Arsip untuk Februari, 2008

Mobil Inggris murah tidak perlu Klakson

MUNGKIN ini tentang keramah-tamahan atau kesabaran “orang bule” saat
berkendaraan di jalan raya. Atau mungkin juga tentang kekeliruan kita
sebagai orang Indonesia yang selalu mengaku dan merasa lebih ramah dan
sabar daripada orang asing.

Cowes, kota kecil yang terletak di pantai utara pulau kecil Isle of Wight. Untuk menyebranginya hanya perlu waktu 30 menit pelayaran ferry kecil atau bisa juga satu jam dengan ferry besar dari Southampton kota pelabuhan di selatan England.

Pulau Isle of Wight lebih kecil sedikit dari luas Kota Bandung.
Statistik penduduk hanya sekitar 130.000. Tapi setiap akhir minggu atau
liburan musim panas bisa sampai 500.000, dipenuhi turis lokal Britain
dan orang Eropa daratan.

Hidup di sini serasa berada di perkebunan Malabar dan Pangalengan di
tahun 70-an. Hanya saja di sini lebih sering terasa berada dalam
kulkas. Hidup serba hijau asri, sekalipun lebih banyak hijau lapangan
rumput daripada hamparan hijau teh. Dan tentu juga, pagi disini lebih
meriah oleh kicauan segala jenis burung yang dibiarkan hidup bebas.

Tapi kemiripan kota kecil Inggris dengan perkebunan Malabar baheula
hanya dalam hal lebar jalan yang kecil, kesejukan dan kehijauan. Soal
fasilitas listrik, air, gas, telepon, internet dan tranportasi umum
mungkin terlalu jauh untuk dibandingkan. Bahkan mungkin masih di atas
fasilitas kota Jakarta.

Juga tingkat kepemilikan mobil, boleh jadi tidak kalah oleh penduduk
Jakarta atau Bandung. Cuma saja kemacetan lalu lintas di sini selain
jarang, juga hanya sampai tingkat “padat merayap”. Tidak sampai
macet-mati dan tidak sampai macet yang bikin mules seperti Bandung.

Harga mobil di sini relatip lebih murah daripada di Indonesia, terutama
mobil bekas. Sedan kecil 95-an dibawah 900 GBP. Tapi harga bensin dan
solar turun naik dikisaran 1 GBP, kurang lebih 18500 rupiah seliter.
Juga parkir antara 1-2 GBP per 2 jam, bayar sendiri dan tidak ada
tukang parkir seperti di jalan Banceuy.

Harga mobil semakin terasa murah lagi jika dibandingkan harga makanan
pokok dan Upah Minimum yang 5 GBP per jam. Makanya “kuli bangunan” dan
bin-man alias tukang sampah pun kalau mau bisa “ngantor” pake mobil.

Yang repot di sini kalau kita yang terbiasa nembak ingin punya SIM.
Ujian tertulis sampai ujian praktek tampaknya jauh lebih susah daripada
ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia. Juga biaya “bim-bel 5 jam
nyupir” dan biaya bikin SIM nya yang sampai 200 GBP bisa melayang
hangus kalau tidak lulus.

Kakak saya di Bandung sempat nanya biaya “SIM tembak”, tentu saja di
Inggris tidak ada. Karena seperti dalam urusan apapun, orang Inggris
bukan hanya tidak mau, tapi juga tidak kenal cara-cara NEMBAK, tidak
kenal biaya siluman. Karena mungkin di Inggris tidak ada yang
memelihara siluman.

Tapi sekalipun bikin SIM susah dan mahal, mengendarai mobil di sini
tampaknya jauh lebih mudah dan nyaman. Tidak sedikit penderita cacat
atau disable yang memiliki SIM dan aman-aman saja mengemudikan
kendaraan dalam keramaian.

Dan yang saya suka, karena memarkir mobil dimanapun perlu perjuangan
berat. Maka setiap lahan parkir selalu menyediakan tempat atau space
khusus penderita cacat. Space khusus ini hanya ditandai dengan cat
putih diaspal dan biasanya tersedia untuk 3 atau 4 mobil. Dan jika
orang segar-bugar ikut parkir di tempat khusus disable, maka akan kena
denda lumayan 60 pounds.

