Floating Bridge, tapi islander lebih suka menyebutnya “Chain Ferry”
karena “jembatan” ini berlayar bolak-balik merambati rantai. Mirip
perahu getek penyebrangan di sungai-sungai Jakarta yang merambati
tali dengan nakhoda yang merangkap sebagi mesin penggerak.
Saya tiap hari pergi ke tempat kerja selalu harus nunggu Chain Ferry
untuk menyebrangi sungai, karena mustahil berenang. Saya tentu saja
senasib dengan ibu-ibu atau anak-anak sekolah di Jakarta yang tiap
hari harus nunggu perahu getek untuk nyebrang sungai banjir kanal.
Saya tidak tahu, apa sekarang perahu-tambang masih beroperasi di
sungai-sungai Jakarta.
Chain Ferry di Isle Of Wight adalah salah satu dari 5 yang tersisa
diseantero Britain. Sudah beroperasi sejak tahun 1859, perahu getek
yang masih beroperasi sekarang merupakan yang ke 9 dan bertenaga
diesel. Tapi awalnya Chain Ferry memanfaatkan tenaga kuda.
Perahu getek yang pertama betul-betul ditarik seekor kuda. Tentu saja
kuda-nya tidak perlu berenang disungai. Rantai dililitkan pada roda
besi dipinggir sungai, dan sang kuda berjalan berkeliling. Lalu
roda besi ikut berputar mengikuti kuda sekaligus menggulung dan menarik
rantainya. Mechanical engineering terkadang sangat sederhana. Cuma saja
untuk jadi manfaat memerlukan sedikit kecerdasan dan keberanian,
keberanian untuk mencoba. Atau pake istilah sekolahan, punya visi.
Perahu getek ini muat sampai 16 mobil sedan ukuran 1300cc-an. Kalau
truk besar juga ikutan masuk, maka jumlah mobil yang bisa diangkut
juga berkurang. Kendaraan bermotor ditarik bayaran, tapi pengendara
sepedah dan pengendara kaki seperti saya gratis. Tapi Umumnya di Inggris
kendaraan bebas emisi seperti sepedah dan jempol kaki selalu gratis.
Floating Bridge berada tepat dimulut muara. Lebar sungai Medina disini
150 meter pada saat highest tide, dan 75 meter pada saat the lowest.
Sungai ini sibuk dengan lalulintas Yacht, motorboat dan kapal laut.
Panjang sungai dari muara di Cowes sampai hulu di Newport sekitar 8 km.
Kapal laut hilir mudik masuk sungai mengangkuti BBM, bahan bangunan
termasuk pasir dan batu, dan juga bahan baku dan hasil industri.
Karena disepanjang aliran sungai menuju Newport dari Cowes ada beberapa
pabrik, diantaranya komponen-komponen kapal, mobil dan pesawat. Serta
yang selalu jadi pusat perhatian, pabrik Turbin Angin pembangkit listrik.
Dulu waktu pertama datang dan melihat Chain Ferry rasanya aneh. Kapal
bermuatan mobil menyebrangi sungai dengan ditarik rantai yang tertambat
dikedua tepi sungai. Sementara kapal dan perahu, santai saja melintasi
sungai tanpa terjerat bentangan rantai.
Baru belakangan, setelah menyaksikan sendiri kejadian ada perahu layar
cukup besar tersangkut rantai, saya bisa faham. Kejadian ini mengheboh
kan, karena banyak penyebrang tertahan di kedua tepi Cowes dan East Cowes.
Jika selama ini, chain ferry bisa hidup rukun berdampingan secara damai
dengan kapal-kapal yang melintasi rantai, ternyata bukan karena keajaiban.
Juga bukan karena asal-asalan. Tapi semua karena mematuhi aturan. Aturan
yang sebelumnya dibuat dan disusun dengan penuh perhitungan.
Accident, kejadian tersangkutnya kapal layar oleh bentangan rantai Floating
Bridge ternyata karena saat itu si pengemudi kapal layar keasikan ngobrol
dengan sang isteri. Padahal laut sedang surut, air sungai mengalir kearah
laut dan kapal layar sedang keluar dari tempat parkir di Newport menuju laut.
Mungkin saat itu pengemudi kapal layar yang berusia sekitar 70-an asik
fokus ke laut dan lupa-daratan. Juga karena terlalu excited mau berlayar
berdua dengan sang isteri tercinta merayakan ulang tahun perkawinan perak
atau mungkin juga emasnya. Siapa tahu.
Si Fred tetangga saya bilang, accident terbandringnya kapal oleh rantai
rata-rata antara 2 sampai 3 kali dalam setahun. Kejadiannya juga hampir
selalu terjadi disaat musim panas seperti sekarang. Disaat banyak orang
datang ke Isle of Wight untuk Yachting, berlayar bersenang-senang.
Alasan ini pula yang mungkin jadi alasan masyarakat dan pemerintah belum
mau berkeinginan membangun terowongan bawah tanah melintasi sungai. Juga
belum mau membangun jembatan permanen…. biayanya mahal katanya.
Selain itu, Floating Bridge juga menjadi tontonan unik sekaligus
menyediakan lapangan kerja warga pulau dan menjadi sarana “meeting point”.
Islander dan juga saya terpaksa harus ikutan bangga sebagai penghuni
Isle Of Wight. Karena pulau ini punya sejarah panjang sebagai “tukang
perahu”, juga sebagai rumah bersalin dari kendaraan yang serba amfibi.
Mulai pesawat terbang amfibi sampai Hovercraft, kapal laut amfibi.
Dan dari sejarah “core industri” ini sekarang muncul “spin off”, pentalan
berupa keahlian lain, keahlian composite, bahan struktur pengganti logam
dan juga penggati kayu.
Mungkin karena mengikuti budaya pelopor dari kerajaan Inggris, yang selalu
ingin yang pertama. Jika kebetulan bukan yang pertama, maka tanpa malu-
malu kerajaan mengundang sekaligus membiayai para penemu dunia untuk
mempraktekan dan menerapkan temuannya di tanah Inggris.
Dan karena itu Italian Marconi dengan radio telegrafinya, American Graham
Bell dengan teleponnya beruntung dapat “beasiswa” dari kerajaan sekaligus
praktek lapangan di laboratorium in-situ England.
Begitu juga dengan penerapan teknologi material Composite….
pada saat semua orang masih ragu apakah ekonomis, apakah layak composite
dipake untuk strukture utama pesawat besar. Maka perusahaan Inggris yang
ditanah Inggris, di Isle of Wight maksudnya menjadi yang pertama didunia
menerapkan composite untuk rangka sayap pesawat sekelas Hercules.
Saya ingat, dulu teman kuliah sering diskusi memikirkan karir kedepan.
“Apakah kamu mau jadi kepala kucing ataukah pilih jadi buntut macan ?”
Dan teman-teman kuliah saya pada gila, malah mereka jadi kepala macan.
Disini, saya cuma ikut numpang bangga sebagai bulu…..itupun entah
macan, entah singa…juga entah kucing atau malah sekedar bulu tikus.
Tapi, saya selalu telepon ke anak-anak saya, bahwa bapaknya sekarang
sedang menjadi bulu dari “nabi adam” nya harimau. Kalau ternyata
bukan harimau, bapakmu sedang jadi bulu “nabi adam”nya kucing…
kalau juga ternyata bukan kucing….maka nanti akan saya yakinkan
pada anak-anak saya bahwa saya bekerja dengan para pelopor….
Floating Bridge, 20080713
Sutresna
0 Tanggapan ke “diatas Floating Bridge…..saya hidup”