Arsip untuk Kategori 'dari Apakabar'

Archbishop William tidak ngajak berkelahi

Konon perang itu “perkelahian” diantara dua kekuatan
yang setara.
Jika tidak setara namanya pembantaian atau penjajahan.

Perang juga hanya hobby dan ciptaan mereka yang kuat.
Tapi pencipta perang tidak pernah ikut berkelahi,
tidak pernah ikutan bertempur, tidak juga terluka.
Yang berkeringat dan berdarah hanya mereka yang lemah.

Karena yang hobbynya berkelahi… .ya hanya yang lemah.
Orang yang lemah ditakdirkan untuk selalu berkelahi…
tapi tidak akan mampu menciptakan peperangan.
Orang yang lemah selalu berkelahi untuk perang yang
bukan miliknya dan bukan ciptaannya.

Uang adalah satu-satunya wujud kekuatan.
Faith, love, fairness, humanism, keinginan berbagi…
adalah sekedar bagian dari cita-cita yang dimiliki manusia.
Cita-cita yang mendorong manusia menolong manusia lain…
sekaligus juga menjadikan manusia tega melukai manusia lain.

Dan UANG, kekuatan yang memainkan keseluruhan cita-cita.
sudah takdirnya… .orang lemah hanya punya cita-cita.
dan sangat mudah untuk disuruh berkelahi demi cita-cita.

Boleh jadi, dunia hanya terbagi dua sayap..

Left-wing yang terdiri dari koalisi marxist, sosialis,
religius apapun (dari anglican, islam, kristen sampai kejawen),
para pekerja dan orang-orag yang sedang merasa terpinggirkan.

Right-wing yang terdiri dari koalisi kapitalis,
bangsawan manapun (dari inggris, arab sampai melayu dan jawa),
orang yang kebetulan sedang berkuasa atau juga orang yang
sedang merasa sukses.

Dunia hanya terbagi dua….
yang lebih beruntung dan yang belum beruntung.
yang lebih kuat dan yang lebih lemah
Sayap-kanan dan sayap-kiri.

Archbishop Willian…hanya salahsatu pemimpin kaum lemah…
pemimpin ummat SAYAP-KIRI yang hanya memiliki cita-cita.
Ajakannya untuk “menyatukan” seluruh ummat sayap-kiri
tentu saja akan merusak tatanan dunia yang selama ini ada.

karena kalau semua umat sayap-kiri.. atau umat yang lemah,
ummat yang hanya bermodal cita-cita mau bersatu
menjadi “kekuatan BARU”.
Maka mustahil lagi ada yang bersedia BERKELAHI.
mustahil pula kaum SAYAP-KANAN merancang dan menggelar perang.

Jika ajakan Archbishop William malah melahirkan perkelahian. ..
maka sungguh terbukti…
bahwa MENGANUT AGAMA APAPUN sekedar wujud kelemahan.
dan menjadi permainan empuk penguasa uang, kaum-kanan.

Maka….
jangan pernah mau berkelahi, jangan pernah mau bertempur,
jangan mau buru-buru mati demi cita-cita.

Jadilah penganut agama … bukan karena lemah.

20080209,
DjayaWikarta

Pendidikan dinegara ini yang kurang bermutu atau

Bung Jasp wrote in apakabar@:
> Inilah yang terjadi dengan dunia pendidikan di Indonesia, mungkin
> mutu yang kurang bagus, mungkin daya serap pasar yang tak bergairah
> dan mungkin juga memang pemerintah tak sanggup menciptakan
> lapangan kerja.
>>>>>
Saking terbiasanya mendengar “MUTU Pendidikan” atau kalimat
“pendidikan yang bermutu”. Sehingga suatu saat saya ditanya,
hanya bisa menjawab otomasti….

“Pendidikan bermutu…jika lulusannya mudah NYARI KERJA”.

Dan jika semua lulusan Amrik dan Eropah berbondong-bondong
datang ke Indonesia…. untuk nyari kerja maupun bikin kerjaan….

