Sepintas kukira Mathias Sommer pemain bola 90-an Jerman.
Tinggi besar berbulu putih sempurna sa alis-alisnya.
Aku bukan cenayang yang pandai menerka orang.
Aku iseng saja berbisik disebelahnya,
saat nunggu kereta di Southampton Central Station.
“Germany…??”, aku tak yakin mulutku mampu berbunyi.
juga tak yakin saat dia terperanjat…
aku malah lebih terperanjat karena aku merasa hanya
berbisik dalam hati saja.
“ummm…ya..yaa” dia terbata-bata, semua kaki-tangan
badan dan kepalanya seolah ikutan menjawab.
Aku sungguh merasa menang pamor…ada bule gede gugup.
padahal ini negeri bule juga.
“haw wa..yu doin’…? aku tanggung diatas angin.
ulurkan tangan dan kasih gigi menyeringai. Karena
untuk menaklukan singa liarpun cukup dengan senyum.
Dari kilat mata coklatnya, dia girang tampaknya.
Karena mungkin dia merasa ada teman asing dengan aksen
english dalam kisaran kelas-nya.
Aku sebenarnya rada anti berbincang, tapi ini khusus.
“Mmm I..e..waiting frenzz hierr”, dia bicara. Sementara
jarinya mengambil sebatang rokok yang aku sodorkan.
Sebelum dia keringatan speaking English elbih banyak.
Aku nyalakan api ke dekat muka-nya.
Tergopoh dia menempelkan rokok ke bibirnya dan rada
menjauhkan muka-nya. Api lighter-ku kegedean rupanya.
Nikmat dia menghisal marlboro £ 4.8 perbungkus…
merem melek menghisap asap ditengah kepulan asap.
“Saya..Hans from Berlin…”, dia mengulang ngajak salaman.
“Berlin…?, aku mengangguk-angguk menahan tawa…
karena orang Tasik dan Garut pun mengaku Bandung,
saat ditanya asal muasal, Jombang juga mengaku Surabaya.
“Saya mau cari kerja disini…teman saya dari Leipzig
sudah kaya sekarang….saya bisa nge-cat rumah, jalan
saya bisa juga menjalankan excavator. Saya ditawari
£ 4.0 per jam….lumayan besar kan ?”. Matanya berbinar
seolah sedang menyaksikan lembaran pound sterling.
Dan aku lebih berbinar….
Diatas Alpha Line Train yang kosong menuju Bristol
aku merasakan kehangatan dalam cuaca dingin.
Saat jidat kutekan keras ke-kaca jendela, aku juga
merasakan kehangatan di kedua sudut mata yang susah
untuk dicegahnya menetes….
“Nilai bayaran bangsaku….tidak buruk-buruk amat…”
nikmat mana lagi yang harus aku dusta-kan ?.
29 Sep 2001
Menjelang Salisbury
DjayaWikarta
0 Tanggapan ke “Hans aseli Berlin”