Early Summer In London

Home Office Inggris mirip departemen dalam negeri nya NKRI, tapi disini
juga berurusan dengan segala kegiatan orang asing. Sebagai TKI, tentu
juga saya harus berkenalan dengan Home Office. Karena itulah, hari
Kamis kemarin saya bersama seorang teman TKI diminta datang ke London
untuk company audit. Karena perusahaan yang mendatangkan pekerja migran
harus diaudit oleh Home Office.

Mungkin kebetulan saja, saya berdua dengan teman terkena sampling
random. Sekedar dua sample mahluk pekerja migran diantara puluhan yang
telah didatangkan perusahaan. Sekalipun dianjurkan untuk santai-santai
saja tidak perlu takut atau tegang, tapi saya dan teman tetap saja full
persiapan. Bukan hanya paspor, segala dokumen kembali dipelajari, visa
dan teruatama ijin kerja dan kontrak dibaca bolak-balik. Untuk urusan
seperti ini, paspor saja terkadang tidak menolong

Jam 7:30 saya sudah antri tiket Ferry sekalian disini pesan tiket
Kereta Api. Lumayan mahal hampir 70 GBP (sekitar 1,3 juta rupiah) untuk
day return dari Cowes – SouthamptonLondon dan sebaliknya. Mahal
katanya karena tiket business-day sebelum jam 9. Harga ongkos itu
termasuk discount karena menunjukkan kartu-karyawan, comapany card.
Sebelumnya saya selalu wanti-wanti untuk selalu membawa Company-Card
agar ongkos Ferry dapat kortingan,

Sepuluh menit kemudian saya sudah ngebut diatas jet-ferry, sailing
crossing the Solent perairan dengan tol termahal sa-dunia.  Tidak ada
yang istimewa, semua penumpang tenggelam dengan koran pagi, The
Independent, Trafalgar, Daily Morning atau dengan laptop nya
masing-masing. Sebagian anak anak membuka Nintendo DS, dan orang muda
sibuk menggoyang-goyangkan kepala karena kedua kupingnya tersumbat
microphone iPod.. Saya sendiri sibuk chatting dengan pikiran sendiri,
nanti di London harus ngomong apa ?.

Deg-degan saya, boleh jadi sama dengan yang dirasakan para TKW yang
bekerja di Timur Tengah setiap kali harus menghadap Petugas dari negara
tuan rumah. Tentu saja tidak ada yang lebih nyaman daripada hidup
nyaman di negeri sendiri. Sekalipun mungkin lebih deg-deg-an jika
mendapat panggilan polisi POLSEK di Bandung. Karena konon anggota POLRI
lebih terampil dan selalu sukses dalam menanyai orang.

Jika kali ini ada yang membuat saya percaya diri, tentulah karena
kemarin saya sudah minta ijin cuti khusus ke line-manager saya, cuti
atas panggilan negara istilah dulu waktu di Bandung. Selebihnya,
sebagaimana ucapan Ida salah seorang TKW yang dulu sempat ketemu di
bandara Abu Dhabi, katanya,
“Ya… kalau sampai diapa-apain mah atuh…. Kita pasrah saja sama Yang
Diatas.”.

Dan saya juga masih terngiang sepenggal syair lagu yang diteriakkan
buruh demonstran yang bernyanyi di Trafalgar Square, “ … kami tidak
takut bekerja keras….  Kami tidak takut mati…… kami hanya tidak mau
bekerja pada orang yang serakah….!!”.

Dengan bekal quote dari Ida yang TKW, teriakan berani para pekerja yang
sedang berdemo, dan keyakinan bahwa semua manusia menyenangkan pada
dasarnya. Maka saya hentikan segala deg-deg-an dan kecurigaan.

Tidak lebih setengah jam kemudian, jet-ferry merapat di pelabuhan
Southampton. Jaket hitam multi purpose, yang setia menyelimuti saya
selama lebih 3 tahun ini terpaksa dibuka. Karena summer is coming,
karena semua orang juga menenteng jas nya ditangan. Lebih dari itu,
karena pagi ini terasa hangat dan terang benderang.

