Banyak cara untuk mengenang sekaligus mengabadikan orang tercinta yang
telah tiada. Seperti di tanah air, ada yang dengan membuat monumen. Ada
yang dengan menerbitkan buku biografi. Ada yang cukup dengan mengadakan
pengajian rutin. Ada juga yang menghias batu nisan kuburan, bahkan
konon tidak sedikit kuburan di Cikadut dibangun lebih mewah daripada
rumah almarhum semasa masih hidup.
Untuk kerabat, mengabadikan orang yang telah tiada ini tentu saja
selalu memiliki nilai tinggi. Karena nilai kecintaan tidak tergantung
murah atau mahalnya biaya yang dikeluarkan. Ukuran kedalaman cinta
atau yang bisa menilai besarnya jasa-jasa almarhum semasa hidup
tentunya hanya yang bersangkutan. Dalam hal ini, nilai kenangan juga
berarti sangat pribadi.
Dalam ukuran negara atau bangsa juga mungkin sama. Karena bangsa
merupakan kumpulan orang-orang yang pasti juga memiliki perasaan dan
kecintaan terhadap orang yang telah berjasa. Perasaaan ‘negara’ dalah
juga perasaan orang-orangnya. Kebiasaan negara Britain dan bangsa
British adalah juga kebiasaan Briton.
Dan saya mulai percaya, tampilan baik atau buruk negara kita juga
semata-mata hasil dari kebaikan atau keburukan sikap dari kita-kita
juga.
Saya tidak tahu persis mulai sejak kapan hampir setiap kota Inggris
selalu punya taman kota. Dan anehnya, bentuk kursi taman pun hampir
sama dimana-mana. Juga sama dengan kursi taman yang banyak dijual di
Bandung. Pinggiran besi cor dengan dudukan dari jejeran papan kayu
berukuran 10 centian.
Hanya bedanya, kursi taman di Bandung jarang ada ditaman kota. Malah
lebih banyak sebagai kursi hiasan teras rumah.
Disini kita bisa menemukan kursi besi cor ada dimana-mana, ditaman, di
trotoar jalan juga di pinggi-pinggir sungai. Tapi kita kita tidak akan
menemukan kursi besi cor nongkrong dipekarangan rumah. Karena kursi
besi cor sepertinya identik dengan kursi taman kota, kursi khusus
diluar rumah.
Awalnya saya pikir, kok pemerintah daerah rajin sekali dan mau-maunya
menyediakan kursi taman sampai ke pelosok tempat. Bahkan tempat
terpencil yang pasti hanya terlewati orang yang sengaja hiking atau
cross-country. Belakangan saya tahu tanpa sengaja, ternyata tidak semua
kursi taman disediakan oleh pem-kot.
Karena mungkin ikutan orang disini, saya juga jadi doyan jalan kaki.
Acara libur maupun jam kerja atau lembur tetap saja jalan kaki. Dan
banyaknya kursi taman menambah confident setiap orang untuk
memberdayakan kaki. Karena jika kebetulan dengkul terasa copot, maka
kursi besi cor tersedia setiap saat.
Mngkin itu sebabnya, orang di Indonesia jarang mau jalan kaki. Karena
selain gampang keringatan, juga tidak ada jaminan tersedia tempat untuk
sejenak meluruskan kaki. Sangat tidak lucu kalau orang loyo pada duduk
di trotoar.
Kecuali mungkin HM Queen, yang menduduki tahta seumur hidup. Pada
dasarnya orang-orang Inggris tidak suka menduduki kursi terlalu lama,
apalagi kursi publik.. Juga saya jika kebetulan jalan berkeliling
pulau, tidak akan lama menduduki kursi. Duduk lama di satu kursi, tidak
baik untuk kesehatan.
Karena jarang-lama duduk dikursi taman, maka baru belakangan saya
mendapat titik terang. Siapa lagi selain pemkot yang menyediakan kursi
taman. Ternyata mereka bukanlah perusahaan besar sponsor, bukan pula
konglomerat. Tapi warga biasa yang telah kehilangan kerabat, kehilangan
isteri, kehilang suami, kehilangan anak, kehilangan orang tua,
kehilangan pacar, bahkan ada pemain gelandang sepakbola yang kehilangan
kipernya.
Menjelang musim dingin tahun kemarin saya belanja bulanan ke kota
Portsmouth. Berlayar melintasi the Solent, selat yang memisahkan pulau
dengan mainland, Pelayaran hanya ada hari Sabtu, berangkat jam 9 pagi
pulang jam 5 sore. Setelah berlayar 1 jam, kapal berlabuh di bawah
Spinnaker. Sementara kita-kita jalan dan belanja didalam kota, kapal
punya urusan sendiri melayani turis berkeliling kantong pelabuhan
melihat kapal-kapal perang.
Berat beban barang belanjaan untuk sebulan, jalan kaki lebih 5 jam,
maka duduk selonjor di kursi taman tentu saja menjadi keharusan.
Menduduki kursi taman saat itu cukup lama, karena sekalian makan nasi
perbekalan. Dan saat itu jari-jari dingin saya tanpa sengaja menyentuh
pelat logam dingin yang menempel di senderan kursi taman. Ternyata ada
tulisan-nya.
Diantaranya saya saya kutip dari bangku yang saya duduki,:
“Joan Haggar 1933-1999: Loving Wife and Mother, You were the Wing
Beneath The Wing”,
dan dari bangku sebelahnya saya baca:
“Eileen Davids (Pidge) A Loving Wife, Mum and Grandma. This is not
goodbye Pidge just Cheerio”, Love Husband Fred, Kevin, Jayne, Aaron and
Jake.
Rupanya, ratusan bangku taman yang berjejer rapi menghadap laut ini
berfungsi sebagai monumen kenangan untuk almarhum yang dicintai. Juga
berfungsi sebagai batu nisan yang makamnya entah berada dimana.
Berbekal penemuan dari Portsmouth itulah, sekarang saya selalu
perhatikan setiap senderan kursi taman, dan dibiasakan membaca seksama
setiap tulisan.
Membaca ungkapan cinta, sekaligus membaca orang yang berjasa membangun
taman-kota….. dengan menyediakan kursi taman dari kayu dan besi coran.
Rupanya, semangat British membangun taman kota….. terbawa kealam baqa.
Salam,
Sutresna
0 Tanggapan ke “Semangat British membangun taman kota”