Arsip untuk Kategori 'dari Proletar'

Keyakinan memang selalu menakutkan

Tadinya aku ingin enjoy mendengar penjelasan teori evolusi
dari pakar biologi Inggris penganut “darwinist”, tapi yaa ampun…
Bukannya memberi keyakinan bahwa kehidupan berasal dari
evolusi dan bukan dari Tuhan, malah membuat si pewawancara BBC
mengalihkan pembicaraan… dia kebingungan dan ketakutan.

Dengan mata menyala, nyaris menelan, si “darwinist” mencerca….
“Ah… itu pertanyaan bodoh dari orang yang lebih suka ke
synagog daripada sesekali menyalakan lampu laboratorium….
orang seperti anda tidak layak hidup dijaman modern”

Lalu dia pun meyakinkan dirinya sebagai atheist fanatic.
dan si pewawancara memaksakan sedikit tersenyum… melirik kamera
“Itu satu sisi, mari kita lihat sisi lain ….”, gumamnya…

Dan tayangan berikutnya, wartawan BBC ini berada di Kentucky USA
“tanah persemaian ajaran Tuhan semurni-murninya”,
diundang berdebat diradio tentang Evolusionist dan Creationism
lawan bicaranya sekarang adalah lelaki White American yang
dengan yakin mengaku “Jiwa-ragaku untuk Tuhan”….

Siaran dibuka dengan lagu country…serta celoteh broadcaster
yang riang gembira…bla-bla-bla..

“Silakan Mister Creationism…”

Lalu….si “jiwaraga Tuhan” wakil jubir creationism sedekap,
dua telapak tangan rapat, jari-jemari erat dijalin, tulang geraham
kelihatan berdenyut-denyut…. Tidak bicara hanya menatap tajam
ke arah wartawan BBC.

Dan si Wartawan tau diri, perdebatan harus dihentikan sebelum statement pertama dilontarkan….
Tapi si creationism keburu membuka dakwaan
“Kenapa anda tidak percaya Tuhan ?” dengan mata menusuk tajam.

…. LHO ?.

Dan si broadcaster yang bertindak sebagai moderator, cepat-cepat
memutar lagu Rohani….
Segera saja si-Creationis menutup perdebatan dengan doa ….
“semoga pikiran sesat orang inggris ini bisa ENGKAU sadarkan….”.

sambil membuka kacamata si wartawan BBC melirik kamera dan berbisik
“ini bukan tentang PERCAYA atau TIDAK PERCAYA Tuhan…..”

Ini sekedar cerita tentang dua mahluk pemilik keyakinan yang beda
tapi betul-betul sama, sama-sama menakutkan.
Dan KEYAKINAN apapun memang selalu menakutkan….

December 20, 2005

DjayaWikarta

Tentang Keyakinan

Setelah berbulan mendung selalu membuat murung
bahkan salju yang menghilang bertahun-tahun pun
sempat berulangkali turun

tapi Minggu pagi ini segalanya mulai benderang
pagi pertama langit terang riang laksana siang
musim semi konon telah datang

mungkin alam telah dibuat demikian
mampu mengatur dirinya sendiri tanpa paksaan

Maka ikuti saja alam menjalankan aturan
Agar seluruh kehidupan kedepan tetap bertahan

Semalaman saya serasa bertemu Immanuel Kant

bukannya dia mengajarkan kebaikan ataupun kebenaran
malah dia mempertanyakan segala keyakinan
Apapun keyakinan yang telah manusia ajarkan…
yang ternyata tak pernah memberi manfaat apapun
Manfaat tak pernah lahir karena memegang keyakinan

Dan memaksakan keyakinan, apapun bentuk keyakinan
adalah juga pengingkaran terhadap hukum-hukum alam
Bahkan meyakini hukum alam adalah kebohongan

Jika saya setuju…
bahwa pembunuhan tidak boleh dilakukan
bukan karena yakin pembunuhan sebagai perbuatan setan
bukan karena yakin pembunuhan melanggar aturan
tapi karena saya merasa masih perlu banyak teman

mungkin, karena alam telah mengaturnya demikian
agar kehidupan masih akan terus berjalan

dan ukuran berat otak manusia kutu-buku pun…
tidak pernah lebih berat dari buku bacaannya.
belum saatnya meyakini apapun hasil bacaan….
belum saatnya pamer-pamer keyakinan

Lihat saja langit diluar….
dikira akan selamanya dan bertambah terang ?
Ternyata tidak…
Karena Keyakinan itu sekedar keinginan.