Berlomba jalan cepat keluar dermaga  menuju bus-stop ternyata punya
cerita sendiri. Saya yang spesialis pedestrian tentu saja unggul lebih
duluan mencapai pintu bus City Link, bus gratis pemkot Southampton.
Saya berdiri disamping bapak bule senior seusia Abah saya yang berdiri
dengan sedikit tremor. Saat bunyi joss hidrolik pintu bus mulai
terbuka, saya persilakan si bapak naik duluan….dan,

“Oooo thank you …young man… God bless you”, katanya tersenyum yang
menampakkan deretan gigi abu-abu nya sambil nepuk-nepuk pundak saya.
“No problem….”, saya niru jawaban umum Englishman, “semoga negeri anda
juga tambah makmur dengan kehadiran saya…..”, tapi yang ini dalam hati
saja.

Southampton Central station masih seperti 7 tahun lalu, bangku-bangku
besi cat putih dan lantai platform bergaris kuning tebal yang
memperingatkan calon penumpang supaya tidak berdiri terlalu dekat rel
kereta. Berbagai Kereta datang dan pergi silih berganti. Dengan cat
warna warni, sesuai selera operator, Virgin masih dominan merah, Cross
Country yang baru kombinasi abu putih dan biru, Wessex dan juga
SouthWest Train biru merah yang akan membawa saya ke London.

Ritual duduk didalam kereta api, rupanya sama dengan ritual duduk di
atas Ferry. Orang-orang buka koran, buka laptop, chatting pake Black
Berry atau Nokia atau juga sekedar geleng-geleng kepala dengan penutup
putih di kuping. Cuma saja orang di samping dan di seberang saya sibuk
membuka-buka lembaran kertas HVS dan sama-sama memberi catatan dengan
pinsil, yang satu terbaca Dubai draft contract, satunya lagi … Malaysia
Finance ….…. samar-samar.

Tanpa suara, tanpa gemuruh, tanpa lonjakan, tanpa goncangan, kereta
begitu saja meluncur. Terus saja sunyi sampai stasion Waterloo London,
bahkan tidak terdengar percakapan apapun. Kecuali bunyi tik-tik
keyboard dan gemerisik kertas koran dibuka. Sepertinya, jam kerja
dimulai sejak orang duduk di kursi kereta.

Kereta calling for Winchester, singgah maksudnya, dan penumpang yang
naik dari sini yang semuanya tampak lebih perlente membuat gerbong
menjadi penuh. Dan pagelaran lembar HVS yang bertulisan “contract” pun
lebih meriah. Ini pula yang membuat saya lebih nyaman, karena artinya
pasti akan semakin banyak job disini.

Seperti biasa, kereta api Inggris dikenal sebagai kereta karet diantara
perkereta api-an negeri Eropah. Melewati station Vauxhall, speaker
bersuara memecah keheningan dengan suara permintaan maaf sang
masinis…..apologise for 5 minutes late…. Terdengar nyaring dengan suara
tenor yang mantap.

Konon, menurut teman-teman yang bekerja di Jerman, Perancis, dan
Belanda, toleransi keterlambatan KA di negeri-negeri itu 0.0 detik,
entahlah. Tapi dulu waktu saya cerita soal kereta karet Inggris, si Ken
yang orang Manchester berkilah, katanya karena British Railway dikelola
manusia, dikelola secara human. Tidak seperti railway nya negara-negara
Eropa daratan yang dikelola oleh Machine….

Pledooi nya si Ken membuat saya sempat takjub. Mungkin karena dikelola
oleh human juga, makanya perkerata-api-an Indonesia selalu rugi dan
kumuh. Tapi entahlah.
Karena menurut si Ken, Kereta terlambat 5 menit atau 1 jam, sangat
manusiawi.

Station Waterloo juga ternyata masih seperti dulu, rame serasa di
bandara. Orang-orang pada berdiri begerombol menonton display
elektronik deretan jadwal kereta ke berbagai jurusan Inggris sampai
jadwal Eurostar ke daratan Eropa.

Karena semua orang berjalan selalu cepat, maka saya terpaksa ikutan
jalan cepat, sekalipun belum tahu mau berjalan kearah mana. Teman saya
yang aselinya dari Ciroyom berteriak cukup jauh dibelakang. Dia
menunjukkan papan bergambar bulatan biru yang khas dengan tulisan
Underground merah ditengahnya. Ditengah lalu lalang orang, sangat jelas
terdengar suara teman saya yang sangat berbeda….
“Itu….euy tube…”, kecuali tube, ini teriakan aseli Sunda, bahasa darah
daging saya yang bergema ke seantero Station Waterloo yang beratap
tinggi trusses baja.

