Arsip untuk November, 2007

Kopi…. dari Bapak

Kopi bubuk delapan bungkus…..setengah kilo-an
dijejal bersama kolor, baju dan mie instant
penuh sudah kopor hampir lewat batas timbangan

Bapak-ku semalaman berkeringat
sibuk sendirian semua barang bawaanku diikat
Lupa…. usia senja memerlukan banyak istirahat

tapi..

“Tidak….kakek biasa tidur nantiiiiii…belum ngantuk”,
Hanya itu jawaban Bapak saat aku mengingatkan….
bersamaan dengan penyiar TVRI pamit menutup siaran.

Tidak baik melarang orang tua yang asyik bekerja
maka aku biarkan Bapak hanya ditemani dinginnya malam
dan aku, kata bapak….harus tidur lebih sore-an

Terang matahari belum tampak
ketika Bapak menggelitik jempol kaki
lalu mengusap keningku seolah aku masih bayi

Bapak membawa dua cangkir kopi
dengan muka di segar-segarkan
dan bibir di senyum-senyum kan

“Mumpung masih panas….”,
Bapak menyodorkan cangkir yang masih mengepul.
Mata lelahnya tidak lepas menatap-ku

“Bapak tidak tidur…?”
Aku sekedar menghindari kilatan bening di matanya….

“Sudah siap…..?”
Bapak selalu saja menjawab tanya dengan tanya pula..

“Harus siap….”, aku menjawab seperti prajurit saja.

Sopir taxi bandara sedang sibuk menyusun bagasi….
saat Bapak berlari menghampiri kopor …..
Tiba-tiba saja tangan Bapak merogoh kantong celananya…
dan dua bungkus kopi kembali dijejalkan kedalam kopor

“Supaya nanti kamu tidak ngantuk-an kerja di negeri orang….”,
kali ini Bapak membekali aku doa…….dengan limpahan kopi.

Ah…..Bapak.

IoW, March 2001

Nabi Muhammad Pemimpin SEKULER sejati

Sekuler konon memisahkan urusan manusia dari urusan Tuhan  :)
Tidak begitu jelas memang, apa karena nabi Muhammad yang
berpandangan sekuler atau memang Al-Quran yang diturunkan
sudah dalam format sekuler dari sono-nya.

Orang hanya melihat sejarah Hijrah ke 2 Nabi ke Madinah
semata-mata withdrawal atau emigrasi Muslimin dari kota
suci Mecca. Alasan kenapa Hijrah tentu juga sudah banyak
dituliskan. Mulai dari alasan menghindari tekanan warga
Mekah sampai alasan….karena memang takdirnya begitu.

Dan yang sungguh menarik justru alasan terakhir, takdir.
Takdir sebagai rahasia Tuhan, dan tentu saja setiap rahasia
selalu lebih thinkable daripada hal yang terang benderang.

Ajaran Islam yang terangkum secara textual dalam Al-Quran
sedemikian lengkapnya…kata orang Muslim. Dan lain pula
orang yang bukan Muslim bilang, Al-Quran terlalu serakah
sampai merangkum hal-hal yang tetek-bengek, sampai ngatur
segala urusan pribadi.

Lalu mana yang benar ?. Tentu saja memang benar Al-Quran
menuliskan segala macam. Penilaian bahwa segala macam ada
berarti lengkap…atau artinya serakah, sah-sah saja.

Sebagian orang setuju bahwa kitab suci agama memang harusnya
membahas segala keperluan hidup manusia, dunia sampai akhirat.
Tapi sebagian lagi lebih setuju jika Kitab suci agaman hanya
ngatur urusan akhirat, dunia serahkan pada manusia katanya.

Para juru tafsir Al-Quran sepertinya hampir sepakat dalam
memilah-milah ayat-ayat Al-Quran. Katanya, konon yang satu
golongan ayat Makiyah dan yang lain golongan ayat Madaniyah.

lalu katanya lagi, Makiyah menjadi dasar acuan orang dalam
berurusan dengan akidah yang lebih berbau akhirat.
Sementara Madaniyah ngatur urusan fiqih…. ngatur kegiatan
sehari-hari, mulai soal dapur, sumur sampai tempat tidur.
Juga urusan dunia lainnya, seperti urusan bermasyarakat,
bermufakat sampai urusan ber-sarikat.