Maka saya jamin, kita akan mendapat kesimpulan baru…
pendidikan Amrik dan Eropah…. sangat TIDAK BERMUTU.

Saya kira, “mutu pendidikan” atau “pendidikan yang bermutu”
sekedar JARGON KOSONG… selama kalimat ini dikaitkan dengan
penyerapan tenaga kerja.
Atau paling juga sekedar iklan kursus keterampilan menjahit….

Kalaupun harus dipaksakan … akan lebih tepat kalau dikatakan…
“Sempitnya lapangan kerja di Indonesia adalah akibat dari
BURUKNYA MUTU pendidikan dari ORANG-ORANG PINTER Indonesia.

Pengangguran sekarang adalah akibat BURUKNYA MUTU orang-orang
yang sekarang memiliki pekerjaan dan memiliki penghidupan.

Mereka… yang sekarang menganggur adalah korban dari
kerakusan orang yang berkuasa dan kerakusan kita-kita juga
yang sekarang BERUNTUNG punya kerjaan.

Jika kerakusan “orang-orang beruntung” seperti sekarang
terus ebrlanjut…. maka jangan salahkan kalau sebentar lagi
akan lahir Marxist-Marxist Indonesian yang lebih buruk daripada
sekedar minta pemerataan kesempatan kerja.
_________________

DjayaWikarta

Re: Megawati: Kenapa Dulu Tidak Pilih Aku?

[quote="Bung Jasp"]

Sekarang mau mencalonkan diri lagi ? Masak PDIP nggak punya orang
muda yang memiliki potensi ? Presiden SBY mungkin saja menari
Poco-poco, tapi kan nggak mengkhianati kader partai pendukungnya ?
Pengkhianat kader partai nggak layak menjadi pemimpin bangsa , ntar
bangsa Indonesia yang dikhianati gimana ? [/quote]

Saya masih terkesan dengan kelahiran PDIP.
Seperti bayi raksasa yang dilahirkan ibu rumah tangga.

Bukan salah ibu rumah tangga karena telah melahirkan…  tentu saja.
Siapapun berhak melahirkan, termasuk melahirkan partai.

Kesalahan terletak pada “bapak-bapak nya”… para kader PDIP
yang telah melihat opportunity serta memaksa si ibu melahirkan raksasa….
dan lalu memanfaatkan ke-lugu-an si-ibu yang “teraniaya” penguasa.

Cilakanya, makanan pokok yang telah membesarkan PDIP sehingga
menjadi raksasa di Pemilu 98….hanya BELAS KASIHAN.
Keter-aniaya-an si ibu dan juga keter-aniayaan Sukarno bapaknya si ibu
terus dijadikan modal kampanye oleh kader PDIP.

Jualan BELAS KASIHAN ditengah masyarakat yang “ajeg teraniaya”
tentu saja seperti mengobral Blue Chip di bursa-efek… laku keras.
Tapi… komoditas BELAS KASIHAN adalah NARKOTIC
komoditas yang menggiurkan tapi sekaligus menciptakan halusinasi.

Gaya baru PDIP sekarang, yang selalu offensive…kritik sana-sini
malah terkesan aneh…. karena modal PDIP bukan kritikus….
Kritikus bukan benih yang membuat PDIP lahir.

Menurut saya… bayi raksasa PDIP harus dilahirkan ulang….
supaya gen yang dipenuhi narkoba “teraniaya” ikutan hilang.

Karena memilih pemimpin bangsa dengan alasan “teraniaya”
merupakan pelanggaran bangsa Indonesia terhadap hukum alam..  
Dan para kader yang dulu dengan sadar memanfaatkan keteraniayaan
bolehlah digolongkan telah melakukan kebiadaban alam….    :cry:       

DjayaWikarta

Re: Suharto harus diadili

bebek rewel wrote:

>>> Lah yang kemaren2 bebek bilang itu apaan =__=”"”
>>> Kitik2 kasus Soeharto supaya ketemu temen2nya?
 
