Seperti sudah menjadi hukum alam, kaum minoritas
dimanapun selalu akan berusaha kompak. Beda kulit,
beda bahasa, bahkan beda aliran tidak lagi masalah.
Apalagi kalau beda-nya dikit-dikit… forget it.
“Brotherhood” bagi minoritas rupanya menjadi kebutuhan
dan bukan kewajiban. Saat kebetulan menjadi mayoritas,
maka ajaran brotherhood sekedar di-sakralkan, susah
untuk sekedar dimaklumi, dan mustahil untuk diterapkan.
Membangun kekompakan, atau membangun brotherhood tentu
saja identik dengan niat nambah anggota, nambah brother.
Jika “mayoritas” juga artinya “sudah lebih banyak brother”
maka seperti orang yang sudah kekenyangan makan. Melihat
makanan sedap bergizi tinggi pun akan diabaikan….
Bahkan mungkin lebih suka membuangnya ketempat sampah.
Fenomena “kemustahilan brotherhood di negeri mayoritas”
sama saja dimana-mana, sama untuk ras apapun, agama apapun.
sama-sama mustahil untuk mahluk apapun. Etnis Tiongkok
didaratan China, Islam di Arab atau di Indonesia,
atau bahkan populasi Baboon di Africa…. yang kadung
jadi mayoritas, akan selalu susah dan mustahil menciptakan “brotherhood”.
Perbedaan kecil akan menjadi masalah besar. Untung saja
NU dan Muhammadiyah hanya beda lebaran. Hanya mungkin
akan tidak nyaman kalau lebaran kita beda dengan lebaran-nya
orang yang kita cinta.
Tapi lain kalau sedang menjadi minoritas, orang Tiongkok
di Indonesia, atau orang Islam di UK…. ternyata kompak.
Sipit sedikit ketemu di Glodok langsung ditegur kamsiah,
berjenggot sedikit ketemu di London…langsung disapa
assalaamualaikum brother….dengan senyum merekah pula.
Satu-stunya mesjid dikota saya adalah “mesjid” Bangladesh.
Dari total populasi penduduk yang tercatat, 132,328 jiwa,
mesjid lumayan sanggup terisi 60-an orang setiap Jumat.
Dan sekitar 30-40-an kalau solat Ied yang kebetulan selalu
jatuh pada jam dan hari-hari kerja.
Lirik kiri, lirik kanan, maka tampak orang Turkiye, India,
Nigeria, Pakistan, Marokko, Aljazair, Indonesia dan… bule.
Jumlah orang Bangladesh gak usah diabsen tentu saja.
Bahasa pengantar “dipercayakan” kepada mayoritas Bangladesh.
Tapi jangan tanya kita bisa ngerti isi khotbah atau tidak.
Orang India dan pakistan pun….. lebih suka zikir daripada
mendengarkan khotbah. Mereka bilang “Entah bahasa apa….”.
Tapi gak apa-apa, dulu saat di Bandung dengar khotbah pake
bahasa`Sunda,`Indonesia campur bahasa Arab, gak ngerti juga.
Soal legitimasi dan keabsahan jumatan tidak tergatung apakah
kita ngerti atau tidak isi kotbah….. semoga begitu adanya.
Jumatan disini sebagai minoritas, pada tampilannya sama saja
dengan jumatan di Bandung saat berada dalam posisi mayoritas.
Disini double minoritas, minoritas dari jamaah Bangladesh,
juga minoritas dari penduduk sekitar yang lagi weekend.
Di Bandung, jumatan dalam status multi-multi mayoritas.
Pake bahasa Indonesia, jamaahnya berjubel sampai menutup
jalan raya, suara khotbah sampai terdengar ke mesjid lainnya.
Kalau ada perbedaan dalam pagelaran rutin Jumatan,
maka bedanya yaa itu…. soal BROTHERHOOD.
Dari mulai buka hot-line untuk segala info tentang
jadwal puasa, jadwal shalat, ngaji anak, dan tentu juga
kemeriahan krang-kring telepon dimalam takbiran.
Sampai, tawaran dan juga info tempat daging halal….
Dan the last but not least, sapaan “Assalaamualaikum Brother !!”.
dengan jabatan telapak tangan menggenggam erat…
serasa mendengar “What A Wonderful World” nya Louis Armstrong…
The colours of the rainbow, so pretty in the sky
Are also on the faces of people going by
I see friends shakin’ hands, sayin’ “How do you do?”
They’re really saying “I love you”
kali ini, saya sebagai minoritas saatnya belajar dan
membiasakan menjawab “I love you too… brother”
Agar nanti jika saya kembali jadi mayoritas, lidah dan
pikiran saya selalu merasa berada ditengah brother.
Dan tidak akan pernah lagi kenyang karena kebanyakan
memiliki brother.
Newport 20071117
DjayaWikarta
0 Tanggapan ke “Andai Brotherhood tidak hanya untuk Minoritas”