Sampai disini, sampai two-in-one kandungan Al-Quran, 
orang-orang ujug-ujug merasa faham …. katanya..
“Al-Quran sangat jelas menyatukan urusan dunia dengan
akhirat dalam satu kemasan”.

Tapi tunggu dulu, Nabi Muhammad mungkin belum bilang atau
sengaja mendiamkan… biar manusia yang nimbang-nimbang.
Atau juga mungkin dulu belum ada pelajaran sejarah tentang
bentuk-bentuk pemerintahan…..ada teokrasi, ada demokrasi,
ada monarki, ada otokrasi… dan basa-basi seperti Indonesia.

Tapi, Nabi Muhammad sungguh-sungguh memberi contoh aplikasi,
ngasih contoh dengan perbuatan…. dengan Hijrah.

Nabi Muhammad paling tahu, betapa sucinya kota Mekkah,
tempat yang hanya layak untuk Sang Khalik disembah.

Tempat yang tak boleh dicemari dengan kegiatan halal dunia
apalagi kegiatan politik yang banyak haram-nya.

Maka, apapun “casus belli” nya, Nabi Muhammad pun pada
bulan september tahun 622 (kata wikipedia) pergi sejauh
320 kilometer….cukup jauh keutara…Madinah namanya.

Menjauhi kota Akidah Mekkah untuk mempraktekan ajaran dunia.
Nabi faham betul… karena katanya
“Untuk urusan dunia …kalian lebih tahu…”

Dan Nabi tidak mau (atau malah mungkin juga Tuhan yang gak
mau) jika urusan dunia dikelola ditempat akidah….artinya
juga gak mau kalau urusan dunia bercampur dengan akidah.

Lalu, sejarah praktek SEKULER pun dimulai dari Madinah.
Dan Nabi Muhammad pemimpin akidah yang mencontohkannya.

Urusan dunia seperti pemerintahan….. memang seharusnya
dijauhkan dari urusan akhirat. At least 320 kilometer.
Sejauh Medina dari Mecca….

jika kemudian…. saat jelas-jelas Nabi Muhammad telah
dijamin berada di Surga….namun Nabi Muhammad masih juga
selalu meminta orang-orang untuk mendoakan dirinya…..
Maka, pastilah karena Nabi Muhammad sekedar orang biasa.
Yang bersedia dan berani juga memimpin urusan dunia.
Karena itu….saya demen.

Dan…pahala seorang pemimpin…. tidak didapat otomatis
dari Tuhannya….tapi melalui doa-doa rakyatnya.

Sebagaimana Nabi Muhammad selalu mengharap doa ummatnya.

Medina Road, 20071126

Tuhan ter-BUKTI ada…

In apakabar@yahoogroups.com
Date: June 27, 2007,
“hadjar_wish” <hadjar@…> wrote:
>
> >>
> Yang salah adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada,
> saat bukti adanya Tuhan itu tidak ada.
> >>

Tapi lebih banyak BUKTI yang kita yakini ternyata sekedar
pengakuan orang lain yang kebetulan kita percaya.

Dan kita….anteng-anteng saja hidup
dan juga puluhan tahun merasa logis-logis saja.

Hanya sedikit orang yang mengusut Bapaknya
yang sesungguhnya siapa ?

Kita cukup mendapat BUKTI dari pengakuan seorang perempuan
yang kebetulan juga mengaku telah melahirkan kita….

Atheist logis sejati seharusnya juga penasaran dan
seharusnya mampu merekonstruksi….bagaimana dia sendiri
berevolusi dari kecebong yang tiba-tiba sekarang menjadi
mahluk ubanan…

Atau….juga cukup dia bisa menyaksikan wajah bapak dan
ibunya yang terengah-engah saat iseng merekayasa dirinya…

Tapi tidak….tentu saja tidak.
Pun jika nanti dengan DNA bisa….

saya tidak akan pernah mengusut emak.

“Bukti aku cukup mempercayai omongan emak saja….
karena aku sangat menyayanginya…..”

padahal…
tidak ada korelasi antara menyayangi dengan ter-BUKTI.

Juga Tuhan terbukti ADA….karena sekedar menyayanginya.

