Sekuler konon memisahkan urusan manusia dari urusan Tuhan ![]()
Tidak begitu jelas memang, apa karena nabi Muhammad yang
berpandangan sekuler atau memang Al-Quran yang diturunkan
sudah dalam format sekuler dari sono-nya.
Orang hanya melihat sejarah Hijrah ke 2 Nabi ke Madinah
semata-mata withdrawal atau emigrasi Muslimin dari kota
suci Mecca. Alasan kenapa Hijrah tentu juga sudah banyak
dituliskan. Mulai dari alasan menghindari tekanan warga
Mekah sampai alasan….karena memang takdirnya begitu.
Dan yang sungguh menarik justru alasan terakhir, takdir.
Takdir sebagai rahasia Tuhan, dan tentu saja setiap rahasia
selalu lebih thinkable daripada hal yang terang benderang.
Ajaran Islam yang terangkum secara textual dalam Al-Quran
sedemikian lengkapnya…kata orang Muslim. Dan lain pula
orang yang bukan Muslim bilang, Al-Quran terlalu serakah
sampai merangkum hal-hal yang tetek-bengek, sampai ngatur
segala urusan pribadi.
Lalu mana yang benar ?. Tentu saja memang benar Al-Quran
menuliskan segala macam. Penilaian bahwa segala macam ada
berarti lengkap…atau artinya serakah, sah-sah saja.
Sebagian orang setuju bahwa kitab suci agama memang harusnya
membahas segala keperluan hidup manusia, dunia sampai akhirat.
Tapi sebagian lagi lebih setuju jika Kitab suci agaman hanya
ngatur urusan akhirat, dunia serahkan pada manusia katanya.
Para juru tafsir Al-Quran sepertinya hampir sepakat dalam
memilah-milah ayat-ayat Al-Quran. Katanya, konon yang satu
golongan ayat Makiyah dan yang lain golongan ayat Madaniyah.
lalu katanya lagi, Makiyah menjadi dasar acuan orang dalam
berurusan dengan akidah yang lebih berbau akhirat.
Sementara Madaniyah ngatur urusan fiqih…. ngatur kegiatan
sehari-hari, mulai soal dapur, sumur sampai tempat tidur.
Juga urusan dunia lainnya, seperti urusan bermasyarakat,
bermufakat sampai urusan ber-sarikat.
Sampai disini, sampai two-in-one kandungan Al-Quran,
orang-orang ujug-ujug merasa faham …. katanya..
“Al-Quran sangat jelas menyatukan urusan dunia dengan
akhirat dalam satu kemasan”.
Tapi tunggu dulu, Nabi Muhammad mungkin belum bilang atau
sengaja mendiamkan… biar manusia yang nimbang-nimbang.
Atau juga mungkin dulu belum ada pelajaran sejarah tentang
bentuk-bentuk pemerintahan…..ada teokrasi, ada demokrasi,
ada monarki, ada otokrasi… dan basa-basi seperti Indonesia.
Tapi, Nabi Muhammad sungguh-sungguh memberi contoh aplikasi,
ngasih contoh dengan perbuatan…. dengan Hijrah.
Nabi Muhammad paling tahu, betapa sucinya kota Mekkah,
tempat yang hanya layak untuk Sang Khalik disembah.
Tempat yang tak boleh dicemari dengan kegiatan halal dunia
apalagi kegiatan politik yang banyak haram-nya.
Maka, apapun “casus belli” nya, Nabi Muhammad pun pada
bulan september tahun 622 (kata wikipedia) pergi sejauh
320 kilometer….cukup jauh keutara…Madinah namanya.
Menjauhi kota Akidah Mekkah untuk mempraktekan ajaran dunia.
Nabi faham betul… karena katanya
“Untuk urusan dunia …kalian lebih tahu…”
Dan Nabi tidak mau (atau malah mungkin juga Tuhan yang gak
mau) jika urusan dunia dikelola ditempat akidah….artinya
juga gak mau kalau urusan dunia bercampur dengan akidah.
Lalu, sejarah praktek SEKULER pun dimulai dari Madinah.
Dan Nabi Muhammad pemimpin akidah yang mencontohkannya.
Urusan dunia seperti pemerintahan….. memang seharusnya
dijauhkan dari urusan akhirat. At least 320 kilometer.
Sejauh Medina dari Mecca….
jika kemudian…. saat jelas-jelas Nabi Muhammad telah
dijamin berada di Surga….namun Nabi Muhammad masih juga
selalu meminta orang-orang untuk mendoakan dirinya…..
Maka, pastilah karena Nabi Muhammad sekedar orang biasa.
Yang bersedia dan berani juga memimpin urusan dunia.
Karena itu….saya demen.
Dan…pahala seorang pemimpin…. tidak didapat otomatis
dari Tuhannya….tapi melalui doa-doa rakyatnya.
Sebagaimana Nabi Muhammad selalu mengharap doa ummatnya.
