Sehat by accident

Setengah berjibaku saya merogohi semua kantung celana. Dada, paha
dan perut dan terakhir jidat ditepuk-tepuk, tapi suara ringtone
lagu Faith Hill – the way you love me – tetap mengalun sampai hampir
sepenuh lagu. Dan akhirnya saya pun menyerah. Biarkan si cantik Faith
Hill menghabiskan syair lagu riang-nya.

“Your dance was amazing….” , si Mike teman kerja, migrant Aussie
di seberang meja tiba-tiba menyadarkan kalau dari tadi saya
memperagakan tari Saman. Cuma saja saya menepuk-nepuk paha dan
dada sambil berdiri dan berjongkok.

Bunyi ringtone HP tidak berhenti oleh sekali dua tepuk. Tentu saja
bukan karena HP saya super canggih. Bukan pula saya gugup karena
ringtonenya bergaya anak remaja, tentu saja tidak. HP saya tidak
berhenti berbunyi semata-mata karena memang tidak kena tepukan,
dia ada dikolong meja.

Setelah saya melambaikan tangan ke sekeliling, say hello untuk
teman-teman kerja yang jadi penonton. Lalu sedikit membungkuk
memberi takzim dan meminta semua penonton untuk kembali menekuni
pekerjaannya masing-masing. Dan pertunjukan tari saman pun usai.

Baru saja sang HP dalam genggaman, belum sempat melihat missed call.
Faith Hill kembali bernyanyi riang. Tapi, kali ini saya sigap memijit
tombol yang ada gambar telepon hijaunya.

“Helllooo, I am doctor Finch….”, suara dari seberang jelas terdengar
tapi bukan aksen English bukan pula British….

“You are looking for your medical report, aren’t you..?” Pelahan dan
kata-katanya jelas. Dan saya buru-buru bilang iya-iya. Dokter Finch
adalah dokter yang menggantikan GP saya yang kebetulan sedang Holiday.

Minggu lalu saya diminta oleh NHS untuk test-darah, tentu saja saya
bersungguh-sungguh ingin mendengar laporannya. Saya beruntung, atau
mungkin juga semua pasien immigran di Inggris beruntung. Karena
hampir semua dokter yang praktek di Inggris…adalah juga immigran.
Karena immigran maka ucapan English-nya jadi lebih jelas didengar.

Kebanyakan dokter disini import dari India, Germany, USA dan Spain.
Perawatnya banyak aseli English dan Filipina. Dokter Finch yang
mau-maunya memberi laporan panjang lebar dengan gratis pula, juga
berasal dari Germany.

Sekalipun ucapannya jelas, tapi terus terang saja sebelum muncul
kata-kata kolesterol, semua kata-kata dokter yang bisa saya fahami
hanya kata-kata… .”It’s excellent… everything fine…OK… “.
Banyak item yang disebut tapi saya cuma ingat excellentnya saja.
dan saya pun mudah menanggapinya cukup dengan thank you-thank you.

Karena saya tahu, penyakit orang Indonesia yang kebetulan bisa cukup
makan selalu tidak jauh dari Cholesterol atau juga asam urat dan
overweight. Itu satu sisi, sementara sisi kedua juga rada extreem,
kurus banget atau bahkan busung laper. Saya boleh jadi hampir masuk
kedalam golongan extremis yeng kedua.

Menjelang akhir laporannya, doketr Finch nanya…”Any question ?”
Kesadaran generik yang mendorong mulut saya berbunyi lagi-lagi
“Cholesterol ?”, karena tadi penjelasan tentang cholesterol sedikit.

“Ya..ya.. your cholesterol very fine….”, lumayan tegas dia.

Tentu saja saya pun bergegas bilang thank you berulang-ulang.
Bisa thank-you untuk cholesterol saya yang fine, tapi jujur saja
ucapan thank you saya lebih karena saya merasa di-manusia-kan. …

Menjadi manusia yang telah dengan sengaja ditelepon dokter Germany.
Atau, juga justru dokter Finch yang memang lebih manusia karena
mau-maunya memberi laporan hampir 15 menit dengan pordeo. Laporan
kesehatan saya untuk kepentingan saya sendiri.

Tapi ketika saya merasa berkesempatan untuk nanya pantangan… .
mulai nanya-nanya jenis-jenis makanan. Tiba-tiba dia memotong,
“Hold on…hold on…do you eat meat ?”, pertanyaan rada aneh
untuk saya, tentu saja rasanya semua orang suka daging.

Waktu saya balik tanya, kenapa nanya makan daging….dia malah
terdengar tertawa….” It’s look like a vegetarian.. .”,.katanya.

Awalnya saya penasaran dengan komentar dia terakhir, tapi
kemudian saya dapat pencerahan.. ..” Aha…dia tidak tahu kalau
saya aseli orang Bandung sang pelahap segala raw vegetable.”

Dan kalaupun saya makan daging, maka pastilah tidak akan tersisa
dalam aliran darah. Karena dua kerat daging dalam seminggu mana
mungkin cukup tersisa, dipake untuk jalan kaki 30 menitpun kurang.

Boleh jadi, sesuai judul surat NHS tentang survey life-style.
Semua life-style saya tidak ada yang sehat dan tidak menyehatkan.
Tapi kesanggupan dan keikhlasan saya mengunyah raw vegetable plus
terpaksa doyan menggenjot jempol kaki, merupakan satu-satunya alasan
yang membuat dokter Finch bilang dengan ringan….excellent …. katanya.

Cara hidup sehat ternyata bisa juga karena “kecelakaan” atau memang nasib.

Whippingham, 20080730
Sutresna

0 Tanggapan ke “Sehat by accident”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.