-
DjayaWikarta

Date: June 27, 2007

Sahih, Authentic dan Fact

— In apakabar@yahoogroups.com, “hadjar_wish” <hadjar@…> wrote:
>
> Susah untuk memisahkan urusan agama dari urusan negara di Islam,
> karena orang Islam percaya bahwa ayat-ayat al-Mushaf itu adalah
> wahyu Allah yang berlaku untuk sepanjang masa…
>
> Mereka juga percaya hadits itu ada yagn sahih.
>>>>>

Semata untuk menyamakan bahasa, saya barusan buka Wikipedia.
Tentu saja bukan berarti Wikipedia sebagai sumber kebenaran
atau sumber yang penuh kesalahan. Sekedar bacaan saja…
http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_term

Sahih menurut definisi Wikipedia adalah AUTHENTIC
tapi juga Wiki menjelaskan “hanya” ada 2 sahih…
SAHIH Buchory dan SAHIH Muslim….katanya.

Saya tidak tahu, vocab mana yang lebih dulu lahir…
Apa SAHIH menterjemahkan authentic…
atau AUTHENTIC yang menterjemahkan sahih.
Kalau ternyata sahih yang menterjemahkan authentic,
artinya vocab sahih muncul setelah vocab authentic.
Maka, maksud statement Jusfic diatas bisa diartikan
bahwa hadits TIDAK ada yang authentic. Dan mungkin
perlu tanggapan dari orang-orang islam penganut Hadits.

Jika ternyata, arti vocab SAHIH ketimur….sementara
arti vocab AUTHENTIC kebarat….. maka tidak perlu ada
yang dibahas….juga tidak perlu ada kehawatiran apapun.

Tapi kalau ternyata, justru vocab authentic yang mengikuti
atau sebagai terjemahan dari vocab sahih….
maka statement Jusfic keliru. Mungkin maksud statement
dari Jusfic menjadi….
” Mereka juga percaya hadits itu ada yagn AUTHENTIC “.

Silakan…. yang lebih ngerti menanggapi.

kalau saya cuma diajari…tarjamah SAHIH bukan AUTHENTIC.
Saya tidak setuju penjelasan pertama WIKI, tapi
lebih setuju dengan penjelasan kedua WIKI. Sahih ada dua.

Dan…saya tidak keberatan apapun,
authentic silakan, imaginary silakan.

Karena saya masih percaya “fakta adalah ciptaan manusia”.
fakta bagus, karena pikiran manusia bagus
fakta buruk, karena pikiran manusia buruk
Kebetulan saja,
saya lebih suka diskusi tentang “how to treat a fact”
dan mungkin juga “how to engineer a fact”.

DjayaWikarta

Demokrasi 50+1 = 100

— In apakabar@yahoogroups.com, “dipo” <dipo@…> wrote:
[quote]

Sedangkan demokrasi yang dianut dunia Barat, ternyata cuma
sistem adu banyak suara. Samasekali bukan landasan hidup yang
mencerdaskan.
Rumusan demokrasi yang “50% + 1 = 100%” itu jelas amat lucu karena
sembarangan amat.
[/quote]
Saya kira demokrasi apapun tidak kenal sikat-menyikat.
Jadi justru LANDASAN demokrasi pantesnya harus  50 + 1 = 100.
Landasannya memang harus begitu supaya kokoh dan kuat.
Jika selama ini terasa lucu, bukan karena landasan ini salah.
Tapi sikat menyikatnya, atau main paksa itu yang lucu dan salah.

cantiknya demokrasi justru karena setiap orang yang ingin menang
harus berjuang untuk mendapatkan kelebihan angka 1 .
Dan bukan mengotak-atik 50 boleh menjadi 05. Atau bolak balik
membongkar-bongkar rumus…lalu kapan mulainya demokrasi.

kalau kita bersumsi, bahwa “keyakinan” = hidup-mati.
Maka demokrsai hanya bisa berjalan kalau semua orang
sudah bisa membebaskan diri dari “keyakinan” nya.
Atau paling tidak, harus sanggup mengurangi kadar
keyakinan terhadap kebenaran yang dianutnya.

“Demokrat” harus mau menyisihkan sebagian kebenaran-nya
menjadi kebenaran orang lain.

Dalam rumusan mas Dipo, setiap orang harus mau hanya
dikasih modal 1 suara. Tidak lebih.
Orang-orang yang suka nyikat, atau orang yang nelongso
jika kalah…..patilah dia selalu merasa punya modal 50.