Dan saya segera saja menyusul dia menuju station kereta bawah tanah.
Persis pengalaman pertama, kali ini juga sengaja beli karcis dari mesin
yang sama seperti 7 tahun lalu. Seolah berusaha melestarikan sejarah.
Hanya saja kali ini beli tiket pake kartu debit, tidak seperti dulu
mengucurkan recehan coin. Ada kemajuan lah karena teman saya sekarang
berani bayar-bayar apapun pake kartu plastik saja.

Sesuai tujuan ke Finchley Road, maka Jubilee Line adalah jalur tube
yang akan dipergunakan. Dan karena seperti orang Banjaran udik yang
kebetulan traveling ke Jakarta, maka akan bersenagja melihat-lihat
jakarta biarpun sudah berkali-kali. Saya juga aji mumpung, mumpung di
London sepantasnya lah berkeliling dulu kota London. Untuk itu dipilih
tiket one-day traveler, naik tube sekenyangnya. Ongkosnya 9.4 pounds
(sekitar 170 ribuan). Cukup murah dibanding ongkos-ongkos di tempat
saya Isle of Wight.

Empat baris tangga elevator turun yang menuju platform Jubilee Line
dipenuhi orang. Sadar sedang berada di terowongan raksasa yang dalamnya
sampai 100 m dibawah tanah, selalu saja menerbitkan pikiran-pikiran
buruk. Kalau-kalau listrik mati, elevator mati, lalu gelap pula. Atau
lebih seru lagi kalau-kalau banjir seperti rutin menenggelamkan kota
Jakarta, gimana ?. Tapi orang sini enteng saja, cukup percaya sama
pemerintah saja, atau cukup percaya saja pada tukang-insinyur.

Menunggu kereta datang yang akan keluar dari lubang hitam pekat,
ternyata asyik juga. Tanda-tandanya jika tiba-tiba terasa ada angin,
maka kereta sudah dekat. Karena ukuran penampang kereta mepet sekali
dengan ukuran lubang terowongan. Maka jika kereta bergerak, seperti
plunyer bergerak didalam tabung pompa. Dan kita yang berdiri di
platform merasakan angin hasil pompaan gerbong kereta.

Gerbong Kereta masih menyediakan cukup ruang untuk penumpang berdiri.
Karena mungkin jam 9 orang-orang masih sibuk ditempat kerja, Cukup
kencang kereta melaju dan gemuruh pula. Saat speaker mengumumkan “next
station is Swiss Cotage”, saya mulai pasang kuda-kuda. Karena satu
perhentian lagi akan sampai tujuan. Station Finchley Road berada diatas
tanah, tapi stationnya tetap saja disebut “underground”, dan orang
menyebut keretanya juga masih “tube”.

Sekeluarnya dari station, seperti biasa saya mengajak teman saya untuk
melakukan ritual turis Amerika dan Australia yang datang ke London.
Ritual berteriak, tapi pelan saja, “ Here we are in London..”. Entah
apa maksudnya. Mungkin mereka yang jaman dulu datang ke London serasa
kembali ke peradabannya setelah hidup dalam pembuangan atau juga
kembali dari penjelajahan.

Kantor tempat bertemu dengan petugas Home Office berada di lantai 5,
yang berupa penthouse. Ternyata saya sampai ditempat masih 2 an jam
lagi sampai pada “moment of truth”. Menunggu memang tidak nyaman.
Apalagi menunggu pemeriksaan, pikiran mencoba menebak-nebak kira-kira
apa yang akan ditanyakan, akan sedetail apa materi pemeriksaan, juga
akan se-sangar apa tampang si pemeriksa. dsb. dsb.

Jam 10 an bel tamu berbunyi, di TV monitor tampak laki-laki bule
setengah baya bicara minta ijin masuk, tapi suaranya tidak terdengar.
Resepsionis menekan tombol remote pembuka pintu. Dan kita dua TKI
segera merapikan diri, sekaligus berlomba ke WC. Sesuai teori
psikologi, konon WC selalu menyediakan perlindungan bagi orang yang
sedang stress.

Beberapa saat kemudian, tamu bule perlente berjas biru tua bersama 2
temannya sudah sampai dilantai atas. Tapi, kepada resepsionis dia
bilang bahwa dia building manager dari bangunan kantor dan minta ijin
untuk ke atap gedung melalui jendela yang ada disini. Rupanya, mereka
tukang betulin atap, dan bukan petugas Home Office yang sedang
ditunggu-tunggu. Ketegangan di-dada pun me-reda.

