Arsip untuk Agustus, 2008

Gerry tidak pernah faham . . . .

“Why,..kenapa rencana holiday kamu mesti tergantung kesibukan kantor ?”,
Gerry, yang mengaku orang Sussex bertanya. Sepuluh jari tangannya
terjalin dengan kedua siku bertumpu diatas meja. Kedua bahunya sedikit
melengkung kedepan seolah terbebani oleh kepalanya yang berat.

Dua bola biru tosca menatap tajam diantara kelopak matanya yang
berkantung lembab, tanda usia perjalanan hidup telah jauh dilaluinya.
Saya yang duduk tepat lurus dalam arah tatapannya hanya bisa tergagap.
Hanya bisa melipat-lipat bibir dan tidak tahu harus menjawab apa.

Sekarang sekalipun baru masuk senja, tapi sudah jam 10 malam, dan
pertanyaan dia tadi pagi masih tetap terngiang. Ya, kenapa saya harus
menyesuaikan rencana liburan saya dengan kantor. Kenapa untuk
bersenang-senang harus menunggu petunjuk dari orang lain. Padahal,
kantor atau siapapun, pasti punya rencananya sendiri, pasti pula punya
kesenangan masing-masing.

Gerry baru gabung sebulan yang lalu, sebelumnya kerja di Farnborough
menggarap proyek euro-fighter, katanya. Sebelumnya lagi, hampir 40
tahun kerja sebagai “kontraktor” .. yaaa kemana-mana. Dia sudah tidak
ingat lagi nama-nama perusahaan atau proyek yang pernah disinggahinya.

“Amazing…. even two years… is really…too long…”, saya ingat
komentar yang selalu saya dengar setiap kali saya menjawab….
“Saya sudah hampir tiga tahun bekerja disini…”. dengan bangga.

Saya tidak yakin si Gerry juga akan bersama saya lebih dari 6 bulan,
karena 2 minggu lalu dia berbicara lama melalui mobile-phonenya, dia
dengan suara kencangnya bernegosiasi pay-rate dan starting date.
Untuk mereka, selalu saja semudah mencari semudah meninggalkan.
Easy come easy go…. ah.

Persis teman-teman lain saat baru masuk yang kemudian sudah pula
minggat keluar, dia juga mengeluh soal cost of living di Pulau.
“Disini serba mahal tapi nice place and very quite..”, katanya saat
dulu pertama datang dan langsung cerita segala macam termasuk kalau
dia sedang mencari pub seputar Newport. Tapi saya diam.

Sama seperti hampir semua englishman diatas angkatan Mick Jagger
yang saya kenal, Gerry juga mencari pub untuk menghabiskan seluruh
off-hours dari kegiatan rutin-nya bekerja. Seperti dulu dia bilang,
“Ya..saya sedang memilih-milih living room…”, sambil terkekeh.

Dan saya sudah belajar untuk diam, untuk “sabar” seperti englishman,
untuk tidak beramah-tamah bertanya “Lalu keluarga kamu bagaimana ?”
Kecuali kalau saya ingin melihat dua alis dan kening berkerut.
Karena Pub untuk mereka sudah lama telah menjadi “ruang keluarga”,
tapi pub juga bukan tempat untuk melarikan diri dari keluarga…

Tentu saja sumpah, saya belum berpikir untuk “punya” Pub, karena
saya tidak sedang lari dan tidak juga sedang mencari keluarga.

Saya hanya sedang kepikiran, kenapa seluruh waktu yang saya miliki
harus dedicated untuk kepentingan “kantor” tempat saya bekerja.
Padahal, kantor saya bukan pub dan juga pasti bukan keluarga….

Sampai jam 12 tengah malam sekarang, mata tosca Gerry serasa
mulai memudar menjadi abu-abu. Namun semakin lekat menatap.
Menunggu jawaban tapi mulai tanpa banyak berharap.
Sekarang, semua ingatan percakapan tadi pagi bertambah lengkap.
Muka putih, rambut putih, kumis putih tampak jelas mengkilap.

Namun kata tanya ini pun tidak juga mau menguap.
“Why,..kenapa rencana holiday kamu mesti tergantung kesibukan kantor ?”,
Atau kenapa harus bilang, pekerjaan masih menumpuk dikantor ?.

tadinya saya ingin bilang, karena saya work-alcoholic. ….
tapi sebelum saya menarik selimut…..
sebelum pikiran jernih yang tersisa mulai tercerabut
Saya sungguh-sungguh mulai ingat… dan sungguh-sungguh takut.

Karena ternyata bukan liburan yang yang sulit dilakoni….
tapi justru karena pekerjaan yang tidak pernah mudah dicari.
Not easy come… so not easy to let her go.

bahkan ditinggal untuk sejenak holiday ?.
Ya Gerry… kamu tidak akan pernah faham, karena kamu beruntung.

Tapi semoga saja, anak-anak saya kelak juga tidak akan pernah faham….
kenapa liburan selalu berat untuk dipikirkan.

Thetis Road, 20080801
Sutresna

—– Just another ordinary people ——
—- http://djayawikarta .wordpress. com ——

Sehat by accident

Setengah berjibaku saya merogohi semua kantung celana. Dada, paha
dan perut dan terakhir jidat ditepuk-tepuk, tapi suara ringtone
lagu Faith Hill – the way you love me – tetap mengalun sampai hampir
sepenuh lagu. Dan akhirnya saya pun menyerah. Biarkan si cantik Faith
Hill menghabiskan syair lagu riang-nya.

