Arsip untuk September, 2008

Indonesia Tanah Aiiiir Beeeta

Aneh memang, sejak jauh dari tanah air, jauh dari tanah
pusaka, saya jadi suka sekali lagu Ismail Marzuki yang
ternyata berjudul Indonesia Pusaka, dan bukan “Indonesia
tanah air Beta” seperti yang saya yakini selama ini.
Tentu ini bukan karena semakin engkau jauh semakin aku tahu…

Ada kenikmatan yang susah diceritakan saat mendengarkannya,
terutama saat mendengar “….tempat berlindung dihari tua”.
Mirip kenikmatan saat duduk dikursi Roller Coaster yang
sedang meluncur menurun dengan kecepatan tinggi. Kombinasi
nikmat antara harapan, kecintaan sekaligus kekhawatiran.

Mungkin karena berharap menikmati lagu Indonesia Pusaka
ini pula saya selalu bersemangat ikutan setiap acara
17-Agustusan bersama teman-teman warga Indonesia di
Isle of Wight.

Acara peringatan hari Kemerdekaan RI ke 63 kemarin
seperti biasa, seperti dimanapun selalu dimotori oleh
para ladies, ibu, tante, mbak dan teteh. Namanya juga
ulang tahun Ibu Pertiwi. Para bapak, pak-de, oom, mas,
akang, blek dan any other gentleman cukup jadi pembantu
umum saja, ngangkat-ngangkat dan manjat-manjat meja.

Anak-anak yang English nya lebih bisa difahami orang
Inggris bertugas menjadi pengisi acara. Berlomba,
bernyanyi, menari, main musik, deklamasi, fashion
show dan apapun yang bisa mereka lakukan. Karena seperti
judulnya lagu Sting the Police ..”every little thing
she does is magic..”. Dan semua orang suka keajaiban.

Acara puncak peringatan diselenggarakan hari Sabtu
tanggal 23 Agustus 2008, di St Andrew Community Hall.
Gedung bekas gereja yang disumbangkan kepada Council,
Pemkot Isle Of Wight untuk gedung serbaguna seluruh
warga. Siapapun boleh mempergunakan.

Kita, warga Indonesia sebenarnya meminjam gedung untuk
pemakaian 5 jam, dari jam 1 siang sampai jam 6 sore.
Tapi fihak Pemkot sepertinya maklum, makanya sebelum
kita minta maaf, kita diperbolehkan mulai buka kunci
untuk “beres-beres” persiapan sejak hari Jumat-nya.
Petugas Council rupanya tahu, lima jam mana cukup
untuk

Seolah mengikuti bilangan tahun merdeka, acara kali ini
pun dimeriahkan oleh lebih 63 warga. Terdiri dari 17
umpi, Indonesian citizen dan juga British citizen yang
masih memiliki setetes darah dan sekerat hati Indonesia.

Jumlah 63 orang tentu sangat kecil dibanding 234 juta
penduduk Indonesia yang merayakan 17 Agustusan. Tapi
kemeriahan, keceriaan, kekhidmatan dan rasa kecintaan
yang tumbuh disaat perayaan rupanya tidak pernah peduli
dengan bilangan.

Jumlah 63 orang tidak pernah kekurangan penonton dan
juga tidak pernah kekurangan penampil. Tidak kekurangan
pengunjung dan juga tidak kekurangan panitia. Karena
ternyata jumlah panita 63, penonton 63, tamu 63 dan
artis juga ada 63 orang. Kalau bukan kita-kita memang
siapa lagi…. 63 orang harus bertanggung jawab untuk
terciptanya keceriaan 63 orang.

Saya sering bermimpi, andai yang berperan dan peduli
dengan “keceriaan 234 juta warga negara Indonesia” pun
sebanyak 234 juta pula. Tentu akan elok sekali jika tidak
ada lagi warga negara yang hanya jadi warga penonton.
Akan elok pula jika tidak lagi ada warga yang terasing
karena tidak bisa ikutan ceria.

Saya doyan 17-Agustusan sebenarnya sudah sejak baheula
jaman anak-anak. Dulu waktu di Bandung, saya yang selalu
dengan sengaja memaksa setiap acara 17-an supaya ada
upacara-nya, ada nyanyi Indonesia Raya nya. Tapi sekarang
disini, sepertinya semua orang yang memaksa harus ada
upacara lengkap dengan Indonesia Raya. Dan saya cuma
nambah persyaratan, supaya ada lagu Indonesia Pusaka juga.

Alasan pemilihan waktu perayaan tanggal 23 juga lebih
banyak karena ikut kebiasaan di Indonesia. Mirip
penyelenggaraan acara Halal-Bihalal, selain di Istana,
perayaan warga selalu diselenggarakan sesudah D-Day.
Alasan lain karena tanggal 17 merupakan hari Minggu
yang tersisa yang cocok untuk lomba karaoke. Dan Karaoke
cocok untuk menyanyikan lagu apapun selain lagu-lagu
Indonesia raya atau Indonesia Pusaka.

