“Why,..kenapa rencana holiday kamu mesti tergantung kesibukan kantor ?”,
Gerry, yang mengaku orang Sussex bertanya. Sepuluh jari tangannya
terjalin dengan kedua siku bertumpu diatas meja. Kedua bahunya sedikit
melengkung kedepan seolah terbebani oleh kepalanya yang berat.
Dua bola biru tosca menatap tajam diantara kelopak matanya yang
berkantung lembab, tanda usia perjalanan hidup telah jauh dilaluinya.
Saya yang duduk tepat lurus dalam arah tatapannya hanya bisa tergagap.
Hanya bisa melipat-lipat bibir dan tidak tahu harus menjawab apa.
Sekarang sekalipun baru masuk senja, tapi sudah jam 10 malam, dan
pertanyaan dia tadi pagi masih tetap terngiang. Ya, kenapa saya harus
menyesuaikan rencana liburan saya dengan kantor. Kenapa untuk
bersenang-senang harus menunggu petunjuk dari orang lain. Padahal,
kantor atau siapapun, pasti punya rencananya sendiri, pasti pula punya
kesenangan masing-masing.
Gerry baru gabung sebulan yang lalu, sebelumnya kerja di Farnborough
menggarap proyek euro-fighter, katanya. Sebelumnya lagi, hampir 40
tahun kerja sebagai “kontraktor” .. yaaa kemana-mana. Dia sudah tidak
ingat lagi nama-nama perusahaan atau proyek yang pernah disinggahinya.
“Amazing…. even two years… is really…too long…”, saya ingat
komentar yang selalu saya dengar setiap kali saya menjawab….
“Saya sudah hampir tiga tahun bekerja disini…”. dengan bangga.
Saya tidak yakin si Gerry juga akan bersama saya lebih dari 6 bulan,
karena 2 minggu lalu dia berbicara lama melalui mobile-phonenya, dia
dengan suara kencangnya bernegosiasi pay-rate dan starting date.
Untuk mereka, selalu saja semudah mencari semudah meninggalkan.
Easy come easy go…. ah.
Persis teman-teman lain saat baru masuk yang kemudian sudah pula
minggat keluar, dia juga mengeluh soal cost of living di Pulau.
“Disini serba mahal tapi nice place and very quite..”, katanya saat
dulu pertama datang dan langsung cerita segala macam termasuk kalau
dia sedang mencari pub seputar Newport. Tapi saya diam.
Sama seperti hampir semua englishman diatas angkatan Mick Jagger
yang saya kenal, Gerry juga mencari pub untuk menghabiskan seluruh
off-hours dari kegiatan rutin-nya bekerja. Seperti dulu dia bilang,
“Ya..saya sedang memilih-milih living room…”, sambil terkekeh.
Dan saya sudah belajar untuk diam, untuk “sabar” seperti englishman,
untuk tidak beramah-tamah bertanya “Lalu keluarga kamu bagaimana ?”
Kecuali kalau saya ingin melihat dua alis dan kening berkerut.
Karena Pub untuk mereka sudah lama telah menjadi “ruang keluarga”,
tapi pub juga bukan tempat untuk melarikan diri dari keluarga…
Tentu saja sumpah, saya belum berpikir untuk “punya” Pub, karena
saya tidak sedang lari dan tidak juga sedang mencari keluarga.
Saya hanya sedang kepikiran, kenapa seluruh waktu yang saya miliki
harus dedicated untuk kepentingan “kantor” tempat saya bekerja.
Padahal, kantor saya bukan pub dan juga pasti bukan keluarga….
Sampai jam 12 tengah malam sekarang, mata tosca Gerry serasa
mulai memudar menjadi abu-abu. Namun semakin lekat menatap.
Menunggu jawaban tapi mulai tanpa banyak berharap.
Sekarang, semua ingatan percakapan tadi pagi bertambah lengkap.
Muka putih, rambut putih, kumis putih tampak jelas mengkilap.
Namun kata tanya ini pun tidak juga mau menguap.
“Why,..kenapa rencana holiday kamu mesti tergantung kesibukan kantor ?”,
Atau kenapa harus bilang, pekerjaan masih menumpuk dikantor ?.
tadinya saya ingin bilang, karena saya work-alcoholic. ….
tapi sebelum saya menarik selimut…..
sebelum pikiran jernih yang tersisa mulai tercerabut
Saya sungguh-sungguh mulai ingat… dan sungguh-sungguh takut.
Karena ternyata bukan liburan yang yang sulit dilakoni….
tapi justru karena pekerjaan yang tidak pernah mudah dicari.
Not easy come… so not easy to let her go.
bahkan ditinggal untuk sejenak holiday ?.
Ya Gerry… kamu tidak akan pernah faham, karena kamu beruntung.
Tapi semoga saja, anak-anak saya kelak juga tidak akan pernah faham….
kenapa liburan selalu berat untuk dipikirkan.
Thetis Road, 20080801
Sutresna
—– Just another ordinary people ——
—- http://djayawikarta .wordpress. com ——
0 Tanggapan ke “Gerry tidak pernah faham . . . .”