaan pesawat bekerja
dan melihat tumpukan gambar rancangan dan hitungan analisa
pesawat saat pesawat dibangun…..Juga mendengar milyaran
man-hours telah dihabiskan untuk bikin pesawat….
Dan disisi lain, musibah akhirnya juga mutlak urusan Tuhan…

maka ada satu hal yang mungkin “unspoken” dari
pelarangan terbang…. karena….mungkin.
“Orang Indonesia tidak mau berkontribusi untuk ilmu pesawat”

Konon, Wright bersaudara dianggap sebagai bapak pesawat karena
dia yang memulai bikin pesawat dengan pendekatan sistematis
ilmiah, mulai dari merancang, menghitung dan mengujinya.
Pesawat Wright bukan yang pertama bisa terbang.
Wright adalah orang yang menerbangkan pesawat “pake ilmu”.

Dan puncak sumber ilmu pesawat paling berharga, bahkan diatas
data hasil pengujian adalah data pengalaman dilapangan….
Data dari satu kecelakaan pesawat akan jauh lebih berharga
daripada ribuan data test, lebih berharga dari jutaan
man-hours analisa hitungan.

Konon juga, semua aturan keselamatn yang diterapkan, sampai
aturan detail design pesawat komersial terutama, sangat
rely terhadap temuan-temuan dilapangan….dan sangat
mutlak mengikuti kesimpulan hasil investigasi kecelakaan.

Jika kemudian, ada puluhan kecelakaan pesawat terjadi
di Indonesia…..yang notabene paramount dari sumber ilmu
Tapi sangat minim data yang diperoleh…..
Apalagi, malah lebih banyak data ditutup-tutupi…..
atau istilah keren-nya…dipeti-es kan…
Lalu, gila-nya lagi hanya cukup dibilang “sudah takdir”

Maka orang Indonesia pasti selain dianggap tidak mau
berbagi pengalaman berharga, juga akan dianggap sebagai
bangsa yang menyalahgunakan TAKDIR….dan menipu Tuhan.

karena takdir mah…..ujung dari segala jalan upaya.

Dan menghentikan atau malah mengabaikan dilakukannya
upaya penyidikan kecelakaan pesawat harus dianggap sebagai
kejahatan terhadap ilmu dan juga terhadap keselamatan.

Kejahatan….seharusnya harus dihukum lebih berat
daripada sekedar pelarangan terbang.
salam,
DjayaWikarta