Karena saya lebih sanggup menahan lapar dahaga untuk
tidak makan minum selama 10 jam. Tapi selalu payah
untuk menahan 5 jam jika ingin buang hajat.
Maka bolehlah saya lebih memimpikan WC atau toilet
sebagai tempat favorit daripada dapur dan dining room.
Terkadang, saya berhayal kalau surga itu harus lebih
banyak menyediakan toilet daripada dipenuhi makanan
yang berlimpah ruah. Dan kayaknya akan lebih nyaman
jika disediakan toilet daripada disediakan bidadari.
Ketika ahir Desember kemarin saya ikut kemeriahan orang,
ikut liburan menjauhkan diri dari musim dingin. Maka
jauh-jauh hari saya melakukan survey WC … Membayangkan
detail lokasi WC. Membayangkan WC diatas kapal, WC diatas
bus, membayangkan WC di Heathrow dan membayangkan WC
yang bisa terbang.
Setelah semua bayangan WC ditangan, maka saya segera
memesan tiket Coach bus antar kota, pesan tiket pesawat
sekaligus wanti-wanti agar bisa mendapatkan seat aisle.
Hidup memang untuk lebih siap membuang daripada melulu
berharap untuk mendapatkan. Harus lebih siap mengeluarkan
daripada memasukkan. karena menahan buang hajat selalu
lebih tersiksa daripada menahan lapar dan dahaga.
Menahan makanan yang menumpuk dalam perut konon selalu
akan menjadi penyakit.
Tapi entahlah, untuk kekayaan dan harta benda ….
kayaknya kita semua lebih suka menumpuk dan mengumpulkan
daripada mengeluarkan. Sekalipun pasti jadi penyakit.
Terminal Bus bandara Heathrow tidak sesibuk biasanya ketika
pak sopir yang ber-jas dan berdasi itu memberitahukan
agar penumpang memeriksa semua barang bawaan. Dan pak Sopir
seolah tahu kalau saya akan melakukan perjalanan sangat jauh
yang menyenangkan….
“Hope you enjoy your flight..” katanya.
lain pula sambutan suara nyaring speaker berulang-ulang…
“Un-attended lugage will be destroyed….” katanya.
Peringatan iniĀ sedikit beda dengan pengumuman di terminal
bus Kampung Rambutan….
“Barang yang tidak ditunggui akan dimanfaatkan maling….”.
Siang yang berkabut tebal dan dingin yang cukup menggigit
membuat saya harus bergegas turun dan mengabil kopor besar
yang seperti biasanya hanya dipenuhi cokelat pesanan anak.
Sesuai dengan rencana, setelah ransel terpasang nyaman
dipunggung, tas pinggang terikat sempurna dan dompet
passpor menggantung di leher serta kopor besar teronggok
diatas trolley…. maka pikiran saya terfokus ke WC.
WC terminal bus terletak diluar dan dibelakang gedung.
Dengan ganjalan berat diperut dan sedikit bunyi-bunyian
angin dibawah ransel, saya tergopoh mendorong trolley
melintasi ruang tunggu terminal menuju pintu belakang.
Tapi, kopor saya selain beratnya 30 kilo, juga rupanya
terlalu besar untuk bisa melewati pintu areal WC.
Cukup lama saya berpikir dan berjuang mencari akal agar
semua barang bawaan saya bisa ikutan masuk WC…
Saya takut …cokelat dalam kopor saya akan di destroyed.
Hampir sepuluh menit berkeringat dingin, tersiksa didepan
pintu WC sendirian, mikir supaya kopor bisa masuk…dan
juga isi perut ingin cepat-cepat keluar.
Tiba-tiba, seorang gentleman bule ikut memegang trolley saya.
laki-laki dengan overcoat hijau tua, harum parfume Fahrenheit,
usianya kira-kira 60-an . Dengan aksen BBC, aksen standar
english yang saya fahami….berbisik sambil tersenyum…
“Let me keep your lugage…..you go in….” katanya.
Terus terang, saat saya merelakan kopor untuk di-keep olehnya
bukan karena saya kena hypnotise atau gendam seperti marak
di tanah air. Juga bukan karena saya mempercayai bule….
Tapi semata-mata karena saya kebelet buang hajat…
Cukup lama saya didalam WC, sempat juga terpikir…
kalau-kalau cokelat pesanan anak saya disikat pak bule…
Juga kepikir, kalau pak Bule memasukkan narkoba….
Tapi semua pikiran buruk itu terobati oleh WC yang harum.
Akhirnya saya beruntung bisa ikhlas didalam WC.
Ketika saya tuntas dan keluar WC, tentu juga dengan
perasaan tidak teralu berharap kopor saya masih tersisa
juga tidak berharap si pak Bule masih menunggui-nya…
Tapi, liburan musim dingin saya kali ini betul-betul
penuh barokah….. saya menemukan manusia… real human.
Si bapak Bule masih tersenum-senyum menyambut saya
yang lega keluar WC, tangannya masih erat memegang
stang trolley. Seolah menjaga agar kopor butut saya
tidak di-destroyed oleh SWAT nya bandara Heathrow.
Dan yang terpenting, saya tidak dipungut 1000 perak
untuk membayar penjaga WC.
Saat itu saya hanya bisa berdoa, semoga si bapak Bule
tidak ketinggalan pesawat.
hanya karena menunggui saya yang kelamaan buang hajat.
Semoga juga si Bapak Bule suatu saat kelak akan
mendapatkan toilet terbaik yang paling harum dan paling sehat
Heathrow, 20071223
Kira-kira sebulan lalu saya melakukan perjalanan ke Kalimantan. Pesawat yang sy tumpangi berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Untuk mengantisipasi perut yg kian tak bersahabat sy langsung menuju WC terdekat di bandara. Karena ini pertama kali saya ke Bandara Int. S.H., saya membayangkan akan menemukan WC setingkat BSM atau PVJ untuk bandara terbesar di Indonesia, eh taunya gak jauh beda dari WC di warung nasi padang. Ya kembali pada fungsi WC dan daruratnya perut saya, tanpa segan saya membereskan urusan urgent ini.
Sambil nongkrong saya melamun, di bandara internasional saja–yang menjadi tempat pusat hilir mudik turis mancanegara–standar WC masih jauh di bawah restoran cepat saji seperti: Mc D, KFC, Texas, dll. Kata om saya yang bekerja d Bandara Int.S.H., setelah adanya program visit Indonesia 2008 dana pembuatan WC dan fasilitas umum lainnya ditingkatkan hingga kira-kira 50% dengan alasan menaikan citra bangsa di mata turis katanya. Tapi ironisnya hingga sebulan lalu tidak ada perubahan atau perbaikan dari WC yang ada–entah karena orang Indonesia tidak begitu peduli pada standar WC yang higienis atau dana 50% terproses menjadi barang buangan di WC oleh paca penyaduk uang. Saya rasa orang Indonesia harus mulai peduli pada kebersihan WCnya, bukankah kebiasaan seseorang akan tercermin dari kebersihan WCnya?
P.S: saya mendapat alamat blog ini dari Karina. Saya terkesan dengan topik dan isi blog yang bapak tulis. Saya berharap bapak dapat meluangkan waktu untuk memberi masukan pada tulisan-tulisan saya di http://www.kanst901805.wordpress.com