Memang betul, untuk mendapatkan SIM Inggris tentu saja tidak perlu
keterampilan mengemudi sekelas Lewis Hamilton. Ketidaklulusan
kebanyakan karena salah membaca rambu. Teman saya tidak lulus karena
terlambat masuk jalur kiri setelah nyalip. Teman yang lain lagi tidak
lulus karena salah tempat saat menunggu lampu merah.

Mengemudi mudah, nyaman, aman dan selamat sampai tujuan betul-betul
menjadi tujuan semua orang. Mudah untuk pengemudi, modalnya faham dan
mematuhi rambu. Tapi pemerintah semacam DLLAJR Inggris sedikit lebih
berat, karena bertanggung jawab menjamin rambu-rambu harus benar, jelas
dan juga jalan tetap terpelihara.

Kalau ada tabrakan hadap-hadapan misalnya, dan ternyata tidak ada rambu
seperti cat putih tanda pemisah jalan, maka pemerintah pasti ikut
disalahkan.

Yang paling saya terkesan, disini hampir tidak pernah mendengar bunyi
KLAKSON. Mungkin hanya setahun sekali saat tahun baru. Sisanya, bunyi
klakson selalu identik dengan kesalahan atau juga bad-news.

Sekalipun klakson menjadi perlengkapan setandar mobil. Tapi klakson di
Inggris lebih berfungsi sebagai indikator kemarahan sopir. Atau
terkadang juga sebagai alat penegur jika sopir melihat mobil lain
melakukan manuver yang membahayakan.

Saking jarangnya klakson dipergunakan, teman kerja saya baru tahu
klakson-nya tidak berfungsi hanya setelah mobil-nya di MOT semacam kir
yang setahun sekali.

Jarangnya klakson berbunyi bukan semata karena lalulintas yang tertib,
tapi lebih mungkin karena tangan orang Inggris tidak segatal orang
Indonesia yang sebentar-sebentar membunyikan klakson.

Lebar jalan umum rata-rata hanya cukup dua jalur, termasuk jalur yang
dilewati bus umum. Terkadang malah satu sisi penuh dipake peruntukan
parkir penduduk. Ajaibnya, kondisi serba sempit seperti ini tidak
menimbulkan kemacetan dan tidak juga merangsang orang untuk berlomba
adu bising bunyi klakson.

Di saat kondisi jalan tidak memungkinkan saling berpapasan, malah
pengemudi pada berhenti dan seolah berlomba saling memberi lampu
panjang, nge-dim istilah orang Bandung. Arti nge-dim disini ternyata
untuk memberi tahu pengemudi dari arah berlawanan untuk jalan duluan.
Dan supir yang telah diberi jalan, cukup melambaikan tangan yang cukup
dibalas dengan senyuman.

Setiap kali naik bus, saya selalu menyaksikan atraksi saling “nge-dim”
yang menakjubkan. Yang sekaligus menggugurkan pelajaran sekolah…bahwa
saya orang Indonesia bangsa yang ramah dan penyabar. Karena puluhan
tahun saya hidup di Indoneia. saya hampir tidak pernah menyaksikan
atraksi “nge-dim”, atraksi saling mempersilakan dijalan raya.

Saya lebih merasa sebagai manusia dari bangsa yang sangat doyan
membunyikan klakson. Bangsa yang suka sekali menyuruh manusia lain
untuk minggir.

Sekitar dua tahun lalu saya sempat baca berita konyol. Ada sopir
dianiaya oleh pengemudi mobil didepannya. Gara-gara si korban
sebelumnya membunyikan klakson disaat padat merayap. Konon si-pelaku
merasa tidak marah, tapi merasa terhina semata-mata karena korban
“memarahi” pelaku tanpa sebab. Padahal, si korban hanya membunyikan
klakson.

