Sekaleng susu penuh uang logam seratusan
selalu sengaja dipersiapkan dalam jangkauan
persis teronggok dibawah rem tangan
Lampu merah menyala dipersimpangan
peminta-minta dan pedagang asongan berdatangan
Maka tangan kiri menjulur ringan tanpa pikiran
sekeping uang coin berpindah ke-tangan kanan
dan sekeping bakal amalan pun siap dalam genggaman
Lalu kaca jendela sebelah kanan ringan pula diturunkan
sekeping koin kuning pun disodorkan
Sambil berbisik dalam hati…. inilah amalan
Tapi….
sekotak korek-api utuh cap tiga durian jatuh kepangkuan
seraut muka kusam terpanggang
menggeleng dan tersenyum dalam bayangan topi pandan
lalu melenggang sambil menggendong kotak penuh dagangan
Dengan sebungkus korek api aku diuntungkan…
tapi dia sungguh-sungguh mendapat kemenangan
dia pelunas utang yang tidak aku inginkan
Sungguh dia telah mengalahkan dengan merampas amalan
Maka sekeping koin lagi aku lempar ke jalan
menggelinding sendirian mencari kemulyaan amalan
tapi malah amblas terlindas truk sampah penuh muatan
Amalan-ku melayang
pedagang asongan yang cerdas telah merampasnya
dan truk sampah telah pula menggilasnya
beramal… memang tidak mudah dan tidak murah.
tidak juga mungkin cukup dengan melempar rupiah
Simpangan Jalan Pasteur
7 January 2003
0 Tanggapan ke “Dia yang merampas amalan”