Selembar sarung lebaran
Terlipat rapi di sudut kopor, maka cukup alasan untuk dikira
baju flanel koboy…atau kain rok peniup trompet orang Skot…
tapi…lipatan yang ku pegang nyata-nyata selembar sarung….
Enak jatuhnya, dan lembut laksana sutera…
lembek dan nyaris transparant….
Sarung-ku katun randu asli tenunan Majalaya
pemberian Mmak-ku di lebaran selikur tahun lalu
Sebagai pelipur agar aku tidak merajuk minta baju baru
Sarung-ku se-sakti baju astronot…kosmonot juga…
penghangat rasa dingin dan sepi
tapi juga penyejuk saat udara dan hati panas membara
Aku belum bilang, sarungku berudara tekan
terutama saat-saat dalam kesendirian….
Sekaligus mengurangi tekanan saat under pressure..
Sarung-ku boleh dibilang berwarna pastel teramat muda….
tapi teman madura-ku ngotot…warnanya “biruh daon” dan pudar…
Ya..biar saja, mau pudar ..mau pastel yang penting rasanya…
rasanya itu lho….mmmmmmmhhh
Bahkan overcoat 50 pound tak bisa menyaingi tali rasa
yang embedded dalam jalinan benang tenunan….
Pagi ini sarung-ku sengaja kukeluarkan
dengan khidmat laksana membuka bendera pusaka
Lalu…aku hamparkan ke arah tenggara…..
sekedar pelipur lara…
Kebiasaan menghampar, kebiasaan orang susah seperti ini
biasa aku lakukan hanya jika ketemu rasa suka atau rasa duka…
Tapi jika tak punya perasaan….aku suka meninggalkan….
Sarung-ku sarung lebaran…sarung saat aku dalam ketakutan.
IoW, june 2001
0 Tanggapan ke “Selembar Sarung Lebaran”