Mungkin karena saya masih memiliki reflek memainkan klakson, kebiasaan
mengemudi saat di Bandung. Saya merasa masih tidak-sabaran, maka saya
sampai sekarang belum berani memiliki mobil. (*)

Semangat British membangun taman kota

Banyak cara untuk mengenang sekaligus mengabadikan orang tercinta yang
telah tiada. Seperti di tanah air, ada yang dengan membuat monumen. Ada
yang dengan menerbitkan buku biografi. Ada yang cukup dengan mengadakan
pengajian rutin. Ada juga yang menghias batu nisan kuburan, bahkan
konon  tidak sedikit kuburan di Cikadut dibangun lebih mewah daripada
rumah almarhum semasa masih hidup.

Untuk kerabat, mengabadikan orang yang telah tiada ini tentu saja
selalu memiliki nilai tinggi. Karena nilai kecintaan tidak tergantung
murah atau mahalnya biaya yang dikeluarkan.  Ukuran kedalaman cinta
atau  yang bisa menilai besarnya jasa-jasa almarhum semasa hidup
tentunya hanya yang bersangkutan. Dalam hal ini, nilai kenangan juga
berarti sangat pribadi.

Dalam ukuran negara atau bangsa juga mungkin sama. Karena bangsa
merupakan kumpulan orang-orang yang pasti juga memiliki perasaan dan
kecintaan terhadap orang yang telah berjasa.  Perasaaan ‘negara’ dalah
juga perasaan orang-orangnya. Kebiasaan negara Britain dan bangsa
British adalah juga kebiasaan Briton.

Dan saya mulai percaya, tampilan baik atau buruk negara kita juga
semata-mata hasil dari kebaikan atau keburukan sikap dari kita-kita
juga.

Saya tidak tahu persis mulai sejak kapan hampir setiap kota Inggris
selalu punya taman kota. Dan anehnya, bentuk kursi taman pun hampir
sama dimana-mana. Juga sama dengan kursi taman yang banyak dijual di
Bandung. Pinggiran besi cor dengan dudukan dari jejeran papan kayu
berukuran 10 centian.
Hanya bedanya, kursi taman di Bandung jarang ada ditaman kota. Malah
lebih banyak sebagai kursi hiasan teras rumah.

Disini kita bisa menemukan kursi besi cor ada dimana-mana, ditaman, di
trotoar jalan juga di pinggi-pinggir sungai. Tapi kita kita tidak akan
menemukan kursi besi cor nongkrong dipekarangan rumah. Karena kursi
besi cor sepertinya identik dengan kursi taman kota, kursi khusus
diluar rumah.

Awalnya saya pikir, kok pemerintah daerah rajin sekali dan mau-maunya
menyediakan kursi taman sampai ke pelosok tempat. Bahkan tempat
terpencil yang pasti hanya terlewati orang yang sengaja hiking atau
cross-country. Belakangan saya tahu tanpa sengaja, ternyata tidak semua
kursi taman disediakan oleh pem-kot.

Karena mungkin ikutan orang disini, saya juga jadi doyan jalan kaki.
Acara libur maupun jam kerja atau lembur tetap saja jalan kaki. Dan
banyaknya kursi taman menambah confident setiap orang untuk
memberdayakan kaki. Karena jika kebetulan dengkul terasa copot, maka
kursi besi cor tersedia setiap saat.

Mngkin itu sebabnya, orang di Indonesia jarang mau jalan kaki. Karena
selain gampang keringatan, juga tidak ada jaminan tersedia tempat untuk
sejenak meluruskan kaki. Sangat tidak lucu kalau orang loyo pada duduk
di trotoar.

Kecuali mungkin HM Queen, yang menduduki tahta seumur hidup. Pada
dasarnya orang-orang Inggris tidak suka menduduki kursi terlalu lama,
apalagi kursi publik.. Juga saya jika kebetulan  jalan berkeliling
pulau, tidak akan lama menduduki kursi. Duduk lama di satu kursi, tidak
baik untuk kesehatan.

