MUNGKIN ini tentang keramah-tamahan atau kesabaran “orang bule” saat
berkendaraan di jalan raya. Atau mungkin juga tentang kekeliruan kita
sebagai orang Indonesia yang selalu mengaku dan merasa lebih ramah dan
sabar daripada orang asing.
Cowes, kota kecil yang terletak di pantai utara pulau kecil Isle of Wight. Untuk menyebranginya hanya perlu waktu 30 menit pelayaran ferry kecil atau bisa juga satu jam dengan ferry besar dari Southampton kota pelabuhan di selatan England.
Pulau Isle of Wight lebih kecil sedikit dari luas Kota Bandung.
Statistik penduduk hanya sekitar 130.000. Tapi setiap akhir minggu atau
liburan musim panas bisa sampai 500.000, dipenuhi turis lokal Britain
dan orang Eropa daratan.
Hidup di sini serasa berada di perkebunan Malabar dan Pangalengan di
tahun 70-an. Hanya saja di sini lebih sering terasa berada dalam
kulkas. Hidup serba hijau asri, sekalipun lebih banyak hijau lapangan
rumput daripada hamparan hijau teh. Dan tentu juga, pagi disini lebih
meriah oleh kicauan segala jenis burung yang dibiarkan hidup bebas.
Tapi kemiripan kota kecil Inggris dengan perkebunan Malabar baheula
hanya dalam hal lebar jalan yang kecil, kesejukan dan kehijauan. Soal
fasilitas listrik, air, gas, telepon, internet dan tranportasi umum
mungkin terlalu jauh untuk dibandingkan. Bahkan mungkin masih di atas
fasilitas kota Jakarta.
Juga tingkat kepemilikan mobil, boleh jadi tidak kalah oleh penduduk
Jakarta atau Bandung. Cuma saja kemacetan lalu lintas di sini selain
jarang, juga hanya sampai tingkat “padat merayap”. Tidak sampai
macet-mati dan tidak sampai macet yang bikin mules seperti Bandung.
Harga mobil di sini relatip lebih murah daripada di Indonesia, terutama
mobil bekas. Sedan kecil 95-an dibawah 900 GBP. Tapi harga bensin dan
solar turun naik dikisaran 1 GBP, kurang lebih 18500 rupiah seliter.
Juga parkir antara 1-2 GBP per 2 jam, bayar sendiri dan tidak ada
tukang parkir seperti di jalan Banceuy.
Harga mobil semakin terasa murah lagi jika dibandingkan harga makanan
pokok dan Upah Minimum yang 5 GBP per jam. Makanya “kuli bangunan” dan
bin-man alias tukang sampah pun kalau mau bisa “ngantor” pake mobil.
Yang repot di sini kalau kita yang terbiasa nembak ingin punya SIM.
Ujian tertulis sampai ujian praktek tampaknya jauh lebih susah daripada
ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia. Juga biaya “bim-bel 5 jam
nyupir” dan biaya bikin SIM nya yang sampai 200 GBP bisa melayang
hangus kalau tidak lulus.
Kakak saya di Bandung sempat nanya biaya “SIM tembak”, tentu saja di
Inggris tidak ada. Karena seperti dalam urusan apapun, orang Inggris
bukan hanya tidak mau, tapi juga tidak kenal cara-cara NEMBAK, tidak
kenal biaya siluman. Karena mungkin di Inggris tidak ada yang
memelihara siluman.
Tapi sekalipun bikin SIM susah dan mahal, mengendarai mobil di sini
tampaknya jauh lebih mudah dan nyaman. Tidak sedikit penderita cacat
atau disable yang memiliki SIM dan aman-aman saja mengemudikan
kendaraan dalam keramaian.
Dan yang saya suka, karena memarkir mobil dimanapun perlu perjuangan
berat. Maka setiap lahan parkir selalu menyediakan tempat atau space
khusus penderita cacat. Space khusus ini hanya ditandai dengan cat
putih diaspal dan biasanya tersedia untuk 3 atau 4 mobil. Dan jika
orang segar-bugar ikut parkir di tempat khusus disable, maka akan kena
denda lumayan 60 pounds.
