Arsip untuk Kategori 'Jobshopper'

Queue Cake Eater

“Cake eater….please help your self..”
Cuma sebaris kalimat itu email announcement isinya.
dan isi announcement ini jauh lebih manusiawi…
karena biasanya email tanpa isi hanya subjeknya CAKE.

Memang, isi email hanya empat huruf, itupun di subjek.
Tapi sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semua
perkara sekaligus mengundang antrian panjang.

Dan tanpa menunggu komando, hampir 80 an penghuni
ruangan yang tersekat-sekat partisi setinggi perut…
serentak berdiri, ada yang berjinjit ada juga yang
berusaha memanjangkan leher. Semua ingin segera memastikan
dimana tepatnya lokasi Cake ditumpuk.

Lebih cepat tahu lokasi, akan lebih cepat memasuki antrian
dan tentu akan lebih cepat pula mendapatkan Cake favourite.
Siapa yang menyediakan Cake dan karena acara apa ada cake…
biar nanti saja kita tanyakan….itupun kalau sempat.

Tapi soal Cake, semua sudah belajar dari pengalaman. Bisa
dirasa.. ini cake tentang apa. Bisa ditebak dari hari terbit.
Jika terbit antara hari senin sampai kamis….birthday.
Jika terbit jum’at…. pastilah… last day.

Setahun yang lalu, cake lebih banyak terbit antara senin
sampai kamis. Tapi bukan karena setahun belakangan lebih
banyak orang yang lupa tanggal lahirnya sendiri jika
sekarang Cake lebih sering terbit hari jum’at, cake last-day.

“There are plenty of job in mainland….”, si Will yang berdiri
nempel punggung saya saat antri, berbisik tapi cukup keras,
mulutnya hampir menggigit daun telinga saya.

“Sekarang cake siapa…?”, saya yang sangat berbudaya timur
sangat peduli nasib orang tentu saja. Tapi …

“Who care…”, si Will bergumam keras malah sambil nyerobot
ngambil cake-kacang yang selalu jadi incaran semua orang.

Mungkin sesuai dengan “perjalanan hidup”, saya selalu kaget
saat mendengar kata-kata ke-tidak -pedulian terhadap
“last-day”-nya seseorang, terhadap orang yang berhenti kerja.

Tapi belakangan, saya tahu. Sesungguhnyalah disini yang harus
dipedulikan adalah orang yang masih tinggal…. orang yang
masih tetap belum pindah kerja dan belum mendapatkan new-job.

“Who care” nya si Will…sebenarnya juga mewakili suara hati
semua karyawan yang kali ini cuma jadi cake-eater. Eskpresi
“kecemburuan” yang disini biasa diungkapkan selalu terbuka…
sebagai tanda SALUTE kepada orang yang keluar pindah kerja.
“Aku cemburu, he would be better than us” itulah  maksudnya.

Si Will yang Canadian, sama dengan kebanyakan immigrant lain
yang jadi karyawan disini… yang selalu berpikir bahwa
keluar berarti mendapatkan tempat yang lebih baik. Better money.
Pindah ke mainland sama “good money” nya dengan pindah pulang.

“My cake….next two week….hopefully”, sambil berjalan ke meja
kerja, dia bicara dengan mulut penuh cake. Dia bekerja disini
baru dua tahun lebih dikit….tapi dia bilang “Too long…”.

Lain padang…lain ilalang, lain si Will…lain pula saya.
Si Will selalu merasa kerja disini too long….
saya selalu berharap bisa kerja disini untuk long-life.
Ini semata-mata masalah “perjalanan hidup masing-masing”.

Khusus dalam urusan seperti ini, saya suka sekali ikut saran
teman, katanya “cukup jadi dirimu saja, gak usah ikut-ikutan
budaya dan cara pandang orang lain”.,
Dan saya selalu camkan baik-baik kalimat ini…

Karena….saat si Will juga bilang untuk alasan dia pulang
” A lot of job in Canada….”

Tentu, saya tidak perlu ikut-ikutan pulang.
Saya tak perlu sedetikpun berpikir untuk ikut-ikutan
menyediakan cake last-day.