Karena jarang-lama duduk dikursi taman, maka baru belakangan saya
mendapat titik terang. Siapa lagi selain pemkot yang menyediakan kursi
taman. Ternyata mereka bukanlah perusahaan besar sponsor, bukan pula
konglomerat. Tapi warga biasa yang telah kehilangan kerabat, kehilangan
isteri, kehilang suami, kehilangan anak, kehilangan orang tua,
kehilangan pacar, bahkan ada pemain gelandang sepakbola yang kehilangan
kipernya.

Menjelang musim dingin tahun kemarin saya belanja bulanan ke kota
Portsmouth. Berlayar melintasi the Solent, selat yang memisahkan pulau
dengan mainland, Pelayaran hanya ada hari Sabtu, berangkat jam 9 pagi
pulang jam 5 sore. Setelah berlayar 1 jam, kapal berlabuh di bawah
Spinnaker. Sementara kita-kita jalan dan belanja didalam kota, kapal
punya urusan sendiri melayani turis berkeliling kantong pelabuhan
melihat kapal-kapal perang.

Berat beban barang belanjaan untuk sebulan, jalan kaki lebih 5 jam,
maka duduk selonjor di kursi taman tentu saja menjadi keharusan.
Menduduki kursi taman saat itu cukup lama, karena sekalian makan nasi
perbekalan. Dan saat itu jari-jari dingin saya tanpa sengaja menyentuh
pelat logam dingin yang menempel di senderan kursi taman. Ternyata ada
tulisan-nya.

Diantaranya saya  saya kutip dari bangku yang saya duduki,:
“Joan Haggar 1933-1999: Loving Wife and Mother, You were the Wing
Beneath The Wing”, 
dan dari bangku sebelahnya saya baca:
“Eileen Davids (Pidge) A Loving Wife, Mum and Grandma. This is not
goodbye Pidge just Cheerio”, Love Husband Fred, Kevin, Jayne, Aaron and
Jake.

Rupanya, ratusan bangku taman yang berjejer rapi menghadap laut ini
berfungsi sebagai monumen kenangan untuk almarhum yang dicintai. Juga
berfungsi sebagai batu nisan yang makamnya entah berada dimana.

Berbekal penemuan dari Portsmouth itulah, sekarang saya selalu
perhatikan setiap senderan kursi taman, dan dibiasakan membaca seksama
setiap tulisan.
Membaca ungkapan cinta, sekaligus membaca orang yang berjasa membangun
taman-kota….. dengan menyediakan kursi taman dari kayu dan besi coran.

Rupanya, semangat British membangun taman kota….. terbawa kealam baqa.

Salam,
Sutresna

British memang cinta KEBEBASAN

RANTING-ranting tanaman pagar hidup sepanjang Whippingham Road pagi ini
mulai menampakkan bintik-bintik putih dan ungu. Padahal kemarin masih
seperti semua pohon di sini yang hitam gundul meranggas karena
kedinginan.

Seolah alam menugaskan angin untuk menyelamatkan pepohonan dari
sengatan musim dingin. Selama Oktober sampai November, angin musim
gugur telah memaksa pohon-pohon untuk melepaskan semua daun-daunnya.
Lalu selama Desember sampai Februari ini, pepohonan hidup meranggas
tanpa daun.

Karena mungkin, fungsi daun kurang diperlukan saat mendung panjang
musim dingin. Dan tugasnya sebagai penyejuk dan penghijau kota, pun
diliburkan. Tapi pagi ini pohon-pohon seolah memberi tahu saya bahwa
mereka akan memulai bekerja kembali. Dengan menunjukkan kuncup-kuncup
bunganya terlebih dulu di sekujur batang dan ranting. Dan tentu saja,
sebentar lagi saya akan menikmati pohon-pohon penuh bunga tanpa daun di
mana-mana.

Saya ingat hari Sabtu pagi cerah kemarin, tetangga sebelah dengan susah
payah memunculkan kepalanya dari balik pagar halaman belakang. Dan
hanya untuk berteriak, “Spring is coming..isn’t it..”.

Tentu saya yang sedang terpaku diam pikiran melayang, kaget luar biasa
sampai meloncat.