Jika tujuan kitik-kitik hanya untuk ketemu “temen-temen Suharto”
Bebek …masih salah

Sekarang sudah ketemu temennya Suharto….
tapi yang model Ron… 
Bebek telah menggali-gali lubang tikus…. tapi yang keluar
justeru beruang …. kan cilaka.
Apalagi beliau “orang intelejen”, bisa-bisa Bebek nanti di-munir-kan.

“Kasus Suharto” atau kasus apapun harus tetap rajin dikitik-kitik
supaya tetap terbuka.
Supaya anak-anak Bebek bisa belajar sejarah
bukan cuma belajar berenang 

Bebek jangan meniru-niru demonstran dan politikus petualang…
yang teriak-teriak hanya karena berbakat pecudang…
tapi memaksakan segala cara supaya menang.

Bukankah korupsi jaman sekarang lebih terang benderang ?.
Karena begitulah teori Inferior Syndrome bilang….
“petruk mundak dadi ratu” jika pecundang yang menang. 

Bebek harus meneruskan kitik-kitik…
supaya kita semua bisa juga melihat WUJUD aseli lawan-lawan Suharto…
yang sekarang “sudah hidup sejahtera dan diam tenteram “
maupun yang masih “berkutat menuntut keadilan”.

Kita…. tentu saja sekedar generasi PEMBACA SEJARAH
yang akan sangat senang kalau bacaan kita lengkap dan make sense.
Kita sekedar generasi penonton Premier Liga
yang akan hepi jika setiap pertandingan berjalan cantik dan FAIR.

Kebenaran…. bukan monopoli pemenang,
bukan pula monopoli pecundang.

Demikian kata pepatah ulama-ulama agama sepakbola….

_________________
DjayaWikarta

Just Another Ordinary People

Science butuh Tuhan

Dikirim: Kam Desc 20, 2007 8:27 pm
Judul: Re: Kenapa saya masih jadi ateis, tidak juga bertobat?

——————————————————————————–

Kibroto wrote:
> >>

# Dus, tuhan harus ada karena anda ingin terus hidup. Andai ada yang
# bisa nyucup ubun2 tuhan anda, anda ingin euthanasia?

> Agnostic….. definisinya Kibroto….. perahu kertas yang takut air.

# Theist definisi sampiyan : tuhan harus ada karena manungsia ingin hidup?

>>>>

Hampir betul … tapi baru terlihat
dan untuk tepat belun cukup dekat.
tebakan anda seperti jarak telunjuk anda ke bulan.
(mudah-mudahan anda bukan kosmonot atau astronot..)

pengenalan “keberadaan” Tuhan,
tidak ada urusannya dengan keinginan hidup atau mati.
Keinginan hidup lebih karena rasa optimis, dan yang ingin mati
hanya orang yang tidak optimis …di dunia.

seperti yang mendefinisikan KEMATIAN, ternyata hanya
orang-orag yang masih hidup. Juga yang mendefinisikan Tuhan.

sebagaimana azas demokrasi, setiap orang berhak dengan
kebenarannya sendiri. Maka kita tidak bisa memaksa “orang mati”
ikutan definisi kita yang masih hidup…..
Orang yang “sudah mati”… tentu boleh saja tetap merasa
dan tetap mengaku masih hidup.

Dan… tentu saja, “orang yang sudah mati” punya definisi sendiri
tentang Tuhan. Bahkan dia boleh-boleh saja ngaku telah melihat Tuhan
dengan mata dan kepalanya sendiri.
Ini bukan ilmu agama tentu saja…. tapi ilmu demokrasi.

Dalam hal ini, Atheist selain cupet…juga tidak demokratis.

Agnostic definisi anda memang “perahu kertas”. yang sama sekali
jauh dari “konsesi keyakinan” yang harus dimiliki setiap scientist.
Scientist, adalah perahu yang mau terus berlayar menuju kearah
yang PASTI … pada saat panca indera-nya belum bisa melihat target.
Kalau “tidak yakin ada”….. seperti definisi anda, pasti bukan scientist.

Scientist tidak akan menghamburkan waktu tidur dan man-hour
untuk sesuatu yang tidak “diyakini akan ada”….
padahal PASTI BELUM ADA.

hanya scientist “pelat merah” di Indonesia yang bekerja nyains…untuk
sesuatu yang sudah ada …. sorry….. but its true.

