RANTING-ranting tanaman pagar hidup sepanjang Whippingham Road pagi ini
mulai menampakkan bintik-bintik putih dan ungu. Padahal kemarin masih
seperti semua pohon di sini yang hitam gundul meranggas karena
kedinginan.
Seolah alam menugaskan angin untuk menyelamatkan pepohonan dari
sengatan musim dingin. Selama Oktober sampai November, angin musim
gugur telah memaksa pohon-pohon untuk melepaskan semua daun-daunnya.
Lalu selama Desember sampai Februari ini, pepohonan hidup meranggas
tanpa daun.
Karena mungkin, fungsi daun kurang diperlukan saat mendung panjang
musim dingin. Dan tugasnya sebagai penyejuk dan penghijau kota, pun
diliburkan. Tapi pagi ini pohon-pohon seolah memberi tahu saya bahwa
mereka akan memulai bekerja kembali. Dengan menunjukkan kuncup-kuncup
bunganya terlebih dulu di sekujur batang dan ranting. Dan tentu saja,
sebentar lagi saya akan menikmati pohon-pohon penuh bunga tanpa daun di
mana-mana.
Saya ingat hari Sabtu pagi cerah kemarin, tetangga sebelah dengan susah
payah memunculkan kepalanya dari balik pagar halaman belakang. Dan
hanya untuk berteriak, “Spring is coming..isn’t it..”.
Tentu saya yang sedang terpaku diam pikiran melayang, kaget luar biasa
sampai meloncat.
Muka Pak Kevin, tetangga saya itu yang kelihatan selalu rajin ber-DIY,
do-it-yourself kebun se-emprit-nya, tampak cerah sekali. Dan dia
maklum, kalau saya sedang tersihir oleh tingkah-polah segala jenis
burung. Burung yang hidup bebas merdeka, burung-burung yang tidak
mengenal sangkar.
Rupanya, burung-burung yang rame kemarin di halaman belakang itu sedang
pesta kuncup bunga. Dan ternyata, burung-burung di sini lebih duluan
tahu dan lebih sigap merayakan datangnya musim semi.
Boleh jadi, sekalipun `science dan teknology’ telah canggih dalam
meramalkan cuaca dan musim. Malah BMG-nya Inggris hampir selalu tepat
meramalkan cuaca. Tapi untuk datangnya musim semi yang penuh berkah dan
harapan, orang Inggris lebih mempercayai burung, Tentu saja burung yang
bukan di dalam sangkar.
Karena mungkin kita semua hanya bisa mempercayai orang-orang merdeka
daripada mempercayai narapidana yang hidup di dalam sangkar. Maka orang
Inggris juga lebih memilih orang bebas dan burung bebas sebagai teman.
Rumah-rumah di Inggris hanya seemprit saja luasnya. Lebar rumah
rata-rata hanya empat langkah lebih sedikit. Lahan memanjang ke
belakang sekitar 20 meteran. Tapi setengah lahan harus dibiarkan
terbuka, sebagai garden dan jemuran tentu saja. Juga tempat menggantung
segala daleman.
Sekali pun menanam pohon di sini tidak semudah di Indonesia, yang konon
tongkat kayu pun bisa jadi tanaman. Tapi tetap saja banyak orang
Inggris memimpikan punya pohon. Dan untuk Englishman yang mimpi punya
pohon ini saya kadang terenyuh.
Banyak rumah di sini tidak beruntung. Tanah Lembang yang hitam
per-kubik mahal pula harganya. Tapi orang Inggris tidak kehilangan akal
untuk bikin “pohon-pohonan” yang mungkin diharapkan bisa diminati atau
supaya burung-burung berkenan untuk datang bertandang.
“Pohon palsu” ini dari tiang kayu atau besi. Yang penting tingginya
lebih rendah dari ketinggian mata. Di bagian atasnya diberi semacam
ranting dan cabang. Beberapa rumah, terlihat ada yang memasang semacam
Heli-Pad kecil, bahkan ada yang bikin semacam rumah-rumahan boneka
Barbie.