Dan seperti umumnya conversation yang balance….akhirnya
pertanyaan yang menakutkan itupun meluncur dari mulut si Will
yang justru tampaknya ingin berbagi harapan dan kesenangan.

“Cake kamu……kapan ?”.

“Mmmmm….you know….I prefer to queeu cake here…hopefully”.

Dan saat tawa si Will meledak….
saya berbisik tapi dalam hati saja…
saya takut pulang….saya takut nanti ANTRI cari kerja..


Whippingham 20071207

Stupid Stuff

Si Maiky, anak Aussie di meja sebelah berteriak riang
Melihat saya datang ketempat kerja jauh lebih siang

“Where have you been…mate “, Muka putih yang bertabur
tawa renyah-nya menjulur hampir melintasi meja. Aroma
Coca-Cola pun semriwing menyengat penciuman lebih
dari biasa.

Sekalipun flexi-time memungkinkan semua karyawan memiliki
keleluasaan jam masuk kerja. Tapi saya betul-betul merasa
salah tingkah karena pertama kalinya datang siang. Dan ini
pula yang bikin si Maiky sangat riang mendapatkan kesenangan.

Kepalanya masih dalam jangkauan, ketika dia mengangkat dua
kaleng kosong Coca-Cola yang telah diremasnya. Lalu…

“Hei…look at me… two cans….. two hours…. where have
you been….?”. Dia penasaran nunggu jawaban.

“My mobile didn’t work…”, saya cuma bisa menggerutu dan
menyorongkan hanphone Nokia X-Factor kedekat hidungnya.
Dan muka si Maiky berkerut lucu….tapi juga cerdas.

“WHAT….you rely on that stupid stuff ?”, dia tambah girang,
lalu dia mengangkat dan menawarkan tong sampah-nya.
“Put it down here….”, tangannya menjulur mau ngambil hanphone.
Tentu saya gak akan mencemplungkan handphone keramat saya.
Hanphone andalan hidup saya…juga ketergantungan saya.

Lebih dua tahun saya “bangun” dan “hidup” hanya dengan
mengandalkan bunyi ring-tone handphone ….a stupid stuff.
“Time to get up, the time is five o’clock”, selalu tiap pagi.
Biasanya begitu….dan ratusan hari everything going well.

Dan karena ring-tone itu pula, reliability saya dalam urusan
jam masuk kerja dimata si Maiky hampir perfect. Setiap dia
datang…..saya sudah lebih duluan nongkrong.

Tapi, kali ini seperti “karena hujan satu jam maka basahlah
semua lahan yang telah kering oleh kemarau setahun”, atau
juga “karena nila setitik rusak susu se-belanga”. …entahlah.

Yang jelas, kredidibilitas saya sebagai pekerja yang selalu
lebih pagi datang….telah hancur berantakan. Hanya karena
saya tadi malam lupa mijit-mijit handphone.

Dulu….ketika saya untuk beli sebatang Ji-Sam-Soe harus
nabung dua hari…. maka mau tidur atau mau bangun kapanpun
selalu sesuai dengan keinginan tanpa harus perlu bantuan.
Tanpa perlu dering beker, tidak perlu juga kokok ayam.
juga tanpa perlu gedoran tangan Abah di pintu kamar.
Saya bisa bangun tidur bisa tepat sa-menit-menitnya.

Sekarang, saat segala kebutuhan bisa saya miliki…
segala peralatan untuk mempermudah hidup bisa saya punya
pun mungkin seisi toko grosir rokok di jalan Cibadak
bisa saya beli….
Tapi bangun tidur tidak lagi dibawah kendali.

Handphone saya sekalipun hanya bisa SMS dan sekali-sekali
dipake nelepon…dan ada beker-nya tentu saja….rupanya
telah menjadi belahan jiwa.
Sekaligus telah menjadi penjara untuk hidup saya.

Saya tidak bisa pergi keluar dari handphone, biarpun
kehadirannya hanya menggandul membebani kantong celana.
Dan saya ternyata juga mustahil BANGUN tanpa handphone.