“Your dance was amazing….” , si Mike teman kerja, migrant Aussie
di seberang meja tiba-tiba menyadarkan kalau dari tadi saya
memperagakan tari Saman. Cuma saja saya menepuk-nepuk paha dan
dada sambil berdiri dan berjongkok.

Bunyi ringtone HP tidak berhenti oleh sekali dua tepuk. Tentu saja
bukan karena HP saya super canggih. Bukan pula saya gugup karena
ringtonenya bergaya anak remaja, tentu saja tidak. HP saya tidak
berhenti berbunyi semata-mata karena memang tidak kena tepukan,
dia ada dikolong meja.

Setelah saya melambaikan tangan ke sekeliling, say hello untuk
teman-teman kerja yang jadi penonton. Lalu sedikit membungkuk
memberi takzim dan meminta semua penonton untuk kembali menekuni
pekerjaannya masing-masing. Dan pertunjukan tari saman pun usai.

Baru saja sang HP dalam genggaman, belum sempat melihat missed call.
Faith Hill kembali bernyanyi riang. Tapi, kali ini saya sigap memijit
tombol yang ada gambar telepon hijaunya.

“Helllooo, I am doctor Finch….”, suara dari seberang jelas terdengar
tapi bukan aksen English bukan pula British….

“You are looking for your medical report, aren’t you..?” Pelahan dan
kata-katanya jelas. Dan saya buru-buru bilang iya-iya. Dokter Finch
adalah dokter yang menggantikan GP saya yang kebetulan sedang Holiday.

Minggu lalu saya diminta oleh NHS untuk test-darah, tentu saja saya
bersungguh-sungguh ingin mendengar laporannya. Saya beruntung, atau
mungkin juga semua pasien immigran di Inggris beruntung. Karena
hampir semua dokter yang praktek di Inggris…adalah juga immigran.
Karena immigran maka ucapan English-nya jadi lebih jelas didengar.

Kebanyakan dokter disini import dari India, Germany, USA dan Spain.
Perawatnya banyak aseli English dan Filipina. Dokter Finch yang
mau-maunya memberi laporan panjang lebar dengan gratis pula, juga
berasal dari Germany.

Sekalipun ucapannya jelas, tapi terus terang saja sebelum muncul
kata-kata kolesterol, semua kata-kata dokter yang bisa saya fahami
hanya kata-kata… .”It’s excellent… everything fine…OK… “.
Banyak item yang disebut tapi saya cuma ingat excellentnya saja.
dan saya pun mudah menanggapinya cukup dengan thank you-thank you.

Karena saya tahu, penyakit orang Indonesia yang kebetulan bisa cukup
makan selalu tidak jauh dari Cholesterol atau juga asam urat dan
overweight. Itu satu sisi, sementara sisi kedua juga rada extreem,
kurus banget atau bahkan busung laper. Saya boleh jadi hampir masuk
kedalam golongan extremis yeng kedua.

Menjelang akhir laporannya, doketr Finch nanya…”Any question ?”
Kesadaran generik yang mendorong mulut saya berbunyi lagi-lagi
“Cholesterol ?”, karena tadi penjelasan tentang cholesterol sedikit.

“Ya..ya.. your cholesterol very fine….”, lumayan tegas dia.

Tentu saja saya pun bergegas bilang thank you berulang-ulang.
Bisa thank-you untuk cholesterol saya yang fine, tapi jujur saja
ucapan thank you saya lebih karena saya merasa di-manusia-kan. …

Menjadi manusia yang telah dengan sengaja ditelepon dokter Germany.
Atau, juga justru dokter Finch yang memang lebih manusia karena
mau-maunya memberi laporan hampir 15 menit dengan pordeo. Laporan
kesehatan saya untuk kepentingan saya sendiri.

Tapi ketika saya merasa berkesempatan untuk nanya pantangan… .
mulai nanya-nanya jenis-jenis makanan. Tiba-tiba dia memotong,
“Hold on…hold on…do you eat meat ?”, pertanyaan rada aneh
untuk saya, tentu saja rasanya semua orang suka daging.

Waktu saya balik tanya, kenapa nanya makan daging….dia malah
terdengar tertawa….” It’s look like a vegetarian.. .”,.katanya.

Awalnya saya penasaran dengan komentar dia terakhir, tapi
kemudian saya dapat pencerahan.. ..” Aha…dia tidak tahu kalau
saya aseli orang Bandung sang pelahap segala raw vegetable.”

Dan kalaupun saya makan daging, maka pastilah tidak akan tersisa
dalam aliran darah. Karena dua kerat daging dalam seminggu mana
mungkin cukup tersisa, dipake untuk jalan kaki 30 menitpun kurang.

Boleh jadi, sesuai judul surat NHS tentang survey life-style.
Semua life-style saya tidak ada yang sehat dan tidak menyehatkan.
Tapi kesanggupan dan keikhlasan saya mengunyah raw vegetable plus
terpaksa doyan menggenjot jempol kaki, merupakan satu-satunya alasan
yang membuat dokter Finch bilang dengan ringan….excellent …. katanya.

Cara hidup sehat ternyata bisa juga karena “kecelakaan” atau memang nasib.

Whippingham, 20080730
Sutresna