Ketika jam menunjukkan 11 kurang 5, bel tamu kembali berbunyi. Dilayar
TV monitor kembali tampak kepala, tapi muda dan rada gundul. Setelah
terdengar suara perempuan, resepsionis memberi tahu, “Now…. They are
Home Office guys..”. Tapi kali ini, saya tidak tegang lagi. Ketegangan
sudah habis oleh tukang betulin atap.

Ketegangan semakin sirna setelah kita bersalaman, mereka berdua laki
dan perempuan yang masih muda-muda. Tentu saja, confident pun naik ke
kepala. Dan saya besemangat untuk maju jadi yang pertama diwawancara.
Betul saja seperti orang bilang, “Jika adu keyakinan, maka usia yang
akan menentukan”. 

Saya camkan saja dalam hati, saya puluhan tahun hidup, datang jauh-jauh
kesini untuk cari hidup. Sementara mereka, tidak lebih lama merasakan
hidup tapi sudah sejak lahir disini selalu menikmati hidup. Dan
jampi-jampi ini mujarab. Sejauh ini audit berjalan mulus. Atau seperti
si Jason owner kantor bilang saat neraktir special lunch di restoran
China …so far so good. Semoga saja begitu hasilnya nanti.

Karena so-far-so-good itu pula, berdua dengan teman TKI saya bisa enjoy
menikmati teriknya summer di London. Naik-turun dan keluar masuk lubang
Underground, jeprat sana jepret sini foto-foto. Juga selonjoran di
taman Hyde Park. Tapi sementara ratusan atau ribuan orang berjemur
dibawah terik matahari sore, kita ikutan berjemur dibawah pohon rindang
saja. Karena panas-panasan sudah bosen saat di Bandung.

Seolah tidak mau rugi karena telah beli tiket kereta Underground untuk
seharian. Sekalipun dengkul mulai gempor tapi semangat mencicipi Tube
tetap menyala. Lalu lihat buku kecil Tube-Map kembali, Station terdekat
Marble Arch ambil Central Line nanti ganti di Bond Street lalu ambil
Jubilee Line turun di Westminster, karena aneh kalau ke London kok
tidak menziarahi Big-Ben.

Hampir seribu foto-foto hasil jepretan sejak 2001, mulai kamera film
sampai digital, ternyata isinya Big-Ben, parliament buiding, London
Eyes melulu. Tapi kali ini tetap saja gantian bergaya lagi dengan latar
belakang Big-Ben. Seolah Inggris identik dengan Big-Ben.

Jam 8 petang langit masih terang. Tapi karena dengkul mulai gempor
dipake keluyuran, maka diputuskan untuk mengahiri acara summer in
London. Waterloo station dekat saja jaraknya dari Westminster.
Keinginan berfoto-foto rupanya mengalahkan “tak mau rugi” telah beli
tiket one-day Underground. Maka dengan kamera tetap ditangan, kita
berjalan kaki menuju station Waterloo.

Gerbang masuk station Waterloo melalui footbridge gedung Shell company.
Perjalanan sangat lambat karena setiap 10 meter kita berpose foto-foto.
Tepat dimulut pintu masuk station ada patung perunggu. Tentu saja
jepret lagi jepret lagi, sampai kedalam hall station yang rangka
atapnya dari trusses baja, juga menarik untuk di jepret. Tapi kali ini,
semangat menjepret harus diakhiri….

Lima orang polisi, celana biru tua, baju putih lengan pendek, berjaket
rompi kuning spotlite menghampiri kita berdua. Komendan nya sambil
mengarahkan matanya kearah kamera yang dipegang teman saya, menyapa
dengan ramah, katanya “You must be in traveling…..”.

Tentu saja seperti semua orang, saya juga senang jika ada yang menyapa
dengan ramah. Dan kita menjawabnya dengan tak kalah ramah. Teman saya
orang Sipil, dengan antusias menjelaskan ketertarikannya dengan
struktur atap station. “Ya…ya,… it’s great structure design…
beautiful…” dan entah apalagi sambil nunjuk-nunjuk ke langit-langit
gedung.

Tapi polisi-polisi itu tidak tertarik dengan keindahan bangunan. Mereka
hanya sedang bertugas mengamankan fasilitas umum dari segala ancaman
teroris. Dan menurut penjelasannya, salah satu yang bisa dianggap
sebagai suspected kelakuan teroris adalah mengambil foto struktur.
Pemerintah Inggris boleh jadi trauma dengan kejadian bom London 7/7
2005. tapi juga sangat hati-hati dengan ekses tertembaknya seorang
warga Brazil yang tidak bersalah.

