Arsip untuk Juli 13th, 2008

Memenuhi panggilan PUSKESMAS

Soal peduli status kesehatan, mungkin saya termasuk orang yang
seperti kata Sister Ken barusan bilang: “Whatever ….you just
let your body flow.. going somewhere,….. innit ?”

Saya seperti biasa hanya menjawab dengan memamerkan deretan gigi.
Habis mau apalagi, memang gak pernah merasa sakit kok. Juga waktu
di Bandung, dokter yang bolak balik saya datangi hanya dokter gigi.

Mendatangi dokter gigi termasuk “low risk” tapi sekaligus darurat.
Darurat, karena sakit gigi sangat mengganggu MOOD. Low Risk
karena apapun kabar yang akan dikatakan dokter gigi pasti tidak
akan jauh-jauh dari masalah rongga mulut. Masih jauh dari jantung.

Mungkin karena saya lebih takut mendapat kabar saya berpenyakit
daripada betulan saya menderita sakit. Atau juga konon seperti
pepatah Nabi Isa AS, katanya lebih banyak orang mati karena
takut melihat kematian, daripada mati karena nyawanya melayang.

Hampir sebulan yang lalu saya mendapat surat undangan dari Cowes
Medical Centre, puskesmas-nya pemkot Isle Of Wight untuk pemeriksaan
kesehatan. Tapi ada penjelasan yang rada maksa, jika tidak merespon
dalam waktu 5 minggu, maka puskesmas akan menelepon.

Undangan ini rada aneh datang ke saya, karena sejak 7 tahun lalu
pertama masuk negeri ini dan wajib daftar NHS sekalian mendapat
Nomor registrasi National Insurance, saya belum pernah dengan
sengaja mempergunakan salah satu hak saya sebagai pembayar pajak.

Dulu pernah saya sekali mengunjungi St Marry Hospital. Itupun
karena terpaksa. Teman-teman saya mendudukkan saya diatas kursi roda,
lalu mereka rame-rame mendorongnya masuk rumah sakit. Saat itu,
setelah tanya-tanya kepada teman yang ngantar, setelah periksa
air seni, darah, denyut jantung dan X-Ray, dokter-dokter yang
mengerubuti saya cuma bilang “Kamu harus banyak-banyak minum”.

NHS itu semacam Dinas Kesehatan Pemerintah di Indonesia, yang
melayani kesehatan masyarakat dengan “gratis”. Tapi sesungguhnya
di-dunia-ini tidak ada yang gratis. Pelayanan NHS dibiayai oleh
pajak penghasilan dari setiap kepala. Tapi kualitas pelayanan
sama untuk setiap orang, tidak peduli bayar pajak besar, kecil
atau bahkan bagi yang tidak mampu bayar pajak.

Mungkin mirip istilah pejabat di Indonesia “subsidi silang”. Karena
disini berlaku “jika seseorang nganggur maka yang salah pemerintah”.
Dan jika lapangan kerja tersedia diseantero negeri, yang artinya
banyak orang yang bayar pajak, maka itu juga karena pemerintah.
Juga saya ingat, sepertinya pemerintah Inggris mengikuti kata-kata
mang Dulloh guru ngaji saya 40 tahun lalu, katanya…
“Dan diantara rejeki kamu terdapat rejekinya orang lain”.

Jadi, saya tentu saja “ikhlas”. Selalu bayar pajak lumayan badag.
Tapi tidak pernah mempergunakan layanan kesehatan. Boleh jadi,
sekalipun saya sangat menghormati mang Dulloh almarhum, tapi jujur
saya memilih ikhlas semata-mata karena takut dengar temuan dokter.

Saya sampai di Medical Centre jam 3:45, karena sebelumnya sudah
appointment dan waktunya jam 4:00 sore untuk bertemu Sister Ken
nurse senior yang menangani soal-soal medis ecek-ecek. Kalau
soal medis berat…. pasti saya gak akan mau datang. Just kidding.

Siser Ken nanya macam-macam, mulai gaya hidup, apa punya keluhan ?,
apa punya turunan penyakit jantung ?, lalu minta saya ukur tekanan
darah, timbang badan, ukur tinggi, Lalu “Excellent…!!!”, katanya.

Sekalipun sangat biasa dengar orang bilang excellent, tetap saja
saya penasaran, ” Ya…that’s excellent  174 60 110-70…”, dia
menjelaskan sambil melihat grafik di layar komputer. Saya serasa
melihat ibu Bidan Sutijah yang sedang melaporkan pertumbuhan bayi.

“Tujuh tahun lalu…berat kamu 54 “, Sister Ken tersenyum. Lalu
“Olahraga rutin kamu apa….? “, dia bertanya sambil tetap
menghadap komputer.

“Saya tidak olah raga….tapi tiap hari saya jalan kaki ke kantor.”,
saya bilang sambil tetap mikir.

“That’s brilliant…. how long it takes ?”

“Dua kali 30 menitan….kadang pulangnya lifting teman…”.

“Brilliant …excellent…excellent… kamu masih merokok ?”

