Arsip untuk September, 2007

Rasa dan Pikiran

Re: Akhir sebuah jiwa

— In apakabar@yahoogroups.com, “Zhao Yun” <zhaoyun1964@…> wrote:
>
> a. Apa beda nyata antara entitas jiwa/roh (spirit/soul)dengan
> pikiran (mind/counciousness)? Apa alasan logisnya?
> …

saya coba ikut aliran KISS….keep it simple stupid

Pertama, supaya apple-to-apple, roh bukan padanan mind.
kalau maksudnya “rasa dengan pikiran”, mungkin bisa
dibeda-bedakan….dan didiskusikan.

PIKIRAN itu pengolah data objektif, setiap input
dari luar hanya diolah dan ditaruh di RAM
atau kalau terpaksa bolehlah pake lahan temporary.
Seperti memperlakukan data-data program aplikasi.
Output hanya untuk tujuan software itu dibuat.

RASA itu pengolah data subjektif, setiap input
dari luar akan diperlakukan sebagai data system BIOS
yang akan otomatis outputnya mempengaruhi performance,
Tentu saja Output RASA….akan tampak aneh jika di-display.

Roh…sekedar menyediakan rasa dan pikiran.

karena itu juga sebenarrnya tidak ada orang bodoh,
yang ada adalah orang yang berpikir pake rasa.
Sekedar membangga-banggakan perasaan dan keyakinan.
Cuma ngutak-utik BIOS tapi nihil output

kalaupun ada kebodohan,
paling juga hukum warisan HINDIA Belanda
yang berbasis “rasa keadilan”.
Yang sampai sekarang dipake di Indonesia.
Padahal, Hukum jelas-jelas hanya memerlukan “logika hukum”.

Hukum itu harus layak DISPLAY.. jelas terlihat dan mampu-ukur.
maka hukum berazas “rasa keadilan” seharusnya segera
ditinggalkan….karena mustahil bisa jelas.

DjayaWikarta

Tentang Roh dan Kematian

Ya persis…. kematian medic sekedar kematian per-definisi.
Yang berhak mengkategorikan “orang mati” hanya orang yang “hidup”.

Kita yang melihat orang terbujur kaku, tanpa degup jantung,
tanpa hembusan nafas, matanya kosong…menyebutnya mati.
Padahal mungkin saja “si orang mati” sekedar cuek….
sekedar unjuk rasa diam total tanpa mau bereaksi.

Kita tidak tahu blass apakah “orang-mati” itu sebenarnya
masih mikir dan masih merasa.
Yang sebenarnya paling tahu….yaa si ROH nya….yang
entah sedang berdiri dimana saat kita nangis sesenggukan
karena ditinggalkan orang tercinta.
Boleh jadi si ROH malah tersenyum-senyum menyaksikan.

Jadi….”manusia” itu sebenarnya bukan raga, bukan rasa,
bukan pikiran. Juga bukan “otak” bukan pula “hati”.
Hidup dan mati hanya definisi dari manusia yang ROH-nya
masih mau mengaku “hidup”, alias masih peduli dunia.

Roh dari manusia yang “mati” sekedar meng-abandon
segala hardware….. raga…daging, tulang, darah, dan juga
susu kental dirongga kepala.
karena mungkin sudah tidak butuh atau karena sudah
menemukan MotherBoard pentium trio yang lebih canggih.

Jika RASA dan PIKIRAN itu sejenis SOFTWARE yang tidak berwujud.
tapi bisa “terbaca” bisa “membaca” dan bisa di run….
maka pastilah ROH lebih tidak berwujud…..tapi punya kuasa.

karena itupula BAPPENAS kesulitan bikin harga software.
Sesulit orang Atheist menghargai rasa dan pikiran.
Karena tidak bisa di-weighting dengan timbangan badan.
Sulit di-rupiahkan.

Tadi pagi di BBC ada diskusi seru tentang “manusia Hybrid”
degan kandungan 90% human, 10% Cow….. sempat rame.
karena grup pendukung dari koalisi scientist, atheist
dan korban alzehimer…..gelagapan saat ditanya….
Apakah “upaya mulya” ini supaya manusia tidak bisa mati-mati ?.

Rupanya, orang takut juga jika umurnya bisa 1000 tahun ….

O iya, Pink Floyd sekarang sudah nge-pop, masih untung
masih ada Mike Oldfield….. ringan tapi cosmostis…he he he.

salam
DjayaWikarta

kejujuran menulis ?.

Jika kita percaya, bahwa setiap orang hidup dan bertindak berdasarkan penalaran yang dimilikinya…
Maka vocabulary KEJUJURAN samasekali tidak diperlukan.

Pembaca, pemirsa atau pendengar tidak perlu repot mengusut, tidak perlu peduli apakah si penulis atau pembicara “jujur”.
Cukup dengan menyimak untaian kata-kata yang terdengar, atau untaian kata-kata yang tertulis. Lalu si pembaca dan pendengar dengan penalaran yang dimilikinya dipersilakan mengartikannya sendiri.

Penulis…sekedar Robin Hood yang hanya memiliki keinginan dan harapan saat membidik dengan busur panahnya.
Tapi tentu saja, anak panah memiliki keinginannya sendiri. Setelah melesat lepas, anak panah boleh menentukan arah sasarannya sendiri. Boleh mengikuti arah angin yang diyakininya sendiri. Juga kata-kata atau tulisan.

Robin Hood bisa berjingkrak girang, bisa juga gigit jari.
Tulisan dan kata-kata sepenuhnya menjadi persepsi pembaca.
Dalam komunikasi: jujur, bijaksana, bodoh dan tolol adalah
persepsi dari pendengar atau pembaca. Persepsi dari angin yang mengarahkan anak-panah boleh terbang kemanapun.

Anak-panah tentu juga tidak akan peduli dengan kejujuran atau kebijaksanaan si pemanah.

Dalam olahraga archery ataupun menembak, orang hanya berlatih untuk membidik dan menembak dengan benar.
Dan tidak dilatih untuk menusuk sasaran dengan anak panah, juga tidak dilatih menempelkan peluru di sasaran.

Maka…tetaplah menulis. Setidaknya, Robin Hood masih memiliki keinginan dan harapan….tanda-tanda kehidupan.
Kewajiban hidup sekedar harus tetap berlatih, tetap mebidik dan tetap berupaya melepas pikiran untuk berbagi manfaat.

Hasil…..serahkan saja pada Sang Angin.
Tapi jangan membidik kearah matahari, disaat berkeinginan memanah gedebok pisang.
Juga jangan membidik tikus di selokan,
saat gajah kebon binatang yang diinginkan.

DjayaWikarta