Dan, ketika tahun lalu nonton tayangan BBC tentang evolusionist
sejati penganut ajaran Darwin di England disatu sisi dengan creationist
di Kentucky US di sisi lain…. yang juga mengaku “jiwaraga Tuhan”.

Keduanya sama-sama memperagakan “keyakinan Biggot”, cuma saja
berseberangan “tidak ada Tuhan” dan “ada Tuhan”.

Diakhir tayangan, saya sangat setuju komentar wartawan BBC…..
“ini bukan soal keyakinan science…juga bukan keyakinan Tuhan…..
tapi keduanya sama….. keyakinan yang sangat menakutkan.

Tapi Keyakinan…. atau ….Tuhan-nya science…. memang harus ada dulu.
Agar nanti setiap PRESTASI…yang mungkin diraih. tidak perlu lagi repot
diyakini sebagai kebenaran sejati….. dan kerja jalan terus…. juga hidup.

O..iya, begadang nya scientist…. tentu bukan untuk membuktikan Tuhan.
karena memang Tuhan tidak perlu dibuktikan….
Tapi di-BUTUHkan….harus ada….. agar science terus berlayar.
Karena science bukan perahu kertas yang mustahil berani masuk air.

_________________
DjayaWikarta

Just Another Ordinary People

Nabi Muhammad Pemimpin SEKULER sejati

Sekuler konon memisahkan urusan manusia dari urusan Tuhan  :)
Tidak begitu jelas memang, apa karena nabi Muhammad yang
berpandangan sekuler atau memang Al-Quran yang diturunkan
sudah dalam format sekuler dari sono-nya.

Orang hanya melihat sejarah Hijrah ke 2 Nabi ke Madinah
semata-mata withdrawal atau emigrasi Muslimin dari kota
suci Mecca. Alasan kenapa Hijrah tentu juga sudah banyak
dituliskan. Mulai dari alasan menghindari tekanan warga
Mekah sampai alasan….karena memang takdirnya begitu.

Dan yang sungguh menarik justru alasan terakhir, takdir.
Takdir sebagai rahasia Tuhan, dan tentu saja setiap rahasia
selalu lebih thinkable daripada hal yang terang benderang.

Ajaran Islam yang terangkum secara textual dalam Al-Quran
sedemikian lengkapnya…kata orang Muslim. Dan lain pula
orang yang bukan Muslim bilang, Al-Quran terlalu serakah
sampai merangkum hal-hal yang tetek-bengek, sampai ngatur
segala urusan pribadi.

Lalu mana yang benar ?. Tentu saja memang benar Al-Quran
menuliskan segala macam. Penilaian bahwa segala macam ada
berarti lengkap…atau artinya serakah, sah-sah saja.

Sebagian orang setuju bahwa kitab suci agama memang harusnya
membahas segala keperluan hidup manusia, dunia sampai akhirat.
Tapi sebagian lagi lebih setuju jika Kitab suci agaman hanya
ngatur urusan akhirat, dunia serahkan pada manusia katanya.

Para juru tafsir Al-Quran sepertinya hampir sepakat dalam
memilah-milah ayat-ayat Al-Quran. Katanya, konon yang satu
golongan ayat Makiyah dan yang lain golongan ayat Madaniyah.

lalu katanya lagi, Makiyah menjadi dasar acuan orang dalam
berurusan dengan akidah yang lebih berbau akhirat.
Sementara Madaniyah ngatur urusan fiqih…. ngatur kegiatan
sehari-hari, mulai soal dapur, sumur sampai tempat tidur.
Juga urusan dunia lainnya, seperti urusan bermasyarakat,
bermufakat sampai urusan ber-sarikat.

Sampai disini, sampai two-in-one kandungan Al-Quran, 
orang-orang ujug-ujug merasa faham …. katanya..
“Al-Quran sangat jelas menyatukan urusan dunia dengan
akhirat dalam satu kemasan”.