Orang Barzil ini yang bekerja di Inggris ketika itu tidak tahu ada
polisi yang menghampirinya, perhatian dia sedang tertuju ke arah Kereta
Api yang akan dinaikinya. Saat kereta mulai bergerak maju, dia berusaha
lari mengejar. Dan polisi yang bermaksud menanyainya mengira orang ini
melarikan diri dan…di dor lah.
Setelah itu tidak ada lagi polisi di tempat umum yang pegang senjata
api. Juga kali ini, para polisi bertangan kosong. Kalau saya iseng
lari, paling juga hanya diteriakin.

Pak polisi berulang-ulang menjelaskan bahwa mereka tidak bermaksud
offense. Tapi semata-mata random saja, kebetulan juga kita berdua
menggendong tas yang massive, alias buntelan besar karena berisi jaket
dan perlengkapan kamera.

Tanya jawab lebih mirip obrolan ramah tamah ketimbang interogasi
didepan umum. Tapi tetap saja mereka mengisi form pertanyaan, mulai
nama, alamat, berat dan tinggi badan, pekerjaan sampai wana baju dan
sepatu.

Dan beruntunglah, kita membawa Company-Card, kartu karyawan. Dan waktu
mereka membaca nama perusahaan, mereka pun riuh…..
“Oo… you are aerospace engineer…..this is a big…big company…isn’t
it…”.
Katanya.
Dan sekarang gantian kita berdua yang tercengang.

Sementara saya nungguin teman yang sedang di-“interogasi”, saya tanya
ke polisi satunya lagi, apa saya juga perlu memberi keterangan seperti
teman saya. Setengah bingung, polisi yang lebih senior malah menyuruh
polisi yang lebih muda untuk menanyai saya…. “ You handle him…….”,
katanya kepada si polisi muda.
Lalu mendekati saya dan berbisik…”He is a policeman but he is an
avionic engineer ….as well…”, sambil tersenyum dan ngeloyor pergi.

Polisi muda ini pun menghampiri saya sambil senyum-senyum, dan sebelum
dia nanya, saya tanya duluan…..  “Ah…. you are an avionic
engineer…aren’t you ?”.

Bukannya menginterogasi, si polisi malah cerita pengalaman kerja dia.
Dulu lulusan universitas di Australia. Pernah kerja di perusahaan
avionik, pernah pula jadi orang struktur… status sekarang sebagai
engineer di angkatan udara, yang mulai 6 bulan lalu ditugas rangkapkan
sebagai polisi. Dan, surprisingly, dulu pernah melamar ke perusahaan
tempat saya bekerja sekarang…. But I was failed, katanya.

“How did you get your qualifcation….?”, dia nanya.
“That was my twenty years experience…… I spent almost the half of my
life time for this….. and now I am here”, saya serasa curhat dengan
sesama teman senasib.

Saat dia nanya usia saya, dia rupanya baru sadar tugas dia sebenarnya..
Lalu mengeluarkan form isian dan melanjutkan pertanyaan, “Your birth
day ?”, tanyanya.

Tapi setelah saya jawab, malah dia kembali diam mikir sambil
mengetuk-ngetukan ballpoint ke telapak tangan kirinya. “ 20 tahun kerja
dimana ?”….penasaran dia.

Setelah cukup panjang saya curhat sampai cerita krismon Indonesia, dia
menimpali…. “ O…. dear…. I know, that was a bad thing for your
country..”.
Saya ingat betul raut mukanya saat dia mengatakan kata-kata ini.

Dan saya tidak sungkan saat meminta alamat email-nya, barangkali saja
suatu saat dia ingin mendapatkan info tentang perusahaan tempat kerja
saya, yang dulu dia gagal melamarnya. Karena, menurut teman polisi muda
satunya lagi, yang belakangan ikut nimbrung, dia masih berminat kerja
diitempat kerja saya sekarang sebagai orang struktur.

Begitulah, early summer in London.
Polisi, petugas Home Office, supir bus, masinis kereta api, TKW dan TKI
adalah manusia juga. Sekedar menjalani hidup dan selalu berupaya
mencari penghidupan yang lebih baik.

Hyde Park,, 20080510

0 Tanggapan ke “Early Summer In London”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.