Sebenarnya tidak mudah mengingat nama orang. Sekalipun
nama teringat tapi tidak berbunyi apa-apa. Tidak tersambung
dengan orang yang diinginkan.
Sehari kemarin saya tepekur berjam-jam hanya karena ingin
bisa inget nama pacar yang sudah lama entah kemana.
Saya sudah coba scan semua kemungkinan nama perempuan.
Mulai dari nama berawal A sampai nama yang berawal Z.
Spreadsheet saya merangkum hampir seribu nama…..
tapi tetap saja nama sang pacar tidak ter-temukan….
Tapi tiba-tiba saja dari R, nama Rooswati memunculkan ingatan lain.
Rooswati tentu saja bukan nama pacar saya, tapi nama yang
betul-betul melekat selama berpuluh tahun kejadian….
Rooswati adalah nama yang pernah dituliskan orang. Pernah tertulis
di semua tembok gang…..padahal tembok itu baru saja di kapur putih.
Seperti biasa setiap bulan agustus, semua tembok di labur putih.
Pak Suherman yang jadi ketua RW marah besar. Karena hari minggu
beliau door-to-door mengajak nyaris maksa warga untuk kerja bakti.
Maka semua jalan dan gang bersih dari rumput, sampah dan berangkal.
Tidak terkecuali, semua pinggiran jalan di beri cat putih. Semua tembok
asal terlihat dari jalan harus juga di putih-bersihkan.
Namun tiba-tiba hari senin-nya semua tembok putih disegala penjuru
penuh dengan tulisan hitam arang, juga gambar panah dan jantung hati…..
“Kasih tahu semua orang…..kalau sampai hari minggu depan semua coretan belum dibersihkan akan di laporkan ke kantor pulisi….”. Pak Suherman hanya bersungut-sungut, tapi tidak tahu yang nekad nyoretin tembok siapa.
Pak Suherman inginnya marah hari senin itu juga, tapi marah di hari senin dan hari-hari kerja pastilah tidak akan effektif . Maka marahpun ditunda.
Tapi penundaan….untuk hal apapun tidak menyelesaikan masalah.
Hari selasa besoknya, semua murid kelas 4 kebawah dipulangkan lebih awal karena murid kelas 5 dan 6 ikutan latihan obade di balai kota Bandung.
Tentu saya senang karena bisa cepat main dan bisa ikutan main bola 17-an.
Tapi sebelum sampai di rumah, dimana-mana orang bergerombol….semua
menghadap dan memperhatikan tembok dengan seksama…
Rupanya hari selasa itu, semua tembok telah penuh dengan coretan arang.
Memang tidak ada tambahan gambar. Sebagai gantinya adalah tulisan rapi seukuran huruf yang ditulis pak guru di papan tulis. Semua cermat membaca.
Semua berbisik-bisik, ada yang berdecak ada juga yang geleng-geleng saja.
Tapi lebih banyak yang tertawa sampai terkekeh….
“Ini betul-betul syair pantun putus asa….”, kang Iim pedangan buku bekas tidak berhenti kasih komentar.
“Ini pasti kerjaan orang gila yang baru ditinggal pacar”, yang lain menimpali.
Dan hari Selasa siang itu juga saya menikmati “keindahan” tulisan ditembok….
keindahan…. karena melihat semua orang tampak nya menjadi senang…..
Selama hampir seminggu itu, semua orang membicarakan “Sanjak Tembokan”.
Bahkan sampai mang Dulloh sesaat selesai ngajar ngaji memberi sedikit ulasan tentang syair-syair yang tiba-tiba mengotori semua tembok…….tapi juga seperti biasa……semua orang ingin tahu penulisnya siapa…seperti apa.
Susah untuk bisa tahu juntrungan si penulis tembok, karena setiap orang yang akan pergi solat subuh sudah bisa melihat tulisan baru bertambah. Si penyair diperkirakan datang tengah malam, saat dingin Bandung saat itu masih melelapkan orang tertidur jam 9 malam. Dan ronda masih belum jadi kebutuhan.
Maka, setiap matahari terbit pagi semua warga mendapat tambahan bacaan.
Hari Sabtu-nya nyaris semua tembok sudah penuh dengan sanjak-sanjak cinta…..
Hari Sabtu itu juga menjadi hari akan diberlakukannya ultimatum pak Suherman.
Sabtu sore, saat semua orang berkerumun menyaksikan pertandingan tarik-tambang
pak Suherman yang datang bertopi pandan…juga dikerubuti orang penasaran…..
“Pak…biarkan saja jangan lapor polisi….nanti juga si penyair bosan sendiri….”,
para warga yang mulai doyan dan kadung mengunyah tulisan memberi saran-saran……
pak Suherman hanya mesem-mesem saja…..
Pak Suherman malah menghampiri kang Dadi, ketua panitia 17-an. Lalu minta kapur tulis yang kebetulan banyak di meja panitia untuk garis pertandingan.
Dengan tiga batang kapur disatukan, pak Suherman menghampiri tembokan yang sekarang sudah nyaris hitam oleh arang……..
“Rooswati anak bapak, akan bapak kawinkan dengan sersan Pulisi”, hanya itu yang ditulis pak Suherman dengan huruf kapur putih tebal……..
Orang-orang hanya tertawa-tawa saja….senang karena pak Suherman melayani tulisan dengan tulisan pula….tidak jadi melaporkan ke pulisi….
Minggu pagi masih belum terang, pagi masih penuh dengan halimun ketika terdengar banyak orang-orang ribut berlarian ke jalan besar satu-satunya tempat pertandingan agustusan selalu diselenggarakan.
Saya ikutan bangun karena abang saya yang tidur sekasur meloncat tanpa kira-kira …kakinya menginjak perut saya dan berlari keluar rumah….
Dan di jalan tempat pertandingan, banyak orang berkerumun seperti sedang mengerubuti tukang sulap di alun-alun……
Saya cukup ukuran untuk menyelusup kebawah selangkangan orang-orang…
Dan….saya melihat seorang oom-oom gagah….koboy kata orang…terlentang mulut mengeluarkan cairan dan tidak terlihat lagi dadanya turun naik seperti kebiasaan orang yang masih hidup. Tangan nya pegang kertas karton bekas kardus sabun batangan cap jabat-tangan.
Seolah sedang demo mogok makan dan mogok hidup…..
kertas itu bertulisan “ROOSWATI KEJAAAAAAAMMMM”.
Tapi nama oom malang itu saya lupa…..dan memang harus saya lupakan.
IoW
DjayaWikarta
Komentar Terakhir