March 5, 2006

DjayaWikarta

Belanda memang payah

“djayawikarta” yang rada sedeng juga…..Re: Ketakutan akan kebenaran…

— In proletar@yahoogroups.com, “utusan.allah” <utusan.allah@…>
wrote:
>
> “djayawikarta” yang rada sedeng juga….
>
> Emangnya pendiri Indonesisch Verbond van Studeerenden itu
> orang Jerman..
> >>>

Whatever orang Belanda bikin atau lakukan….mulai van mook
atau Snouk Horgronye tak lebih dari tipuan.

bangsa Belanda….the LOWER country…. memang licik
tapi celakanya bodoh-bodoh.
Mereka tidak mampu berpikir BESAR….

Sukarno pernah bilang….” Hollands denken itu apa ?” .
Djawabnja tepat Saudara-saudara
“Thinking penny-wise, proud and foolish”.
Congkak dan angkuh.

Buktinya….Bengkulu ditukar guling dengan Singapura.
New York juga dijualnya pula….
Afrika selatan…..lebih lucu lagi. Orang-orang Belanda
yang berkuasa tapi orang-orang hitam lebih memilih Britania raya.

So, the Lower Country…bukan karena tanah-nya yang RENDAH….
tapi lebih karena semua Belanda berpikiran rendah….
juga hukum-hukum-nya yang sekedar berbasis rasa.

Indonesia kena batunya karena terwarisi hukum rasa….
bukannya sepenuh hati memainkan logika seperti anglo-saxon
Ikut simpatisan Belanda….ahaa jangan ah.

Coba saja, hanya karena ingin disebut sebagai bangsa BEBAS,
maka Belanda mengijinkan Euthanasia….
Padahal kebebasan itu bukan untuk bebas mati. tapi bebas hidup.

DjayaWikarta

Belanda penjajah yang PAYAH

Re: Ketakutan akan kebenaran…

— In proletar@yahoogroups.com, “utusan.allah” <utusan.allah@…>
wrote:
>
> Saya menyampaikan fakta: van Mook itu, dari tahun 1917, sudah
> menginginkan Indonesia merdeka.
> >>>>

kalau namanya VON mook…..mungkin saya percaya.

saya sedang ngusut siapa sebenarnya yang mengajari
sehingga budaya Jawa cenderung pamer
“coba kalau gak ada saya…”
Ciri-ciri inferior syndrom,

saya ingat, dulu disela-sela diskusi ilmiah….
tiba-tiba profesor Belanda yang tadinya saya hormati….
menyampaikan informasi yang sangat penting !!! katanya.

“Tahu nggak, Ludwig VAN Bethoven, Dia itu orang belanda”.
kalau saja saat itu, si Prof ini tidak terlalu sepuh
tentu akan saya bilang….so what gitu lho.

Kalau bangsa-bangsa Eropah itu memiliki kasta
maka Belanda merupakan kasta Sudra, inferior yang sekalinya
berkuasa apalagi menjajah…. pasti kemaruk.
Apa yang diwariskan penjajah kelas teri seperti Belanda ?.
Kecuali budaya iri dengki, sirik, angkuh, sok merasa penting.

Jika Hukum menjadi tiang setiap negara…
maka Belanda telah mewariskan tiang busuk kepada Indonesia yang
menyebabkan Indonesia hidup segan mati-pun susah.

Jenderal Germany saat akan menyerang Rusia dalam perang dunia II
bilang sama anak buahnya…
“Kalian berangkat subuh saja….sarapan pagi di Belanda saja”.
karena mustahil tentara Belanda berani nembak tentara betulan.

Tidak ada yang bangga dengan bangsa Belanda.
Kecuali para feodal Jawa yang dibangsawankan oleh Belanda.
Yang sampai sekarang masih dibangga-banggakan.

Orang belanda hanya cocok main bola. Itu saja.
Itupun kalau main di Liga Premier.

DjayaWikarta

Inggris sang Penjaga warung – 1

— In proletar@yahoogroups.com, “Leo Susanto” <leosusanto@…>
wrote:
>>
> The empires of the future are the empires of the mind.
> –Winston Churchill
> >>>

Ide ini yang rupanya secara konsisten terus dipegang
dan dikembangkan British. Salah satunya adalah Commonwealth.
sekalipun konon awalnya karena Cromwell.

