Arsip untuk Kategori 'Demokratisasi'

Berkuasa itu gampang…

Mirip di lembur saya di pelosok Kiaracondong Bandung….dulu.
Pak Haji Mahmud tuan tanah adalah orang paling kaya.
Sopandi buruh pabrik, bekerja 12 jam sehari adalah paling rajin,
Dan Agus mahasiswa satu-satunya….adalah orang paling pintar

Tapi yang berkuasa di Kiaracondong… si Aep jegger tanpa pesaing.

Saat pak Mahmud atau Sopandi atau Agus mendapat kesulitan uang…
maka semua penduduk tenang-tenang saja.
Tapi saat si Aep kehabisan uang…. maka semua penduduk kerepotan.

Mr Gordon Brown PM Inggris sedang tetirah ke negara-negara Arab.
Konon dia sedang mewakii suara negara MAJU, Memohon agar negara-
negara Arab itu sudi berbelas kasihan mengucurkan sedikit isi
dompetnya untuk menyelamatkan ekonomi dunia.

Toyota, Honda, Suzuki, Daihatsu, Mitsubishi, Yamaha, Isuzu, toshiba,
Sony, Canon, Nikon, Asahi Pentax, Fujitsu, JVC..ternyata nama-nama jepang.
Hyundai, KIA, Daewoo, LG…ternyata nama-nama Korea.

Spring Roll, acar timun, sikat gigi, sepatu, christmas gift,
boneka dan semua mainan anak di “R” Us Toys, sampai barang-barang
elektronik di kamar mandi, di dapur sampai di tempat tidur,
ternyata semua made in China.

Negara Arab hanya punya banyak uang
Jepang dan Korea hanya punya kepintaran
China hanya punya banyak tenaga kerja yang rajin

Tapi negara pemimpin ekonomi dunia dan adikuasa…
hanya USA ….
Saat USA kesulitan uang…maka seluruh dunia harus direpotkan.

Pemimpin kekuasaan…sepertinya tidak perlu banyak uang…
tidak perlu pintar…dan juga tidak perlu rajin bekerja.
karena pemimpin kekuasaan hanya untuk merepotkan orang-orang.

Semakin banyak orang yang ikutan repot,
maka semakin mumpuni dia berkuasa…

Mungkin benar, bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak diukur
dari berapa keuntungan atau berapa triliun rupiah yang dikumpulkan.
tapi diukur dari tingkat partisipasi….
Termasuk partisipasi jumlah orang yang direpotkan…

Dan kita-kita semua tidak kaya, tidak pintar…dan juga
belum tergolong sebagai orang yang sanggup bekerja keras…

So…kenapa kita tidak mencoba menjadi pemimpin yang berkuasa ?.

November 2, 2008

Bacaan, Pemilahan, Timbangan dan Pengulangan

Bacaan adalah referensi yang tidak berubah,
tidak boleh diubah oleh pikiran, tidak lapuk karena waktu.
Dan tidak juga terurai, kecuali menjadi deretan huruf-huruf
mulai alif sampai hamzah iya…. (yang wallahualam artinya  apa
sebagaimana arti alif-lam-mim atau tho-ha).

Bacaan adalah zat dasar, sebagaimana unsur-unsur kimia dalam
daftar periodik unsur-unsur…
Mengurai unsur-unsur hanya akan mendapatkan proton, elektron & netron.
Tapi tidak akan mendapatkan molekul atau materi yang siap telan.

Pemilahan adalah upaya pencarian, pengenalan, pengelompokan,
pemisahan makna-makna unsur yang tergali atau ditemukan. Untuk kemudian
membentuknya, menyusunnya atau membangunnya menjadi rancangan
molekul, benda gas cair padat atau bangunan apapun.

Timbangan adalah neraca, penaksir atau penilai yang dipergunakan untuk
menentukan apakah suatu rancangan molekul, benda atau bangunan memiliki
manfaat besar atau kecil atau malah mudarat.

Hidup … persis seperti pelajaran “Design Process”.
Harus ada DR&O, referensi, philosophy design, harus ada development,
ada preliminary, ada detail, ada CDR dan cek-ricek serta ada iterasi

Bahkan pun setelah masuk proses produksi….harus ada conformity
dan sertifikasi…. dan tetap saja harus ada cek-ricek dan iterasi.

ENGINEER .. tidak akan pernah bicara tentang KEBENARAN Absolut.

Dia hanya berpikir,  bekerja dan bahkan hidup atas dasar kesepakatan-
kesepakatan yang telah mendahuluinya, atas dasar kebenaran relatif
dan sementara. Dan mengolahnya dengan segala kemampuan isi KEPALA.

Dan semua manusia… hakekatnya seorang Engineer, yang sanggup
memBACA, rajin meMILAH, dan selalu tidak lupa meNIMBANG.

Modal “kebenaran” engineer hanya make-sense.
Modal “tukar pikiran” engineer hanya sikap demokratis
Modal “guideline” engineer hanya BERUSAHA konsisten….

Manusia bukan Iblis, karena
Iblis tidak perlu lagi berusaha konsisten, karena SUDAH konsisten.
Iblis tidak perlu demokratis, karena Iblis MERASA tahu ILMU Tuhan.
Iblis tidak perlu make-sense, karena Iblis FAHAM kebenaran Tuhan.

manusia adalah engineer yang tidak tahu persis kebenaran Tuhan,
tapi manusia selalu ingin menjadi kekasih Tuhan.
Iblis adalah seekor mahluk yang yakin tahu persis kebenaran Tuhan.
tapi Iblis tidak ingin dikasihi Tuhan…

Walhasil….
manusia yang tidak make sense, tidak mau demokratis,
dan tidak berusaha konsisten
Maka selain bukan engineer…pasti juga lebih buruk daripada Iblis.

BTW,
Thanks untuk cerita tentang “Adam-Iblis”,
ini explorasi baru sekaligus challenge untuk saya.

Re: Megawati: Kenapa Dulu Tidak Pilih Aku?

[quote="Bung Jasp"]

Sekarang mau mencalonkan diri lagi ? Masak PDIP nggak punya orang
muda yang memiliki potensi ? Presiden SBY mungkin saja menari
Poco-poco, tapi kan nggak mengkhianati kader partai pendukungnya ?
Pengkhianat kader partai nggak layak menjadi pemimpin bangsa , ntar
bangsa Indonesia yang dikhianati gimana ? [/quote]

Saya masih terkesan dengan kelahiran PDIP.
Seperti bayi raksasa yang dilahirkan ibu rumah tangga.

Bukan salah ibu rumah tangga karena telah melahirkan…  tentu saja.
Siapapun berhak melahirkan, termasuk melahirkan partai.

Kesalahan terletak pada “bapak-bapak nya”… para kader PDIP
yang telah melihat opportunity serta memaksa si ibu melahirkan raksasa….
dan lalu memanfaatkan ke-lugu-an si-ibu yang “teraniaya” penguasa.

Cilakanya, makanan pokok yang telah membesarkan PDIP sehingga
menjadi raksasa di Pemilu 98….hanya BELAS KASIHAN.
Keter-aniaya-an si ibu dan juga keter-aniayaan Sukarno bapaknya si ibu
terus dijadikan modal kampanye oleh kader PDIP.

Jualan BELAS KASIHAN ditengah masyarakat yang “ajeg teraniaya”
tentu saja seperti mengobral Blue Chip di bursa-efek… laku keras.
Tapi… komoditas BELAS KASIHAN adalah NARKOTIC
komoditas yang menggiurkan tapi sekaligus menciptakan halusinasi.

Gaya baru PDIP sekarang, yang selalu offensive…kritik sana-sini
malah terkesan aneh…. karena modal PDIP bukan kritikus….
Kritikus bukan benih yang membuat PDIP lahir.

Menurut saya… bayi raksasa PDIP harus dilahirkan ulang….
supaya gen yang dipenuhi narkoba “teraniaya” ikutan hilang.

Karena memilih pemimpin bangsa dengan alasan “teraniaya”
merupakan pelanggaran bangsa Indonesia terhadap hukum alam..  
Dan para kader yang dulu dengan sadar memanfaatkan keteraniayaan
bolehlah digolongkan telah melakukan kebiadaban alam….    :cry:       

DjayaWikarta

saya juga tidak mau ITB lagi

Sebenarnya, saya sudah cukup lama tidak ITB lagi.
Apalagi tahun 98 saat Pemilu yang lumayan bebas,
saya sudah bisa mencapai prestasi puncak dalam
karier politik…..sebagai ketua KPPS-RW. Ketua
Pelaksana Pemungutan Suara di RW saya di Bandung.

Jabatan Ketua KPPS di era demokrasi merupakan kiprah
pengabdian tertinggi saya untuk negara dan bangsa.
Saya membingkai SK pengangkatan yang ditandatangani
Lurah, menggantungnya di ruang tamu. Dan dua foto
copynya saya pajang di rumah mertua dan rumah Abah.

Untuk saya, jabatan Ketua KPPS merupakan “magnum opus”,
setara dengan Canon in D Major nya Johann Pachellbel,
atau penggalan Spring dari 4 Season-nya Vivaldi.
Indah dan abadi.

Dulu saya berjuang dan bersaing memperebutkan jabatan
Ketua KPPS, berjuang untuk bisa memberikan pengabdian.
Terus terang saja, saya saat itu main money politik.
Lebih dua kali kandidat lainnya saya traktir makan Bakso.
Dan akhirnya mereka ngalah, hanya jadi ketua pengamanan,
wakil ketua, anggota saja dan penggembira… sisanya.

Tentu, akan selalu ada udang dibalik rempeyek….
Karena mustahil ada “pengabdian” tanpa pamrih, tidak
ada yang pordeo….demikian Abah saya bilang.
Setiap orang punya mimpi yang menemani tidurnya,
dan menjadi penuntun langkah disaat-saat melek-nya.

Dan…bukankah hidup adalah juga perniagaan ?….
Kalau yang ini bukan dari Abah, tapi dari mang Ohan
yang punya kios rokok di jalan Lingkar Selatan
dan buka 7 hari x 24 jam. Suka ngasih utangan.

Menjadi Ketua KPPS….adalah bagian dari upaya mengejar
impian sekaligus arena perniagaan hidup saya.

Dan saya… merasa telah membayar dengan menjadi KPPS.
Hampir 14 hari begadang, mulai rapat di Kecamatan, rapat
di kantor Desa, rapat rutin anggota, sampai menjaga TPS
agar kain blacu dan lembaran plastik bilik suara tidak
di angkut pemulung yang suka keluyuran di pagi buta.

Dan bayaran termahal dari saya, priceless kata orang…
karena saya mencintai jabatan saya sebagai ketua KPPS,
dan Pemilu 98 menjadi tonggak sejara bangsa….harusnya.

Dan semua itu, saya telah membayar untuk bisa mengeluhkan
pengelolaan negara, untuk bisa mengkritik pemerintah,
untuk bisa menilai kerja para pejabat…..bahkan untuk bisa
memaksa pemerintah diganti, sak-mau-maunya saya…
karena saya sudah bayar.

Menjadi ketua KPPS adalah harga yang telah saya bayarkan.
Ikutan pusing mengkritik pemerintah adalah belanjaan saya.

Itu semua…tak lebih dari keinginan saya
supaya tidak menjadi orang ITB.  (Ingin Tau Beres).

Mudah-mudahan saja perniagaan saya sepadan.

NB:
ITB = Ingin Tau Beres adalah FKK-PTDI property right.
pertamakali di launched….saat air liur menetes nunggu uang PHK.

Somerfield Store, 20071210

Demokrasi 50+1 = 100

— In apakabar@yahoogroups.com, “dipo” <dipo@…> wrote:
[quote]

Sedangkan demokrasi yang dianut dunia Barat, ternyata cuma
sistem adu banyak suara. Samasekali bukan landasan hidup yang
mencerdaskan.
Rumusan demokrasi yang “50% + 1 = 100%” itu jelas amat lucu karena
sembarangan amat.
[/quote]
Saya kira demokrasi apapun tidak kenal sikat-menyikat.
Jadi justru LANDASAN demokrasi pantesnya harus  50 + 1 = 100.
Landasannya memang harus begitu supaya kokoh dan kuat.
Jika selama ini terasa lucu, bukan karena landasan ini salah.
Tapi sikat menyikatnya, atau main paksa itu yang lucu dan salah.

cantiknya demokrasi justru karena setiap orang yang ingin menang
harus berjuang untuk mendapatkan kelebihan angka 1 .
Dan bukan mengotak-atik 50 boleh menjadi 05. Atau bolak balik
membongkar-bongkar rumus…lalu kapan mulainya demokrasi.

kalau kita bersumsi, bahwa “keyakinan” = hidup-mati.
Maka demokrsai hanya bisa berjalan kalau semua orang
sudah bisa membebaskan diri dari “keyakinan” nya.
Atau paling tidak, harus sanggup mengurangi kadar
keyakinan terhadap kebenaran yang dianutnya.

“Demokrat” harus mau menyisihkan sebagian kebenaran-nya
menjadi kebenaran orang lain.

Dalam rumusan mas Dipo, setiap orang harus mau hanya
dikasih modal 1 suara. Tidak lebih.
Orang-orang yang suka nyikat, atau orang yang nelongso
jika kalah…..patilah dia selalu merasa punya modal 50.

Misalnya Golkar dijaman ORBA….sebelum orang nyoblos…
mereka sudah tumpengan karena yakin punya modal 50.
Karena sudah sikatan terlebih dulu.
Juga minoritas yang bolak balik nelongso disaat kalah,
Nelongso nya itu karena dia merasa pegang modal 50…
padahal boro-boro.

Rumus 50+1=100 sudah cukup mujarab….
tinggal setiap orang harus cukup kenyang dengan
kepunyaannya yang 1 suara.

Jadi, sebenarnya demokrasi tidak akan pernah jalan
kalau orang-orangnya…….LAPARRRRRRR terus gak bisa kenyang
dengan hak-nya yang hanya 1. Seperti mas Dipo …ngkali.

Belajar demokrasi itu artinya belajar menghilangkan keyakinan
terhadap kebenaran diri sendiri.
Orang sini bilang….harus bisa lebih meyakini system.

Let the system work…..cenah.
mau system liberal, mau system islam, mau system abrakadabra…
kek namanya….terserah. Yang jelas bukan system tukang sikat
dan bukan system pecumdang yang sukanya ngeluh….

DjayaWikarta
 

aturan perbudakan

Aku bahagia kalau aturan perbudakan harus tetap ada……
dan kalau sudah hilang…harus kembali diadakan.
harus disesuaikan dengan perkembangan jaman….
di redefinisi dengan “budak-budak” jaman sekarang

Perbudakan hitam amerika adalah budak-budak jaman
jahiliyah. Sekalipun Abraham Lincoln bukan orang jahil.
Perbudakan yang ditentang Muhammad adalah perbudakan
jaman jahiliyah. Sekalipun Muhammad bukan orang jahil.

Lalu kamu menyimpan banyak “fakta sejarah”, mulai sejarah
Madinah, Alabama, New Mexico, Irlandia, Rusia, Romusha
Johanesburg…sampai negari antah berantah………simpan saja.
Cukup katakan dimana salahnya jika ada aturan perbudakan ?.

Penolak perbudakan sesungguhnya kaum “selfish”.
Orang-orang yang kebetulan dalam posisi menang….
atau kebetulan dimenang-kan oleh keadaan….
diuntungkan oleh rahim perempuan yang melahirkan….
Orang yang pongah karena “ditakdir-kan” tidak kalah….

Penolak perbudakan memang orang-orang yang sudah kuat….
segalanya bisa dilakukan sendiri dan mandiri….
Yang menantang “kaum lemah” bertarung bebas….

Penolak perbudakan berkedok kebebasan dan kemanusiaan
seperti maling yang ngumpet di markas polisi…….!!!

Perbudakan adalah kelemahan manusia yang telah jadi
kekayaan umat manusia……
Menolaknya berati telah mengelabui..dan mendustainya….

Kau….si “anti-perbudakan-modern” adalah si maling itu…..
penguras dan penggelap kekayaan umat manusia…..
dengan bersembunyi di balik “kebenaran” markas polisi !!!

Katakan….perbudakan harus dipikirkan
bukannya di-lupakan
Aturannya harus di-adakan
bukannya di-sembunyikan untuk seolah-olah kemanusiaan
bukannya di-sembunyikan untuk seolah-olah cinta kasih….

Aturan perbudakan untuk anda si kuat….
agar si-tanpa-daya bisa ikut menikmati kehidupan sama nikmat.

Aturan perbudakan bukan untuk anda yang baru “merasa kuat”
dan bukan untuk anda yang baru “bangun dari tidur”…
Juga bukan buat anda para pandir jahiliyah abad modern…..

IoW
DjayaWikarta

—– Original Message —–
From: jusfiq.hadjar@…
To: proletar@yahoogroups.com ; istiqlal@yahoogroups.com ;
partai-keadilan@yahoogroups.com
Cc: arsip_jusfiq@yahoogroups.com ; anti-sabili@yahoogroups.com ;
banuhampu-bebas@yahoogroups.com ; diskusi-sara@… ;
ijtihad@yahoogroups.com ; jusfiq@yahoogroups.com ; anti-sabili@yahoogroups.com ;
NNurani@… ; novri@… ; wargadunia@…
Sent: Saturday, June 23, 2001 10:11 AM
Subject: [proletar] Re: [Istiqlal] Perbudakan di Islam

To: istiqlal@yahoogroups.com
From: Mujahid Cilik <aulia101@…>
Date sent: Fri, 22 Jun 2001 21:43:09 -0700 (PDT)
Send reply to: istiqlal@yahoogroups.com
Subject: Re: [Istiqlal] Perbudakan di Islam

> Yang ada disini bukan diskusi.
> Deabt kusir juga bukan.
>
> Yang ada hanya serang-menyerang.
>

Selama ’serangan’ itu disertai dengan argumen yang berdasarkan
fakta dan logika, maka itu namanya diskusi.

Dia menjadi debat kusir bila yang dipakai sebagai argumen itu
adalah dusta.

>
> — Asoka Bakani <asoka12@…> wrote:
> >
> > Islam mengaku menghapus perbudakan. Hehehe … omong kosong saja.
> >
> > Lihat apa yg dimiliki para sahabat Muhammad. Zubair punya 1000 budak.
> > SERIBU BUDAK!
> > Entah berapa yg dimiliki orang lain.
> >
> > Lihat juga berapa kekayaan Islam2 soleh tsb, sementara banyak orang mati
> > kelaparan.
> >
> > Hehehe, dari daftar di bawah ada nama Usman bin Affan dan Zaid bin
> > Thabit yg konon mengumpulkan al Mushaf.
> >
> > Tdk mengherankan jika al Mushafnya itu penuh berisi kata2 budak, perang,
> > bunuh, wanita.
> >
> > Kasihan sekali orang2 Islam sekarang ini.
> >
> >
> > http://www.al-islam.org/encyclopedia/index.html
> > ———————————————–
> > A Shi’ite Encyclopedia
> > Version 2.0 October 1995
> > Revised January 2001
> > All Rights Reserved
> >

Tuhan bukan Fakta

Dulu entah bagaimana, saat terengah-engah berdebat tentang ke-tidak-logisan  semua ajaran theis, dan pemikiran atheist yang konon semata berdasarkan logika sedang merajalela…..
ujug-ujug saya sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu bukan FAKTA.  !!!

Karena fakta, bagaimanapun juga tetap saja tak lebih dari ciptaan manusia.
Malah lebih pas kalau dibilang bahwa Fakta sebenarnya hanya persepsi manusia.

Fakta selalu dikaitkan dengan bukti. Dan bukti nyata ternyata juga hanya persepsi dari hasil kesaksian panca indera.
Juga semua kesimpulan ILMIAH yang kemudian dikenal sebagai fakta alamiah ternyata dibangun melalui proses pengujian dan proses pembuktian.
Lalu di-sah-kan sebagai kesimpulan yang tidak terbantahkan……untuk sementara  :)

Jika pada akhirnya suatu HUKUM ALAM diterima sebagai sesuatu yang wajar, lumrah, make-sense, atau sebagai “kebenaran”. Maka ini harus diartikan sebagai terminal-sementara, sebagai mile-stone dari proses perjalanan untuk memahami kebenaran….
Dan tentu saja belum menjadi “kebenaran” yang sesungguhnya.

Jika FAKTA itu sebagai kebenaran dalam takaran pemikiran manusia, karena misalnya fakta sangat bisa difahami, bisa terlihat, bisa terdengar atau bisa diraba . Maka rasanya …….Tuhan itu bukan fakta.

Bahwa fakta itu artinya juga harus ADA atau terbukti ADA
maka pengertian ADA -nya juga hanya persepsi manusia.

Pemikiran Atheist…… tidak pernah keluar dari koridor FAKTA… yang notabene fakta ciptaan manusia, persepsi pemikiran manusia.

Dan Theis, seperti kita-kita yang pemeluk agama….. (sewajarnya) bisa melihat setiap “kebenaran” dengan lebih baik, lebih jauh, lebih sadar adanya kebenaran Illahi….
Bukan malah lebih sempit dari cara berpiikir Atheist….    :)
Atheist melihat hanya dalam koridor “kebenaran logika umum”
Tapi pemeluk agama, melihat hanya dalam koridor “kebenaran-nya dia sendiri”.

Kesimpulan bahwa Tuhan bukan fakta, samasekali tidak berarti membenarkan sikap kebanyakan para pemeluk agama (theis)  yang sering merasa haram untuk mempergunakan nalar dan pikiran…..
Padahal, bekal pikiran ini yang membedakan manusia dari mahluk lain.

Seharusnya, Theis….apapun bisa lebih wise dalam “meyakini kebenaran” daripada Atheist

Salam,

demokratisasi tuhan

— ch jr c2pme@    wrote:> 
>>> 
>   i’m nothing
>   is tru
>   it is hard to compare nothing of mine to the truth
>
>   the other noctah;
>   Arsitoteles in Oddisey
>   note about holistic
>   I think he believe the truth.
>>>>>

It is, it should be said so….

Aristoteles believes his truth, not mine..vice versa.
Anybody believes only his truth, not the absolute God’s truth.

But…unfortunately, when someone believe in me…..
I always think that he is believing the absolute truth…
as wel as, if someone else disobey to my belief…..
I always think that he is kafirun to the God…..

arrghhhh….may God forgives my arogance…

So why should I confidently say “the truth is mine” ?.
whilst the Great Book says and just asks us….
only for read read read and read again…and again…and again.

As a lady said with her thin finger pointed far away
over the blue bright sea water.
The God’s truth….is behind those horizon…..dooling.

We can just hope, pray, enjoy everything that we love
and keep doing our best, our limited truth.

salam,

kejujuran menulis ?.

Jika kita percaya, bahwa setiap orang hidup dan bertindak berdasarkan penalaran yang dimilikinya…
Maka vocabulary KEJUJURAN samasekali tidak diperlukan.

Pembaca, pemirsa atau pendengar tidak perlu repot mengusut, tidak perlu peduli apakah si penulis atau pembicara “jujur”.
Cukup dengan menyimak untaian kata-kata yang terdengar, atau untaian kata-kata yang tertulis. Lalu si pembaca dan pendengar dengan penalaran yang dimilikinya dipersilakan mengartikannya sendiri.

Penulis…sekedar Robin Hood yang hanya memiliki keinginan dan harapan saat membidik dengan busur panahnya.
Tapi tentu saja, anak panah memiliki keinginannya sendiri. Setelah melesat lepas, anak panah boleh menentukan arah sasarannya sendiri. Boleh mengikuti arah angin yang diyakininya sendiri. Juga kata-kata atau tulisan.

Robin Hood bisa berjingkrak girang, bisa juga gigit jari.
Tulisan dan kata-kata sepenuhnya menjadi persepsi pembaca.
Dalam komunikasi: jujur, bijaksana, bodoh dan tolol adalah
persepsi dari pendengar atau pembaca. Persepsi dari angin yang mengarahkan anak-panah boleh terbang kemanapun.

Anak-panah tentu juga tidak akan peduli dengan kejujuran atau kebijaksanaan si pemanah.

Dalam olahraga archery ataupun menembak, orang hanya berlatih untuk membidik dan menembak dengan benar.
Dan tidak dilatih untuk menusuk sasaran dengan anak panah, juga tidak dilatih menempelkan peluru di sasaran.

Maka…tetaplah menulis. Setidaknya, Robin Hood masih memiliki keinginan dan harapan….tanda-tanda kehidupan.
Kewajiban hidup sekedar harus tetap berlatih, tetap mebidik dan tetap berupaya melepas pikiran untuk berbagi manfaat.

Hasil…..serahkan saja pada Sang Angin.
Tapi jangan membidik kearah matahari, disaat berkeinginan memanah gedebok pisang.
Juga jangan membidik tikus di selokan,
saat gajah kebon binatang yang diinginkan.

DjayaWikarta

Menerapkan ayat kitab suci ?.

Menerapkan ayat Kitab Suci ??.

— In apakabar@yahoogroups.com, “Achmad Chodjim” <chodjim@…> wrote:
>
> Dalam menerapkan ayat kitab suci di kehidupan sosial, maka
> seseorang harus bisa arif. Dan, itu bukan monopoli orang Islam.
> Perjanjian lama penuh ayat yang menyeru Israel untuk melakukan
> pemunahan umat manusia.
>>>>

Per-”definisi”, ayat kitab suci merupakan “kalimat Tuhan”.
Per definisi juga, Tuhan tidak mengambil bagian dalam
kehidupan sosial manusia…..karena tidak level.

Jika tidak ada satu-pun yang menyamai Tuhan, lalu bagaimana
mungkin ada MANUSIA yang bisa “menerapkan” ayat Tuhan ?.
Bahkan, dengan puncak ke-arif-an pun, tetap saja
manusia mustahil ber-hak MENERAPKAN kata-kata Tuhan.

Yang selalu mengganjal saya, kenapa pada saat kita menganggap
“ajaran” Tuhan itu mutlak benar-nya…
Koq, kita seperti DIPAKSA menyebutkan SUMBER ajaran-nya.
Mustahil Tuhan yang Maha Besar akan nuntut manusia
ke pengadilan negeri hanya karena manusia mem-plagiat
ide-ide Tuhan….memangnya Tuhan seperti penulis Novel
yang sedang kekurangan biaya nyekolahin anak ?.

Seperti misalnya “daging babi haram”, kalau yakin “ajaran”
ini benar sekalipun ayat ini paling susah untuk difahami,
Akan elok sekali, cukup saja bilang
“Untuk SAYA babi haram titik”.
Alasan ini lebih “elegan” dan tampak lebih percaya diri…

Tapi orang-orang malah ngasih alasan yang bukan alasan….
“karena menurut Quran…haram”….dan orang pun hiruk-pikuk.
Makanya jangan salahkan, jika Tuhan jadi sasaran kesalahan
karena para ulama dan pendeta hanya lempar batu sembunyi tangan.
Dan malah nyari penghidupan dari jualan “ayat Tuhan”.

Orang Islam lebih doyan “mengibar-ngibarkan BENDERA Islam”
daripada menjadikan BENDERA Islam sebagai SAJADAH ditengah malam.
Lebih doyan “menyampaikan ayat” daripada
“membaca, membaca, dan membaca ayat”

mang Dulloh bilang, cukup ayat dibaca-baca-baca saja,
tidak perlu buru-buru atau terpaksa ambil kesimpulan…
Dan terutama sekali….jangan buru-buru menjual.

Jika misalnya ada ayat berbunyi “Bunuh jusfikun..”
Saya akan seumur hidup baca-baca and baca ini ayat
….tanpa refot-refot ngebunuh jusfikun.

Inilah “ke-ARIF-an” yang sebenarnya sangat logis, cari aman.
karena kita tidak pernah tahu persis kata-kata Tuhan.
Yang pasti, semuanya harus konsis….
Tuhan mustahil merugikan manusia ciptaannya sendiri…
termasuk juga tidak akan pernah mencelakakan si Jusfikun.

Aman-nya…kalau kita kebelet pengen BERTINDAK atas nama ayat
Cukup terapkan saja dulu ayat-ayat yang tidak “menyentuh”
manusia lain. Kecuali kalau yakin bisa “menyenangkan manusia”.

masih ribuan banyaknya ayat yang akan menyenangkan orang
daripada terpaku pada ayat yang seolah “memerintahkan da’wah”.
Padahal ternyata, Tuhan maunya kita hanya baca-baca-baca-baca.
Karena, Tuhan sendiri yang akan menanamkan pemahamannya
langsung kedalam dada manusia, dengan cara special Tuhan.

AGAMA seharusnya jalan manusia menuju Tuhan
bukan malah dipake sebagai alat untuk menguasai manusia.

seperti sekarang…..

DjayaWikarta

> —– Original Message —–
> From: hadjar_wish
> To: apakabar@yahoogroups.com
> Sent: Monday, April 09, 2007 6:09 PM
> Subject: [apakabar] Re: British town votes to change a church to
a mosque
>
>
>
> Menyejukkan?
>
> Yang dilakukn oleh orang-orang seperti Achmad Chodjim ini (atau
> Darwin Bahar) adalah penipuan..
>
> Ka
>

Halaman Berikutnya »