Muka Pak Kevin, tetangga saya itu yang kelihatan selalu rajin ber-DIY,
do-it-yourself kebun se-emprit-nya, tampak cerah sekali. Dan dia
maklum, kalau saya sedang tersihir oleh tingkah-polah segala jenis
burung. Burung yang hidup bebas merdeka, burung-burung yang tidak
mengenal sangkar.

Rupanya, burung-burung yang rame kemarin di halaman belakang itu sedang
pesta kuncup bunga. Dan ternyata, burung-burung di sini lebih duluan
tahu dan lebih sigap merayakan datangnya musim semi.

Boleh jadi, sekalipun `science dan teknology’ telah canggih dalam
meramalkan cuaca dan musim. Malah BMG-nya Inggris hampir selalu tepat
meramalkan cuaca. Tapi untuk datangnya musim semi yang penuh berkah dan
harapan, orang Inggris lebih mempercayai burung, Tentu saja burung yang
bukan di dalam sangkar.

Karena mungkin kita semua hanya bisa mempercayai orang-orang merdeka
daripada mempercayai narapidana yang hidup di dalam sangkar. Maka orang
Inggris juga lebih memilih orang bebas dan burung bebas sebagai teman.

Rumah-rumah di Inggris hanya seemprit saja luasnya. Lebar rumah
rata-rata hanya empat langkah lebih sedikit. Lahan memanjang ke
belakang sekitar 20 meteran. Tapi setengah lahan harus dibiarkan
terbuka, sebagai garden dan jemuran tentu saja. Juga tempat menggantung
segala daleman.

Sekali pun menanam pohon di sini tidak semudah di Indonesia, yang konon
tongkat kayu pun bisa jadi tanaman. Tapi tetap saja banyak orang
Inggris memimpikan punya pohon. Dan untuk Englishman yang mimpi punya
pohon ini saya kadang terenyuh.

Banyak rumah di sini tidak beruntung. Tanah Lembang yang hitam
per-kubik mahal pula harganya. Tapi orang Inggris tidak kehilangan akal
untuk bikin “pohon-pohonan” yang mungkin diharapkan bisa diminati atau
supaya burung-burung berkenan untuk datang bertandang.

“Pohon palsu” ini dari tiang kayu atau besi. Yang penting tingginya
lebih rendah dari ketinggian mata. Di bagian atasnya diberi semacam
ranting dan cabang. Beberapa rumah, terlihat ada yang memasang semacam
Heli-Pad kecil, bahkan ada yang bikin semacam rumah-rumahan boneka
Barbie.

Tentu saja, jika melihat hanya bentuknya, pohon-pohonan, atau pohon
palsu ini tidak menarik. Malah mengganggu pemandangan. Dan untuk supaya
“pohon palsu” ini tampil seindah pohon surga, maka di atas Heli-Pad dan
pada “dahan-dahannya” diberi makanan. Tentu saja harus makanan burung.

Dan “pohon-palsu” akan betul-betul tampil menjadi pohon surga, jika
burung-burung pada berkenan datang. Apalagi sebentar lagi musim semi.
Kita akan menikmati musim semi dengan hiburan murah dan perasaan damai
sempurna. At least, kita akan bisa punya banyak burung segala macam.
Tanpa perlu beli, tanpa perlu sangkar, dan tanpa perlu berdosa
memenjarakan makhluk hidup.

Makanan burung di sini banyak dijual ditoko-toko. Ada yang sudah paket
“multi-burung”, isinya macam-macam biji-bijian. Untuk berbagai jenis
burung. Ada makanan burung yang terbungkus kantong jaring kenur,
tinggal menggantungnya di dahan. Burung-burung bisa dengan leluasa
mengambili biji-biji tanpa hawatir tumpah atau berceceran.

Burung-burung boleh datang dan pergi sebebasnya. Burung kecil biasa
mecoba mematuki semua biji sebelum menikmatinya. Tapi jarang yang
berani mematuki temannya. Burung gagak hitam lebih bergaya preman,
berteriak-teriak dan menghardik kesana-kemari. Tapi mereka lebih suka
melahap ceceran dan bekas makanan.