Tapi, seperti ajaran yang selalu diamanatkan almarhum Emmak….
Saya masih beruntung… . karena saya tidak punya mobil…
sehingga kaki saya masih bisa bergerak membawa saya
kemanapun keinginan saya pergi….
kecuali mungkin ke Perancis karena harus menyebrangi laut.

Mungkin si Maiky betul….Handphone, Car, dan juga
Computer…. tak lebih dari stupid stuff.
All stuff yang bikin orang stupid….

Atau seperti syair lagu Hotel california nya Eagle….
We are all just prisoners here
Of our own device

Whippingham, 20071205

—– Just another ordinary people ——
—- http://djayawikarta .wordpress. com ——

Kopi…. dari Bapak

Kopi bubuk delapan bungkus…..setengah kilo-an
dijejal bersama kolor, baju dan mie instant
penuh sudah kopor hampir lewat batas timbangan

Bapak-ku semalaman berkeringat
sibuk sendirian semua barang bawaanku diikat
Lupa…. usia senja memerlukan banyak istirahat

tapi..

“Tidak….kakek biasa tidur nantiiiiii…belum ngantuk”,
Hanya itu jawaban Bapak saat aku mengingatkan….
bersamaan dengan penyiar TVRI pamit menutup siaran.

Tidak baik melarang orang tua yang asyik bekerja
maka aku biarkan Bapak hanya ditemani dinginnya malam
dan aku, kata bapak….harus tidur lebih sore-an

Terang matahari belum tampak
ketika Bapak menggelitik jempol kaki
lalu mengusap keningku seolah aku masih bayi

Bapak membawa dua cangkir kopi
dengan muka di segar-segarkan
dan bibir di senyum-senyum kan

“Mumpung masih panas….”,
Bapak menyodorkan cangkir yang masih mengepul.
Mata lelahnya tidak lepas menatap-ku

“Bapak tidak tidur…?”
Aku sekedar menghindari kilatan bening di matanya….

“Sudah siap…..?”
Bapak selalu saja menjawab tanya dengan tanya pula..

“Harus siap….”, aku menjawab seperti prajurit saja.

Sopir taxi bandara sedang sibuk menyusun bagasi….
saat Bapak berlari menghampiri kopor …..
Tiba-tiba saja tangan Bapak merogoh kantong celananya…
dan dua bungkus kopi kembali dijejalkan kedalam kopor

“Supaya nanti kamu tidak ngantuk-an kerja di negeri orang….”,
kali ini Bapak membekali aku doa…….dengan limpahan kopi.

Ah…..Bapak.

IoW, March 2001

Antara ABU DHABI dan JAKARTA

Setelah menunggu lima jam terkantuk-kantuk karena harus
transit di bandara Abu Dhabi, akhirnya saya bisa ikut
masuk barisan. Terselip sendirian diantara antrian
panjang kaum perempuan selalu saja menyenangkan.

Tidak seperti saat antri pergi dari Sukarno-Hatta, atau
queing di Gatwick yang sunyi dari suara percakapan.
Antri di Abu Dhabi betu-betul meriah. Semua perempuan
dalam barisan tidak pernah kehilangan percakapan. Akumulasi
suara ratusan percakapan bahasa Indonesia, Sunda dan Jawa
secara simultan hanya menghasilkan satu bunyi…dengung.

Sangat mengagumkan, perempuan-perempuan muda ini masih
bisa mendengarkan lawan bicara dan sekaligus menanggapinya.
Dan daya pilah frequensi suara mereka sangat luar biasa,
mereka bisa mengenali frekuensi suara bisikan teman bicara
diantara kebisingan yang memenuhi lorong antrian.

Walhasil, selama masa antrian dan boarding, saya tidak
bisa memetik satu-pun cerita. Padahal mereka kelihatannya
sangat ceria, bersemangat dan berbinar-binar bercerita.
Dan cerita-cerita minor tentang TKWI sepertinya mustahil
terjadi. Saya tidak melihat muka mereka ada yang sedih.

Abu Dhabi untuk mereka selalu identik dengan KOLEGA BARU
dan INFO PELUANG terbaru. TKWI segala penjuru rendevous disana.

Layaknya LAPANG GOLF untuk anggota DPR, Pejabat dan Pengusaha.
Yang berdiskusi merundingkan cara MENGOSONGKAN duit negara.

