Iming adalah satu-satunya orang yang aku percaya sebagai atheist.
Iming sebenarnya belum pernah bilang, apalagi nyombong mengaku
ngaku tidak percaya tuhan, menyebut kata “tuhan” dia belum pernah .
Karena atheist itulah, aku tidak bisa cerita apapun tentang tuhan…..
juga tidak untuk sekedar kaget “oh tuhan” saat bersama dia.
Saking aslinya atheist, maka bilang “anti-tuhan” pun haram buat dia.
Iming teman-ku begadang, yang takut banget sama pak Wagi’in.
Pak Wagi’in tentara berpangkat Kopral Kepala. Selain menjabat
ketua RW, beliau juga merangkap komandan ronda.
Setiap jam 12 malam, seperti biasa kami keluar rumah, nunggu
mas Joko tukang mie kocok memukuli mangkok porselin dengan
sendok stainless. Dentingan jernih selalu terdengar dan telah
menjadi pengisi kesenyapan jalan lingkar selatan Bandung.
Kelap-kelip nyala lilin terbungkus kertas minyak memastikan
kedatangan kerobak dorong berkaca buram itu didorong mas Joko.
Malam yang sunyi dan dingin membuat bunyi pukulan logam
yang menumbuk benda getas terdengar nyaring.
Dari perempatan ujung jalan kira-kira seratus meteran, bunyi
dentingan itu seolah lurus mengalun masuk gendang telinga.
Dan segera saja bayangan aroma rebusan tauge, mie, merica
dan kaki sapi mendahului mengisi pikiran bawah sadar.
Tapi si Iming samasekali tidak tergerak untuk sekedar merogoh
koin mapuluhan atau seratusan, dia malah menatap tajam jauh kearah
nyala lilin yang tersengal-sengal melawan kegelapan dan angin.
“Masuk….cepat masuk…biar aku sendiri disini….”.
Iming memberi perintah, dan sekalipun belum pernah ada
pemilihan pemerintah tapi aku bersama empat warga negara beling ini
tunduk pada perintah.
Saat kami menyeret tong sampah tempat duduk dari tengah jalan
ke halaman rumah, belum ada yang tahu kenapa harus masuk rumah.
Aku melanjutkan nyanyi “i’ve got the blues”, diiringi jentikan
jari-jari terampil Sungkawa sambil bibirnya tidak lepas dari
lintingan daun “surga” yang dibelinya dari Cikapundung tadi sore.
Saat petikan lagu “Angie” baru saja masuk intro, tiba-tiba si Iming
tersungkur…..kepalanya nyelonong numbuk gitar… lalu kelembaman
badan kerempengnya mendorong kepalanya tepat ketengah kumpulan kaki.
“Goblogg…euy…”, Iming menggumam, dibawah lampu 10 watt terlihat
bibir jontor Iming berusaha tersenyum…..tidak ada yang kaget saat itu.
Ini bagian dari keseharian…….hidup selalu tersungkur.
Aku hanya kaget, melihat pak Wagi’in berdiri dengan dingin….menatap
punggung Iming seolah memastikan bahwa paket pesanan sudah terkirim….
Dan tanpa sepatah kata…..
pak Wagi’in membalik-kan badan dengan tenang dan lalu pergi.
“Goblog…ternyata bukan si mas Joko yang ngedorong gerobak mie…..
bayangin…aku tadi ngompas si Wagi’in sontoloyo….”, Iming tekekeh…
sambil tetap badan tengkurap dan pipi juga tetap menempel tanah…..
“Lho…Koq…?”, serempak kami berempat koor….
“Si sontoloyo…rupanya sudah belajar menabuh irama mangkok mie…”.
udara dingin Bandung membuat perut kosong memainkan keroncong….
tapi ini bagian dari putaran kemenangan dan kekalahan…..
Maka, Iming tidak jadi makan mie kocok gratis…..
dan tertipu oleh dentingan bunyi mangkok mie yang dipukul dengan manis.
Ternyata….
Tidak setiap bunyi merdu mangkok-sendok selalu ditabuh mas Joko…..
pak Wagi’in sontoloyo pun ternyata pandai juga……
Mungkin….juga
Tidak setiap keindahan selalu harus Tuhan yang menyuarakan….
DjayaWikarta
June 2, 2001
Komentar Terakhir