Sudah berbulan-bulan si Akang abang saya tidak mau lagi
bersengaja menghubungi, juga tampak selalu menghindar
setiap kali saya telepon untuk sekedar bicara.
Tiga tahun lalu, selepas habis masa bakti jadi ketua
Rukun Warga selama dua periode, saya ikut berdoa agar
dia bersedia menjadi ketua mesjid, ngurus mesjid.
Dulu saat warga meminta dia jadi ketua RW, saya juga
ikutan bergerilya kampanye terselubung, layaknya MI5
atau MI6 Secret Service nya British. Dan semuanya sukses.
Selesai ngurus dunia, sekarang saatnya ngurus akhirat,
itulah kira-kira rancangan global saya untuk si Akang.
Ini juga rada mirip dengan ide sekuler yang saya
fahami. Dunia dan akhirat tidak nyampur seperti gula
dan cokelat dalam air.
Dan tidak diaduk dalam satu sajian otak didalam cangkir
berupa tempurung kepala yang volumenya mungkin
tak lebih dari 240 CC.
Tampaknya ide pemisahan urusan ini OK-OK saja, juga
kami sepakat-sepakat saja.
Kata orang sini…semua has been running well.
Pun..rahmattan lil alamiin….rasanya sudah dalam
rengkuhan.
Tapi, belakangan sempat ada “inner circle” ngasih saya
bocoran. Bebeberapa bulan yang lalu si Akang mengeluh
dihadapan “remaja mesjid” yang mengerubuti-nya…
“Kalian…tidak perlu lagi dengar ocehan adik-ku..”.
Maksudnya, jangan mau dengar lagi omongan saya…
Saya ingat, saat si Akang membangun pemerintahan RW
Hampir tiap minggu kami diskusi, bagaimana mengelola
urusan dunia yang berbasis cita-cita luhur “ketuhanan”
asmaul husna untuk rahmattan lil alamiin. Dan sukses.
Dan saya lebih ingat pula, saat si Akang membangun
pengelolaan mesjid. Juga hampir tiap hari diskusi,
bagaimana jalan menuju akhirat harus dibangun secara
profesional agar tidak bolong-bolong karena korupsi.
Keimanan akhirat itu mobil mewah dan agung….tapi
tidak pernah peduli harga aspal, tidak juga peduli
upah pekerja supaya stoom-wals tetap terisi solar
dan tentu juga tidak harus peduli bagaimana batu kali
disusun untuk kekuatan fondasi.
Kemewahan dan kehebatan mobil pastilah amburadul
jika jalan yang dilaluinya tiap hari lebih amburadul.
Karena bukannya aspal dan batu kali dihamparkan…
agar jalan bisa kokoh menahan gilasan…
Tapi… malah habis dimakan sebagai penganan..
Ah, indahnya saat itu…kami sepakat-sepakat saja.
Semua diskusi berbasis make-sense. Dan semua urusan
berjalan lancar karena selalu WELL-ORGANISED.
Sampai, itu tadi ada bocoran dari “the inner circle”
yang mungkin menjadi symptom berakhirnya diskusi.
“Pusing saya mengikutinya…”, demikian sumber-sumber
saya melaporkan ucapan yang belakangan sering terlontar
dari kejengkelan si Akang terhadap saya.
Entah kata-kata saya yang mana yang membuat si Akang pusing.
Entah usulan saya yang mana yang bikin si Akang melarang
anak-anak muda masjid untuk mendengar omongan saya lagi….
Kebetulan saja, Barusan saya terima email dari teman main
sepak-bola saat dulu di pekuburan Maleer Bandung….Juga
teman yang sangat fanatik terhadap ide RAHMATTAN LIL ALAMIIN.
“A…saya sudah usulkan untuk membubarkan segala
bentuk organisasi sektarian….termasuk RW dan DKM mesjid…”.
Isi email sebenarnya panjang, tapi tak perlu saya sampaikan
semuanya, karena ada hal private seperti pesanan oleh-oleh
topi dan scarf Liverpool. Dan juga titipan pesan dari temannya
teman….kalau-kalau saya ada dana untuk modal usaha.
Yang bikin saya terpaksa mikir, usulan dia ada benarnya….
Jika cita-citanya untuk kemaslahatan seluruh ummat manusia
kenapa harus ada grouping…kenapa harus ada sektarian
kenapa harus ada ORGANISASI….yang well organised pula ?.
Organisasi yang hanya menguntungkan SEKELUMIT ummat.
Ah….pantesan saja si Akang…pusing.
Well organised untuk kesejahteraan seluruh ummat…
tapi organisasinya, sungguh bukan untuk seluruh ummat
Si Akang lupa ada jurus sakti menangani paradox…
“Eventhough every man die, But not every man really live”
demikian Braveheart….
Si Akang sebelum bilang pusing sebenarnya telah really lived.
Telah punya cita-cita, telah merancang cita-cita,
menjalankan cita-cita…setersedianya pikiran dan tenaga
That’s it.
sekalipun RW dan DKM nya nanti tentu saja pasti bubar…
Dan memang….segala apapun hasil akhir memang DIE, mati.
Tapi…really life itu proses dan bukan hasil akhir.
karena itu….Akang jangan pusingin kesimpulan akhir.
I will always love you…Kang.
-
Thetis Road 20071208
0 Tanggapan ke “Akang jangan pusingin Paradox”