Sementara di Abu Dhabi, para perempuan itu “berseloroh”
untuk bisa lebih banyak dan langgeng NAMBAH devisa negara.

Saya seperti biasa memilih kursi aisle rada dibelakang,
supaya gampang kalau mau ke WC. Sejauh mata memandang
kedepan, kebelakang dan kesamping…..semua perempuan.
Dikursi tengah namanya Dedah, di kursi window…Ida.

Pesawat Boeing 777 yang hampir penuh oleh perempuan pun
merangkak ke angkasa dengan ringan dan hening….
Namun ke-hening-an hanya dirasakan a couple of minutes,
dan keriuhan celoteh pun kembali kumat seperti tadi.

Untung saja, akustik kabin pesawat tidak seburuk bandara.
Disini kita bisa menangkap semua percakapan dan obrolan.
Lalu-litas percakapan sekarang lebih sporadis dan riuh.
Lawan bicara bukan cuma orang yang duduk disamping, Ida
yang duduk di jendala kanan, dengan asyiknya ngobrol
dan ngegosipin majikannya dengan Ningsih di jendela kiri.

Juga Titin di kursi ekor yang nyender ke aft bulkhead
pesawat dengan leluasanya mendiskusikan suaminya yang
nganggur dengan Romlah di kusi tengah didaerah sayap.

lama sekali saya menunggu kesempatan untuk bisa mendapat
kesempatan bicara dengan Ida, yang tampaknya sudah senior
dalam pengetahuan “handling majikan” di arab…
Dan kesempatan itu akhirnya datang ketika waktu makan,
saat yang terdengar hanya deru mesin jet dan suara-suara
kecipak mulut mengunyah.

Ida, ternyata berusia “sudah tua dua-enam tahun”, katanya.
pengalaman “baru delapan lebih setengah” tambahnya pula.

“Dulu saya pernah di Kuwait, tapi jahat-jahat, terus saya
pindah ke Doha, sekarang saya di Riyadh….alhamdulillah
yang sekarang mah ….baik-baik”, mulut Ida senyum
menunjukkan sisa daging ayam tika masala di-gigi-nya….

“Lho…koq, Kuwait jahat-jahat bagaimana, kan yang jahat
mah agen-agen yang suka meres dan nilep upah ?, saya coba
diskusi dengan modal pengetahuan berita koran Indonesia.

“Kalau agen-nya jahat mah atuh gimana…?” Ida malah nanya
sambil matanya fokus kearah garpu stainless mengkilat.

Lalu ….sambil memasukkan garpu kedalam saku jaketnya….

“Iya betul jahat-jahat…kan biasanya mah paling dua atau
sampai enam bulan nggak dapat upah…teman saya malah
sampai pulang dua tahun nggak dapat juga upah-nya”, panjang
lebar Ida cerita tentang banyaknya “kejahatan”. Tapi
berita HOT yang saya tunggu-tunggu tidak juga keluar…
Berita hot tabloid, penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan.

Waktu saya pancing-pancing bahwa ada TKWI yang disiksa…
malah Ida melongo….malah

“O..ya…terus UPAH-nya dikasih ?”, Ida nanya tanpa berkedip.

Rupanya, untuk Ida dan teman-teman-nya dan mungkin juga saya…
Ada yang lebih penting dari SIKSAAN….atau kematian.

20061212
DjayaWikarta

Negeri tercinta…tempat aku MUDIK

Sekarang saya hampir tahu….
kenapa dulu waktu di Bandung,
teman-teman kerja saya yang bukan orang Bandung
selalu ribut setiapkali bulan puasa
Tentu saja bukan karena lapar puasa.

tapi sibuk dan ribut untuk persiapan mudik.

Bertahun bersama-sama mereka, saya heran dan selalu tertawa
bukan karena bahagia, tapi merasa lucu luar biasa
Menjelang lebaran tak ada yang lebih penting daripada mudik
seolah hanya untuk mudik mereka menjalani sisa hidup.

Sebagai orang yang tidak pernah mudik, saat itu tentu
saya penasaran. Selalu bertanya dengan kalimat yang sama
“untuk apa mudik ?”

