Kopi bubuk delapan bungkus…..setengah kilo-an
dijejal bersama kolor, baju dan mie instant
penuh sudah kopor hampir lewat batas timbangan
Bapak-ku semalaman berkeringat
sibuk sendirian semua barang bawaanku diikat
Lupa…. usia senja memerlukan banyak istirahat
tapi..
“Tidak….kakek biasa tidur nantiiiiii…belum ngantuk”,
Hanya itu jawaban Bapak saat aku mengingatkan….
bersamaan dengan penyiar TVRI pamit menutup siaran.
Tidak baik melarang orang tua yang asyik bekerja
maka aku biarkan Bapak hanya ditemani dinginnya malam
dan aku, kata bapak….harus tidur lebih sore-an
Terang matahari belum tampak
ketika Bapak menggelitik jempol kaki
lalu mengusap keningku seolah aku masih bayi
Bapak membawa dua cangkir kopi
dengan muka di segar-segarkan
dan bibir di senyum-senyum kan
“Mumpung masih panas….”,
Bapak menyodorkan cangkir yang masih mengepul.
Mata lelahnya tidak lepas menatap-ku
“Bapak tidak tidur…?”
Aku sekedar menghindari kilatan bening di matanya….
“Sudah siap…..?”
Bapak selalu saja menjawab tanya dengan tanya pula..
“Harus siap….”, aku menjawab seperti prajurit saja.
Sopir taxi bandara sedang sibuk menyusun bagasi….
saat Bapak berlari menghampiri kopor …..
Tiba-tiba saja tangan Bapak merogoh kantong celananya…
dan dua bungkus kopi kembali dijejalkan kedalam kopor
“Supaya nanti kamu tidak ngantuk-an kerja di negeri orang….”,
kali ini Bapak membekali aku doa…….dengan limpahan kopi.
Ah…..Bapak.
IoW, March 2001
aku iri nih …
dulu aku cuma dikasih opak, rangginang dan satu dus kurupuk.
sukses..bro