— In proletar@egroups.com, “DjayaWikarta” <djayawikarta@i…> wrote:
Ruchiyat jebolan kelas 4 SD memang beruntung, karena Ipah isterinya
selain telah memberi pelajaran pentingnya pendidikan. Ipah juga telah
memberi dan mempercayakan dua anak untuk dijadikan didikan dan tanggung
jawab Ruchiyat.
Keluarga besar Ipah juga yang memberi berkah yang tak kalah besar.
Paman dari teman-nya sepupu mertua Ruchiyat termasuk tokoh masyarakat
di kampung Wijil di pinggiran Majalengka. Sang tokoh lebih senang
bercerita kalau dia sebenarnya asli Kuningan, kabupaten tetangga.
Alasannya sederhana, rupanya dia tidak merasa nyaman karena orang
Bandung mengenal Majalengka gudangnya pejuang, pekerja berat, sekaligus
penggali tanah paling piawai.
Sementara dia pegawai negeri Golongan 2C, yang bertugas mengawasi
aliran sungai Citanduy. Karena sungai ini panjang, maka sebuah Hardtop
plat merah keluaran tahun 78 telah menjadi isteri kedua-nya. Pegawai
negeri dan sebuah mobil dinas yang menyertainya, sudah cukup bagi sang
tokoh menjadi panutan.
Menjadi tokoh di kampung Wijil, tentu saja tidak sama dengan tokoh-
tokoh masyarakat di Jakarta. Tidak sama dengan tokoh di Karet Tengsin,
Condet, Cendana ataupun tokoh masyarakat keluaran Cilangkap. Menjadi
tokoh di kampung Wijil harus mau mebiarkan pintu rumahnya tetap terbuka
lebar. Menjadi tokoh kampung Wijil, ternyata juga harus bisa memanfaatkan,
atau seperti orang kota bilang memaksimalkan dan meng-optimalkan jabatan.
Si tokoh ini pula yang menyelamatkan Ruchiyat dengan hanya
mengoptimalkan Hardtop tanpa sopir-nya….kemudian memaksimalkan peran
sopir Ruchiyat jadi pegawai negeri betulan. sekalipun hanya golongan 1A
minus……itupun setelah Ruchiyat menjalani jabatan supir pribadi
selama hampir 8 tahun.
Setelah dua kali ginjal Ruchiyat..memproduksi batu putih kemerahan.
Waktu pak Harto lengser, orang indonesia sedang bertereak anti KKN…
Dua lebaran terakhir Ruchiyat tak pulang kampung, mungkin karena dia
malu karena seluruh kehidupannya sekarang berasal dari nepotisme
isterinya dan kolusi dengan si tokoh panutan yang telah mengangkatnya
jadi sopir.
Namun, pengangkatan pegawai negeri bagi Ruchiyat melebihi kebahagiaan
dia saat mulai bisa naik sepeda….juga melebihi keberuntungan dia
mendapatkan Ipah isterinya yang telah mengajarinya membuat tanda-tangan
dan berhitung.
Bentuk tanda tangannya bagus, sepintas mirip tulisan “Rolling
Stones”….padahal maksudnya Ruchiyat bin Suminta…..
Malam ini, barusan saja saya menutup telepon pertama setelah sekian
lama tak pernah mendengar suara Ruchiyat…….
“Halloo…hapal suara saya kagaaaak ?”, tereakkannya nyaris
menjatuhkan gagang
telepon yang saya pengang dengan kemalasan di penghujung akhir pekan.
Sambil saya coba menjauhkan telepon dari daun telinga, saya coba
menjawab dengan cara bertanya otomatis “Sebentar……siapa yaaa?.”
“Sombong…..katanya sekarang situ harus pake bahasa endonesa yaaa?.”
“Sialan….”, saya hanya bisa menggerutu .
“Yayat disinih dari Majalengka…..denger kagaaak ?.”
“Yaa saya denger….yayat mana ?”
“Ruchiyat cangkuang…….ingat kagaaaak, Yayat wayaaaang “.
Hampir setengah jam dia menghabiskan pulsa telepon kantor yang
kebetulan kalou hari MInggu tak ada orang doyan mempergunakannya.
Panjang lebar dia cerita tentang karirnya sebagai pegawai negeri
dan tentang perjalanan dinasnya kesana kemari…mengantarkan sang
majikan mengawasi sungai-sungai.
Juga dengan keceriaan, dan tereak-kan yang tak juga mereda saat
diujung pembicaraan dia bicara soal pentingnya pendidikan…….
pendidikan dirinya.
“Saya mau sekolah lagi….”, katanya tanpa sungkan-sungkan
“Bagus…itu, ngambil persamaan SD dimana ?”, saya mengingat-ingat
sekolah dia terakhir kali kami bertemu.
“Sekolah SMA..atuh kang”, dia memberi penjelasan dengan tetap lantang.
“Ooooo yaaa”, saya hanya bisa menunggu penjelasan lanjutannya.
“Soalnya,……supaya gampang ngurus pensiun”, dia menambahkan
“Memang yang dulu kenapa…….”
“Sudah tak laku sekarang……sekarang harus SMA”.
“Tapi ijasah SD dan SMP-nya sudah ada ?”, saya coba konfirmasi
“Haaaa…ha…ha, kan situ yang ngasih modal !”, dia mulai menohok.
“Ya..ya….lalu”, Saya mulai merasa tak nyaman.
“Ini…kalau…..kalau saya perlu biaya sekolah lagi…akang ada ?”,
“E…e…emang bbbe..berapa ?”, saya mulai ragu membayangkan besarnya
biaya sekolah selama tiga tahun sekolah SMU…..
“Lima ratus ribu untuk cap sekolah, lima ratus ribu untuk makelar-
nya”, Ruchiyat dengan lancar menjelaskan rincian biaya “pendidikan”.
“Jadi……????”, saya tak berani lagi menterjemahkan uraiannya.
“Sudah dulu yaa kang , Minggu depan saya menghubungi lagi”. Dia
memutus pembicaraan, karena terdengar dibelakangnya ada orang lain.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya, pendidikan dalam bentuk sekolah bisa
ditempuh hanya dalam satu atau dua hari negosiasi..dengan makelar pula.
Bandung
DjayaWikarta
22 Oct 1999
Komentar Terakhir