kejujuran menulis ?.

Jika kita percaya, bahwa setiap orang hidup dan bertindak berdasarkan penalaran yang dimilikinya…
Maka vocabulary KEJUJURAN samasekali tidak diperlukan.

Pembaca, pemirsa atau pendengar tidak perlu repot mengusut, tidak perlu peduli apakah si penulis atau pembicara “jujur”.
Cukup dengan menyimak untaian kata-kata yang terdengar, atau untaian kata-kata yang tertulis. Lalu si pembaca dan pendengar dengan penalaran yang dimilikinya dipersilakan mengartikannya sendiri.

Penulis…sekedar Robin Hood yang hanya memiliki keinginan dan harapan saat membidik dengan busur panahnya.
Tapi tentu saja, anak panah memiliki keinginannya sendiri. Setelah melesat lepas, anak panah boleh menentukan arah sasarannya sendiri. Boleh mengikuti arah angin yang diyakininya sendiri. Juga kata-kata atau tulisan.

Robin Hood bisa berjingkrak girang, bisa juga gigit jari.
Tulisan dan kata-kata sepenuhnya menjadi persepsi pembaca.
Dalam komunikasi: jujur, bijaksana, bodoh dan tolol adalah
persepsi dari pendengar atau pembaca. Persepsi dari angin yang mengarahkan anak-panah boleh terbang kemanapun.

Anak-panah tentu juga tidak akan peduli dengan kejujuran atau kebijaksanaan si pemanah.

Dalam olahraga archery ataupun menembak, orang hanya berlatih untuk membidik dan menembak dengan benar.
Dan tidak dilatih untuk menusuk sasaran dengan anak panah, juga tidak dilatih menempelkan peluru di sasaran.

Maka…tetaplah menulis. Setidaknya, Robin Hood masih memiliki keinginan dan harapan….tanda-tanda kehidupan.
Kewajiban hidup sekedar harus tetap berlatih, tetap mebidik dan tetap berupaya melepas pikiran untuk berbagi manfaat.

Hasil…..serahkan saja pada Sang Angin.
Tapi jangan membidik kearah matahari, disaat berkeinginan memanah gedebok pisang.
Juga jangan membidik tikus di selokan,
saat gajah kebon binatang yang diinginkan.

DjayaWikarta

0 Tanggapan ke “kejujuran menulis ?.”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.