Dan ini pertanyaan yang sangat saya tidak suka. Mikir sebentar,
“Unfortunately masih….”, saya jawab sambil malu-malu.

“Ooooo dear….”, seolah dia menyesal telah kadung bilang excellent.

“Tapi…saya juga makan nicorette…”, saya bilang maksudnya
sedang berusaha berhenti dengan makan obat anti nikotin.

“Sukses….?”, kali ini dia sengaja memajukan kuris mendekat,
penasaran rupanya dia.

“Sekarang 2 bungkus seminggu…”, saya jawab sambil berhitung.
Tapi Sister Ken kembali balik menghadap komputer….

“Kok….7 tahun lalu kamu bilang sebungkus seminggu ?”, dia
kali ini tertawa betulan.

“Anyway Sister… dulu saya sebungkus sehari, sekarang
sebungkus 3 hari. Tapi kemajuan ini bukan karena Nicorette,
bukan pula karena saya sadar kesehatan. Tapi karena takut
kena denda…”. Saya jelaskan kesuksesan saya dengan jujur.

“Ha ha ha… amazing law, amazing government…innit ?”

Khusus soal amazing Law, saya setuju. Tapi kalau bilang setuju
juga amazing government … itu mah pamali, tabu untuk saya.
Apalagi Isle of Wight dikuasai mutlak partai conservative.

Ya betul, penegakkan hukum dan kejelasan hukum yang menjadikan
negeri ini “maju” seperti sekarang. Tidak peduli pemerintahnya
siapa. Tidak peduli masyarakatnya seperti apa.

Pajak lancar, sekolah gratis, pelayanan kesehatan gratis,
sampah tidak menumpuk, lapangan kerja terus bertambah…
hidup dipaksa lebih sehat… semuanya datang belakangan.

O iya… saya baru kali ini mau, saat dia menawarkan untuk
general chek-up. “Bebas pilih hari….” katanya meyakinkan.

“Kamu mau chek apa saja …tinggal contreng, isi form dan
kamu datang sendiri ke St Marry Hospital….”.

Sekarang saya lagi mikir berat, kalau-kalau nanti ditemukan
ternyata saya penyakitan……   gimana ?.
Bukankah siswa SMA yang sehari-harinya cemerlang pun
belum tentu lulus UAN atau lulus ujian masuk perguruan tinggi ?.
Medical Centre, 20080711
Sutresna

diatas Floating Bridge…..saya hidup

Floating Bridge, tapi islander lebih suka menyebutnya “Chain Ferry”
karena “jembatan” ini berlayar bolak-balik merambati rantai. Mirip
perahu getek penyebrangan di sungai-sungai Jakarta yang merambati
tali dengan nakhoda yang merangkap sebagi mesin penggerak.

Saya tiap hari pergi ke tempat kerja selalu harus nunggu Chain Ferry
untuk menyebrangi sungai, karena mustahil berenang. Saya tentu saja
senasib dengan ibu-ibu atau anak-anak sekolah di Jakarta yang tiap
hari harus nunggu perahu getek untuk nyebrang sungai banjir kanal.
Saya tidak tahu, apa sekarang perahu-tambang masih beroperasi di
sungai-sungai Jakarta.

Chain Ferry di Isle Of Wight adalah salah satu dari 5 yang tersisa
diseantero Britain. Sudah beroperasi sejak tahun 1859, perahu getek
yang masih beroperasi sekarang merupakan yang ke 9 dan bertenaga
diesel. Tapi awalnya Chain Ferry memanfaatkan tenaga kuda.

Perahu getek yang pertama betul-betul ditarik seekor kuda. Tentu saja
kuda-nya tidak perlu berenang disungai. Rantai dililitkan pada roda
besi dipinggir sungai, dan sang kuda berjalan berkeliling. Lalu
roda besi ikut berputar mengikuti kuda sekaligus menggulung dan menarik
rantainya. Mechanical engineering terkadang sangat sederhana. Cuma saja
untuk jadi manfaat memerlukan sedikit kecerdasan dan keberanian,
keberanian untuk mencoba. Atau pake istilah sekolahan, punya visi.

Perahu getek ini muat sampai 16 mobil sedan ukuran 1300cc-an. Kalau
truk besar juga ikutan masuk, maka jumlah mobil yang bisa diangkut
juga berkurang. Kendaraan bermotor ditarik bayaran, tapi pengendara
sepedah dan pengendara kaki seperti saya gratis. Tapi Umumnya di Inggris
kendaraan bebas emisi seperti sepedah dan jempol kaki selalu gratis.

Floating Bridge berada tepat dimulut muara. Lebar sungai Medina disini
150 meter pada saat highest tide, dan 75 meter pada saat the lowest.
Sungai ini sibuk dengan lalulintas Yacht, motorboat dan kapal laut.
Panjang sungai dari muara di Cowes sampai hulu di Newport sekitar 8 km.