Tapi, quote Churchill ini hanya redefinisi dari kesadaran
umum British yang sebelumnya telah mereka yakini….
menguasai dunia dengan cara menguasai ide….
dan ide menyebar melalui bahasa.

pada saat bangsa-bangsa Eropah berlomba menjajah dunia
melulu dengan teror pedang dan bedil….
Malah British mencetak buku banyak-banyak, bikin perpustakaan
disetiap penjuru dunia. Bikin kursus English gratis pula.

Pada saat semua orang sadar bahwa penjajahan harus dihapus.
Maka, semua orang sudah dengan sendirinya memilih English,
merasa tidak terjajah…tapi setia memilih ngEnglish…

Kekagagalan atau penyimpangan pakem penjajah British baru
satu yang diakui…..saat Tonni Blair ngirim tentara ke Iraq.
kali ini….Perancis lebih cerdas karena ikut pakem Churchill…
memilih jadi “penjaga warung saja”, kata Bonaparte.

DjayaWikarta

Inggris sang “Penjaga Warung” – 2

“djayawikarta” yang rada sedeng juga…..Re: Ketakutan akan kebenaran…

— In proletar@yahoogroups.com, “Leo Susanto” <leosusanto@…>
wrote:
>
> beda dong – djay barusan taruh saya di “infinite loop” mikirin soal
> Bonaparte menjaga warung.
>
> subversive.
> >>>

Ha ha ha… Le…. ternyata masih hidup.

Bonaparte mah betul-betul warrior tulen….
yang mungkin orang paling menentukan sejarah Eropah
sehingga geography-politik eropah seperti sekarang.
Juga mungkin yang menyisakan masalah Irlandia tetap jadi
kerikil dalam sepatu-nya British.

Dan Inggris, katanya hanya “bangsa penjaga warung”.
Dan elmu penjaga warung ini yang justru mengalahkan
kepiawaian berperang Bonaparte.

Pikir punya pikir…. penjaga warung memang hanya
perlu kepandaian “menghitung”, juga harus pandai tersenyum
supaya jajahan justru merasa mendapat pelayanan.

Ini ilmu penjajah warung…yang bikin Bonaparte jelaous…
jajahan Inggris dapat UNTUNG 100, supaya Inggris untung 1000.
Lain dengan penjajah belanda.
saat Belanda hanya untung 100, jajahan Belanda rugi 1000.

Juga dalam urusan HUKUM…. beda banget.
hukum anglo-saxon mengenal istilah “logika hukum”
Hukum Hindia Belanda terpuruk dalam idiom “rasa keadilan”

Saya kira….pijakan Jusfik lebih banyak “rasa keadilan”
ketimbang “logika hukum”.
Dengan “rasa keadilan” mungkin saja Jusfik masuk surga,
tapi tidak akan bikin Indonesia sejahtera.

DjayaWikarta

> On 9/7/07, utusan.allah <utusan.allah@… > wrote:
> >
> > Beda “djayawikarta” dan heri latief itu nggk banyak…
> >
> > Ngomong ngaco asal cuap-cuap kayak nonok bebek yang baru dientoin
> > monyet bonobo begini.
> >
> > Tu otak nggak dipake buat mikir sih.
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

The Singer Not a Song

Iming adalah satu-satunya orang yang aku percaya sebagai atheist.
Iming sebenarnya belum pernah bilang, apalagi nyombong mengaku
ngaku tidak percaya tuhan, menyebut kata “tuhan” dia belum pernah .

Karena atheist itulah, aku tidak bisa cerita apapun tentang tuhan…..
juga tidak untuk sekedar kaget “oh tuhan” saat bersama dia.
Saking aslinya atheist, maka bilang “anti-tuhan” pun haram buat dia.

Iming teman-ku begadang, yang takut banget sama pak Wagi’in.
Pak Wagi’in tentara berpangkat Kopral Kepala. Selain menjabat
ketua RW, beliau juga merangkap komandan ronda.

Setiap jam 12 malam, seperti biasa kami keluar rumah, nunggu
mas Joko tukang mie kocok memukuli mangkok porselin dengan
sendok stainless. Dentingan jernih selalu terdengar dan telah
menjadi pengisi kesenyapan jalan lingkar selatan Bandung.