Misalnya Golkar dijaman ORBA….sebelum orang nyoblos…
mereka sudah tumpengan karena yakin punya modal 50.
Karena sudah sikatan terlebih dulu.
Juga minoritas yang bolak balik nelongso disaat kalah,
Nelongso nya itu karena dia merasa pegang modal 50…
padahal boro-boro.

Rumus 50+1=100 sudah cukup mujarab….
tinggal setiap orang harus cukup kenyang dengan
kepunyaannya yang 1 suara.

Jadi, sebenarnya demokrasi tidak akan pernah jalan
kalau orang-orangnya…….LAPARRRRRRR terus gak bisa kenyang
dengan hak-nya yang hanya 1. Seperti mas Dipo …ngkali.

Belajar demokrasi itu artinya belajar menghilangkan keyakinan
terhadap kebenaran diri sendiri.
Orang sini bilang….harus bisa lebih meyakini system.

Let the system work…..cenah.
mau system liberal, mau system islam, mau system abrakadabra…
kek namanya….terserah. Yang jelas bukan system tukang sikat
dan bukan system pecumdang yang sukanya ngeluh….

DjayaWikarta
 

Agama Symbol

— In apakabar@yahoogroups.com, “walsuparmo” <walsuparmo@…> wrote:

Quote:
Salam,
Saya kira keheranan Tristan dapat dimengerti karena dia tidak
menyangka bahwa ada orang Islam yang main judi.Bertaruhan dalam
pelombaan balapan kuda dan permainan2 lainnya TERMASUK sepak bola
adalah JUDI.


Mungkin “islam” itu ada ratusan juta aliran…..
Dan seharusnya,jika jumlah manusia didunia
ada 2 milyar…..maka keyakinannya juga ada 2 milyar.
Kenapa “keyakinan” harus dikelompok-kelompokkan ?.
jawabnya karena tidak semua orang mau mikir.

yang saya baca, yang diharamkan hanya “mengundi nasib”
artinya, mengambil keputusan tanpa pengetahuan.
Judi menjadi haram karena ngambil resiko tanpa pengetahuan.
Dalam pemahaman “mengundi nasib”, yang haram bukan cuma
dicirikan “kartu domino” atau rollet….toto sepakbola.
Apapun haram jika pengambilan keputusan tanpa perhitungan.
Misalnya waktu nyoblos pemilu, waktu bikin anak…
juga waktu…memilih agama.

Pengharaman “mengundi nasib” dan “khamr”…..juga
karena semata-mata pengharaman terhadap “pengabaian pikiran”.

Tapi karena orang-orang doyan-nya yang mudah-mudah….
jadinya…..yang haram cuma “domino” dan “alkohol”
Tapi dalam keseharian, tidak merasa haram setiap kali
bertindak tanpa “perhitungan” dan tanpa mikir.

Orang lebih faham CABE itu dua silinder kerucut warna merah.
Saat CABE jadi merk kaos kutang…..maka orang meyakini cabe
itu kaos kutang…..yang tidak pedas tapi bau keringat.

Juga AGAMA…..akhirnya tidak lebih dari simbol
yang doyan ditempelkan di jidat…..supaya orang lain tahu
bahwa merek keyakinan dia islam, atau merek keyakinan kristen
atau keyakinan atheist…..

Penganut Islam,Kristen atau Atheist…akhirnya sama saja
sama-sama sebagai penyembah SYMBOL.

Dan pamer “symbol keyakinan” apapun memang aneh…
dan sangat tidak berguna….
kecuali untuk nakut-nakutin orang…..dan kecoa.

Agama itu “rasa pedas-nya” dan bukan “warna merah-nya”.
Judi itu bukan kartu-nya…..tapi mengundi nasibnya.

DjayaWikarta

Indonesia….mumpung masih ada SPORT

Maiky….. saya sengaja memanggilnya demikian. Karena
bagaimanapun gagahnya, dia tetap saja anak muda.
Teman kerja yang belum genap tigapuluh usianya.
Gede tulang, gede daging. Bule sampai alis-alisnya.
Kalau rada tua dikit pasti mirip Arnold Schwazenegger.

Meja kerjanya bersebelahan, duduk berhadapan diagonal
karena CRT dia dengan LCD saya hampir nempel tegak-lurus.
Dia banyak nanya itungan, saya banyak nanya bahasa.
Perniagaan atau barter yang sepadan …saya kira.

