Soal peduli status kesehatan, mungkin saya termasuk orang yang
seperti kata Sister Ken barusan bilang: “Whatever ….you just
let your body flow.. going somewhere,….. innit ?”
Saya seperti biasa hanya menjawab dengan memamerkan deretan gigi.
Habis mau apalagi, memang gak pernah merasa sakit kok. Juga waktu
di Bandung, dokter yang bolak balik saya datangi hanya dokter gigi.
Mendatangi dokter gigi termasuk “low risk” tapi sekaligus darurat.
Darurat, karena sakit gigi sangat mengganggu MOOD. Low Risk
karena apapun kabar yang akan dikatakan dokter gigi pasti tidak
akan jauh-jauh dari masalah rongga mulut. Masih jauh dari jantung.
Mungkin karena saya lebih takut mendapat kabar saya berpenyakit
daripada betulan saya menderita sakit. Atau juga konon seperti
pepatah Nabi Isa AS, katanya lebih banyak orang mati karena
takut melihat kematian, daripada mati karena nyawanya melayang.
Hampir sebulan yang lalu saya mendapat surat undangan dari Cowes
Medical Centre, puskesmas-nya pemkot Isle Of Wight untuk pemeriksaan
kesehatan. Tapi ada penjelasan yang rada maksa, jika tidak merespon
dalam waktu 5 minggu, maka puskesmas akan menelepon.
Undangan ini rada aneh datang ke saya, karena sejak 7 tahun lalu
pertama masuk negeri ini dan wajib daftar NHS sekalian mendapat
Nomor registrasi National Insurance, saya belum pernah dengan
sengaja mempergunakan salah satu hak saya sebagai pembayar pajak.
Dulu pernah saya sekali mengunjungi St Marry Hospital. Itupun
karena terpaksa. Teman-teman saya mendudukkan saya diatas kursi roda,
lalu mereka rame-rame mendorongnya masuk rumah sakit. Saat itu,
setelah tanya-tanya kepada teman yang ngantar, setelah periksa
air seni, darah, denyut jantung dan X-Ray, dokter-dokter yang
mengerubuti saya cuma bilang “Kamu harus banyak-banyak minum”.
NHS itu semacam Dinas Kesehatan Pemerintah di Indonesia, yang
melayani kesehatan masyarakat dengan “gratis”. Tapi sesungguhnya
di-dunia-ini tidak ada yang gratis. Pelayanan NHS dibiayai oleh
pajak penghasilan dari setiap kepala. Tapi kualitas pelayanan
sama untuk setiap orang, tidak peduli bayar pajak besar, kecil
atau bahkan bagi yang tidak mampu bayar pajak.
Mungkin mirip istilah pejabat di Indonesia “subsidi silang”. Karena
disini berlaku “jika seseorang nganggur maka yang salah pemerintah”.
Dan jika lapangan kerja tersedia diseantero negeri, yang artinya
banyak orang yang bayar pajak, maka itu juga karena pemerintah.
Juga saya ingat, sepertinya pemerintah Inggris mengikuti kata-kata
mang Dulloh guru ngaji saya 40 tahun lalu, katanya…
“Dan diantara rejeki kamu terdapat rejekinya orang lain”.
Jadi, saya tentu saja “ikhlas”. Selalu bayar pajak lumayan badag.
Tapi tidak pernah mempergunakan layanan kesehatan. Boleh jadi,
sekalipun saya sangat menghormati mang Dulloh almarhum, tapi jujur
saya memilih ikhlas semata-mata karena takut dengar temuan dokter.
Saya sampai di Medical Centre jam 3:45, karena sebelumnya sudah
appointment dan waktunya jam 4:00 sore untuk bertemu Sister Ken
nurse senior yang menangani soal-soal medis ecek-ecek. Kalau
soal medis berat…. pasti saya gak akan mau datang. Just kidding.
Siser Ken nanya macam-macam, mulai gaya hidup, apa punya keluhan ?,
apa punya turunan penyakit jantung ?, lalu minta saya ukur tekanan
darah, timbang badan, ukur tinggi, Lalu “Excellent…!!!”, katanya.
Sekalipun sangat biasa dengar orang bilang excellent, tetap saja
saya penasaran, ” Ya…that’s excellent 174 60 110-70…”, dia
menjelaskan sambil melihat grafik di layar komputer. Saya serasa
melihat ibu Bidan Sutijah yang sedang melaporkan pertumbuhan bayi.
“Tujuh tahun lalu…berat kamu 54 “, Sister Ken tersenyum. Lalu
“Olahraga rutin kamu apa….? “, dia bertanya sambil tetap
menghadap komputer.
“Saya tidak olah raga….tapi tiap hari saya jalan kaki ke kantor.”,
saya bilang sambil tetap mikir.
“That’s brilliant…. how long it takes ?”
“Dua kali 30 menitan….kadang pulangnya lifting teman…”.
“Brilliant …excellent…excellent… kamu masih merokok ?”
Dan ini pertanyaan yang sangat saya tidak suka. Mikir sebentar,
“Unfortunately masih….”, saya jawab sambil malu-malu.
“Ooooo dear….”, seolah dia menyesal telah kadung bilang excellent.
“Tapi…saya juga makan nicorette…”, saya bilang maksudnya
sedang berusaha berhenti dengan makan obat anti nikotin.
“Sukses….?”, kali ini dia sengaja memajukan kuris mendekat,
penasaran rupanya dia.
“Sekarang 2 bungkus seminggu…”, saya jawab sambil berhitung.
Tapi Sister Ken kembali balik menghadap komputer….
“Kok….7 tahun lalu kamu bilang sebungkus seminggu ?”, dia
kali ini tertawa betulan.
“Anyway Sister… dulu saya sebungkus sehari, sekarang
sebungkus 3 hari. Tapi kemajuan ini bukan karena Nicorette,
bukan pula karena saya sadar kesehatan. Tapi karena takut
kena denda…”. Saya jelaskan kesuksesan saya dengan jujur.
“Ha ha ha… amazing law, amazing government…innit ?”
Khusus soal amazing Law, saya setuju. Tapi kalau bilang setuju
juga amazing government … itu mah pamali, tabu untuk saya.
Apalagi Isle of Wight dikuasai mutlak partai conservative.
Ya betul, penegakkan hukum dan kejelasan hukum yang menjadikan
negeri ini “maju” seperti sekarang. Tidak peduli pemerintahnya
siapa. Tidak peduli masyarakatnya seperti apa.
Pajak lancar, sekolah gratis, pelayanan kesehatan gratis,
sampah tidak menumpuk, lapangan kerja terus bertambah…
hidup dipaksa lebih sehat… semuanya datang belakangan.
O iya… saya baru kali ini mau, saat dia menawarkan untuk
general chek-up. “Bebas pilih hari….” katanya meyakinkan.
“Kamu mau chek apa saja …tinggal contreng, isi form dan
kamu datang sendiri ke St Marry Hospital….”.
Sekarang saya lagi mikir berat, kalau-kalau nanti ditemukan
ternyata saya penyakitan…… gimana ?.
Bukankah siswa SMA yang sehari-harinya cemerlang pun
belum tentu lulus UAN atau lulus ujian masuk perguruan tinggi ?.
Medical Centre, 20080711
Sutresna
Komentar Terakhir