Burung camar dan albatros sekalipun disini banyak, tapi sepertinya
gengsi kalau harus ikutan medatangi pohon kita untuk ikut mencicipi
biji-bijian. Tapi biar saja, karena burung camar lebih kuat terbang
jauh dan tinggi.

Tapi untuk makanan burung, saya memang tidak pengalaman. Toko sayuran
di Newport menjual kacang tanah atau suuk. Suuk disimpan dalam karung
besar yang terbuka. Berderet dengan segala macam biji-bijian lain.
Karena sudah lama tidak lihat suuk mentah dan kebetulan saya kangen
makanan lotek. Dan kebetulan lagi harganya murah sekali, maka saya
langsung ambil 2 kg.

Waktu membayar, si ibu kasir mengorek-ngorek suuk belanjaan saya. Lalu
mata biru-nya menatap saya lama. Dan dengan tersenyum bilang.

“Barangkali kamu mau saya tambah dengan biji-bijian lain ?”.

“Oh, no thanks…”, saya jawab tanpa rasa bersalah, Hanya waktu keluar
toko, saya melewati tumpukan karung suuk lagi. Dan kali ini baru
terbaca, ada tulisan tangan yang asal-asalan…seed for bird, maksudnya
mungkin suuk ini bukan untuk lotek, dan juga mungkin, artinya kacang
kedele ini bukan untuk tahu atau tempe.

Tapi, cerita soal burung liar ini, teman-teman saya di Cimahi suka
protes, “Boro-boro ngasih makan, Yang didalam kandang saja pada mati
kelaperan, apalagi burung yang hidup liar.”

Dan ingat reaksi marah kakak saya di Bandung , “Malah di-bedil-in…
coba.”

Ya, begitulah mungkin, saya tadinya ingin cerita tentang orang Inggris
yang sangat menghormati kebebasan berpikir dan pelopor freedom of
speech . Tapi malah jadi cerita orang Inggris yang suka melihat burung
yang bebas merdeka. Karena mungkin orang Inggris perlu teman menikmati
indahnya spring, dan teman terbaik adalah mahluk-mahluk yang merdeka.

Mudah-mudahan, teman-teman di tanah air bisa bertahap, sekarang sudah
mulai suka membebaskan orang. Nanti akan suka ngasih makan orang. Nanti
jika sudah mulai suka melihat burung bebas, maka pasti nantinya lagi
akan suka juga ngasih makan burung seperti di sini.

Semoga saudara-saudara di tanah air bisa segera mencintai kemerdekaan.
Agar musim hujan dan musim kemarau bisa juga seindah musim semi di
sini.

iow, 20080226

Archbishop William tidak ngajak berkelahi

Konon perang itu “perkelahian” diantara dua kekuatan
yang setara.
Jika tidak setara namanya pembantaian atau penjajahan.

Perang juga hanya hobby dan ciptaan mereka yang kuat.
Tapi pencipta perang tidak pernah ikut berkelahi,
tidak pernah ikutan bertempur, tidak juga terluka.
Yang berkeringat dan berdarah hanya mereka yang lemah.

Karena yang hobbynya berkelahi… .ya hanya yang lemah.
Orang yang lemah ditakdirkan untuk selalu berkelahi…
tapi tidak akan mampu menciptakan peperangan.
Orang yang lemah selalu berkelahi untuk perang yang
bukan miliknya dan bukan ciptaannya.

Uang adalah satu-satunya wujud kekuatan.
Faith, love, fairness, humanism, keinginan berbagi…
adalah sekedar bagian dari cita-cita yang dimiliki manusia.
Cita-cita yang mendorong manusia menolong manusia lain…
sekaligus juga menjadikan manusia tega melukai manusia lain.

Dan UANG, kekuatan yang memainkan keseluruhan cita-cita.
sudah takdirnya… .orang lemah hanya punya cita-cita.
dan sangat mudah untuk disuruh berkelahi demi cita-cita.

Boleh jadi, dunia hanya terbagi dua sayap..

Left-wing yang terdiri dari koalisi marxist, sosialis,
religius apapun (dari anglican, islam, kristen sampai kejawen),
para pekerja dan orang-orag yang sedang merasa terpinggirkan.