“Kakek buyut saya Lithuania, my mom and my dad American
saya lahir di Chicago… but I am Australian”, dia bergumam
dengan suara yang tertelan saat dulu saya tebak kalau dia Texas.

“Australia …ah British dong..”, saya asal bunyi saja
sambil asyik ngetik, juga tanpa menoleh. Tiba-tiba dia
melempar saya dengan kertas..

“Hei…man, you don’t say that “, ucapannya memaksa saya
memutar leher hadap kiri. Lihat muka kelimisnya lurus
menghadap kearah saya.

“Never…ever….” dia menggerakkan bibirnya juga
menggerakan dua tangannya kiri kanan diatas permukaan meja.
Seperti orang memperagakan berenang gaya dada.

Sekarang saya yang bengong….” Kok gak mau British ?”

“Nope, cukup American Australian saja…”, dia yakin.

Sampai tadi pagi, saya nggak habis pikir kenapa dia
never-ever untuk British. Sempat juga nebak-nebak…
jangan-jangan karena konon sekarang British passpor
holder harus pake Visa kalau ke Amrik. Sementara American
bebas visa masuk Britain.

Ternyata bukan. Bukan itu alasannya.

Pagi-pagi, tumben dia lebih duluan nongkrongin komputer.
“Hei…mate, you know that…. England  pfffhh “, dia
mendahului membuka sapaan pagi dengan tersenyum puas.
Kalimat pembuka menggantikan sapaan rutin “morning mate”.

Sambil membuka jaket, kupluk, scarf dan glove….saya
pelototin dia…. ” What…?”

Dia menyeringai, ingat ponakan saya yang berumur 10 tahun.
Merapatkan gigi depan sambil bibirnya dibuka. Kulit pipi
ditarik kebelakang. Lalu sambil kedua jempolnya ditunjuk
tunjukan kebawah…

“England….pfffffhhh ..”. lalu dagunya goyang kiri-kanan.
tapi saya malah diam mikir, ada apa dengan si Maiky ini….
Dan selintas saya ingat obrolan teman saat jalan kaki tadi.
Dan saya bisa merespon tanpa harus bertanya.

“Masih lumayan, Lewis Hamilton runner-up, Rugby runner-up”.
Saya ngasih pledooi seolah mewujudkan jiwa patriotik English.

“No…no…no, kamu tahu, England tahun ini habis…cricket,
golf, dan yess……neither football “, dia angkat dua tinju
tinggi-tinggi. Lalu gaduh sendiri memukul-mukul meja.

“Diancuk…”, saya gak sadar niruin teman saya di bandung
yang dari suroboyo. sambil meneruskan ucul-ucul.
Tapi si maiky semakin mejadi-jadi.

“Nanti biar si Jim, si Alex, si Phil, si Kevin….tahu rasa”.
Dia berdiri, lihat sekeliling ruangan yang masih sepi, seolah
tidak sabar nunggu teman-teman yang kebetulan lokal English
datang. Dan rada siang sedikit, si Maiky berkeliling kemeja
meja tetangga. Dan Englishmen….kali ini cuma nyengir kuda.

Kasihan juga melihat raut muka memble para Englishmen….
sementara si Maiky senyum-senyum riang gembira banyak bicara.

saya ingat, kelakuan si Maiky kali ini persis sama dengan
kelakuan teman-teman saya dulu yang bule Afrika Selatan dan
New Zealand.
Mereka sama-sama merasa punya negara sudah maju, ras juga
kaukasian…tapi tidak bisa keluar dari TAKDIR inferior…
bahwa negaranya tetap saja Koloni Inggris.

Dan ini semuanya berkah dari SPORT, mereka bangsa koloni
Inngris bisa mengalahkan induk-semangnya. Sungguh-sungguh’
bisa sesaat bersenang-senang merasa menang.

Tapi…thanks God karena telah mengijinkan SPORT….
Karena SPORT memang harus ada dan diperlukan tetap ada.
Agar setiap inferior juga bisa mendapat pengalaman mengalahkan.

Mungkin juga bisa, SPORT dijadikan pengobat luka menganga
yang tak habisnya karena bencana alam dan bencana bikinan orang.

Kalau Indonesia perlu sedikit bergerak untuk bisa melewati
threshold mental breakdown. Atau perlu sekali mengenyam
sedikit rasa menang. Sementara semua segi sudah ancur lebur,
maka barangkali saja SPORT masih menyediakan kesempatan menang.