Kapal laut hilir mudik masuk sungai mengangkuti BBM, bahan bangunan
termasuk pasir dan batu, dan juga bahan baku dan hasil industri.
Karena disepanjang aliran sungai menuju Newport dari Cowes ada beberapa
pabrik, diantaranya komponen-komponen kapal, mobil dan pesawat. Serta
yang selalu jadi pusat perhatian, pabrik Turbin Angin pembangkit listrik.

Dulu waktu pertama datang dan melihat Chain Ferry rasanya aneh. Kapal
bermuatan mobil menyebrangi sungai dengan ditarik rantai yang tertambat
dikedua tepi sungai. Sementara kapal dan perahu, santai saja melintasi
sungai tanpa terjerat bentangan rantai.

Baru belakangan, setelah menyaksikan sendiri kejadian ada perahu layar
cukup besar tersangkut rantai, saya bisa faham. Kejadian ini mengheboh
kan, karena banyak penyebrang tertahan di kedua tepi Cowes dan East Cowes.

Jika selama ini, chain ferry bisa hidup rukun berdampingan secara damai
dengan kapal-kapal yang melintasi rantai, ternyata bukan karena keajaiban.
Juga bukan karena asal-asalan. Tapi semua karena mematuhi aturan. Aturan
yang sebelumnya dibuat dan disusun dengan penuh perhitungan.

Accident, kejadian tersangkutnya kapal layar oleh bentangan rantai Floating
Bridge ternyata karena saat itu si pengemudi kapal layar keasikan ngobrol
dengan sang isteri. Padahal laut sedang surut, air sungai mengalir kearah
laut dan kapal layar sedang keluar dari tempat parkir di Newport menuju laut.
Mungkin saat itu pengemudi kapal layar yang berusia sekitar 70-an asik
fokus ke laut dan lupa-daratan. Juga karena terlalu excited mau berlayar
berdua dengan sang isteri tercinta merayakan ulang tahun perkawinan perak
atau mungkin juga emasnya. Siapa tahu.

Si Fred tetangga saya bilang, accident terbandringnya kapal oleh rantai
rata-rata antara 2 sampai 3 kali dalam setahun. Kejadiannya juga hampir
selalu terjadi disaat musim panas seperti sekarang. Disaat banyak orang
datang ke Isle of Wight untuk Yachting, berlayar bersenang-senang.

Alasan ini pula yang mungkin jadi alasan masyarakat dan pemerintah belum
mau berkeinginan membangun terowongan bawah tanah melintasi sungai. Juga
belum mau membangun jembatan permanen…. biayanya mahal katanya.
Selain itu, Floating Bridge juga menjadi tontonan unik sekaligus
menyediakan lapangan kerja warga pulau dan menjadi sarana “meeting point”.

Islander dan juga saya terpaksa harus ikutan bangga sebagai penghuni
Isle Of Wight. Karena pulau ini punya sejarah panjang sebagai “tukang
perahu”, juga sebagai rumah bersalin dari kendaraan yang serba amfibi.
Mulai pesawat terbang amfibi sampai Hovercraft, kapal laut amfibi.

Dan dari sejarah “core industri” ini sekarang muncul “spin off”, pentalan
berupa keahlian lain, keahlian composite, bahan struktur pengganti logam
dan juga penggati kayu.

Mungkin karena mengikuti budaya pelopor dari kerajaan Inggris, yang selalu
ingin yang pertama. Jika kebetulan bukan yang pertama, maka tanpa malu-
malu kerajaan mengundang sekaligus membiayai para penemu dunia untuk
mempraktekan dan menerapkan temuannya di tanah Inggris.

Dan karena itu Italian Marconi dengan radio telegrafinya, American Graham
Bell dengan teleponnya beruntung dapat “beasiswa” dari kerajaan sekaligus
praktek lapangan di laboratorium in-situ England.

Begitu juga dengan penerapan teknologi material Composite….
pada saat semua orang masih ragu apakah ekonomis, apakah layak composite
dipake untuk strukture utama pesawat besar. Maka perusahaan Inggris yang
ditanah Inggris, di Isle of Wight maksudnya menjadi yang pertama didunia
menerapkan composite untuk rangka sayap pesawat sekelas Hercules.

Saya ingat, dulu teman kuliah sering diskusi memikirkan karir kedepan.
“Apakah kamu mau jadi kepala kucing ataukah pilih jadi buntut macan ?”

Dan teman-teman kuliah saya pada gila, malah mereka jadi kepala macan.

Disini, saya cuma ikut numpang bangga sebagai bulu…..itupun entah
macan, entah singa…juga entah kucing atau malah sekedar bulu tikus.

Tapi, saya selalu telepon ke anak-anak saya, bahwa bapaknya sekarang
sedang menjadi bulu dari “nabi adam” nya harimau. Kalau ternyata
bukan harimau, bapakmu sedang jadi bulu “nabi adam”nya kucing…

kalau juga ternyata bukan kucing….maka nanti akan saya yakinkan
pada anak-anak saya bahwa saya bekerja dengan para pelopor….

 

Floating Bridge, 20080713

Sutresna