Jawaban-pun selalu berulang, dan kelucuan-pun berulang

“Nggak kemana-mana, nggak ngapa-ngapain yaa ngobrol-ngobrol
paling tiduran seharian…yaaa namanya juga capek”,
jawab mereka setiap kali saya tanya sepulang dari mudik.

Dan saya sungguh terhibur tentu saja. Lucu luar biasa.

Sekarang….ternyata saya juga harus lebih keras tertawa.
karena saya merasa HARUS mudik.

Mempersiapkan mudik, bersiap untuk tidak ngapa-ngapain,
bersiap-siap untuk tiduran karena kecapean jalan jauh.
Lalu…kenapa harus mudik ?. kenapa ikut-ikutan lucu ?.

Dipikirpun, saya tidak menemukan jawaban apapun.
Tapi satu-satunya alasan saya mudik, mungkin….
karena disini saya cari penghidupan.
Sebagaimana dulu teman-teman saya diBandung,
karena di Bandung mereka cari penghidupan.

Saya orang Bandung saatnya kebagian butuh mudik
Dan sekarang saya tahu persis falsafah mudik….

“Melakukan perjalanan jauh yang melelahkan ketempat
yang nggak ngapa-ngapain….paling ngobrol dan tiduran..”.

Tapi, apakah negeri tempat saya lahir
tidak lebih dari tempat untuk MUDIK ?.

————————-
20070307iow,
DjayaWikarta

Maka Selalul-lah Berkokok

Puisi ini dari buku Marketing sangat cocok untuk kita-kita
yang selama ini selalu “suffer ourselves in silence”.
Dan mungkin malah pernah menderita dalam bekerja
hanya karena menjadi “jawa”.

——-selamat menyimak—

The Codfish lays ten thousands eggs,
The homely hen lays one,
The Codfish never cackles,
To tell you what she’s done

And so we scorn the Codfish,
While the humble hen we prize
Which only goes to show you
That it pays to advertise

‘anonymous’

No Pain …. No Gain

Kemarin betul-betl capek, letih dan lelah
jarum pendek jam baru menunjukan angka 3
jarum panjang angka 6….
masih 30 menit untuk pulang normal.
Tapi kepala sudah nyuut-nyuut…
mata pun mulai pedih
kursi dan pinggang rasanya panas

tanpa sadar jari tengah dan jempol memijat dahi…
mata coba dikedip kedip supaya sedikit berair
mencoba juga sedikit relaksasi
tapi malah jidat seolah mau menanduk layar LCD

Saat kesadaran hampir hilang….
tiba-tiba englishman dari seberang partisi bicara
“NO PAIN NO GAIN” katanya sambil tersenyum…

saya jawab saja dengan acungan jempol dan anggukan kepala.
lalu saya lanjutkan membuka deretan angka dalam spreadsheet

Kedua jarum jam sekarang lurus diangka 6 dan 12.
sambil tersenyum saya shut-down komputer
Pain saya 10 jam….gain saya juga 10 jam….impas.

Pulang kerumah…tidur….no-pain juga no-gain.

—————————————
Osborne 20060503

DjayaWikarta

Secangkir Coffee untuk Ken

Menjelang aku pulang lebaran dia masuk, tempat duduknya tepat
diseberang diagonal kotak partisi. Namanya Kenneth, sebulan
job-less setelah perusahaannya mengurangi jumlah karyawan.
Alasan PHK seperti sudah diduga, 11 September pembawa cilaka.

Tak ada yang ajaib dari orang Manchester ini, aksen englishnya
tidak sesulit orang-orang dari england utara lainnya.
Dan yang lebih memudahkan, dia selalu bicara dengan volume
diatas 50 desibell….seluruh ruangan yang berisi 60 an bisa
mendengar kalau dia sedang bisik-bisik.
Imbal balik….aku juga kalau ngomong harus teriak agar tidak
berulang-ulang dia mendekatkan kuping dan bilang say-again.