Tapi tunggu dulu, Nabi Muhammad mungkin belum bilang atau
sengaja mendiamkan… biar manusia yang nimbang-nimbang.
Atau juga mungkin dulu belum ada pelajaran sejarah tentang
bentuk-bentuk pemerintahan…..ada teokrasi, ada demokrasi,
ada monarki, ada otokrasi… dan basa-basi seperti Indonesia.

Tapi, Nabi Muhammad sungguh-sungguh memberi contoh aplikasi,
ngasih contoh dengan perbuatan…. dengan Hijrah.

Nabi Muhammad paling tahu, betapa sucinya kota Mekkah,
tempat yang hanya layak untuk Sang Khalik disembah.

Tempat yang tak boleh dicemari dengan kegiatan halal dunia
apalagi kegiatan politik yang banyak haram-nya.

Maka, apapun “casus belli” nya, Nabi Muhammad pun pada
bulan september tahun 622 (kata wikipedia) pergi sejauh
320 kilometer….cukup jauh keutara…Madinah namanya.

Menjauhi kota Akidah Mekkah untuk mempraktekan ajaran dunia.
Nabi faham betul… karena katanya
“Untuk urusan dunia …kalian lebih tahu…”

Dan Nabi tidak mau (atau malah mungkin juga Tuhan yang gak
mau) jika urusan dunia dikelola ditempat akidah….artinya
juga gak mau kalau urusan dunia bercampur dengan akidah.

Lalu, sejarah praktek SEKULER pun dimulai dari Madinah.
Dan Nabi Muhammad pemimpin akidah yang mencontohkannya.

Urusan dunia seperti pemerintahan….. memang seharusnya
dijauhkan dari urusan akhirat. At least 320 kilometer.
Sejauh Medina dari Mecca….

jika kemudian…. saat jelas-jelas Nabi Muhammad telah
dijamin berada di Surga….namun Nabi Muhammad masih juga
selalu meminta orang-orang untuk mendoakan dirinya…..
Maka, pastilah karena Nabi Muhammad sekedar orang biasa.
Yang bersedia dan berani juga memimpin urusan dunia.
Karena itu….saya demen.

Dan…pahala seorang pemimpin…. tidak didapat otomatis
dari Tuhannya….tapi melalui doa-doa rakyatnya.

Sebagaimana Nabi Muhammad selalu mengharap doa ummatnya.

Medina Road, 20071126

Tuhan ter-BUKTI ada…

In apakabar@yahoogroups.com
Date: June 27, 2007,
“hadjar_wish” <hadjar@…> wrote:
>
> >>
> Yang salah adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada,
> saat bukti adanya Tuhan itu tidak ada.
> >>

Tapi lebih banyak BUKTI yang kita yakini ternyata sekedar
pengakuan orang lain yang kebetulan kita percaya.

Dan kita….anteng-anteng saja hidup
dan juga puluhan tahun merasa logis-logis saja.

Hanya sedikit orang yang mengusut Bapaknya
yang sesungguhnya siapa ?

Kita cukup mendapat BUKTI dari pengakuan seorang perempuan
yang kebetulan juga mengaku telah melahirkan kita….

Atheist logis sejati seharusnya juga penasaran dan
seharusnya mampu merekonstruksi….bagaimana dia sendiri
berevolusi dari kecebong yang tiba-tiba sekarang menjadi
mahluk ubanan…

Atau….juga cukup dia bisa menyaksikan wajah bapak dan
ibunya yang terengah-engah saat iseng merekayasa dirinya…

Tapi tidak….tentu saja tidak.
Pun jika nanti dengan DNA bisa….

saya tidak akan pernah mengusut emak.

“Bukti aku cukup mempercayai omongan emak saja….
karena aku sangat menyayanginya…..”

padahal…
tidak ada korelasi antara menyayangi dengan ter-BUKTI.

Juga Tuhan terbukti ADA….karena sekedar menyayanginya.

