— In apakabar@yahoogroups.com, “dipo” <dipo@…> wrote:
[quote]
Sedangkan demokrasi yang dianut dunia Barat, ternyata cuma
sistem adu banyak suara. Samasekali bukan landasan hidup yang
mencerdaskan.
Rumusan demokrasi yang “50% + 1 = 100%” itu jelas amat lucu karena
sembarangan amat.
[/quote]
Saya kira demokrasi apapun tidak kenal sikat-menyikat.
Jadi justru LANDASAN demokrasi pantesnya harus 50 + 1 = 100.
Landasannya memang harus begitu supaya kokoh dan kuat.
Jika selama ini terasa lucu, bukan karena landasan ini salah.
Tapi sikat menyikatnya, atau main paksa itu yang lucu dan salah.
cantiknya demokrasi justru karena setiap orang yang ingin menang
harus berjuang untuk mendapatkan kelebihan angka 1 .
Dan bukan mengotak-atik 50 boleh menjadi 05. Atau bolak balik
membongkar-bongkar rumus…lalu kapan mulainya demokrasi.
kalau kita bersumsi, bahwa “keyakinan” = hidup-mati.
Maka demokrsai hanya bisa berjalan kalau semua orang
sudah bisa membebaskan diri dari “keyakinan” nya.
Atau paling tidak, harus sanggup mengurangi kadar
keyakinan terhadap kebenaran yang dianutnya.
“Demokrat” harus mau menyisihkan sebagian kebenaran-nya
menjadi kebenaran orang lain.
Dalam rumusan mas Dipo, setiap orang harus mau hanya
dikasih modal 1 suara. Tidak lebih.
Orang-orang yang suka nyikat, atau orang yang nelongso
jika kalah…..patilah dia selalu merasa punya modal 50.
Misalnya Golkar dijaman ORBA….sebelum orang nyoblos…
mereka sudah tumpengan karena yakin punya modal 50.
Karena sudah sikatan terlebih dulu.
Juga minoritas yang bolak balik nelongso disaat kalah,
Nelongso nya itu karena dia merasa pegang modal 50…
padahal boro-boro.
Rumus 50+1=100 sudah cukup mujarab….
tinggal setiap orang harus cukup kenyang dengan
kepunyaannya yang 1 suara.
Jadi, sebenarnya demokrasi tidak akan pernah jalan
kalau orang-orangnya…….LAPARRRRRRR terus gak bisa kenyang
dengan hak-nya yang hanya 1. Seperti mas Dipo …ngkali.
Belajar demokrasi itu artinya belajar menghilangkan keyakinan
terhadap kebenaran diri sendiri.
Orang sini bilang….harus bisa lebih meyakini system.
Let the system work…..cenah.
mau system liberal, mau system islam, mau system abrakadabra…
kek namanya….terserah. Yang jelas bukan system tukang sikat
dan bukan system pecumdang yang sukanya ngeluh….
DjayaWikarta
0 Tanggapan ke “Demokrasi 50+1 = 100”