Thetis Road 20071123

setiakawan karena terancam

— In apakabar@yahoogroups.com, “kibroto” <Kibroto@…> wrote:
>
> # Ndak lah, dalam mayoritas ada juga brotherhood, dan banyak. Yang
> menentuken brotherood atau lebih luas `kesetiakawanan’ bukan
> posisinya sebagai minoritas – mayoritas tetapi <misalnya> ancaman.
>>>

Inilah masalahnya….
“kesetiakawanan” kok harus selalu nunggu ancaman….
atau harus menciptakan dulu suasana terancam.
Ini mirip kelakuan Sukarno saat mengganyang Malaysia
dan jenderal Galtiery saat nekad menyerang Falkland.

Juga mirip, biarpun rada jauh….pak Ogah nya Unyil…
cepek dulu …baru setiakawan.
Juga mirip manusia, rejekinya dulu….baru bersyukur.
Bukan kebalikannya, setiakawan untuk dapet cepek, atau
bersyukur untuk dapet banyak rejeki.     he he he..

Jangan-jangan, NU dan Muhammadiyah dibikin tetap beda
supaya suasana terancam dari keduanya tetap terjaga.
kalau masing-masinga merasa ada yang mengancam….
maka masing-masing bisa setiakawan.
Tapi…NU dengan Muhammadiyah mah …gak perlu setiakawan. ?

Juga, Kristen, Islam, Budha, Hindu…..dipelihara tetap beda.
Agar masing-masig ummatnya…bisa praktek setiakawan.
Karena merasa terpinggirkan, ujug-ujug Atheist juga
bikin tampilan paling berbeda….supaya bisa merasa lebih
merasakan nikmatnya setiakawan.

Kayaknya, ancaman atau suasana merasa terancam datang
belakangan. Justru muncul setelah sekelompok mahluk
sengaja memisahkan diri, atau merasa terpisah.
Saya bilang, kok orang-orang harus me-MINORITAS-kan diri…
hanya untuk bisa merasakan nikmatnya setiakawan.

Coba, seperti John Lennon, (Hallo pak RM) gak ada negara,
gak ada yang ngaku-ngaku beragama, gak ada penamaan Ras….
pasti gak akan ada minoritas, yang ada hanya satu mayoritas.
mayoritas manusia.  Lalu..kita lihat…
kalau kita nanti merasakan masih ada setiakawan dalam mayoritas.
maka itulah surga yang sesungguhnya.

Yang ada sekarang, adalah setiakawan pecundang.
Brotherhood intern dalam grombolan “minoritas-minoritas”….
DjayaWikarta

Extapolasi aturan Tuhan -2

Re: Extrapolasi Aturan Tuhan

— In apakabar@yahoogroups.com, “jeliyas” <jeliyas@…> wrote:
>
> Tidak ada kata kata demokrasi di kitab suci manapun, itu hanya
> karangan manusia sekuler yang anda taklid kepadanya.
> >>>

Tentu tidak ada kata DEMOKRASI dalam kitab suci
karena demokrasi urusan dunia….tempat anda dan saya hidup.

“taklid” untuk demokrasi artinya saya selalu “taklid” kepada
semua orang….kepada sebanyak-banyaknya orang.
bukan hanya taklid kepada seorang yang mengaku wakil tuhan.
Atau mengaku paling memahami ayat-ayat Tuhan.

Demokrasi tidak ada urusan dengan sekuler yang jelas-jelas
katanya memisah urusan agama dengan negara.

Demokrasi hanya meminta saya, juga meminta anda untuk
tidak bertindak sak-mau-mau-nya sendiri untuk
urusan DUNIA yang menyangkut urusan saya dengan anda.

Demokrasi mepersilakan anda berpegang pada keyakinan
apapun, boleh memegang teguh kitab suci apapun….
Tapi saat anda bertindak….tolong pikirkan juga
kepentingan saya. Karena kita berada dalam satu dunia….
atau malah satu-satu nya dunia.
Lain halnya kalau anda hidup di-dunia lain.

Sekuler juga tidak pernah tegas menjanjikan demokrasi, tapi
hanya tegas dalam menjauhkan pikiran agama dari “dunia”.
Dan ketidak-tegasan ini menjadi benih-benih hypokrit.
lebih banyak membingungkan dirinya dan juga orang lain.