-
DjayaWikarta

Date: June 27, 2007

Sahih, Authentic dan Fact

— In apakabar@yahoogroups.com, “hadjar_wish” <hadjar@…> wrote:
>
> Susah untuk memisahkan urusan agama dari urusan negara di Islam,
> karena orang Islam percaya bahwa ayat-ayat al-Mushaf itu adalah
> wahyu Allah yang berlaku untuk sepanjang masa…
>
> Mereka juga percaya hadits itu ada yagn sahih.
>>>>>

Semata untuk menyamakan bahasa, saya barusan buka Wikipedia.
Tentu saja bukan berarti Wikipedia sebagai sumber kebenaran
atau sumber yang penuh kesalahan. Sekedar bacaan saja…
http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_term

Sahih menurut definisi Wikipedia adalah AUTHENTIC
tapi juga Wiki menjelaskan “hanya” ada 2 sahih…
SAHIH Buchory dan SAHIH Muslim….katanya.

Saya tidak tahu, vocab mana yang lebih dulu lahir…
Apa SAHIH menterjemahkan authentic…
atau AUTHENTIC yang menterjemahkan sahih.
Kalau ternyata sahih yang menterjemahkan authentic,
artinya vocab sahih muncul setelah vocab authentic.
Maka, maksud statement Jusfic diatas bisa diartikan
bahwa hadits TIDAK ada yang authentic. Dan mungkin
perlu tanggapan dari orang-orang islam penganut Hadits.

Jika ternyata, arti vocab SAHIH ketimur….sementara
arti vocab AUTHENTIC kebarat….. maka tidak perlu ada
yang dibahas….juga tidak perlu ada kehawatiran apapun.

Tapi kalau ternyata, justru vocab authentic yang mengikuti
atau sebagai terjemahan dari vocab sahih….
maka statement Jusfic keliru. Mungkin maksud statement
dari Jusfic menjadi….
” Mereka juga percaya hadits itu ada yagn AUTHENTIC “.

Silakan…. yang lebih ngerti menanggapi.

kalau saya cuma diajari…tarjamah SAHIH bukan AUTHENTIC.
Saya tidak setuju penjelasan pertama WIKI, tapi
lebih setuju dengan penjelasan kedua WIKI. Sahih ada dua.

Dan…saya tidak keberatan apapun,
authentic silakan, imaginary silakan.

Karena saya masih percaya “fakta adalah ciptaan manusia”.
fakta bagus, karena pikiran manusia bagus
fakta buruk, karena pikiran manusia buruk
Kebetulan saja,
saya lebih suka diskusi tentang “how to treat a fact”
dan mungkin juga “how to engineer a fact”.

DjayaWikarta

Demokrasi 50+1 = 100

— In apakabar@yahoogroups.com, “dipo” <dipo@…> wrote:
[quote]

Sedangkan demokrasi yang dianut dunia Barat, ternyata cuma
sistem adu banyak suara. Samasekali bukan landasan hidup yang
mencerdaskan.
Rumusan demokrasi yang “50% + 1 = 100%” itu jelas amat lucu karena
sembarangan amat.
[/quote]
Saya kira demokrasi apapun tidak kenal sikat-menyikat.
Jadi justru LANDASAN demokrasi pantesnya harus  50 + 1 = 100.
Landasannya memang harus begitu supaya kokoh dan kuat.
Jika selama ini terasa lucu, bukan karena landasan ini salah.
Tapi sikat menyikatnya, atau main paksa itu yang lucu dan salah.

cantiknya demokrasi justru karena setiap orang yang ingin menang
harus berjuang untuk mendapatkan kelebihan angka 1 .
Dan bukan mengotak-atik 50 boleh menjadi 05. Atau bolak balik
membongkar-bongkar rumus…lalu kapan mulainya demokrasi.

kalau kita bersumsi, bahwa “keyakinan” = hidup-mati.
Maka demokrsai hanya bisa berjalan kalau semua orang
sudah bisa membebaskan diri dari “keyakinan” nya.
Atau paling tidak, harus sanggup mengurangi kadar
keyakinan terhadap kebenaran yang dianutnya.

“Demokrat” harus mau menyisihkan sebagian kebenaran-nya
menjadi kebenaran orang lain.