Memang betul, untuk mendapatkan SIM Inggris tentu saja tidak perlu
keterampilan mengemudi sekelas Lewis Hamilton. Ketidaklulusan
kebanyakan karena salah membaca rambu. Teman saya tidak lulus karena
terlambat masuk jalur kiri setelah nyalip. Teman yang lain lagi tidak
lulus karena salah tempat saat menunggu lampu merah.
Mengemudi mudah, nyaman, aman dan selamat sampai tujuan betul-betul
menjadi tujuan semua orang. Mudah untuk pengemudi, modalnya faham dan
mematuhi rambu. Tapi pemerintah semacam DLLAJR Inggris sedikit lebih
berat, karena bertanggung jawab menjamin rambu-rambu harus benar, jelas
dan juga jalan tetap terpelihara.
Kalau ada tabrakan hadap-hadapan misalnya, dan ternyata tidak ada rambu
seperti cat putih tanda pemisah jalan, maka pemerintah pasti ikut
disalahkan.
Yang paling saya terkesan, disini hampir tidak pernah mendengar bunyi
KLAKSON. Mungkin hanya setahun sekali saat tahun baru. Sisanya, bunyi
klakson selalu identik dengan kesalahan atau juga bad-news.
Sekalipun klakson menjadi perlengkapan setandar mobil. Tapi klakson di
Inggris lebih berfungsi sebagai indikator kemarahan sopir. Atau
terkadang juga sebagai alat penegur jika sopir melihat mobil lain
melakukan manuver yang membahayakan.
Saking jarangnya klakson dipergunakan, teman kerja saya baru tahu
klakson-nya tidak berfungsi hanya setelah mobil-nya di MOT semacam kir
yang setahun sekali.
Jarangnya klakson berbunyi bukan semata karena lalulintas yang tertib,
tapi lebih mungkin karena tangan orang Inggris tidak segatal orang
Indonesia yang sebentar-sebentar membunyikan klakson.
Lebar jalan umum rata-rata hanya cukup dua jalur, termasuk jalur yang
dilewati bus umum. Terkadang malah satu sisi penuh dipake peruntukan
parkir penduduk. Ajaibnya, kondisi serba sempit seperti ini tidak
menimbulkan kemacetan dan tidak juga merangsang orang untuk berlomba
adu bising bunyi klakson.
Di saat kondisi jalan tidak memungkinkan saling berpapasan, malah
pengemudi pada berhenti dan seolah berlomba saling memberi lampu
panjang, nge-dim istilah orang Bandung. Arti nge-dim disini ternyata
untuk memberi tahu pengemudi dari arah berlawanan untuk jalan duluan.
Dan supir yang telah diberi jalan, cukup melambaikan tangan yang cukup
dibalas dengan senyuman.
Setiap kali naik bus, saya selalu menyaksikan atraksi saling “nge-dim”
yang menakjubkan. Yang sekaligus menggugurkan pelajaran sekolah…bahwa
saya orang Indonesia bangsa yang ramah dan penyabar. Karena puluhan
tahun saya hidup di Indoneia. saya hampir tidak pernah menyaksikan
atraksi “nge-dim”, atraksi saling mempersilakan dijalan raya.
Saya lebih merasa sebagai manusia dari bangsa yang sangat doyan
membunyikan klakson. Bangsa yang suka sekali menyuruh manusia lain
untuk minggir.
Sekitar dua tahun lalu saya sempat baca berita konyol. Ada sopir
dianiaya oleh pengemudi mobil didepannya. Gara-gara si korban
sebelumnya membunyikan klakson disaat padat merayap. Konon si-pelaku
merasa tidak marah, tapi merasa terhina semata-mata karena korban
“memarahi” pelaku tanpa sebab. Padahal, si korban hanya membunyikan
klakson.
Mungkin karena saya masih memiliki reflek memainkan klakson, kebiasaan
mengemudi saat di Bandung. Saya merasa masih tidak-sabaran, maka saya
sampai sekarang belum berani memiliki mobil. (*)
0 Tanggapan ke “Mobil Inggris murah tidak perlu Klakson”