Right-wing yang terdiri dari koalisi kapitalis,
bangsawan manapun (dari inggris, arab sampai melayu dan jawa),
orang yang kebetulan sedang berkuasa atau juga orang yang
sedang merasa sukses.

Dunia hanya terbagi dua….
yang lebih beruntung dan yang belum beruntung.
yang lebih kuat dan yang lebih lemah
Sayap-kanan dan sayap-kiri.

Archbishop Willian…hanya salahsatu pemimpin kaum lemah…
pemimpin ummat SAYAP-KIRI yang hanya memiliki cita-cita.
Ajakannya untuk “menyatukan” seluruh ummat sayap-kiri
tentu saja akan merusak tatanan dunia yang selama ini ada.

karena kalau semua umat sayap-kiri.. atau umat yang lemah,
ummat yang hanya bermodal cita-cita mau bersatu
menjadi “kekuatan BARU”.
Maka mustahil lagi ada yang bersedia BERKELAHI.
mustahil pula kaum SAYAP-KANAN merancang dan menggelar perang.

Jika ajakan Archbishop William malah melahirkan perkelahian. ..
maka sungguh terbukti…
bahwa MENGANUT AGAMA APAPUN sekedar wujud kelemahan.
dan menjadi permainan empuk penguasa uang, kaum-kanan.

Maka….
jangan pernah mau berkelahi, jangan pernah mau bertempur,
jangan mau buru-buru mati demi cita-cita.

Jadilah penganut agama … bukan karena lemah.

20080209,
DjayaWikarta

Pendidikan dinegara ini yang kurang bermutu atau

Bung Jasp wrote in apakabar@:
> Inilah yang terjadi dengan dunia pendidikan di Indonesia, mungkin
> mutu yang kurang bagus, mungkin daya serap pasar yang tak bergairah
> dan mungkin juga memang pemerintah tak sanggup menciptakan
> lapangan kerja.
>>>>>
Saking terbiasanya mendengar “MUTU Pendidikan” atau kalimat
“pendidikan yang bermutu”. Sehingga suatu saat saya ditanya,
hanya bisa menjawab otomasti….

“Pendidikan bermutu…jika lulusannya mudah NYARI KERJA”.

Dan jika semua lulusan Amrik dan Eropah berbondong-bondong
datang ke Indonesia…. untuk nyari kerja maupun bikin kerjaan….

Maka saya jamin, kita akan mendapat kesimpulan baru…
pendidikan Amrik dan Eropah…. sangat TIDAK BERMUTU.

Saya kira, “mutu pendidikan” atau “pendidikan yang bermutu”
sekedar JARGON KOSONG… selama kalimat ini dikaitkan dengan
penyerapan tenaga kerja.
Atau paling juga sekedar iklan kursus keterampilan menjahit….

Kalaupun harus dipaksakan … akan lebih tepat kalau dikatakan…
“Sempitnya lapangan kerja di Indonesia adalah akibat dari
BURUKNYA MUTU pendidikan dari ORANG-ORANG PINTER Indonesia.

Pengangguran sekarang adalah akibat BURUKNYA MUTU orang-orang
yang sekarang memiliki pekerjaan dan memiliki penghidupan.

Mereka… yang sekarang menganggur adalah korban dari
kerakusan orang yang berkuasa dan kerakusan kita-kita juga
yang sekarang BERUNTUNG punya kerjaan.

Jika kerakusan “orang-orang beruntung” seperti sekarang
terus ebrlanjut…. maka jangan salahkan kalau sebentar lagi
akan lahir Marxist-Marxist Indonesian yang lebih buruk daripada
sekedar minta pemerataan kesempatan kerja.
_________________

DjayaWikarta

Re: Megawati: Kenapa Dulu Tidak Pilih Aku?