Dalam rumusan mas Dipo, setiap orang harus mau hanya
dikasih modal 1 suara. Tidak lebih.
Orang-orang yang suka nyikat, atau orang yang nelongso
jika kalah…..patilah dia selalu merasa punya modal 50.

Misalnya Golkar dijaman ORBA….sebelum orang nyoblos…
mereka sudah tumpengan karena yakin punya modal 50.
Karena sudah sikatan terlebih dulu.
Juga minoritas yang bolak balik nelongso disaat kalah,
Nelongso nya itu karena dia merasa pegang modal 50…
padahal boro-boro.

Rumus 50+1=100 sudah cukup mujarab….
tinggal setiap orang harus cukup kenyang dengan
kepunyaannya yang 1 suara.

Jadi, sebenarnya demokrasi tidak akan pernah jalan
kalau orang-orangnya…….LAPARRRRRRR terus gak bisa kenyang
dengan hak-nya yang hanya 1. Seperti mas Dipo …ngkali.

Belajar demokrasi itu artinya belajar menghilangkan keyakinan
terhadap kebenaran diri sendiri.
Orang sini bilang….harus bisa lebih meyakini system.

Let the system work…..cenah.
mau system liberal, mau system islam, mau system abrakadabra…
kek namanya….terserah. Yang jelas bukan system tukang sikat
dan bukan system pecumdang yang sukanya ngeluh….

DjayaWikarta
 

Agama Symbol

— In apakabar@yahoogroups.com, “walsuparmo” <walsuparmo@…> wrote:

Quote:
Salam,
Saya kira keheranan Tristan dapat dimengerti karena dia tidak
menyangka bahwa ada orang Islam yang main judi.Bertaruhan dalam
pelombaan balapan kuda dan permainan2 lainnya TERMASUK sepak bola
adalah JUDI.


Mungkin “islam” itu ada ratusan juta aliran…..
Dan seharusnya,jika jumlah manusia didunia
ada 2 milyar…..maka keyakinannya juga ada 2 milyar.
Kenapa “keyakinan” harus dikelompok-kelompokkan ?.
jawabnya karena tidak semua orang mau mikir.

yang saya baca, yang diharamkan hanya “mengundi nasib”
artinya, mengambil keputusan tanpa pengetahuan.
Judi menjadi haram karena ngambil resiko tanpa pengetahuan.
Dalam pemahaman “mengundi nasib”, yang haram bukan cuma
dicirikan “kartu domino” atau rollet….toto sepakbola.
Apapun haram jika pengambilan keputusan tanpa perhitungan.
Misalnya waktu nyoblos pemilu, waktu bikin anak…
juga waktu…memilih agama.

Pengharaman “mengundi nasib” dan “khamr”…..juga
karena semata-mata pengharaman terhadap “pengabaian pikiran”.

Tapi karena orang-orang doyan-nya yang mudah-mudah….
jadinya…..yang haram cuma “domino” dan “alkohol”
Tapi dalam keseharian, tidak merasa haram setiap kali
bertindak tanpa “perhitungan” dan tanpa mikir.

Orang lebih faham CABE itu dua silinder kerucut warna merah.
Saat CABE jadi merk kaos kutang…..maka orang meyakini cabe
itu kaos kutang…..yang tidak pedas tapi bau keringat.

Juga AGAMA…..akhirnya tidak lebih dari simbol
yang doyan ditempelkan di jidat…..supaya orang lain tahu
bahwa merek keyakinan dia islam, atau merek keyakinan kristen
atau keyakinan atheist…..

Penganut Islam,Kristen atau Atheist…akhirnya sama saja
sama-sama sebagai penyembah SYMBOL.

Dan pamer “symbol keyakinan” apapun memang aneh…
dan sangat tidak berguna….
kecuali untuk nakut-nakutin orang…..dan kecoa.

Agama itu “rasa pedas-nya” dan bukan “warna merah-nya”.
Judi itu bukan kartu-nya…..tapi mengundi nasibnya.

DjayaWikarta

Halaman Berikutnya »