Medina Road, 20071126
Pertama :
Ada sebuah rahasia yang ketika kita belum mampu menjangkaunya bukan berarti itu tidak logis atau aneh tapi juga dimungkinkan keterbatasan kita dalam berfikir, sejarah pernah menuliskan bagaimana di eropa pihak gereja berusaha mempertahankan teori awal bahwa bumi adalah pusat tata surya sehingga banyak ilmuan yang di bunuh, tapi manusia terus berkembang dengan kesadaran berfikirnya dan memang teori bumi sebagai pusat tatasurya terbantahkan.dari sini jelas sekali keterbatasan berfikir manusia.
Tuhan yang bener adalah tuhan yang bisa mengantisipasi perilaku hambanya dan memberi aturan baku yang harus dianut dan ini harus sempurna, seperti kalau kita suka melihat sepak bola yang fair play, indah karena memang ada wasit yang menatur pertandingan dan aturan ini akan terus berkembang untuk mencapai sepak bola yang indah.
Kalau agama ?
Kalau islam sekarang sudah sempurna, dari nabi adam-isa islam berkembang dan akhirnya disempurnakan nabi muhammad,contoh sederhana dalam hal menikah alquran melarang menikahi ibu kandung, adik atau kakak sekandung (lebih terperinci lihat alquran) sedangkan cara mengatur jika dilanggar di serahkan manusia,
Yang menjadi pertanyaan kenapa dilarang ?. pertama itu fungsi tuhan, kedua lihat penyebab ayat ini diturunkan. Jadi manusia tidak perlu mencari2.
Kedua :
Nabi Muhammad pada masanya menjadi pemimpin jazirah arab sampai eropa, tentu logika hanya sekedar pindah dari makkah ke madinah dengan alasan “Urusan dunia seperti pemerintahan memang seharusnya dijauhkan dari urusan akhirat. At least 320 kilometer. Sejauh Medina dari Mecca”. tidak masuk akal karena membentuk social kultur yang baik harus secara lingkungan yang pas, dan pas juga kalau alquran yang membahas urusan fiqih turun.
Ketiga :
Saya salut dengan kritisi dibawah, Cuma agak males karena tidak ilmiah, karena semua orang bisa membalik logika, seperti, konsep kasih sayang umat Kristen dengan perlambang yesus disalip sebagai bentuk kasih sayang yesus kepada umatnya. Orang lain akan peranggapan tidak logis dan akan mempertanyakan kasih sayang tuhan kepada penyalipan yesus yang sering disebut anak tuhan.
dan tidak akan pernah selesai,
Karena hidup adalah mencari kebenaran dan agama2 yang ada (islam, Kristen, hindu, budha) menawarkan kebenaran itu dan kita punya pilihan untuk menentukan agama mana yang menawarkan kebenaran yang lengkap, bukan kita malah merusak tiap kebenaran itu.
Wasalam.
Dalam Islam ada istilah asbabul wurud (kenapa hal ini muncul), ketika anda mempermasalahkan apa yang diajarkan guru anda, bahkan membandingkannya dengan teori selularisme, ini yang menurus saya sangat tidak tepat.
pertama :
Guru bagaimanapun adalah jendela ilmu kita, jadi harus sangat kita hormati meski dengan segala keterbatasannya.
kedua :
Anda bicara “guru saya bilang” dan serta merta anda meng “iyakan”, tapi dilain kesempatan anda mengeneralisasi mengatas namakan islam, ini yang serius karena ini menangkut pijakan berfikir.
Seperti matematika, ketika anda di sodorkan 1+1=..?, serta merta
seluruh dunia akan menjawab 2, pernahkan kita bertanya kenapa harus 2, tidak 3, 4 atau yang lain.
kenapa angka 2 bentuknya tidak seperti angka 3 dan begitu pula sebaliknya ?, dan kenapa disebut angka arab.
Tidak demikian dengan urusan “bukan dunia”,sekarang pijakan kita di matematika mana (islam,kristen, hindu atau budha), seperti guru anda mungkin faham matematika quantum, tapi kalau anda di jelaskan aljabar linear, menurut pemahanan anda yang terus belajar ternyata teorinya tidak benar, tentu ada fungsi koreksi.
nah ?.. didunia ini matematika agama yang banyak di perdebatkan, tapi sebenarnya nilai kebenaran tuhan hanya satu, cuma kadang ego pribadi dan kelompok yang mengotorinya, sehingga semua matematika agama diambil yang paling disenangi.
Jadi harap maklum ketika kita ngotot 1+1=3, orang berilmu akan menganggap ini angin lalu, tak perlu dikomentari dan perbuatan yang sia-sia.
apakah kita menyerah ?….
Ketiga :
tulisan anda : “Pemisahan melalui sekuler bagus juga, agar negara bisa khusyu ngurus kesejahteraan rakyat, dan setiap “kalifah” juga bisa khusyu menyembah Tuhan-nya dalam keheningan tanpa harus laporan solatnya kepada lurah atau camat.”
mbok ya, melihat sejarah eropa, apa sekularisme yang berawal dari frustasinya orang logis terhadap penguasaan kebijakan ilmu pengetahuan oleh pihak gereja cocok untuk dunia ini, dan tanya para spikolog barat kenapa IQ tidak cukup membangun pribadi dan masih diperlukan SQ dll.
seharusnya sekarang berfikir solusi terbaru, bukan yang sudah terbukti gagal.
wasalam