saya juga tidak mau ITB lagi

Sebenarnya, saya sudah cukup lama tidak ITB lagi.
Apalagi tahun 98 saat Pemilu yang lumayan bebas,
saya sudah bisa mencapai prestasi puncak dalam
karier politik…..sebagai ketua KPPS-RW. Ketua
Pelaksana Pemungutan Suara di RW saya di Bandung.

Jabatan Ketua KPPS di era demokrasi merupakan kiprah
pengabdian tertinggi saya untuk negara dan bangsa.
Saya membingkai SK pengangkatan yang ditandatangani
Lurah, menggantungnya di ruang tamu. Dan dua foto
copynya saya pajang di rumah mertua dan rumah Abah.

Untuk saya, jabatan Ketua KPPS merupakan “magnum opus”,
setara dengan Canon in D Major nya Johann Pachellbel,
atau penggalan Spring dari 4 Season-nya Vivaldi.
Indah dan abadi.

Dulu saya berjuang dan bersaing memperebutkan jabatan
Ketua KPPS, berjuang untuk bisa memberikan pengabdian.
Terus terang saja, saya saat itu main money politik.
Lebih dua kali kandidat lainnya saya traktir makan Bakso.
Dan akhirnya mereka ngalah, hanya jadi ketua pengamanan,
wakil ketua, anggota saja dan penggembira… sisanya.

Tentu, akan selalu ada udang dibalik rempeyek….
Karena mustahil ada “pengabdian” tanpa pamrih, tidak
ada yang pordeo….demikian Abah saya bilang.
Setiap orang punya mimpi yang menemani tidurnya,
dan menjadi penuntun langkah disaat-saat melek-nya.

Dan…bukankah hidup adalah juga perniagaan ?….
Kalau yang ini bukan dari Abah, tapi dari mang Ohan
yang punya kios rokok di jalan Lingkar Selatan
dan buka 7 hari x 24 jam. Suka ngasih utangan.

Menjadi Ketua KPPS….adalah bagian dari upaya mengejar
impian sekaligus arena perniagaan hidup saya.

Dan saya… merasa telah membayar dengan menjadi KPPS.
Hampir 14 hari begadang, mulai rapat di Kecamatan, rapat
di kantor Desa, rapat rutin anggota, sampai menjaga TPS
agar kain blacu dan lembaran plastik bilik suara tidak
di angkut pemulung yang suka keluyuran di pagi buta.

Dan bayaran termahal dari saya, priceless kata orang…
karena saya mencintai jabatan saya sebagai ketua KPPS,
dan Pemilu 98 menjadi tonggak sejara bangsa….harusnya.

Dan semua itu, saya telah membayar untuk bisa mengeluhkan
pengelolaan negara, untuk bisa mengkritik pemerintah,
untuk bisa menilai kerja para pejabat…..bahkan untuk bisa
memaksa pemerintah diganti, sak-mau-maunya saya…
karena saya sudah bayar.

Menjadi ketua KPPS adalah harga yang telah saya bayarkan.
Ikutan pusing mengkritik pemerintah adalah belanjaan saya.

Itu semua…tak lebih dari keinginan saya
supaya tidak menjadi orang ITB.  (Ingin Tau Beres).

Mudah-mudahan saja perniagaan saya sepadan.

NB:
ITB = Ingin Tau Beres adalah FKK-PTDI property right.
pertamakali di launched….saat air liur menetes nunggu uang PHK.

Somerfield Store, 20071210

0 Tanggapan ke “saya juga tidak mau ITB lagi”


  1. Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan