Arsip untuk Kategori 'dari RANTAU'

Indonesia Tanah Aiiiir Beeeta

Aneh memang, sejak jauh dari tanah air, jauh dari tanah
pusaka, saya jadi suka sekali lagu Ismail Marzuki yang
ternyata berjudul Indonesia Pusaka, dan bukan “Indonesia
tanah air Beta” seperti yang saya yakini selama ini.
Tentu ini bukan karena semakin engkau jauh semakin aku tahu…

Ada kenikmatan yang susah diceritakan saat mendengarkannya,
terutama saat mendengar “….tempat berlindung dihari tua”.
Mirip kenikmatan saat duduk dikursi Roller Coaster yang
sedang meluncur menurun dengan kecepatan tinggi. Kombinasi
nikmat antara harapan, kecintaan sekaligus kekhawatiran.

Mungkin karena berharap menikmati lagu Indonesia Pusaka
ini pula saya selalu bersemangat ikutan setiap acara
17-Agustusan bersama teman-teman warga Indonesia di
Isle of Wight.

Acara peringatan hari Kemerdekaan RI ke 63 kemarin
seperti biasa, seperti dimanapun selalu dimotori oleh
para ladies, ibu, tante, mbak dan teteh. Namanya juga
ulang tahun Ibu Pertiwi. Para bapak, pak-de, oom, mas,
akang, blek dan any other gentleman cukup jadi pembantu
umum saja, ngangkat-ngangkat dan manjat-manjat meja.

Anak-anak yang English nya lebih bisa difahami orang
Inggris bertugas menjadi pengisi acara. Berlomba,
bernyanyi, menari, main musik, deklamasi, fashion
show dan apapun yang bisa mereka lakukan. Karena seperti
judulnya lagu Sting the Police ..”every little thing
she does is magic..”. Dan semua orang suka keajaiban.

Acara puncak peringatan diselenggarakan hari Sabtu
tanggal 23 Agustus 2008, di St Andrew Community Hall.
Gedung bekas gereja yang disumbangkan kepada Council,
Pemkot Isle Of Wight untuk gedung serbaguna seluruh
warga. Siapapun boleh mempergunakan.

Kita, warga Indonesia sebenarnya meminjam gedung untuk
pemakaian 5 jam, dari jam 1 siang sampai jam 6 sore.
Tapi fihak Pemkot sepertinya maklum, makanya sebelum
kita minta maaf, kita diperbolehkan mulai buka kunci
untuk “beres-beres” persiapan sejak hari Jumat-nya.
Petugas Council rupanya tahu, lima jam mana cukup
untuk

Seolah mengikuti bilangan tahun merdeka, acara kali ini
pun dimeriahkan oleh lebih 63 warga. Terdiri dari 17
umpi, Indonesian citizen dan juga British citizen yang
masih memiliki setetes darah dan sekerat hati Indonesia.

Jumlah 63 orang tentu sangat kecil dibanding 234 juta
penduduk Indonesia yang merayakan 17 Agustusan. Tapi
kemeriahan, keceriaan, kekhidmatan dan rasa kecintaan
yang tumbuh disaat perayaan rupanya tidak pernah peduli
dengan bilangan.

Jumlah 63 orang tidak pernah kekurangan penonton dan
juga tidak pernah kekurangan penampil. Tidak kekurangan
pengunjung dan juga tidak kekurangan panitia. Karena
ternyata jumlah panita 63, penonton 63, tamu 63 dan
artis juga ada 63 orang. Kalau bukan kita-kita memang
siapa lagi…. 63 orang harus bertanggung jawab untuk
terciptanya keceriaan 63 orang.

Saya sering bermimpi, andai yang berperan dan peduli
dengan “keceriaan 234 juta warga negara Indonesia” pun
sebanyak 234 juta pula. Tentu akan elok sekali jika tidak
ada lagi warga negara yang hanya jadi warga penonton.
Akan elok pula jika tidak lagi ada warga yang terasing
karena tidak bisa ikutan ceria.

Saya doyan 17-Agustusan sebenarnya sudah sejak baheula
jaman anak-anak. Dulu waktu di Bandung, saya yang selalu
dengan sengaja memaksa setiap acara 17-an supaya ada
upacara-nya, ada nyanyi Indonesia Raya nya. Tapi sekarang
disini, sepertinya semua orang yang memaksa harus ada
upacara lengkap dengan Indonesia Raya. Dan saya cuma
nambah persyaratan, supaya ada lagu Indonesia Pusaka juga.

Alasan pemilihan waktu perayaan tanggal 23 juga lebih
banyak karena ikut kebiasaan di Indonesia. Mirip
penyelenggaraan acara Halal-Bihalal, selain di Istana,
perayaan warga selalu diselenggarakan sesudah D-Day.
Alasan lain karena tanggal 17 merupakan hari Minggu
yang tersisa yang cocok untuk lomba karaoke. Dan Karaoke
cocok untuk menyanyikan lagu apapun selain lagu-lagu
Indonesia raya atau Indonesia Pusaka.

Kita rupanya sekalipun hanya Republik Indonesia kelas
Fillial yang jauh dari Jakarta. Tapi tetap saja merasa
harus menempatkan upacara 17-Agustusan sebagai upacara
sakral dan harus khidmat. Dan lomba karaoke sangat jauh
dari sakral, lomba karaoke adalah kesempatan eksplorasi
semua lagu Indonesia mulai lagu-lagu dangdut Meggy Z
sampai lagu-lagu Sunda Nining Maeda.

Untuk keperluan juri lomba karaoke, kita tidak mengundang
juri dari IKJ Jakarta, tidak juga mengundang dosen London
Music School. Kita memberdayakan kuping yang ada. Saat
anak-anak berkaraoke maka semua the ladies jadi juri.
Saat ibu-ibu berlomba, maka bapak-bapak yang jadi juri.
Juga saat bapak-bapak berdangdut ria, maka anak-anak yang
hiruk-pikuk memberikan score.

Acara puncak perayaan dibuka tepat 56 menit lebih dari
waktu yang ditetapkan. Prosedur dan urut-urutan upacara
plek persis sama dengan yang biasa kita lihat di TVRI.
Ada sambutan presiden republik cabang Isle of Wight,
ada lagu Indonesia Raya dengan iringan MP3, ada lagu
Sukur dan Hari Merdeka. Perayaan cukup afdol tampaknya.

Tapi tetap saja saya merasa ada yang kurang. Ketika saya
dekati pembawa acara, saya coba tanya dengan berbisik..
“Lagu Indonesia Pusaka nya kapan dinyanyikan ?”.

“Ooo lagu itu sudah dihapus, dibatalkan sama Daddy….”.

Ha ha, saya bisa menebak siapa yang membatalkannya.
Soalnya mungkin pengalaman tahun-tahun lalu… setiap
kali menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, gak pernah tuntas.
Suara selalu tersekat di tenggorokan. Dan jadi ingin
segera pulang…
Entahlah, apa Ismail marzuki dulu sadar saat menciptakan
lagu ini, lagu yang tampaknya memaksa para perantauan
untuk tidak menjadi kacang yang lupa akan kulitnya.

Tapi penghapusan lagu dari acara memang ada benarnya.
Terbukti, semua yang hadir ikut hiruk-pikuk, tidak lagi
pikiran tenggelam atau melayang kekampung halaman.
Jalani saja apa yang didepan mata dan nikmati kemerdekaan
sebagaimana burung camar yang lebih memilih tetap
terbang daripada sekedar berkumpul untuk makan kenyang…

Tapi, itu semua sekedar kutipan dari novel fabel laris
Jonathan Livingstone Seagull karangan Richard Bach.
karena saya masih saja memimpikan syair lagunya Ismail Mz.
….. tempat berlindung dihari tua… katanya.

Dibawah kursi tempat saya duduk, ada dua boks biola.
Dua anak remaja kita sedang nunggu antrian mau tampil.
Dan…thanks God… waktu saya tanya mau mainkan apa,
“Indonesia Pusaka ooom…”. Jawabnya seolah koor.

Dan saya, segera menyiapkan kertas tissue…
Bersiap untuk mengingat kemerdekaan yang telah saya
miliki sehingga saya bisa pergi kemana saja….
Sekaligus bersiap menghayalkan kemerdekaan yang
harus dipertahankan andai saya pulang nanti…
Atau juga cuma bersiap untuk nangis sebagai hiburan…

Betul saja, sekalipun biola tidak bisa berkata-kata
tapi alunan nada-nya mampu menyampaikan pesan…
pesan bagi kita semua yang telah mendapat kemerdekaan
atau bagi kita yang sudah merasa merdeka.

Juga anak-anak yang hanya berceloteh riang, berlari,
menari, tertawa, bernyanyi dan sekalipun tidak mengatakan
sepatahpun kata “merdeka” tapi mereka betul-betul merdeka.

Untuk mereka, masih akan ada puluhan 17-Agustusan lagi
yang akan mereka alami… disini. Nun jauh dari tempat
berlindung di hari tua…
tempat yang ditawarkan Ismail Marzuki.

Dan sepuluh atau belasan tahun lagi mereka akan bebas
memilih tempat berlindung. Apakah akan memilih tempat
yang ditawarkan Ismail Marzuki atau pilih tempat lain…?.

“it’s depends….”, ini jawaban otomatis anak-anak.

Dan ibu-bapaknya…. cuma ikutan anak-anak.

St Andrew, 20080823

Gerry tidak pernah faham . . . .

“Why,..kenapa rencana holiday kamu mesti tergantung kesibukan kantor ?”,
Gerry, yang mengaku orang Sussex bertanya. Sepuluh jari tangannya
terjalin dengan kedua siku bertumpu diatas meja. Kedua bahunya sedikit
melengkung kedepan seolah terbebani oleh kepalanya yang berat.

Dua bola biru tosca menatap tajam diantara kelopak matanya yang
berkantung lembab, tanda usia perjalanan hidup telah jauh dilaluinya.
Saya yang duduk tepat lurus dalam arah tatapannya hanya bisa tergagap.
Hanya bisa melipat-lipat bibir dan tidak tahu harus menjawab apa.

Sekarang sekalipun baru masuk senja, tapi sudah jam 10 malam, dan
pertanyaan dia tadi pagi masih tetap terngiang. Ya, kenapa saya harus
menyesuaikan rencana liburan saya dengan kantor. Kenapa untuk
bersenang-senang harus menunggu petunjuk dari orang lain. Padahal,
kantor atau siapapun, pasti punya rencananya sendiri, pasti pula punya
kesenangan masing-masing.

Gerry baru gabung sebulan yang lalu, sebelumnya kerja di Farnborough
menggarap proyek euro-fighter, katanya. Sebelumnya lagi, hampir 40
tahun kerja sebagai “kontraktor” .. yaaa kemana-mana. Dia sudah tidak
ingat lagi nama-nama perusahaan atau proyek yang pernah disinggahinya.

“Amazing…. even two years… is really…too long…”, saya ingat
komentar yang selalu saya dengar setiap kali saya menjawab….
“Saya sudah hampir tiga tahun bekerja disini…”. dengan bangga.

Saya tidak yakin si Gerry juga akan bersama saya lebih dari 6 bulan,
karena 2 minggu lalu dia berbicara lama melalui mobile-phonenya, dia
dengan suara kencangnya bernegosiasi pay-rate dan starting date.
Untuk mereka, selalu saja semudah mencari semudah meninggalkan.
Easy come easy go…. ah.

Persis teman-teman lain saat baru masuk yang kemudian sudah pula
minggat keluar, dia juga mengeluh soal cost of living di Pulau.
“Disini serba mahal tapi nice place and very quite..”, katanya saat
dulu pertama datang dan langsung cerita segala macam termasuk kalau
dia sedang mencari pub seputar Newport. Tapi saya diam.

Sama seperti hampir semua englishman diatas angkatan Mick Jagger
yang saya kenal, Gerry juga mencari pub untuk menghabiskan seluruh
off-hours dari kegiatan rutin-nya bekerja. Seperti dulu dia bilang,
“Ya..saya sedang memilih-milih living room…”, sambil terkekeh.

Dan saya sudah belajar untuk diam, untuk “sabar” seperti englishman,
untuk tidak beramah-tamah bertanya “Lalu keluarga kamu bagaimana ?”
Kecuali kalau saya ingin melihat dua alis dan kening berkerut.
Karena Pub untuk mereka sudah lama telah menjadi “ruang keluarga”,
tapi pub juga bukan tempat untuk melarikan diri dari keluarga…

Tentu saja sumpah, saya belum berpikir untuk “punya” Pub, karena
saya tidak sedang lari dan tidak juga sedang mencari keluarga.

Saya hanya sedang kepikiran, kenapa seluruh waktu yang saya miliki
harus dedicated untuk kepentingan “kantor” tempat saya bekerja.
Padahal, kantor saya bukan pub dan juga pasti bukan keluarga….

Sampai jam 12 tengah malam sekarang, mata tosca Gerry serasa
mulai memudar menjadi abu-abu. Namun semakin lekat menatap.
Menunggu jawaban tapi mulai tanpa banyak berharap.
Sekarang, semua ingatan percakapan tadi pagi bertambah lengkap.
Muka putih, rambut putih, kumis putih tampak jelas mengkilap.

Namun kata tanya ini pun tidak juga mau menguap.
“Why,..kenapa rencana holiday kamu mesti tergantung kesibukan kantor ?”,
Atau kenapa harus bilang, pekerjaan masih menumpuk dikantor ?.

tadinya saya ingin bilang, karena saya work-alcoholic. ….
tapi sebelum saya menarik selimut…..
sebelum pikiran jernih yang tersisa mulai tercerabut
Saya sungguh-sungguh mulai ingat… dan sungguh-sungguh takut.

Karena ternyata bukan liburan yang yang sulit dilakoni….
tapi justru karena pekerjaan yang tidak pernah mudah dicari.
Not easy come… so not easy to let her go.

bahkan ditinggal untuk sejenak holiday ?.
Ya Gerry… kamu tidak akan pernah faham, karena kamu beruntung.

Tapi semoga saja, anak-anak saya kelak juga tidak akan pernah faham….
kenapa liburan selalu berat untuk dipikirkan.

Thetis Road, 20080801
Sutresna

—– Just another ordinary people ——
—- http://djayawikarta .wordpress. com ——

Sehat by accident

Setengah berjibaku saya merogohi semua kantung celana. Dada, paha
dan perut dan terakhir jidat ditepuk-tepuk, tapi suara ringtone
lagu Faith Hill – the way you love me – tetap mengalun sampai hampir
sepenuh lagu. Dan akhirnya saya pun menyerah. Biarkan si cantik Faith
Hill menghabiskan syair lagu riang-nya.

“Your dance was amazing….” , si Mike teman kerja, migrant Aussie
di seberang meja tiba-tiba menyadarkan kalau dari tadi saya
memperagakan tari Saman. Cuma saja saya menepuk-nepuk paha dan
dada sambil berdiri dan berjongkok.

Bunyi ringtone HP tidak berhenti oleh sekali dua tepuk. Tentu saja
bukan karena HP saya super canggih. Bukan pula saya gugup karena
ringtonenya bergaya anak remaja, tentu saja tidak. HP saya tidak
berhenti berbunyi semata-mata karena memang tidak kena tepukan,
dia ada dikolong meja.

Setelah saya melambaikan tangan ke sekeliling, say hello untuk
teman-teman kerja yang jadi penonton. Lalu sedikit membungkuk
memberi takzim dan meminta semua penonton untuk kembali menekuni
pekerjaannya masing-masing. Dan pertunjukan tari saman pun usai.

Baru saja sang HP dalam genggaman, belum sempat melihat missed call.
Faith Hill kembali bernyanyi riang. Tapi, kali ini saya sigap memijit
tombol yang ada gambar telepon hijaunya.

“Helllooo, I am doctor Finch….”, suara dari seberang jelas terdengar
tapi bukan aksen English bukan pula British….

“You are looking for your medical report, aren’t you..?” Pelahan dan
kata-katanya jelas. Dan saya buru-buru bilang iya-iya. Dokter Finch
adalah dokter yang menggantikan GP saya yang kebetulan sedang Holiday.

Minggu lalu saya diminta oleh NHS untuk test-darah, tentu saja saya
bersungguh-sungguh ingin mendengar laporannya. Saya beruntung, atau
mungkin juga semua pasien immigran di Inggris beruntung. Karena
hampir semua dokter yang praktek di Inggris…adalah juga immigran.
Karena immigran maka ucapan English-nya jadi lebih jelas didengar.

Kebanyakan dokter disini import dari India, Germany, USA dan Spain.
Perawatnya banyak aseli English dan Filipina. Dokter Finch yang
mau-maunya memberi laporan panjang lebar dengan gratis pula, juga
berasal dari Germany.

Sekalipun ucapannya jelas, tapi terus terang saja sebelum muncul
kata-kata kolesterol, semua kata-kata dokter yang bisa saya fahami
hanya kata-kata… .”It’s excellent… everything fine…OK… “.
Banyak item yang disebut tapi saya cuma ingat excellentnya saja.
dan saya pun mudah menanggapinya cukup dengan thank you-thank you.

Karena saya tahu, penyakit orang Indonesia yang kebetulan bisa cukup
makan selalu tidak jauh dari Cholesterol atau juga asam urat dan
overweight. Itu satu sisi, sementara sisi kedua juga rada extreem,
kurus banget atau bahkan busung laper. Saya boleh jadi hampir masuk
kedalam golongan extremis yeng kedua.

Menjelang akhir laporannya, doketr Finch nanya…”Any question ?”
Kesadaran generik yang mendorong mulut saya berbunyi lagi-lagi
“Cholesterol ?”, karena tadi penjelasan tentang cholesterol sedikit.

“Ya..ya.. your cholesterol very fine….”, lumayan tegas dia.

Tentu saja saya pun bergegas bilang thank you berulang-ulang.
Bisa thank-you untuk cholesterol saya yang fine, tapi jujur saja
ucapan thank you saya lebih karena saya merasa di-manusia-kan. …

Menjadi manusia yang telah dengan sengaja ditelepon dokter Germany.
Atau, juga justru dokter Finch yang memang lebih manusia karena
mau-maunya memberi laporan hampir 15 menit dengan pordeo. Laporan
kesehatan saya untuk kepentingan saya sendiri.

Tapi ketika saya merasa berkesempatan untuk nanya pantangan… .
mulai nanya-nanya jenis-jenis makanan. Tiba-tiba dia memotong,
“Hold on…hold on…do you eat meat ?”, pertanyaan rada aneh
untuk saya, tentu saja rasanya semua orang suka daging.

Waktu saya balik tanya, kenapa nanya makan daging….dia malah
terdengar tertawa….” It’s look like a vegetarian.. .”,.katanya.

Awalnya saya penasaran dengan komentar dia terakhir, tapi
kemudian saya dapat pencerahan.. ..” Aha…dia tidak tahu kalau
saya aseli orang Bandung sang pelahap segala raw vegetable.”

Dan kalaupun saya makan daging, maka pastilah tidak akan tersisa
dalam aliran darah. Karena dua kerat daging dalam seminggu mana
mungkin cukup tersisa, dipake untuk jalan kaki 30 menitpun kurang.

Boleh jadi, sesuai judul surat NHS tentang survey life-style.
Semua life-style saya tidak ada yang sehat dan tidak menyehatkan.
Tapi kesanggupan dan keikhlasan saya mengunyah raw vegetable plus
terpaksa doyan menggenjot jempol kaki, merupakan satu-satunya alasan
yang membuat dokter Finch bilang dengan ringan….excellent …. katanya.

Cara hidup sehat ternyata bisa juga karena “kecelakaan” atau memang nasib.

Whippingham, 20080730
Sutresna

Tingkatkan Kekacauan untuk Harmoni

PUSH TO THE LIMIT

Ketika dulu dosen saya dengan ringannya menjelaskan
hukum termodinamika tentang Entrophy, maka semua
teman-teman sekelas saya dengan ringan pula memahaminya.
Tapi terus terang saja saya malah mikir yang lain-lain.

Dan saya merasa wajar, Ketika kemudian nama teman-teman
saya berbaris dalam deretan nilai A, B dan C, malah saya
mendapat nilai F yang lain-lain daripada yang lain.

Ada kata-kata sakti yang menempel selama hampir 30 tahun,
yang mungkin membuat saya mendapat nilai lain dari yang lain.

“Yaa kalau kamu susah nangkep Entrophy sebagai tingkat keadaan,
maka ambil gampangnya saja, anggap saja Entrophy itu semacam
tingkat kekacauan”. Saya ingat dosen gagah saya, God bless him.

Analisa apapun penuh dengan idealisasi, dan sesungguhnyalah
tidak ada proses di alam yang sempurna. Kurang lebih demikian
ilham yang berdengung dalam rongga kepala saya sampai sekarang.

Ajaib, setelah itu saya bisa lulus mata kuliah Termo-II, barengan
dengan yunior-yunior jauh dibawah saya tentu saja.

Tapi seperti biasa, kelulusan dari suatu mata kuliah tidak pernah
identik dengan pemahaman. Lulus boleh dengan nilai apasaja,
tapi pemahaman juga bisa kemana saja.

Dari kata “kekacauan” yang dulu mungkin dengan canda dilontarkan,
tapi isi kepala saya malah meng-imaninya kemudian sebagai CHAOS….
Sekaligus merasa menjadi orang yang sangat BIJAK bestari…

Setiap upaya orang, setiap kegiatan orang dan setiap kegiatan
yang dilakukan seseorang akan selalu meninggalkan jejak chaos…
selalu menghasilkan entrophy. Maka kita akan bisa mengukur nilai
jerih-payah orang dari jumlah entrophy yang tercecer, dari berapa
besar tingkat kekacauan atau level chaos yang dihasilkan.

Kedengaran absurd, tapi that’s abolutely work.

Lalu berulang-ulang sampai barusan adik-adik, kakak dan sobat-sobat
saya memberi laporan situasi tanah air terkini.
“Yaa begitulah, situasi masih TETAP KACAU seperti dulu kamu pergi”

Kakak saya mengulang kalimat ini setiap kali saya menunjukkan
tanda-tanda rindu anak atau rindu lotek atau rindu Pangalengan.
Tapi seperti biasa, kali ini lagi-lagi mendengar kata KACAU, saya
kembali ingat yang lain-lain. Malah ingat level Entrophy masih tetap
seperti sedia-kala. Kekacauan masih seperti dulu-dulu juga.

Saya serasa mendengar kuliah lagi, serasa disadarkan bahwa proses
ditanah-air belum sempurna. Dan memang mustahil sempurna.

Dan tentu, pilihan pulang atau jadi “traitor” tidak lagi tergantung
level Entrophy. Juga bukan karena kekacauan masih marak merajalela
ditanah air tercinta. Karena kesempurnaan sekedar bagian dari idealisasi.

Kesempurnaan sekedar harapan. Sebagaimana orang-orang hanya bisa
berharap lahirnya HARMONI yang menjadi ciri indahnya kehidupan surgawi.

Tapi, tunggu dulu…. bukankah HARMONI semata-mata ultimate-nya CHAOS ?.
Bukankah harmoni juga artinya puncak atau muara dari segala kekacauan
yang tiada tara ?.

Harmoni itu hening….dingin. Tiada lagi panas mesin, tak perlu lagi
ekonomi atau politik yang menghangat. Juga tiada lagi panas didalam hati.
Dan pasti, harmoni tidak lagi perlu panas tubuh dari orang yang hidup.

Jika ternyata entrophy yang menjadi ukuran jejak kehidupan, jejak panas.
Dan pula harmoni menjadi ultimate kesempurnaan, akhir dari kekacauan
sekaligus menjadi impian kita semua…… tapi mustahil ada orang
yang mau memasukinya. … kecuali mungkin suicide bomber.

Maka masalah utama keluhan adik-adik, kakak dan sobat-sobat saya ditanah
air…..adalah karena justru “KEKACAUAN MASIH TETAP seperti dulu…”

Yang bisa diartikan, panas tidak, dingin-pun tidak, dan juga tidak ada
perubahan. Memanas tidak, tapi mati sekalian pun tidak.

Karena saya ingin pulang dan ingin ada perubahan, maka saya sekedar
ngasih kemungkinan untuk adik-adik saya terutama yang ingin ada PROGRESSIO,
supaya mau meningkatkan Entropny, meningkatkan kekacauan sampai limit
mendekati ultimate. Sampai harmoni itu menyembul kepermukaan. …

Entrophy mungkin sekedar jejak panas, dan kekacauan sekedar jejak upaya.
Jika kekacauan masih tetap cuma segitu-gitunya, bahkan mungkin sekedar
warm like a cock’s shit… maka Harmoni masih jauh ..jauh sekali.

So, Push to the Limit…. sampai harmoni atau bahkan sang kebenaran itu
terpaksa bersedia menampakkan diri.

Victoria Road, 20080725

Memenuhi panggilan PUSKESMAS

Soal peduli status kesehatan, mungkin saya termasuk orang yang
seperti kata Sister Ken barusan bilang: “Whatever ….you just
let your body flow.. going somewhere,….. innit ?”

Saya seperti biasa hanya menjawab dengan memamerkan deretan gigi.
Habis mau apalagi, memang gak pernah merasa sakit kok. Juga waktu
di Bandung, dokter yang bolak balik saya datangi hanya dokter gigi.

Mendatangi dokter gigi termasuk “low risk” tapi sekaligus darurat.
Darurat, karena sakit gigi sangat mengganggu MOOD. Low Risk
karena apapun kabar yang akan dikatakan dokter gigi pasti tidak
akan jauh-jauh dari masalah rongga mulut. Masih jauh dari jantung.

Mungkin karena saya lebih takut mendapat kabar saya berpenyakit
daripada betulan saya menderita sakit. Atau juga konon seperti
pepatah Nabi Isa AS, katanya lebih banyak orang mati karena
takut melihat kematian, daripada mati karena nyawanya melayang.

Hampir sebulan yang lalu saya mendapat surat undangan dari Cowes
Medical Centre, puskesmas-nya pemkot Isle Of Wight untuk pemeriksaan
kesehatan. Tapi ada penjelasan yang rada maksa, jika tidak merespon
dalam waktu 5 minggu, maka puskesmas akan menelepon.

Undangan ini rada aneh datang ke saya, karena sejak 7 tahun lalu
pertama masuk negeri ini dan wajib daftar NHS sekalian mendapat
Nomor registrasi National Insurance, saya belum pernah dengan
sengaja mempergunakan salah satu hak saya sebagai pembayar pajak.

Dulu pernah saya sekali mengunjungi St Marry Hospital. Itupun
karena terpaksa. Teman-teman saya mendudukkan saya diatas kursi roda,
lalu mereka rame-rame mendorongnya masuk rumah sakit. Saat itu,
setelah tanya-tanya kepada teman yang ngantar, setelah periksa
air seni, darah, denyut jantung dan X-Ray, dokter-dokter yang
mengerubuti saya cuma bilang “Kamu harus banyak-banyak minum”.

NHS itu semacam Dinas Kesehatan Pemerintah di Indonesia, yang
melayani kesehatan masyarakat dengan “gratis”. Tapi sesungguhnya
di-dunia-ini tidak ada yang gratis. Pelayanan NHS dibiayai oleh
pajak penghasilan dari setiap kepala. Tapi kualitas pelayanan
sama untuk setiap orang, tidak peduli bayar pajak besar, kecil
atau bahkan bagi yang tidak mampu bayar pajak.

Mungkin mirip istilah pejabat di Indonesia “subsidi silang”. Karena
disini berlaku “jika seseorang nganggur maka yang salah pemerintah”.
Dan jika lapangan kerja tersedia diseantero negeri, yang artinya
banyak orang yang bayar pajak, maka itu juga karena pemerintah.
Juga saya ingat, sepertinya pemerintah Inggris mengikuti kata-kata
mang Dulloh guru ngaji saya 40 tahun lalu, katanya…
“Dan diantara rejeki kamu terdapat rejekinya orang lain”.

Jadi, saya tentu saja “ikhlas”. Selalu bayar pajak lumayan badag.
Tapi tidak pernah mempergunakan layanan kesehatan. Boleh jadi,
sekalipun saya sangat menghormati mang Dulloh almarhum, tapi jujur
saya memilih ikhlas semata-mata karena takut dengar temuan dokter.

Saya sampai di Medical Centre jam 3:45, karena sebelumnya sudah
appointment dan waktunya jam 4:00 sore untuk bertemu Sister Ken
nurse senior yang menangani soal-soal medis ecek-ecek. Kalau
soal medis berat…. pasti saya gak akan mau datang. Just kidding.

Siser Ken nanya macam-macam, mulai gaya hidup, apa punya keluhan ?,
apa punya turunan penyakit jantung ?, lalu minta saya ukur tekanan
darah, timbang badan, ukur tinggi, Lalu “Excellent…!!!”, katanya.

Sekalipun sangat biasa dengar orang bilang excellent, tetap saja
saya penasaran, ” Ya…that’s excellent  174 60 110-70…”, dia
menjelaskan sambil melihat grafik di layar komputer. Saya serasa
melihat ibu Bidan Sutijah yang sedang melaporkan pertumbuhan bayi.

“Tujuh tahun lalu…berat kamu 54 “, Sister Ken tersenyum. Lalu
“Olahraga rutin kamu apa….? “, dia bertanya sambil tetap
menghadap komputer.

“Saya tidak olah raga….tapi tiap hari saya jalan kaki ke kantor.”,
saya bilang sambil tetap mikir.

“That’s brilliant…. how long it takes ?”

“Dua kali 30 menitan….kadang pulangnya lifting teman…”.

“Brilliant …excellent…excellent… kamu masih merokok ?”

Dan ini pertanyaan yang sangat saya tidak suka. Mikir sebentar,
“Unfortunately masih….”, saya jawab sambil malu-malu.

“Ooooo dear….”, seolah dia menyesal telah kadung bilang excellent.

“Tapi…saya juga makan nicorette…”, saya bilang maksudnya
sedang berusaha berhenti dengan makan obat anti nikotin.

“Sukses….?”, kali ini dia sengaja memajukan kuris mendekat,
penasaran rupanya dia.

“Sekarang 2 bungkus seminggu…”, saya jawab sambil berhitung.
Tapi Sister Ken kembali balik menghadap komputer….

“Kok….7 tahun lalu kamu bilang sebungkus seminggu ?”, dia
kali ini tertawa betulan.

“Anyway Sister… dulu saya sebungkus sehari, sekarang
sebungkus 3 hari. Tapi kemajuan ini bukan karena Nicorette,
bukan pula karena saya sadar kesehatan. Tapi karena takut
kena denda…”. Saya jelaskan kesuksesan saya dengan jujur.

“Ha ha ha… amazing law, amazing government…innit ?”

Khusus soal amazing Law, saya setuju. Tapi kalau bilang setuju
juga amazing government … itu mah pamali, tabu untuk saya.
Apalagi Isle of Wight dikuasai mutlak partai conservative.

Ya betul, penegakkan hukum dan kejelasan hukum yang menjadikan
negeri ini “maju” seperti sekarang. Tidak peduli pemerintahnya
siapa. Tidak peduli masyarakatnya seperti apa.

Pajak lancar, sekolah gratis, pelayanan kesehatan gratis,
sampah tidak menumpuk, lapangan kerja terus bertambah…
hidup dipaksa lebih sehat… semuanya datang belakangan.

O iya… saya baru kali ini mau, saat dia menawarkan untuk
general chek-up. “Bebas pilih hari….” katanya meyakinkan.

“Kamu mau chek apa saja …tinggal contreng, isi form dan
kamu datang sendiri ke St Marry Hospital….”.

Sekarang saya lagi mikir berat, kalau-kalau nanti ditemukan
ternyata saya penyakitan……   gimana ?.
Bukankah siswa SMA yang sehari-harinya cemerlang pun
belum tentu lulus UAN atau lulus ujian masuk perguruan tinggi ?.
Medical Centre, 20080711
Sutresna

diatas Floating Bridge…..saya hidup

Floating Bridge, tapi islander lebih suka menyebutnya “Chain Ferry”
karena “jembatan” ini berlayar bolak-balik merambati rantai. Mirip
perahu getek penyebrangan di sungai-sungai Jakarta yang merambati
tali dengan nakhoda yang merangkap sebagi mesin penggerak.

Saya tiap hari pergi ke tempat kerja selalu harus nunggu Chain Ferry
untuk menyebrangi sungai, karena mustahil berenang. Saya tentu saja
senasib dengan ibu-ibu atau anak-anak sekolah di Jakarta yang tiap
hari harus nunggu perahu getek untuk nyebrang sungai banjir kanal.
Saya tidak tahu, apa sekarang perahu-tambang masih beroperasi di
sungai-sungai Jakarta.

Chain Ferry di Isle Of Wight adalah salah satu dari 5 yang tersisa
diseantero Britain. Sudah beroperasi sejak tahun 1859, perahu getek
yang masih beroperasi sekarang merupakan yang ke 9 dan bertenaga
diesel. Tapi awalnya Chain Ferry memanfaatkan tenaga kuda.

Perahu getek yang pertama betul-betul ditarik seekor kuda. Tentu saja
kuda-nya tidak perlu berenang disungai. Rantai dililitkan pada roda
besi dipinggir sungai, dan sang kuda berjalan berkeliling. Lalu
roda besi ikut berputar mengikuti kuda sekaligus menggulung dan menarik
rantainya. Mechanical engineering terkadang sangat sederhana. Cuma saja
untuk jadi manfaat memerlukan sedikit kecerdasan dan keberanian,
keberanian untuk mencoba. Atau pake istilah sekolahan, punya visi.

Perahu getek ini muat sampai 16 mobil sedan ukuran 1300cc-an. Kalau
truk besar juga ikutan masuk, maka jumlah mobil yang bisa diangkut
juga berkurang. Kendaraan bermotor ditarik bayaran, tapi pengendara
sepedah dan pengendara kaki seperti saya gratis. Tapi Umumnya di Inggris
kendaraan bebas emisi seperti sepedah dan jempol kaki selalu gratis.

Floating Bridge berada tepat dimulut muara. Lebar sungai Medina disini
150 meter pada saat highest tide, dan 75 meter pada saat the lowest.
Sungai ini sibuk dengan lalulintas Yacht, motorboat dan kapal laut.
Panjang sungai dari muara di Cowes sampai hulu di Newport sekitar 8 km.

Kapal laut hilir mudik masuk sungai mengangkuti BBM, bahan bangunan
termasuk pasir dan batu, dan juga bahan baku dan hasil industri.
Karena disepanjang aliran sungai menuju Newport dari Cowes ada beberapa
pabrik, diantaranya komponen-komponen kapal, mobil dan pesawat. Serta
yang selalu jadi pusat perhatian, pabrik Turbin Angin pembangkit listrik.

Dulu waktu pertama datang dan melihat Chain Ferry rasanya aneh. Kapal
bermuatan mobil menyebrangi sungai dengan ditarik rantai yang tertambat
dikedua tepi sungai. Sementara kapal dan perahu, santai saja melintasi
sungai tanpa terjerat bentangan rantai.

Baru belakangan, setelah menyaksikan sendiri kejadian ada perahu layar
cukup besar tersangkut rantai, saya bisa faham. Kejadian ini mengheboh
kan, karena banyak penyebrang tertahan di kedua tepi Cowes dan East Cowes.

Jika selama ini, chain ferry bisa hidup rukun berdampingan secara damai
dengan kapal-kapal yang melintasi rantai, ternyata bukan karena keajaiban.
Juga bukan karena asal-asalan. Tapi semua karena mematuhi aturan. Aturan
yang sebelumnya dibuat dan disusun dengan penuh perhitungan.

Accident, kejadian tersangkutnya kapal layar oleh bentangan rantai Floating
Bridge ternyata karena saat itu si pengemudi kapal layar keasikan ngobrol
dengan sang isteri. Padahal laut sedang surut, air sungai mengalir kearah
laut dan kapal layar sedang keluar dari tempat parkir di Newport menuju laut.
Mungkin saat itu pengemudi kapal layar yang berusia sekitar 70-an asik
fokus ke laut dan lupa-daratan. Juga karena terlalu excited mau berlayar
berdua dengan sang isteri tercinta merayakan ulang tahun perkawinan perak
atau mungkin juga emasnya. Siapa tahu.

Si Fred tetangga saya bilang, accident terbandringnya kapal oleh rantai
rata-rata antara 2 sampai 3 kali dalam setahun. Kejadiannya juga hampir
selalu terjadi disaat musim panas seperti sekarang. Disaat banyak orang
datang ke Isle of Wight untuk Yachting, berlayar bersenang-senang.

Alasan ini pula yang mungkin jadi alasan masyarakat dan pemerintah belum
mau berkeinginan membangun terowongan bawah tanah melintasi sungai. Juga
belum mau membangun jembatan permanen…. biayanya mahal katanya.
Selain itu, Floating Bridge juga menjadi tontonan unik sekaligus
menyediakan lapangan kerja warga pulau dan menjadi sarana “meeting point”.

Islander dan juga saya terpaksa harus ikutan bangga sebagai penghuni
Isle Of Wight. Karena pulau ini punya sejarah panjang sebagai “tukang
perahu”, juga sebagai rumah bersalin dari kendaraan yang serba amfibi.
Mulai pesawat terbang amfibi sampai Hovercraft, kapal laut amfibi.

Dan dari sejarah “core industri” ini sekarang muncul “spin off”, pentalan
berupa keahlian lain, keahlian composite, bahan struktur pengganti logam
dan juga penggati kayu.

Mungkin karena mengikuti budaya pelopor dari kerajaan Inggris, yang selalu
ingin yang pertama. Jika kebetulan bukan yang pertama, maka tanpa malu-
malu kerajaan mengundang sekaligus membiayai para penemu dunia untuk
mempraktekan dan menerapkan temuannya di tanah Inggris.

Dan karena itu Italian Marconi dengan radio telegrafinya, American Graham
Bell dengan teleponnya beruntung dapat “beasiswa” dari kerajaan sekaligus
praktek lapangan di laboratorium in-situ England.

Begitu juga dengan penerapan teknologi material Composite….
pada saat semua orang masih ragu apakah ekonomis, apakah layak composite
dipake untuk strukture utama pesawat besar. Maka perusahaan Inggris yang
ditanah Inggris, di Isle of Wight maksudnya menjadi yang pertama didunia
menerapkan composite untuk rangka sayap pesawat sekelas Hercules.

Saya ingat, dulu teman kuliah sering diskusi memikirkan karir kedepan.
“Apakah kamu mau jadi kepala kucing ataukah pilih jadi buntut macan ?”

Dan teman-teman kuliah saya pada gila, malah mereka jadi kepala macan.

Disini, saya cuma ikut numpang bangga sebagai bulu…..itupun entah
macan, entah singa…juga entah kucing atau malah sekedar bulu tikus.

Tapi, saya selalu telepon ke anak-anak saya, bahwa bapaknya sekarang
sedang menjadi bulu dari “nabi adam” nya harimau. Kalau ternyata
bukan harimau, bapakmu sedang jadi bulu “nabi adam”nya kucing…

kalau juga ternyata bukan kucing….maka nanti akan saya yakinkan
pada anak-anak saya bahwa saya bekerja dengan para pelopor….

 

Floating Bridge, 20080713

Sutresna

Membeli Atmosfer Festival Musik Isle Of Wight 2008

Jika bukan karena The Police, barangkali untuk saya Festival Musik Isle of Wight tahun ini akan sama dengan tahun-tahun kemarin. Atau hanya sekedar menjadi pengetahuan atau bahan bacaan, bahwa dulu disini pernah tampil Jimmy Hendrix, Bob Dylan, Supertramp, Joe Cocker, David Bowie, Donovan, The Who, Chicago, Bryan Adam, Rolling Stone dan ratusan nama-nama “besar” lainnya.

Festival Musik Isle Of Wight summer 2008 ini digelar selama 3 hari kemarin mulai Jumat tanggal 13 sampai Minggu 15 Juni. Tempat sama dengan Festival tahun 2007 di areal lapangan luas dipinggir sungai Medina. Dengan gerbang masuk dari Medina Leisure Centre kota Newport.

Ketika dua minggu lalu saya dengan bangga menyebut “orang-orang besar” yang pernah tampil di Festival Isle of Wight. Dan juga dengan antusias memberikan laporan bahwa saya akan nonton Sting dengan The Police dan Sex Pistol, maka diluar dugaan, dari seberang telepon anak saya dengan ringannya memotong,

“Mereka itu siapa Pak ?”, dengan nada betulan polos tidak tahu.

Kecewa tentu saja, tapi untung saya ingat kata-kata Kahlil Gibran dalam prosa Sang Nabi, bahwa anakmu bukanlah kamu, mereka adalah milik masa depan yang mustahil menengok kamu yang ada dibelakang.

Dari 27 penampil di main-stage dan 27 lagi di panggung tertutup tenda biru, terus terang saya hanya kenal nama The Police,

Sex Pistol dan baru belakangan ingat juga nama Iggy & The Stooges, dulu Iggy Pop. Ketiganya konon hidup di jaman Punk-Rock.

Untuk mengobati rasa kecewa, maka saya bacakan saja semua nama yang akan tampil yang tertulis dalam leaflet. Dan ajaib, anak-anak saya dari seberang berteriak-teriak, “Wah asyik dong, ada Sugababe “.

Juga mereka riuh saat saya sebutkan ada the Zutons, Kaiser Chief, NERD, the Kooks, the Hoosiers, Kate Nash sampai Newton Faulkner.

Dan kali ini saya sengaja balas, “Memangnya mereka itu siapa ?”.
Tapi anak-anak saya malah berteriak, “Bapak jadul sih…”

Ya boleh jadi, The Police, Sex Pistol dan Iggy sekedar jaman dulu. Sekedar masa lalu tempat saya berdiri terpaku sampai  sekarang. Sementara anak-anak saya selalu bergerak cepat bersama perubahan bahkan mungkin bisa melesat lebih jauh kemasa  depan.

Saya beruntung atau kebetulan dapat tiket Festival karena si Jeff teman kerja saya batal nonton. Dia jual dengan harga aseli  110 Pounds, tiket tanpa camping. Harga tiket tentu saja mahal karena kalau dikurs sama dengan 2 juta rupiah. Tapi kalkulator  didalam  kepala saya sangat cepat berhitung, tiket itu untuk nonton 3 hari dan lebih 50 grup penyanyi.

Apalagi sebelumnya pernah saya dengar, tiket konser tunggal the Police atau Bon Jovi paling murah 45 pounds untuk 2 jam.

Tapi orang Inggris punya kalkulator sendiri dalam menghitung harga tiket. Dulu si Ken, lajang dari Manchester setelah pulang

dari cuti nonton Festival Glastonburry bilang “…the atmospher is priceless..”

Maksudnya si Ken mungkin, harga “atmosfer” sungguh tidak ternilai. Dan dia saat itu seolah ingin mengajari saya untuk memberi harga sangat tinggi untuk sebuah atmosfer. Harga atmosfer yang tidak akan sanggup dibayar dengan rupiah atau pound-sterling berapapun.

Dan dengan alasan yang sama, saya juga kemarin anggap saja telah membeli atmosfer-nya Festival Music Isle Of Wight 2008. Bahwa kemudian saya bisa menikmati suara sound system yang berdegup terasa nyaman di-dada, ikut menggoyang-goyangkan kaki  tanpa terasa, turut menunjuk-nunjuk langit, atau juga ikut menepukkan kedua tangan diatas kepala…. itu semua sekedar bonus dari atmosfer.

Juga sekedar bonus lain dari atmosfer ketika selama tiga hari merasakan suasana berada ditengah lautan manusia yang  bersama-sama menggoyang-goyangkan lutut dan kepala. Atau ikut bertepuk dan berteriak setiap kali penyanyi dipanggung meneriakkan kata atau irama yang enak ditelinga.

Kebetulan juga selama tiga hari festival, matahari sore terus-terusan terik menyengat. Lapangan rumput yang luas semakin dipadati orang.Orang berlomba untuk buka baju mematangkan kulit. Sekeliling orang memakai kacamata hitam dan sibuk berbaring. Tentu saja kali ini saya tidak ikutan berbaring atau buka baju. Saya memilih duduk dan buka payung.

Menurut berita, council atau Pemda Isle Of Wight hanya mengijinkan 70 ribu manusia boleh berjemur dalam festival ini. Vokalis grup N.E.R.D yang datang dari USA bilang mengaku senang berada diantara 89 ribu orang. Tapi saat diwawancara dalam channel  ITV2, panitia penyelenggara mengaku bahwa pengunjung “cuma” 65 sampai 69 ribu saja, tidak lebih.

Tapi apalah arti besar-kecil jumlah pengunjung dibanding besarnya jumlah atmosfer dan dibanding beragamnya atmosfer yang bisa dinikmati.
Seolah kesenangan yang ternikmati masing-masing orang juga sekaligus menjadi atmosfer yang menyenangkan bagi seluruh orang yang datang.

Atmosfer yang telah saya beli tentulah bukan suara Sting Gordon Summer yang memang masih mantap, bukan celotehan vokalis Sex-Pistol, bukan pula teriakan dan pameran kulit perut keriput dari Iggy yang telanjang dada.

Atmosfer samasekali bukan tontonan, bukan pula mendengarkan lagu atau musik sehingga harus hafal lagu atau kenal penyanyi. Atmosfer bukan pula mencicipi makanan atau minuman, bukan belanja, bukan wisata dan tentu bukan pula sekedar kerumunan orang.

Boleh jadi, atmosfer yang dicari orang Inggris sekedar rasa senang yang tak mungkin bisa diceritakan.
Dan pasti, atmosfer samasekali bukan kerusuhan.

Untuk saya, atmosfer Festival Musik Isle Of Wight 2008 adalah perasaan senang saat berada ditengah puluhan ribu manusia yang juga tampak sama-sama senang.

Si Ken benar, sekalipun masing-masing orang tidak terkecuali, tua-muda, kaya-miskin, sakit-sehat pasti ingin senang. Tapi harga atmosfer memang tidak ternilai. Karena atmosfer hanya bisa tercipta dari tekad bersama disaat dan tempat yang sama, untuk sama-sama senang.

Atmosfer, sebenarnya bisa diciptakan dimanapun oleh siapapun tanpa biaya sepeserpun. Dan tiket mahal tampaknya sekedar untuk menjamin agar orang yang datang adalah orang yang sunguuh-sungguh berkeinginan senang.

 

Newport, 20080615

Early Summer In London

Home Office Inggris mirip departemen dalam negeri nya NKRI, tapi disini
juga berurusan dengan segala kegiatan orang asing. Sebagai TKI, tentu
juga saya harus berkenalan dengan Home Office. Karena itulah, hari
Kamis kemarin saya bersama seorang teman TKI diminta datang ke London
untuk company audit. Karena perusahaan yang mendatangkan pekerja migran
harus diaudit oleh Home Office.

Mungkin kebetulan saja, saya berdua dengan teman terkena sampling
random. Sekedar dua sample mahluk pekerja migran diantara puluhan yang
telah didatangkan perusahaan. Sekalipun dianjurkan untuk santai-santai
saja tidak perlu takut atau tegang, tapi saya dan teman tetap saja full
persiapan. Bukan hanya paspor, segala dokumen kembali dipelajari, visa
dan teruatama ijin kerja dan kontrak dibaca bolak-balik. Untuk urusan
seperti ini, paspor saja terkadang tidak menolong

Jam 7:30 saya sudah antri tiket Ferry sekalian disini pesan tiket
Kereta Api. Lumayan mahal hampir 70 GBP (sekitar 1,3 juta rupiah) untuk
day return dari Cowes – SouthamptonLondon dan sebaliknya. Mahal
katanya karena tiket business-day sebelum jam 9. Harga ongkos itu
termasuk discount karena menunjukkan kartu-karyawan, comapany card.
Sebelumnya saya selalu wanti-wanti untuk selalu membawa Company-Card
agar ongkos Ferry dapat kortingan,

Sepuluh menit kemudian saya sudah ngebut diatas jet-ferry, sailing
crossing the Solent perairan dengan tol termahal sa-dunia.  Tidak ada
yang istimewa, semua penumpang tenggelam dengan koran pagi, The
Independent, Trafalgar, Daily Morning atau dengan laptop nya
masing-masing. Sebagian anak anak membuka Nintendo DS, dan orang muda
sibuk menggoyang-goyangkan kepala karena kedua kupingnya tersumbat
microphone iPod.. Saya sendiri sibuk chatting dengan pikiran sendiri,
nanti di London harus ngomong apa ?.

Deg-degan saya, boleh jadi sama dengan yang dirasakan para TKW yang
bekerja di Timur Tengah setiap kali harus menghadap Petugas dari negara
tuan rumah. Tentu saja tidak ada yang lebih nyaman daripada hidup
nyaman di negeri sendiri. Sekalipun mungkin lebih deg-deg-an jika
mendapat panggilan polisi POLSEK di Bandung. Karena konon anggota POLRI
lebih terampil dan selalu sukses dalam menanyai orang.

Jika kali ini ada yang membuat saya percaya diri, tentulah karena
kemarin saya sudah minta ijin cuti khusus ke line-manager saya, cuti
atas panggilan negara istilah dulu waktu di Bandung. Selebihnya,
sebagaimana ucapan Ida salah seorang TKW yang dulu sempat ketemu di
bandara Abu Dhabi, katanya,
“Ya… kalau sampai diapa-apain mah atuh…. Kita pasrah saja sama Yang
Diatas.”.

Dan saya juga masih terngiang sepenggal syair lagu yang diteriakkan
buruh demonstran yang bernyanyi di Trafalgar Square, “ … kami tidak
takut bekerja keras….  Kami tidak takut mati…… kami hanya tidak mau
bekerja pada orang yang serakah….!!”.

Dengan bekal quote dari Ida yang TKW, teriakan berani para pekerja yang
sedang berdemo, dan keyakinan bahwa semua manusia menyenangkan pada
dasarnya. Maka saya hentikan segala deg-deg-an dan kecurigaan.

Tidak lebih setengah jam kemudian, jet-ferry merapat di pelabuhan
Southampton. Jaket hitam multi purpose, yang setia menyelimuti saya
selama lebih 3 tahun ini terpaksa dibuka. Karena summer is coming,
karena semua orang juga menenteng jas nya ditangan. Lebih dari itu,
karena pagi ini terasa hangat dan terang benderang.

Berlomba jalan cepat keluar dermaga  menuju bus-stop ternyata punya
cerita sendiri. Saya yang spesialis pedestrian tentu saja unggul lebih
duluan mencapai pintu bus City Link, bus gratis pemkot Southampton.
Saya berdiri disamping bapak bule senior seusia Abah saya yang berdiri
dengan sedikit tremor. Saat bunyi joss hidrolik pintu bus mulai
terbuka, saya persilakan si bapak naik duluan….dan,

“Oooo thank you …young man… God bless you”, katanya tersenyum yang
menampakkan deretan gigi abu-abu nya sambil nepuk-nepuk pundak saya.
“No problem….”, saya niru jawaban umum Englishman, “semoga negeri anda
juga tambah makmur dengan kehadiran saya…..”, tapi yang ini dalam hati
saja.

Southampton Central station masih seperti 7 tahun lalu, bangku-bangku
besi cat putih dan lantai platform bergaris kuning tebal yang
memperingatkan calon penumpang supaya tidak berdiri terlalu dekat rel
kereta. Berbagai Kereta datang dan pergi silih berganti. Dengan cat
warna warni, sesuai selera operator, Virgin masih dominan merah, Cross
Country yang baru kombinasi abu putih dan biru, Wessex dan juga
SouthWest Train biru merah yang akan membawa saya ke London.

Ritual duduk didalam kereta api, rupanya sama dengan ritual duduk di
atas Ferry. Orang-orang buka koran, buka laptop, chatting pake Black
Berry atau Nokia atau juga sekedar geleng-geleng kepala dengan penutup
putih di kuping. Cuma saja orang di samping dan di seberang saya sibuk
membuka-buka lembaran kertas HVS dan sama-sama memberi catatan dengan
pinsil, yang satu terbaca Dubai draft contract, satunya lagi … Malaysia
Finance ….…. samar-samar.

Tanpa suara, tanpa gemuruh, tanpa lonjakan, tanpa goncangan, kereta
begitu saja meluncur. Terus saja sunyi sampai stasion Waterloo London,
bahkan tidak terdengar percakapan apapun. Kecuali bunyi tik-tik
keyboard dan gemerisik kertas koran dibuka. Sepertinya, jam kerja
dimulai sejak orang duduk di kursi kereta.

Kereta calling for Winchester, singgah maksudnya, dan penumpang yang
naik dari sini yang semuanya tampak lebih perlente membuat gerbong
menjadi penuh. Dan pagelaran lembar HVS yang bertulisan “contract” pun
lebih meriah. Ini pula yang membuat saya lebih nyaman, karena artinya
pasti akan semakin banyak job disini.

Seperti biasa, kereta api Inggris dikenal sebagai kereta karet diantara
perkereta api-an negeri Eropah. Melewati station Vauxhall, speaker
bersuara memecah keheningan dengan suara permintaan maaf sang
masinis…..apologise for 5 minutes late…. Terdengar nyaring dengan suara
tenor yang mantap.

Konon, menurut teman-teman yang bekerja di Jerman, Perancis, dan
Belanda, toleransi keterlambatan KA di negeri-negeri itu 0.0 detik,
entahlah. Tapi dulu waktu saya cerita soal kereta karet Inggris, si Ken
yang orang Manchester berkilah, katanya karena British Railway dikelola
manusia, dikelola secara human. Tidak seperti railway nya negara-negara
Eropa daratan yang dikelola oleh Machine….

Pledooi nya si Ken membuat saya sempat takjub. Mungkin karena dikelola
oleh human juga, makanya perkerata-api-an Indonesia selalu rugi dan
kumuh. Tapi entahlah.
Karena menurut si Ken, Kereta terlambat 5 menit atau 1 jam, sangat
manusiawi.

Station Waterloo juga ternyata masih seperti dulu, rame serasa di
bandara. Orang-orang pada berdiri begerombol menonton display
elektronik deretan jadwal kereta ke berbagai jurusan Inggris sampai
jadwal Eurostar ke daratan Eropa.

Karena semua orang berjalan selalu cepat, maka saya terpaksa ikutan
jalan cepat, sekalipun belum tahu mau berjalan kearah mana. Teman saya
yang aselinya dari Ciroyom berteriak cukup jauh dibelakang. Dia
menunjukkan papan bergambar bulatan biru yang khas dengan tulisan
Underground merah ditengahnya. Ditengah lalu lalang orang, sangat jelas
terdengar suara teman saya yang sangat berbeda….
“Itu….euy tube…”, kecuali tube, ini teriakan aseli Sunda, bahasa darah
daging saya yang bergema ke seantero Station Waterloo yang beratap
tinggi trusses baja.

Dan saya segera saja menyusul dia menuju station kereta bawah tanah.
Persis pengalaman pertama, kali ini juga sengaja beli karcis dari mesin
yang sama seperti 7 tahun lalu. Seolah berusaha melestarikan sejarah.
Hanya saja kali ini beli tiket pake kartu debit, tidak seperti dulu
mengucurkan recehan coin. Ada kemajuan lah karena teman saya sekarang
berani bayar-bayar apapun pake kartu plastik saja.

Sesuai tujuan ke Finchley Road, maka Jubilee Line adalah jalur tube
yang akan dipergunakan. Dan karena seperti orang Banjaran udik yang
kebetulan traveling ke Jakarta, maka akan bersenagja melihat-lihat
jakarta biarpun sudah berkali-kali. Saya juga aji mumpung, mumpung di
London sepantasnya lah berkeliling dulu kota London. Untuk itu dipilih
tiket one-day traveler, naik tube sekenyangnya. Ongkosnya 9.4 pounds
(sekitar 170 ribuan). Cukup murah dibanding ongkos-ongkos di tempat
saya Isle of Wight.

Empat baris tangga elevator turun yang menuju platform Jubilee Line
dipenuhi orang. Sadar sedang berada di terowongan raksasa yang dalamnya
sampai 100 m dibawah tanah, selalu saja menerbitkan pikiran-pikiran
buruk. Kalau-kalau listrik mati, elevator mati, lalu gelap pula. Atau
lebih seru lagi kalau-kalau banjir seperti rutin menenggelamkan kota
Jakarta, gimana ?. Tapi orang sini enteng saja, cukup percaya sama
pemerintah saja, atau cukup percaya saja pada tukang-insinyur.

Menunggu kereta datang yang akan keluar dari lubang hitam pekat,
ternyata asyik juga. Tanda-tandanya jika tiba-tiba terasa ada angin,
maka kereta sudah dekat. Karena ukuran penampang kereta mepet sekali
dengan ukuran lubang terowongan. Maka jika kereta bergerak, seperti
plunyer bergerak didalam tabung pompa. Dan kita yang berdiri di
platform merasakan angin hasil pompaan gerbong kereta.

Gerbong Kereta masih menyediakan cukup ruang untuk penumpang berdiri.
Karena mungkin jam 9 orang-orang masih sibuk ditempat kerja, Cukup
kencang kereta melaju dan gemuruh pula. Saat speaker mengumumkan “next
station is Swiss Cotage”, saya mulai pasang kuda-kuda. Karena satu
perhentian lagi akan sampai tujuan. Station Finchley Road berada diatas
tanah, tapi stationnya tetap saja disebut “underground”, dan orang
menyebut keretanya juga masih “tube”.

Sekeluarnya dari station, seperti biasa saya mengajak teman saya untuk
melakukan ritual turis Amerika dan Australia yang datang ke London.
Ritual berteriak, tapi pelan saja, “ Here we are in London..”. Entah
apa maksudnya. Mungkin mereka yang jaman dulu datang ke London serasa
kembali ke peradabannya setelah hidup dalam pembuangan atau juga
kembali dari penjelajahan.

Kantor tempat bertemu dengan petugas Home Office berada di lantai 5,
yang berupa penthouse. Ternyata saya sampai ditempat masih 2 an jam
lagi sampai pada “moment of truth”. Menunggu memang tidak nyaman.
Apalagi menunggu pemeriksaan, pikiran mencoba menebak-nebak kira-kira
apa yang akan ditanyakan, akan sedetail apa materi pemeriksaan, juga
akan se-sangar apa tampang si pemeriksa. dsb. dsb.

Jam 10 an bel tamu berbunyi, di TV monitor tampak laki-laki bule
setengah baya bicara minta ijin masuk, tapi suaranya tidak terdengar.
Resepsionis menekan tombol remote pembuka pintu. Dan kita dua TKI
segera merapikan diri, sekaligus berlomba ke WC. Sesuai teori
psikologi, konon WC selalu menyediakan perlindungan bagi orang yang
sedang stress.

Beberapa saat kemudian, tamu bule perlente berjas biru tua bersama 2
temannya sudah sampai dilantai atas. Tapi, kepada resepsionis dia
bilang bahwa dia building manager dari bangunan kantor dan minta ijin
untuk ke atap gedung melalui jendela yang ada disini. Rupanya, mereka
tukang betulin atap, dan bukan petugas Home Office yang sedang
ditunggu-tunggu. Ketegangan di-dada pun me-reda.

Ketika jam menunjukkan 11 kurang 5, bel tamu kembali berbunyi. Dilayar
TV monitor kembali tampak kepala, tapi muda dan rada gundul. Setelah
terdengar suara perempuan, resepsionis memberi tahu, “Now…. They are
Home Office guys..”. Tapi kali ini, saya tidak tegang lagi. Ketegangan
sudah habis oleh tukang betulin atap.

Ketegangan semakin sirna setelah kita bersalaman, mereka berdua laki
dan perempuan yang masih muda-muda. Tentu saja, confident pun naik ke
kepala. Dan saya besemangat untuk maju jadi yang pertama diwawancara.
Betul saja seperti orang bilang, “Jika adu keyakinan, maka usia yang
akan menentukan”. 

Saya camkan saja dalam hati, saya puluhan tahun hidup, datang jauh-jauh
kesini untuk cari hidup. Sementara mereka, tidak lebih lama merasakan
hidup tapi sudah sejak lahir disini selalu menikmati hidup. Dan
jampi-jampi ini mujarab. Sejauh ini audit berjalan mulus. Atau seperti
si Jason owner kantor bilang saat neraktir special lunch di restoran
China …so far so good. Semoga saja begitu hasilnya nanti.

Karena so-far-so-good itu pula, berdua dengan teman TKI saya bisa enjoy
menikmati teriknya summer di London. Naik-turun dan keluar masuk lubang
Underground, jeprat sana jepret sini foto-foto. Juga selonjoran di
taman Hyde Park. Tapi sementara ratusan atau ribuan orang berjemur
dibawah terik matahari sore, kita ikutan berjemur dibawah pohon rindang
saja. Karena panas-panasan sudah bosen saat di Bandung.

Seolah tidak mau rugi karena telah beli tiket kereta Underground untuk
seharian. Sekalipun dengkul mulai gempor tapi semangat mencicipi Tube
tetap menyala. Lalu lihat buku kecil Tube-Map kembali, Station terdekat
Marble Arch ambil Central Line nanti ganti di Bond Street lalu ambil
Jubilee Line turun di Westminster, karena aneh kalau ke London kok
tidak menziarahi Big-Ben.

Hampir seribu foto-foto hasil jepretan sejak 2001, mulai kamera film
sampai digital, ternyata isinya Big-Ben, parliament buiding, London
Eyes melulu. Tapi kali ini tetap saja gantian bergaya lagi dengan latar
belakang Big-Ben. Seolah Inggris identik dengan Big-Ben.

Jam 8 petang langit masih terang. Tapi karena dengkul mulai gempor
dipake keluyuran, maka diputuskan untuk mengahiri acara summer in
London. Waterloo station dekat saja jaraknya dari Westminster.
Keinginan berfoto-foto rupanya mengalahkan “tak mau rugi” telah beli
tiket one-day Underground. Maka dengan kamera tetap ditangan, kita
berjalan kaki menuju station Waterloo.

Gerbang masuk station Waterloo melalui footbridge gedung Shell company.
Perjalanan sangat lambat karena setiap 10 meter kita berpose foto-foto.
Tepat dimulut pintu masuk station ada patung perunggu. Tentu saja
jepret lagi jepret lagi, sampai kedalam hall station yang rangka
atapnya dari trusses baja, juga menarik untuk di jepret. Tapi kali ini,
semangat menjepret harus diakhiri….

Lima orang polisi, celana biru tua, baju putih lengan pendek, berjaket
rompi kuning spotlite menghampiri kita berdua. Komendan nya sambil
mengarahkan matanya kearah kamera yang dipegang teman saya, menyapa
dengan ramah, katanya “You must be in traveling…..”.

Tentu saja seperti semua orang, saya juga senang jika ada yang menyapa
dengan ramah. Dan kita menjawabnya dengan tak kalah ramah. Teman saya
orang Sipil, dengan antusias menjelaskan ketertarikannya dengan
struktur atap station. “Ya…ya,… it’s great structure design…
beautiful…” dan entah apalagi sambil nunjuk-nunjuk ke langit-langit
gedung.

Tapi polisi-polisi itu tidak tertarik dengan keindahan bangunan. Mereka
hanya sedang bertugas mengamankan fasilitas umum dari segala ancaman
teroris. Dan menurut penjelasannya, salah satu yang bisa dianggap
sebagai suspected kelakuan teroris adalah mengambil foto struktur.
Pemerintah Inggris boleh jadi trauma dengan kejadian bom London 7/7
2005. tapi juga sangat hati-hati dengan ekses tertembaknya seorang
warga Brazil yang tidak bersalah.

Orang Barzil ini yang bekerja di Inggris ketika itu tidak tahu ada
polisi yang menghampirinya, perhatian dia sedang tertuju ke arah Kereta
Api yang akan dinaikinya. Saat kereta mulai bergerak maju, dia berusaha
lari mengejar. Dan polisi yang bermaksud menanyainya mengira orang ini
melarikan diri dan…di dor lah.
Setelah itu tidak ada lagi polisi di tempat umum yang pegang senjata
api. Juga kali ini, para polisi bertangan kosong. Kalau saya iseng
lari, paling juga hanya diteriakin.

Pak polisi berulang-ulang menjelaskan bahwa mereka tidak bermaksud
offense. Tapi semata-mata random saja, kebetulan juga kita berdua
menggendong tas yang massive, alias buntelan besar karena berisi jaket
dan perlengkapan kamera.

Tanya jawab lebih mirip obrolan ramah tamah ketimbang interogasi
didepan umum. Tapi tetap saja mereka mengisi form pertanyaan, mulai
nama, alamat, berat dan tinggi badan, pekerjaan sampai wana baju dan
sepatu.

Dan beruntunglah, kita membawa Company-Card, kartu karyawan. Dan waktu
mereka membaca nama perusahaan, mereka pun riuh…..
“Oo… you are aerospace engineer…..this is a big…big company…isn’t
it…”.
Katanya.
Dan sekarang gantian kita berdua yang tercengang.

Sementara saya nungguin teman yang sedang di-“interogasi”, saya tanya
ke polisi satunya lagi, apa saya juga perlu memberi keterangan seperti
teman saya. Setengah bingung, polisi yang lebih senior malah menyuruh
polisi yang lebih muda untuk menanyai saya…. “ You handle him…….”,
katanya kepada si polisi muda.
Lalu mendekati saya dan berbisik…”He is a policeman but he is an
avionic engineer ….as well…”, sambil tersenyum dan ngeloyor pergi.

Polisi muda ini pun menghampiri saya sambil senyum-senyum, dan sebelum
dia nanya, saya tanya duluan…..  “Ah…. you are an avionic
engineer…aren’t you ?”.

Bukannya menginterogasi, si polisi malah cerita pengalaman kerja dia.
Dulu lulusan universitas di Australia. Pernah kerja di perusahaan
avionik, pernah pula jadi orang struktur… status sekarang sebagai
engineer di angkatan udara, yang mulai 6 bulan lalu ditugas rangkapkan
sebagai polisi. Dan, surprisingly, dulu pernah melamar ke perusahaan
tempat saya bekerja sekarang…. But I was failed, katanya.

“How did you get your qualifcation….?”, dia nanya.
“That was my twenty years experience…… I spent almost the half of my
life time for this….. and now I am here”, saya serasa curhat dengan
sesama teman senasib.

Saat dia nanya usia saya, dia rupanya baru sadar tugas dia sebenarnya..
Lalu mengeluarkan form isian dan melanjutkan pertanyaan, “Your birth
day ?”, tanyanya.

Tapi setelah saya jawab, malah dia kembali diam mikir sambil
mengetuk-ngetukan ballpoint ke telapak tangan kirinya. “ 20 tahun kerja
dimana ?”….penasaran dia.

Setelah cukup panjang saya curhat sampai cerita krismon Indonesia, dia
menimpali…. “ O…. dear…. I know, that was a bad thing for your
country..”.
Saya ingat betul raut mukanya saat dia mengatakan kata-kata ini.

Dan saya tidak sungkan saat meminta alamat email-nya, barangkali saja
suatu saat dia ingin mendapatkan info tentang perusahaan tempat kerja
saya, yang dulu dia gagal melamarnya. Karena, menurut teman polisi muda
satunya lagi, yang belakangan ikut nimbrung, dia masih berminat kerja
diitempat kerja saya sekarang sebagai orang struktur.

Begitulah, early summer in London.
Polisi, petugas Home Office, supir bus, masinis kereta api, TKW dan TKI
adalah manusia juga. Sekedar menjalani hidup dan selalu berupaya
mencari penghidupan yang lebih baik.

Hyde Park,, 20080510

Bacaan, Pemilahan, Timbangan dan Pengulangan

Bacaan adalah referensi yang tidak berubah,
tidak boleh diubah oleh pikiran, tidak lapuk karena waktu.
Dan tidak juga terurai, kecuali menjadi deretan huruf-huruf
mulai alif sampai hamzah iya…. (yang wallahualam artinya  apa
sebagaimana arti alif-lam-mim atau tho-ha).

Bacaan adalah zat dasar, sebagaimana unsur-unsur kimia dalam
daftar periodik unsur-unsur…
Mengurai unsur-unsur hanya akan mendapatkan proton, elektron & netron.
Tapi tidak akan mendapatkan molekul atau materi yang siap telan.

Pemilahan adalah upaya pencarian, pengenalan, pengelompokan,
pemisahan makna-makna unsur yang tergali atau ditemukan. Untuk kemudian
membentuknya, menyusunnya atau membangunnya menjadi rancangan
molekul, benda gas cair padat atau bangunan apapun.

Timbangan adalah neraca, penaksir atau penilai yang dipergunakan untuk
menentukan apakah suatu rancangan molekul, benda atau bangunan memiliki
manfaat besar atau kecil atau malah mudarat.

Hidup … persis seperti pelajaran “Design Process”.
Harus ada DR&O, referensi, philosophy design, harus ada development,
ada preliminary, ada detail, ada CDR dan cek-ricek serta ada iterasi

Bahkan pun setelah masuk proses produksi….harus ada conformity
dan sertifikasi…. dan tetap saja harus ada cek-ricek dan iterasi.

ENGINEER .. tidak akan pernah bicara tentang KEBENARAN Absolut.

Dia hanya berpikir,  bekerja dan bahkan hidup atas dasar kesepakatan-
kesepakatan yang telah mendahuluinya, atas dasar kebenaran relatif
dan sementara. Dan mengolahnya dengan segala kemampuan isi KEPALA.

Dan semua manusia… hakekatnya seorang Engineer, yang sanggup
memBACA, rajin meMILAH, dan selalu tidak lupa meNIMBANG.

Modal “kebenaran” engineer hanya make-sense.
Modal “tukar pikiran” engineer hanya sikap demokratis
Modal “guideline” engineer hanya BERUSAHA konsisten….

Manusia bukan Iblis, karena
Iblis tidak perlu lagi berusaha konsisten, karena SUDAH konsisten.
Iblis tidak perlu demokratis, karena Iblis MERASA tahu ILMU Tuhan.
Iblis tidak perlu make-sense, karena Iblis FAHAM kebenaran Tuhan.

manusia adalah engineer yang tidak tahu persis kebenaran Tuhan,
tapi manusia selalu ingin menjadi kekasih Tuhan.
Iblis adalah seekor mahluk yang yakin tahu persis kebenaran Tuhan.
tapi Iblis tidak ingin dikasihi Tuhan…

Walhasil….
manusia yang tidak make sense, tidak mau demokratis,
dan tidak berusaha konsisten
Maka selain bukan engineer…pasti juga lebih buruk daripada Iblis.

BTW,
Thanks untuk cerita tentang “Adam-Iblis”,
ini explorasi baru sekaligus challenge untuk saya.

Fish and Chips makanan khas Inggris

“FISH and Chips…,” si Jason menjawab tanpa berani menatap saat dulu
saya tanya makanan khas Inggris.

“What?” saya pura-pura kaget, dan si Jason rupanya melihat adanya
maksud ledekan melalui kerutan mata saya. Memang betul saya ingin
meledek. Makanan khas yang konon bisa menjadi ciri budaya suatu bangsa,
kok simple banget.

“Ya…ah…that’s it.” Begitulah mungkin maksud si Jason. Dia yang
lahir dan besar sebagai orang Inggris tampaknya menyesal kenapa British
tidak sekreatif bangsa-bangsa lain yang memiliki ratusan makanan khas
dengan ribuan rasa yang bisa dibanggakan.

Fish and Chips tentu saja bukan makanan luar biasa, mengolahnya juga
pasti tidak perlu keahlian khusus, tidak perlu rahasia bumbu khusus
seperti bikin lotek Bandung, gudeg Yogya, rendang Padang, rawon Jawa
Timur, lumpia Semarang, sop kaki Betawi, nasi goreng dan ribuan makanan
khas Indonesia lainnya.

Fish and Chips makanan khas Inggris tak lebih dari goreng kentang dan
goreng ikan dibalut tepung tawar. Kalaupun ada yang luar biasa atau
aneh karena Fish and Chips disajikan tanpa bumbu apapun. Lidah kita
yang penuh cita-rasa tentu saja serasa berada di ruang hampa. Serasa
dingin biar pun kentang dan ikan panasnya minta ampun.

Berlainan dengan goreng ikan mas atau gurame atau bahkan ikan nila yang
sekali pun tanpa bumbu selalu harum dan terasa lezat, goreng ikan cod
rasanya tawar-tawar saja, juga haddock yang serat dagingnya berbeda,
aroma dan rasanya hanya samar-samar.

Kalaupun ada bumbu yang selalu pelayan tawarkan, bumbu itu hanya cuka.
Makanya, supaya bisa rada lancar makan, saya selalu memastikan untuk
sengaja minta saos tomat dan garam dan wanti-wanti jangan pake vinegar.

Seperti umumnya porsi makanan di sini yang serba jibeuh, Fish & Chips
juga jibeuh. Daging ikan laut cod atau haddock warna putih sebesar
telapak tangan dengan chips potongan kentang yang menggunung hanya
sanggup terlahap setengahnya. Sisanya terpaksalah dibagi-bagi untuk
burung merpati dan camar yang selalu merubung setiap kali kita
menikmati makanan di bangku taman.

Chips Ahoi nama warung Fish & Chips di Victoria Road. Namanya asing
berbau oriental, juga mungkin pemiliknya oriental tapi mulai tukang
masak, pelayan sampai tukang sapunya semua asli lokal islander
Englisman. Setiap petang selalu penuh antrean orang yang membeli
makanan pokok “ikan dan kentang” sebagai makan malam.

Restoran  yang lain adalah tandori-nya orang India yang menyediakan
ayam tika masala. Kalau yang punya orang Pakistan atau Bangladesh,
namanya menjadi tandori halal balti. Restoran Thailand juga cukup
banyak disukai orang Inggris. Tapi semua restoran ini hanya
dipergunakan untuk “dinner”, makan malam sungguhan, makan malam yang
punya alasan. Berbeda dengan Fish & Chips warung makan-nya British yang
selalu didatangi tiap hari mulai breakfast, lunch sampai supper.

Kuping saya selalu susah menangkap aksen bicara pelayan di sini. Dulu
saat pertamakali mencoba beli Fish & Chips, sekalipun tidak jelas
terdengar tapi saya jawab saja  Yes thank you. Dan lunch di kursi taman
saat kentang dicicipi, langsung saja lidah dan bibir saya mengkeret
karena rupanya seluruh kentang telah basah kuyup oleh vinegar. Vinegar
pengganti cuka yang umumnya di sini terbuat melalui fermentasi buah
apel.

Rupanya tadi yang dibilang Barbara si pelayan Woulf you like vinegar.
Tapi saya kira dia menawarkan air minum, memang jauh artinya. Akhirnya
saya ikhlas saja meneruskan lunch dengan mata dan mulut
dikerut-kerutkan.

Saya rada hapal aroma vinegar karena sama dengan cuka apel. Dulu teman
saya di Bandung pernah bilang, katanya cuka apel obat asam urat. Saya
pernah mencobanya tapi dengan banyak campuran madu. Kalau cerita
khasiat cuka apel ini benar, maka mungkin karena itu pula orang Inggris
tidak ada yang mengeluh asam urat.

Orang Inggris tampaknya juga takut segala macam “zat-kimia” termasuk
asam asetat atau cuka di Indonesia, juga meminimalkan konsumsi natrium
Chloride alias garam dapur dan gula. Ini juga tampak dari iklan-iklan
makanan disini yang menggembar-gemborkan bahwa makanan ini rendah
kandungan garam, bebas gula dan tentu saja rendah lemak.

Mungkin orang Inggris menganut prinsip “tidak semua makanan harus
dimakan”, kecuali makanan yang jelas asal muasalnya. Harus ada
kepastian kandungan bahan makanannya. Atau bisa juga ada yang menjamin
kejelasan pembuatnya. Karena itu, istilah Home Made Cake biasanya lebih
laku untuk dibagi-bagi sebagai kue perayaan apapun.

Home made boleh jadi lebih tepat diartikan makanan ini dibuat dengan
sepengetahuan saya. Atau juga boleh diartikan, makanan ini dibuat
dengan penuh perasaan cinta.Karena seperti kemarin teman kerja saya
Edgar ulang tahun, bawa kue-kue yang katanya My beloved wife made, maka
di luar kebiasaan antre, kali ini teman-teman satu grup pada berebut.
Penuh canda dan penuh pujian Nice cake, lovely cake sampai brilliant
cake. Semua kemeriahan dan pujian tentu saja untuk my beloved wife made
alias home-made.

Lain pula ceritanya, ketika si John, manajer saya dapat bingkisan besar
kue-kue dari teman yang baru pulang dari India. Dia seperti biasa kalau
punya makanan suka bagi-bagi. Kali ini pun juga sama, dia tumpuk
kotak-kotak warna-warni yang tampaknya berisi kue-kue lezat di meja
rapat. Lalu orang-orang pada berdatangan. Tapi hanya bergerombol
menonton tumpukan kue. Kemudian bubar meninggalkan kue-kue tetap utuh.

Saya sempat nguping beberapa komentar, “Fabricated cake,” katanya
sambil membaca nama pabrik dalam kemasan kue. Dan sepertinya karena
tidak kenal nama pabriknya maka mereka tidak ada yang berani makan kue.

Saya ingat, dulu kakek saya pernah bilang katanya hati-hati dengan
perut kamu, jangan mengisinya dengan sembarang makanan, apalagi diisi
dengan rejeki yang tidak halal. Saya tidak tahu apakah orang Inggris
tahu halal-haram. Tapi yang pasti orang Inggris tidak sembarangan
memasukkan apapun ke dalam perut.

Pemerintah Inggris juga menyayangi perut warganya dengan menerapkan
aturan ketat pengawasan dan sertifikasi makanan.

Soal asam-asaman, hampir segala makanan di sini cenderung asam.
Terutama buah-buahan seperti jeruk mangga, anggur, apel lebih banyak
asamnya daripada manis. Sampai pisang pun terkadang rada-rada kecut.
Buah-buahan yang manis yang biasanya matang justru dijual lebih murah.
Beli satu gratis satu, buy-one-get-one-free, malah kadang dapat tiga.
Saya beruntung karena lebih doyan buah yang manis dan kebetulan lebih
murah.

Saya tidak tahu, apakah rasa asam itu berkorelasi dengan segar dan
alami. Tapi yang jelas, harga sayuran segar di sini selalu labih mahal
daripada makanan olahan atau kalengan. Padahal di Bandung, sayuran
segar ini sering jadi lalaban gratis di restoran-restoran.

Di sini makanan cukup berlimpah, tapi hampir semua bahan makanan hasil
pertanian merupakan produk impor dari berbagai negara. Buah-buahan
segar terutama datang dari Spanyol, Prancis dan Brasil. Beras murah
dari Amerika dan beras yang sedikit lebih mahal tapi enak datang dari
Thailand.

Hanya sayang, di supermarket dan toko umum di sini tidak terlalu mudah
menemukan bahan makanan yang ada tulisan made-in Indonesia. Kita harus
sengaja berburu ke toko Cina yang berada di lain kota. Mi instan, saos
cabe dan kecap buatan pabrik di Jakarta biasanya selalu tersedia di
toko Cina. Kadang kalau beruntung, kita juga bisa menemukan krupuk
udang Sidoarjo, made-in Indonesia.

Kebanyakan bumbu-bumbu khas Nusantara di sini ternyata jelas tertulis
made-in Holland pada kemasannya. Padahal, kalau saya perhatikan,
bungkus kemasannya biasa-biasa saja. Juga bumbu di dalamnya seperti
merica, ketumbar, tumeric, ginger masih beraroma utuh, aroma Indonesia.
Kalau pun ada pengolahan paling-paling hanya digerus lembut. Sepertinya
akan lebih pantas kalau tertulis made in Indonesia dan digerus oleh
Holland.

Belakangan saya mulai learning by doing, hasil bumi Nusantara pastilah
sangat banyak berkeliaran di tanah Britania. Cuma saja mungkin untuk
mencantumkan made-in Indonesia” pada kemasan bumbu dapur atau makanan
yang akan masuk perut orang Inggris, kita  perlu keberanian lebih.
Keberanian untuk menjamin bahwa bumbu atau makanan yang kita jual
adalah makanan yang telah kita olah dengan penuh perasaan dan
kesungguhan pikiran.

Boleh jadi, kalau kita ingin bumbu atau bahan makanan made-in Indonesia
laku dan disukai  orang Inggris, kita harus membuat bumbu atau bahan
makanan seperti Home Made. Kita harus seperti seorang ibu yang memasak
makanan untuk anak-anaknya tercinta. Atau seperti istrinya si Edgar
yang bikin kue ulang tahun karena dia menyayangi si Edgar.

Orang Inggris sepertinya menganggap bahwa setiap makanan memiliki
pawang, memiliki tuan atau master. Dan yang paham betul kelakuan
makanan tentulah si pawang. Pawangnya ini adalah si pemasak dan juga
yang menyediakan bahan makanan. Kalau makanan yang tidak jelas
pawangnya keburu masuk perut, lalu makanan itu berbuat macam-macam di
dalam perut kita, terus harus mau kemana kita mencari pawang yang bisa
menaklukkan makanan yang mengamuk dalam perut?

Fish and Chips, bisa dianggap sebagai makanan khas sekaligus makanan
pokok. Sekadar makanan yang sangat sederhana tanpa bumbu apapun. Bahan
dan cara membuatnya sangat mudah dikenali. Makanan ini tidak menawarkan
kemeriahan rasa, tapi juga tidak mengundang rasa curiga. Boleh jadi,
Fish & Chips hanya menyediakan gizi yang dibutuhkan, dan rasa kenyang
tentu saja.

Castle Street, 20060410

Halaman Berikutnya »