Sindroma Stockholm

Menurut sahibul hikayat, dulu tahun 73 dikota Stockholm Swedia
terjadi perampokan bank. Lalu entah karena apa, para pekerja
bank disekap dan disandera oleh perampok selama hampir seminggu.
Cerita perampokannya sendiri tidaklah se-seru dibanding
perampokan yang hampir tiap hari terjadi di negeri aman
sejahtera seperti Indonesia.

Perampokan ini menjadi luar biasa, semata-mata karena membuka
pengetahuan baru tentang manusia, tentang kita.

Pengetahuan umum kita pasti mengira, para sandera akan dendam
dan benci luar biasa terhadap si perampok yang telah
menenggelamkan mereka dalam ketakutan dan ancaman kematian
selama seminggu penuh.

Tapi apa yang terjadi, malah sebaliknya, para sandera sangat
tergantung pada “kebaikan hati” perampok, bahkan setelah bebas
para mantan sandera berterimakasih, malah menjadi pembela si perampok.

Awalnya, kasus “sandera yang malah menyayangi penyandera” ini
dianggapsebagai kejadian khusus dan luar biasa, sekedar
sindrom sesaat. Tapi study lebih lanjut membuktikan bahwa
semua orang, siapapun termasuk kita-kita ternyata pengidap
latent sindrom Stockholm.

Kalau sekarang kita punya anak, yang sangat penurut,
sangat patuh, selalu tergantung pada kita sebagai orang-tua-nya.
dan selalu bilang…
“My Dad and my Mom are the best to obey….. are the best forever !!”

Lalu,
apakah betul kita telah menjadi orang tua yang the best
for our kids.
Atau karena kita telah menjadi perampok dan penyandera mereka
sejak mereka lahir ?.
York Avenue, 20071115

0 Tanggapan ke “Sindroma Stockholm”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.