[quote="Bung Jasp"]

Sekarang mau mencalonkan diri lagi ? Masak PDIP nggak punya orang
muda yang memiliki potensi ? Presiden SBY mungkin saja menari
Poco-poco, tapi kan nggak mengkhianati kader partai pendukungnya ?
Pengkhianat kader partai nggak layak menjadi pemimpin bangsa , ntar
bangsa Indonesia yang dikhianati gimana ? [/quote]

Saya masih terkesan dengan kelahiran PDIP.
Seperti bayi raksasa yang dilahirkan ibu rumah tangga.

Bukan salah ibu rumah tangga karena telah melahirkan…  tentu saja.
Siapapun berhak melahirkan, termasuk melahirkan partai.

Kesalahan terletak pada “bapak-bapak nya”… para kader PDIP
yang telah melihat opportunity serta memaksa si ibu melahirkan raksasa….
dan lalu memanfaatkan ke-lugu-an si-ibu yang “teraniaya” penguasa.

Cilakanya, makanan pokok yang telah membesarkan PDIP sehingga
menjadi raksasa di Pemilu 98….hanya BELAS KASIHAN.
Keter-aniaya-an si ibu dan juga keter-aniayaan Sukarno bapaknya si ibu
terus dijadikan modal kampanye oleh kader PDIP.

Jualan BELAS KASIHAN ditengah masyarakat yang “ajeg teraniaya”
tentu saja seperti mengobral Blue Chip di bursa-efek… laku keras.
Tapi… komoditas BELAS KASIHAN adalah NARKOTIC
komoditas yang menggiurkan tapi sekaligus menciptakan halusinasi.

Gaya baru PDIP sekarang, yang selalu offensive…kritik sana-sini
malah terkesan aneh…. karena modal PDIP bukan kritikus….
Kritikus bukan benih yang membuat PDIP lahir.

Menurut saya… bayi raksasa PDIP harus dilahirkan ulang….
supaya gen yang dipenuhi narkoba “teraniaya” ikutan hilang.

Karena memilih pemimpin bangsa dengan alasan “teraniaya”
merupakan pelanggaran bangsa Indonesia terhadap hukum alam..  
Dan para kader yang dulu dengan sadar memanfaatkan keteraniayaan
bolehlah digolongkan telah melakukan kebiadaban alam….    :cry:       

DjayaWikarta

Re: Suharto harus diadili

bebek rewel wrote:

>>> Lah yang kemaren2 bebek bilang itu apaan =__=”"”
>>> Kitik2 kasus Soeharto supaya ketemu temen2nya?
 
Jika tujuan kitik-kitik hanya untuk ketemu “temen-temen Suharto”
Bebek …masih salah

Sekarang sudah ketemu temennya Suharto….
tapi yang model Ron… 
Bebek telah menggali-gali lubang tikus…. tapi yang keluar
justeru beruang …. kan cilaka.
Apalagi beliau “orang intelejen”, bisa-bisa Bebek nanti di-munir-kan.

“Kasus Suharto” atau kasus apapun harus tetap rajin dikitik-kitik
supaya tetap terbuka.
Supaya anak-anak Bebek bisa belajar sejarah
bukan cuma belajar berenang 

Bebek jangan meniru-niru demonstran dan politikus petualang…
yang teriak-teriak hanya karena berbakat pecudang…
tapi memaksakan segala cara supaya menang.

Bukankah korupsi jaman sekarang lebih terang benderang ?.
Karena begitulah teori Inferior Syndrome bilang….
“petruk mundak dadi ratu” jika pecundang yang menang. 

Bebek harus meneruskan kitik-kitik…
supaya kita semua bisa juga melihat WUJUD aseli lawan-lawan Suharto…
yang sekarang “sudah hidup sejahtera dan diam tenteram “
maupun yang masih “berkutat menuntut keadilan”.

Kita…. tentu saja sekedar generasi PEMBACA SEJARAH
yang akan sangat senang kalau bacaan kita lengkap dan make sense.
Kita sekedar generasi penonton Premier Liga
yang akan hepi jika setiap pertandingan berjalan cantik dan FAIR.

Kebenaran…. bukan monopoli pemenang,
bukan pula monopoli pecundang.

Demikian kata pepatah ulama-ulama agama sepakbola….

_________________
DjayaWikarta

Just Another Ordinary People