Saya cuma doyan demokrasi,
karena setiap orang memliki kebenaran biarpun sikit-sikit.
Dan, proses demokrasi itu upaya mengumpulkan semua kebenaran…
atau upaya meregresi semua titik-titik kebenaran menjadi
satu kurva pedoman dan aturan hidup bersama didunia.

Urusan akhirat anda ?, silakan anda bebas mengurus sendiri
dengan Tuhan anda, saya juga punya urusan dengan Tuhan saya
dan urusan akhirat ini memang betul tidak memerlukan demokrasi.

Kalau anda mau jungkir balik manggil Tuhan, silakan asal
sendirian. Juga kalau saya doyan sendirian jungkir balik,
anda jangan ikutan pusing.
dan untuk urusan jungkir balik dengan Tuhan,
tentu saja tidak perlu ada murtad.
Memangnya elo siape-nya tuhan ?.

kalaupun dipaksa harus ada vocabulary MURTAD….
yaaa itu tadi….orang yang melanggar aturan duniawi
yang sudah DISEPAKATI bersama….itulah si kriminal.

DjayaWikarta

> Jimmy Eliyas
>

Extrapolasi aturan Tuhan

Extrapolasi Aturan Tuhan

— In apakabar@yahoogroups.com, “jeliyas” <jeliyas@…> wrote:
>
> Dimana kedewasaan anda, kalau saya, misalnya, bukan salah satu
> anggota keluarga anda yang misalnya, mempunyai aturan aturan
> yang definitif yang hanya bisa dimengerti dan harus diterapkan
> oleh anggotanya saja,
> bagaimana mungkin saya bisa mengerti apalagi menerapkannya?
> >>>>>

Memang, aturan keluarga anda adalah urusan anda, aturan
keluarga saya adalah urusan saya.

Masalahnya, jika anda, saya, bu laksmi, Jusfik (konon)
ternyata sama-sama masih mengaku berada dalam satu keluarga…..
Yang masing-masing punya kepala yang lengkap dengan isinya.
Tentu pula punya penalaran masing-masing.
karena isi kepala memang gunanya untuk me-NALAR.

Aturan definitif keluarga yang mana yang anda maksud ?.
Bukankah ada lebih semilyar kepala dari anggota keluarga
dan masing-masing tentu berhak mendefinisikan.
Kecuali kalau anda tidak ingin mempergunakan isi kepala anda,
seperti orang mabuk…..padahal mabuk diharamkan.

Jika anda yakin dengan ke ESA-an Sang Pemilik Aturan
yang tidak mungkin disamai mahluk hidup apapun, tidak
juga disamai oleh organisiasi manapun….
Maka seharusnya, anda juga mustahil taklid kepada siapapun.
Mustahil juga anda sanggup me-MURTAD-kan oran lain…

Saya percaya, ATURAN KELUARGA kita pasti dari sononya
sudah benar dan pasti BAIK….
Maka tentu pula terjemahan-nya dan penerapannya juga
HARUS baik… harus mustahil merugikan siapapun….

Menurut saya, DEMOKRASI adalah satu-satunya cara menentukan
terjemahan dan penerapan aturan untuk kebaikan
disaat Sang Pemilik Aturan sangat MUSTAHIL berkenan
mewakilkan maksud sebenarnya kepada siapapun.

Demokrasi itu UPAYA extrapolasi atau interpolasi
dari keinginan Tuhan yang sesungguhnya.
Mirip curve-Fitting “kebaikan” melalui regressi….lah.

yang pasti, eksklusif, sok tahu ..apalagi pake me-murtadkan
orang lain…. bukanlah kebaikan….
Pasti juga bukan anggota keluarga mahluk hidup yang baik

21 May 2007
DjayaWikarta

>
> Jimmy Eliyas
>
>
> — In apakabar@yahoogroups.com, “ldharyanto” <ldharyanto@> wrote:
> >
> >
> > Saya tidak ingin mempersoalkan pengertian “tobat” atau “murtad” di
> sini karena saya menghargai “free will” dari tiap-tiap individu
untuk
> memilih. Hanya, kebetulan dalam diskusi ini saya menjumpai kalimat
> berikut:
> >
> >
> > Sangat tipikal gaya diskusi adolescence: “Pokoknya begini! Kamu
> nggak paham! Habis perkara!”
> >

Halaman Berikutnya »