Kelap-kelip nyala lilin terbungkus kertas minyak memastikan
kedatangan kerobak dorong berkaca buram itu didorong mas Joko.

Malam yang sunyi dan dingin membuat bunyi pukulan logam
yang menumbuk benda getas terdengar nyaring.
Dari perempatan ujung jalan kira-kira seratus meteran, bunyi
dentingan itu seolah lurus mengalun masuk gendang telinga.
Dan segera saja bayangan aroma rebusan tauge, mie, merica
dan kaki sapi mendahului mengisi pikiran bawah sadar.

Tapi si Iming samasekali tidak tergerak untuk sekedar merogoh
koin mapuluhan atau seratusan, dia malah menatap tajam jauh kearah
nyala lilin yang tersengal-sengal melawan kegelapan dan angin.

“Masuk….cepat masuk…biar aku sendiri disini….”.
Iming memberi perintah, dan sekalipun belum pernah ada
pemilihan pemerintah tapi aku bersama empat warga negara beling ini
tunduk pada perintah.
Saat kami menyeret tong sampah tempat duduk dari tengah jalan
ke halaman rumah, belum ada yang tahu kenapa harus masuk rumah.

Aku melanjutkan nyanyi “i’ve got the blues”, diiringi jentikan
jari-jari terampil Sungkawa sambil bibirnya tidak lepas dari
lintingan daun “surga”  yang dibelinya dari Cikapundung tadi sore.

Saat petikan lagu “Angie” baru saja masuk intro, tiba-tiba si Iming
tersungkur…..kepalanya nyelonong numbuk gitar… lalu kelembaman
badan kerempengnya mendorong kepalanya tepat ketengah kumpulan kaki.

“Goblogg…euy…”, Iming menggumam, dibawah lampu 10 watt terlihat
bibir jontor Iming berusaha tersenyum…..tidak ada yang kaget saat itu.
Ini bagian dari keseharian…….hidup selalu tersungkur.

Aku hanya kaget, melihat pak Wagi’in berdiri dengan dingin….menatap
punggung Iming seolah memastikan bahwa paket pesanan sudah terkirim….
Dan tanpa sepatah kata…..
pak Wagi’in membalik-kan badan dengan tenang dan lalu pergi.

“Goblog…ternyata bukan si mas Joko yang ngedorong gerobak mie…..
bayangin…aku tadi ngompas si Wagi’in sontoloyo….”, Iming tekekeh…
sambil tetap badan tengkurap dan pipi juga tetap menempel tanah…..

“Lho…Koq…?”, serempak kami berempat koor….

“Si sontoloyo…rupanya sudah belajar menabuh irama mangkok mie…”.
udara dingin Bandung membuat perut kosong memainkan keroncong….
tapi ini bagian dari putaran kemenangan dan kekalahan…..

Maka, Iming tidak jadi makan mie kocok gratis…..
dan tertipu oleh dentingan bunyi mangkok mie yang dipukul dengan manis.

Ternyata….
Tidak setiap bunyi merdu mangkok-sendok selalu ditabuh mas Joko…..
pak Wagi’in sontoloyo pun ternyata pandai juga……

Mungkin….juga
Tidak setiap keindahan selalu harus Tuhan yang menyuarakan….
DjayaWikarta
June 2, 2001

Ruchiyat Pergi Sekolah

— In proletar@egroups.com, “DjayaWikarta” <djayawikarta@i…> wrote:

Ruchiyat jebolan kelas 4 SD memang beruntung, karena Ipah isterinya
selain telah memberi pelajaran pentingnya pendidikan. Ipah juga telah
memberi dan mempercayakan dua anak untuk dijadikan didikan dan tanggung
jawab Ruchiyat.
Keluarga besar Ipah juga yang memberi berkah yang tak kalah besar.

Paman dari teman-nya sepupu mertua Ruchiyat termasuk tokoh masyarakat
di kampung Wijil di pinggiran Majalengka. Sang tokoh lebih senang
bercerita kalau dia sebenarnya asli Kuningan, kabupaten tetangga.

Alasannya sederhana, rupanya dia tidak merasa nyaman karena orang
Bandung mengenal Majalengka gudangnya pejuang, pekerja berat, sekaligus
penggali tanah paling piawai.