Kita rupanya sekalipun hanya Republik Indonesia kelas
Fillial yang jauh dari Jakarta. Tapi tetap saja merasa
harus menempatkan upacara 17-Agustusan sebagai upacara
sakral dan harus khidmat. Dan lomba karaoke sangat jauh
dari sakral, lomba karaoke adalah kesempatan eksplorasi
semua lagu Indonesia mulai lagu-lagu dangdut Meggy Z
sampai lagu-lagu Sunda Nining Maeda.

Untuk keperluan juri lomba karaoke, kita tidak mengundang
juri dari IKJ Jakarta, tidak juga mengundang dosen London
Music School. Kita memberdayakan kuping yang ada. Saat
anak-anak berkaraoke maka semua the ladies jadi juri.
Saat ibu-ibu berlomba, maka bapak-bapak yang jadi juri.
Juga saat bapak-bapak berdangdut ria, maka anak-anak yang
hiruk-pikuk memberikan score.

Acara puncak perayaan dibuka tepat 56 menit lebih dari
waktu yang ditetapkan. Prosedur dan urut-urutan upacara
plek persis sama dengan yang biasa kita lihat di TVRI.
Ada sambutan presiden republik cabang Isle of Wight,
ada lagu Indonesia Raya dengan iringan MP3, ada lagu
Sukur dan Hari Merdeka. Perayaan cukup afdol tampaknya.

Tapi tetap saja saya merasa ada yang kurang. Ketika saya
dekati pembawa acara, saya coba tanya dengan berbisik..
“Lagu Indonesia Pusaka nya kapan dinyanyikan ?”.

“Ooo lagu itu sudah dihapus, dibatalkan sama Daddy….”.

Ha ha, saya bisa menebak siapa yang membatalkannya.
Soalnya mungkin pengalaman tahun-tahun lalu… setiap
kali menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, gak pernah tuntas.
Suara selalu tersekat di tenggorokan. Dan jadi ingin
segera pulang…
Entahlah, apa Ismail marzuki dulu sadar saat menciptakan
lagu ini, lagu yang tampaknya memaksa para perantauan
untuk tidak menjadi kacang yang lupa akan kulitnya.

Tapi penghapusan lagu dari acara memang ada benarnya.
Terbukti, semua yang hadir ikut hiruk-pikuk, tidak lagi
pikiran tenggelam atau melayang kekampung halaman.
Jalani saja apa yang didepan mata dan nikmati kemerdekaan
sebagaimana burung camar yang lebih memilih tetap
terbang daripada sekedar berkumpul untuk makan kenyang…

Tapi, itu semua sekedar kutipan dari novel fabel laris
Jonathan Livingstone Seagull karangan Richard Bach.
karena saya masih saja memimpikan syair lagunya Ismail Mz.
….. tempat berlindung dihari tua… katanya.

Dibawah kursi tempat saya duduk, ada dua boks biola.
Dua anak remaja kita sedang nunggu antrian mau tampil.
Dan…thanks God… waktu saya tanya mau mainkan apa,
“Indonesia Pusaka ooom…”. Jawabnya seolah koor.

Dan saya, segera menyiapkan kertas tissue…
Bersiap untuk mengingat kemerdekaan yang telah saya
miliki sehingga saya bisa pergi kemana saja….
Sekaligus bersiap menghayalkan kemerdekaan yang
harus dipertahankan andai saya pulang nanti…
Atau juga cuma bersiap untuk nangis sebagai hiburan…

Betul saja, sekalipun biola tidak bisa berkata-kata
tapi alunan nada-nya mampu menyampaikan pesan…
pesan bagi kita semua yang telah mendapat kemerdekaan
atau bagi kita yang sudah merasa merdeka.

Juga anak-anak yang hanya berceloteh riang, berlari,
menari, tertawa, bernyanyi dan sekalipun tidak mengatakan
sepatahpun kata “merdeka” tapi mereka betul-betul merdeka.

Untuk mereka, masih akan ada puluhan 17-Agustusan lagi
yang akan mereka alami… disini. Nun jauh dari tempat
berlindung di hari tua…
tempat yang ditawarkan Ismail Marzuki.

Dan sepuluh atau belasan tahun lagi mereka akan bebas
memilih tempat berlindung. Apakah akan memilih tempat
yang ditawarkan Ismail Marzuki atau pilih tempat lain…?.

“it’s depends….”, ini jawaban otomatis anak-anak.

Dan ibu-bapaknya…. cuma ikutan anak-anak.

St Andrew, 20080823