Si Maiky, anak Aussie di meja sebelah berteriak riang
Melihat saya datang ketempat kerja jauh lebih siang
“Where have you been…mate “, Muka putih yang bertabur
tawa renyah-nya menjulur hampir melintasi meja. Aroma
Coca-Cola pun semriwing menyengat penciuman lebih
dari biasa.
Sekalipun flexi-time memungkinkan semua karyawan memiliki
keleluasaan jam masuk kerja. Tapi saya betul-betul merasa
salah tingkah karena pertama kalinya datang siang. Dan ini
pula yang bikin si Maiky sangat riang mendapatkan kesenangan.
Kepalanya masih dalam jangkauan, ketika dia mengangkat dua
kaleng kosong Coca-Cola yang telah diremasnya. Lalu…
“Hei…look at me… two cans….. two hours…. where have
you been….?”. Dia penasaran nunggu jawaban.
“My mobile didn’t work…”, saya cuma bisa menggerutu dan
menyorongkan hanphone Nokia X-Factor kedekat hidungnya.
Dan muka si Maiky berkerut lucu….tapi juga cerdas.
“WHAT….you rely on that stupid stuff ?”, dia tambah girang,
lalu dia mengangkat dan menawarkan tong sampah-nya.
“Put it down here….”, tangannya menjulur mau ngambil hanphone.
Tentu saya gak akan mencemplungkan handphone keramat saya.
Hanphone andalan hidup saya…juga ketergantungan saya.
Lebih dua tahun saya “bangun” dan “hidup” hanya dengan
mengandalkan bunyi ring-tone handphone ….a stupid stuff.
“Time to get up, the time is five o’clock”, selalu tiap pagi.
Biasanya begitu….dan ratusan hari everything going well.
Dan karena ring-tone itu pula, reliability saya dalam urusan
jam masuk kerja dimata si Maiky hampir perfect. Setiap dia
datang…..saya sudah lebih duluan nongkrong.
Tapi, kali ini seperti “karena hujan satu jam maka basahlah
semua lahan yang telah kering oleh kemarau setahun”, atau
juga “karena nila setitik rusak susu se-belanga”. …entahlah.
Yang jelas, kredidibilitas saya sebagai pekerja yang selalu
lebih pagi datang….telah hancur berantakan. Hanya karena
saya tadi malam lupa mijit-mijit handphone.
Dulu….ketika saya untuk beli sebatang Ji-Sam-Soe harus
nabung dua hari…. maka mau tidur atau mau bangun kapanpun
selalu sesuai dengan keinginan tanpa harus perlu bantuan.
Tanpa perlu dering beker, tidak perlu juga kokok ayam.
juga tanpa perlu gedoran tangan Abah di pintu kamar.
Saya bisa bangun tidur bisa tepat sa-menit-menitnya.
Sekarang, saat segala kebutuhan bisa saya miliki…
segala peralatan untuk mempermudah hidup bisa saya punya
pun mungkin seisi toko grosir rokok di jalan Cibadak
bisa saya beli….
Tapi bangun tidur tidak lagi dibawah kendali.
Handphone saya sekalipun hanya bisa SMS dan sekali-sekali
dipake nelepon…dan ada beker-nya tentu saja….rupanya
telah menjadi belahan jiwa.
Sekaligus telah menjadi penjara untuk hidup saya.
Saya tidak bisa pergi keluar dari handphone, biarpun
kehadirannya hanya menggandul membebani kantong celana.
Dan saya ternyata juga mustahil BANGUN tanpa handphone.
Tapi, seperti ajaran yang selalu diamanatkan almarhum Emmak….
Saya masih beruntung… . karena saya tidak punya mobil…
sehingga kaki saya masih bisa bergerak membawa saya
kemanapun keinginan saya pergi….
kecuali mungkin ke Perancis karena harus menyebrangi laut.
Mungkin si Maiky betul….Handphone, Car, dan juga
Computer…. tak lebih dari stupid stuff.
All stuff yang bikin orang stupid….
Atau seperti syair lagu Hotel california nya Eagle….
We are all just prisoners here
Of our own device
Whippingham, 20071205
—– Just another ordinary people ——
—- http://djayawikarta .wordpress. com ——
0 Tanggapan ke “Stupid Stuff”