Sementara dia pegawai negeri Golongan 2C, yang bertugas mengawasi
aliran sungai Citanduy. Karena sungai ini panjang, maka sebuah Hardtop
plat merah keluaran tahun 78 telah menjadi isteri kedua-nya. Pegawai
negeri dan sebuah mobil dinas yang menyertainya, sudah cukup bagi sang
tokoh menjadi panutan.

Menjadi tokoh di kampung Wijil, tentu saja tidak sama dengan tokoh-
tokoh masyarakat di Jakarta. Tidak sama dengan tokoh di Karet Tengsin,
Condet, Cendana ataupun tokoh masyarakat keluaran Cilangkap. Menjadi
tokoh di kampung Wijil harus mau mebiarkan pintu rumahnya tetap terbuka
lebar. Menjadi tokoh kampung Wijil, ternyata juga harus bisa memanfaatkan,
atau seperti orang kota bilang memaksimalkan dan meng-optimalkan jabatan.

Si tokoh ini pula yang menyelamatkan Ruchiyat dengan hanya
mengoptimalkan Hardtop tanpa sopir-nya….kemudian memaksimalkan peran
sopir Ruchiyat jadi pegawai negeri betulan. sekalipun hanya golongan 1A
minus……itupun setelah Ruchiyat menjalani jabatan supir pribadi
selama hampir 8 tahun.
Setelah dua kali ginjal Ruchiyat..memproduksi batu putih kemerahan.

Waktu pak Harto lengser, orang indonesia sedang bertereak anti KKN…
Dua lebaran terakhir Ruchiyat tak pulang kampung, mungkin karena dia
malu karena seluruh kehidupannya sekarang berasal dari nepotisme
isterinya dan kolusi dengan si tokoh panutan yang telah mengangkatnya
jadi sopir.

Namun, pengangkatan pegawai negeri bagi Ruchiyat melebihi kebahagiaan
dia saat mulai bisa naik sepeda….juga melebihi keberuntungan dia
mendapatkan Ipah isterinya yang telah mengajarinya membuat tanda-tangan
dan berhitung.
Bentuk tanda tangannya bagus, sepintas mirip tulisan “Rolling
Stones”….padahal maksudnya Ruchiyat bin Suminta…..

Malam ini, barusan saja saya menutup telepon pertama setelah sekian
lama tak pernah mendengar suara Ruchiyat…….

“Halloo…hapal suara saya kagaaaak ?”, tereakkannya nyaris
menjatuhkan gagang
telepon yang saya pengang dengan kemalasan di penghujung akhir pekan.

Sambil saya coba menjauhkan telepon dari daun telinga, saya coba
menjawab dengan cara bertanya otomatis “Sebentar……siapa yaaa?.”

“Sombong…..katanya sekarang situ harus pake bahasa endonesa yaaa?.”

“Sialan….”, saya hanya bisa menggerutu .

“Yayat disinih dari Majalengka…..denger kagaaak ?.”

“Yaa saya denger….yayat mana ?”

“Ruchiyat cangkuang…….ingat kagaaaak, Yayat wayaaaang “.

Hampir setengah jam dia menghabiskan pulsa telepon kantor yang
kebetulan kalou hari MInggu tak ada orang doyan mempergunakannya.
Panjang lebar dia cerita tentang karirnya sebagai pegawai negeri
dan tentang perjalanan dinasnya kesana kemari…mengantarkan sang
majikan mengawasi sungai-sungai.

Juga dengan keceriaan, dan tereak-kan yang tak juga mereda saat
diujung pembicaraan dia bicara soal pentingnya pendidikan…….
pendidikan dirinya.

“Saya mau sekolah lagi….”, katanya tanpa sungkan-sungkan

“Bagus…itu, ngambil persamaan SD dimana ?”, saya mengingat-ingat
sekolah dia terakhir kali kami bertemu.
“Sekolah SMA..atuh kang”, dia memberi penjelasan dengan tetap lantang.

“Ooooo yaaa”, saya hanya bisa menunggu penjelasan lanjutannya.

“Soalnya,……supaya gampang ngurus pensiun”, dia menambahkan

“Memang yang dulu kenapa…….”

“Sudah tak laku sekarang……sekarang harus SMA”.

“Tapi ijasah SD dan SMP-nya sudah ada ?”, saya coba konfirmasi

“Haaaa…ha…ha, kan situ yang ngasih modal !”, dia mulai menohok.