Tentu saja, jika melihat hanya bentuknya, pohon-pohonan, atau pohon
palsu ini tidak menarik. Malah mengganggu pemandangan. Dan untuk supaya
“pohon palsu” ini tampil seindah pohon surga, maka di atas Heli-Pad dan
pada “dahan-dahannya” diberi makanan. Tentu saja harus makanan burung.
Dan “pohon-palsu” akan betul-betul tampil menjadi pohon surga, jika
burung-burung pada berkenan datang. Apalagi sebentar lagi musim semi.
Kita akan menikmati musim semi dengan hiburan murah dan perasaan damai
sempurna. At least, kita akan bisa punya banyak burung segala macam.
Tanpa perlu beli, tanpa perlu sangkar, dan tanpa perlu berdosa
memenjarakan makhluk hidup.
Makanan burung di sini banyak dijual ditoko-toko. Ada yang sudah paket
“multi-burung”, isinya macam-macam biji-bijian. Untuk berbagai jenis
burung. Ada makanan burung yang terbungkus kantong jaring kenur,
tinggal menggantungnya di dahan. Burung-burung bisa dengan leluasa
mengambili biji-biji tanpa hawatir tumpah atau berceceran.
Burung-burung boleh datang dan pergi sebebasnya. Burung kecil biasa
mecoba mematuki semua biji sebelum menikmatinya. Tapi jarang yang
berani mematuki temannya. Burung gagak hitam lebih bergaya preman,
berteriak-teriak dan menghardik kesana-kemari. Tapi mereka lebih suka
melahap ceceran dan bekas makanan.
Burung camar dan albatros sekalipun disini banyak, tapi sepertinya
gengsi kalau harus ikutan medatangi pohon kita untuk ikut mencicipi
biji-bijian. Tapi biar saja, karena burung camar lebih kuat terbang
jauh dan tinggi.
Tapi untuk makanan burung, saya memang tidak pengalaman. Toko sayuran
di Newport menjual kacang tanah atau suuk. Suuk disimpan dalam karung
besar yang terbuka. Berderet dengan segala macam biji-bijian lain.
Karena sudah lama tidak lihat suuk mentah dan kebetulan saya kangen
makanan lotek. Dan kebetulan lagi harganya murah sekali, maka saya
langsung ambil 2 kg.
Waktu membayar, si ibu kasir mengorek-ngorek suuk belanjaan saya. Lalu
mata biru-nya menatap saya lama. Dan dengan tersenyum bilang.
“Barangkali kamu mau saya tambah dengan biji-bijian lain ?”.
“Oh, no thanks…”, saya jawab tanpa rasa bersalah, Hanya waktu keluar
toko, saya melewati tumpukan karung suuk lagi. Dan kali ini baru
terbaca, ada tulisan tangan yang asal-asalan…seed for bird, maksudnya
mungkin suuk ini bukan untuk lotek, dan juga mungkin, artinya kacang
kedele ini bukan untuk tahu atau tempe.
Tapi, cerita soal burung liar ini, teman-teman saya di Cimahi suka
protes, “Boro-boro ngasih makan, Yang didalam kandang saja pada mati
kelaperan, apalagi burung yang hidup liar.”
Dan ingat reaksi marah kakak saya di Bandung , “Malah di-bedil-in…
coba.”
Ya, begitulah mungkin, saya tadinya ingin cerita tentang orang Inggris
yang sangat menghormati kebebasan berpikir dan pelopor freedom of
speech . Tapi malah jadi cerita orang Inggris yang suka melihat burung
yang bebas merdeka. Karena mungkin orang Inggris perlu teman menikmati
indahnya spring, dan teman terbaik adalah mahluk-mahluk yang merdeka.
Mudah-mudahan, teman-teman di tanah air bisa bertahap, sekarang sudah
mulai suka membebaskan orang. Nanti akan suka ngasih makan orang. Nanti
jika sudah mulai suka melihat burung bebas, maka pasti nantinya lagi
akan suka juga ngasih makan burung seperti di sini.
Semoga saudara-saudara di tanah air bisa segera mencintai kemerdekaan.
Agar musim hujan dan musim kemarau bisa juga seindah musim semi di
sini.
iow, 20080226
0 Tanggapan ke “British memang cinta KEBEBASAN”