“Ya..ya….lalu”, Saya mulai merasa tak nyaman.

“Ini…kalau…..kalau saya perlu biaya sekolah lagi…akang ada ?”,

“E…e…emang bbbe..berapa ?”, saya mulai ragu membayangkan besarnya
biaya sekolah selama tiga tahun sekolah SMU…..

“Lima ratus ribu untuk cap sekolah, lima ratus ribu untuk makelar-
nya”,  Ruchiyat dengan lancar menjelaskan rincian biaya “pendidikan”.

“Jadi……????”, saya tak berani lagi menterjemahkan uraiannya.

“Sudah dulu yaa kang , Minggu depan saya menghubungi lagi”. Dia
memutus pembicaraan, karena terdengar dibelakangnya ada orang lain.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya, pendidikan dalam bentuk sekolah bisa
ditempuh hanya dalam satu atau dua hari negosiasi..dengan makelar pula.

Bandung
DjayaWikarta
22 Oct 1999

Ruchiyat pergi kawin

Ruchiyat orang Pangalengan teman saya begadang nonton wayang golek.
Tapi daripada melototin wayang dari kayu, dia lebih suka
melototin dan mepet-in kembang-kembang desa yang nekat nonton
sampai tengah malam.

Ruchiyat bisa mengantarkan pulang perempuan tiga sorti dalam semalam,
dan keberhasilan penonton wayang adalah berhasil mengantarkan pulang
…. …betul…..sekedar mengantar pulang perempuan ke rumah tinggalnya.

Malam Jumat belasan tahun yang lalu, saat ada ruwatan dirumah pak Sobana
pemilik penggergajian kayu pinus, Ruchiyat jebolan kelas empat SD ini
lupa kalau aturan penonton wayang sekedar mengantarkan perempuan pulang.

Tapi saat itu, Ruchiyat seolah menemukan kepenasaran. Perawan yang
diantarnya pulang ternyata guru praktek di SD almamaternya Ruchiyat.
Ketika abah Sunarya dalang dari Ciparay mengumandangkan celuk kidung
… saat penonton merapatkan barisan…. karena dingin-nya halimun.
Si Yayat belum juga kembali……
juga saat kiDalang meneriak-kan kata penutup dari cerita melalui
perantaraan Semar Badranaya “tutup lawang sigotaka”….

Ruchiyat….tetap saja tak menampak-kan sarungnya, dan juga tak tercium
semriwing pomade Lavender yang menjadi tanda kehadirannya.
Sebagai sesama penegak aturan penonton wayang, saya tentu saja
melakukan cek-ricek sebelum mendepaknya dari keanggotaan.

Tapi apa yang Ruchiyat paparkan kemudian….sama sekali bukan alasan.
Si Ipah guru praktek dari Majalengka rupanya telah membuat Ruchiyat
memilih untuk menanggalkan semua aturan…dan mengahiri semua
tugas-tugas mulia sebagai pengantar. Juga meninggalkan kesetiaan
terhadap bai’at diantara penonton wayang.

Tiga bulan kemudian, saat praktek mengajar telah usai…saat si Ipah
dan rombongan di lepas mantri Guru SD….Disamping pak Kades,
si Ruchiyat menjadi wakil pemuda … tampil ke depan mimbar memberi
sepatah dua kata.

Tak ada yang spesial dengan pidatonya yang banyak berisi doa-doa….
yang bikin warga terbengong-bengong adalah keberanian dan lancarnya
Ruchiyat pidato melalui pengeras suara…….didepan seribu-an warga
dan murid-murid SD……..serta segelintiran mahasiswa….

“Pendidikan adalah tulang punggung kamajuan bangsa”, katanya berapi-api.
Saat itu saya coba menepis gerutuan orang dibelakang…..

“Kalau nanti ada guru praktek lagi, maka akan ada satu lagi orang pinter
biar kali ini Ruchiyat dulu yang dapet orang pinter dan terbukti jadi pinter”.
Setahun kemudian, Ruchiyat betul-betul menjadi orang,
karena telah berani melamar dan mengawini si Ipah yang telah mengajarinya
soal pendidikan.
Sementara, bangku SD kelas empat yang ditinggalkannya dengan sadar
malah dijadikan alasan Ruchiyat untuk mendatangi Ipah seminggu sekali.

PasirHuni – Pangalengan
DjayaWikarta
11 Oct 1999

Tidak haram merdeka…

Subject: [INDONESIA-L] DJAYAWIKARTA – Aceh dll tidak Haram Merdeka
Sender: mailto:owner-indonesia-l@indopubs.com?Subject=Re: [INDONESIA-L] DJAYAWIKARTA – Aceh d&In-Reply-To=<957824972.0000@hypermail.dummy>
Date: Thu, 24 Jun 1999 02:35:42 +0700

“Indonesia adalah suatu bangsa yang SENGAJA dibangun”
demikian kira-kira ucapan Anhar Gonggong yang pakar sejarah.
Sengaja dibangun mungkin artinya TIDAK DENGAN MUDAH. atau
berarti juga BUKAN WARISAN, atau PENUH DENGAN MAKSUD.

Sebelumnya konon hanya ada Aceh, Sriwijaya, Pajajaran, Banten,
Majapahit, Mataram, Klungkung, Goa, Tidore, Kutai, Bima .etc…etc.
Mungkin seperti Belanda, Belgia, Jerman, Italy di Eropa sana.

Sehingga kata “Indonesia” sendiri baru muncul sekitar tahun 20-an.
Tapi masih lebih dahulu dari pada Uni Eropah bersatu, yang sama-
sama multi etnik dan besar. Jadi kita lebih hebat dah.

Dengan tidak mengurangi penghormatan kepada para founding father.
Sayang sekali kehebatan kita terlalu cepat 50 tahun. Maka, seperti
“pentil” bakal buah durian yang diperam, bukannya mateng malah busuk.
Kita belum cukup umur untuk kawin malah dipaksa kawin…ya bubar.
Kita masih belum cukup faham kelebihan dan kekurangan adat istiadat
masing-masing suku, dipaksa dengan SENGAJA beradat sama Indonesia.
Bahkan sampai sekarangpun kita belum siap berbeda kepala.

Saya tidak tahu pasti kenapa keragaman suku-bangsa kita harus disatukan ?.
Dokumen tahun 1928 tentang sumpah bersatu Indonesia mungkin digelapkan
penjajah Belanda (kita terbiasa menyalahkan orang lain). Sehingga tahun 99
sekarang kita masih kebingungan bersikap…..merdeka atau manut ?
Yang pasti “kita” lebih terbiasa disatukan dan bersatu pendapat. Seperti
adanya “disintegrasi” dan “separatisme”…kita nyaris sepakat-sepakat saja
bahwa itu semua hasil karya ORBA.

Sementara orang Jawa-Sumatera dan IbB umumnya berfikir bahwa Habibie
putra Suharto, orang IRAMASUKA Nusantara meyakininya sebagai putra terbaik.
Sementara simpatisan PDI-P berfikir bahwa bu Mega pemimpin bangsa, orang
lain mengiranya tak lebih dari wanita ayu puterinya Prof.Dr.Ir.HA Sukarno.

Sementara orang pintar berfikir bahwa reformasi berarti Golkar Bubar,
dan politikus memperjuangkan reformasi untuk sebuah kursi, demonstran
memakai reformasi sebagai bahan orasi, maka saya mengira akan
mudah memperoleh sesuap nasi melalui reformasi.

220 juta kepala yang merdeka tidak wajib berkepala satu kepala Indonesia.
Walaupun untuk sebagian orang akan lebih nikmat menguasai lebih banyak orang.

Jika indonesia berarti kesetiaan ataupun penolakan terhadap suatu kaum, partai,
golongan, atau individu maka selayaknya masing-masing orang memerdekakan
dirinya. Dan tak perlu lagi ada Indonesia karena memang asalnya juga tak ada.

Tanah air boleh jadi bukan Indonesia, karena tanah air adalah tempat anda hidup
dan bisa hidup dengan merdeka.

Aceh, Riau, Banten, Jogya, Bali, Maluku, Irian, Jawa Timur, Sulawesi dan lainnya
silahkan merdeka jika itu akan membawa kemaslahatan seluruh umat manusia !!!!

Wassalaam,….
DjayaWikarta

—– End of forwarded message from DjayaWikarta —–

—– End of forwarded message from mailto:apakabar@Radix.Net?Subject=Re: [INDONESIA-L] DJAYAWIKARTA – Aceh d&In-Reply-To=<957824972.0000@hypermail.dummy> —–

Halaman Berikutnya »