Sudah setengah bulan ini, tiap pagi dan sore aku terkantuk-kantuk
menemani Ken yang nyopir sepanjang jalan bebas-hambatan M5.
Setiap kantunk hilang, maka cerita apapun berkembang.
Dari soal sepak-bola, politik, ekonomi sampai French girl-friend nya.
“Nikah…belum terpikir…masih sibuk mikir job yang lebih bagus”
dia menjelaskan kenapa tidak juga beristri.
Alasan saya gentayangan di negerinya….akhirnya juga terbahas.

Sebagai ganti kenyamanan ngantuk sepanjang jalan, hampir setiap
hari aku sekalian ambilkan dua cangkir kopi untuk berdua.

“Saya senang jika kamu enjoy disini…”…suatu saat dia bergumam
bersamaan dengan tuas persenelling digeser ke gigi rendah.
“Thanks….”, satu-satunya jawaban yang mudah untuk pengganti diam.

Tadi siang setelah istirahat makan, orang-orang yang dinas luar
dikumpulkan untuk mendengarkan briefing dadakan….
Dari seberang, dalam ruang kerja perusahaan garapan,
Ken melambai lamaikan selembar foto copy-an…memanggil
“Come mate…bad news for us….”, bisikannya membuat orang-orang
terbangun dari kantuk sehabis makan siang.

“Read it….liburan kita tidak perlu nunggu musim panas…isn’t it ?”
“Ya….kopor ku malah belum sempat dibuka sejak pindah…”
“O..dear…..aku masih bisa balik ketempat kerja yang dulu…You ?”
“I’m thinking…..”, aku memang berpikir hanya pada saat-saat seperti ini.

“Anyway….aku lebih buruk…aku baru 6 bulan kerja..”, Ken menghibur.
tidak berhenti menghibur sampai masuk ruangan briefing.
Sekalipun diperlukan, segala kata-kata hiburan tentu saja tidak akan
merubah isi tulisan yang masih ku-baca berulang-ulang.

Briefing pun berlangsung dalam ruang tertutup, enam pendengar dan
seorang wakil dari kantor pusat yang memberi penjelasan.
Intinya, perusahaan berniat mengurangi setengah jumlah karyawan.
“Perusahaan kita dikalahkan dengan telak oleh saingan”, demikian
orang dari pusat memberi alasan off-the-record katanya.
Perusahaan berniat saving money….tidak boleh rugi.

Dua teman pekerja permanen dan tenaga kontrak sisanya….
berlomba memberi komentar…..management stupid….intinya.
“Tidak ada keburukan dari PHK…kecuali main dadakan…
tapi….PHK tidak pengaruh besar buat kita tenaga kontrak”, Ken
menggebu-gebu.
Dan briefing berakhir sesuai dengan tujuannya…hanya supaya tahu.

Matahari jam 4 sore terik dari arah selatan-barat. Ken kembali
dibelakang kemudi Renault Laguna gres dinas…..kembali komentar
soal PHK meluncur deras dari mulutnya….wacky…sacky dan lain-lain.
Aku hanya sekali-sekali saja menyalakan kompor….lalu.
“Kamu lihat di parkiran kita….Jaguar..TVR..Ferrari….dimana-mana
apa-nya yang rugi…!”, Ken menjadi-jadi dan ber-api-api.
Sekarang aku diam melayang tidak terasa lagi mobil melaju kencang.

Tiba-tiba….
“Kamu…..punya rencana ?”, Ken menoleh.
“Still….thinking….he…he…he”, aku benar-benar mencoba mikir…susah.
motorway M5 pantai barat terasa begitu luas tak terlihat ada batas.

“Aku mau balik kerja di London….emmm .I will get a job for you…mmm
aku…mmm kamu pasti dapat kerja…..aku pasti bisa mencarikannya….
aku masih punya koneksi….ya..ya you ‘ve got it “, Ken sekarang tersenyum.

“Thanks Ken…a good news…”, lalu perjalanan hanya diisi gemuruh ban.
diam….karena selama ini…bad news selalu sama baik dengan good news.

“Hey….are you happy….?”, Ken berteriak seperti biasa….

“What…!”, aku tak kalah berteriak karena terperanjat.

“I’m happy for a cup of coffee…..” lalu Ken bernyanyi dengan iringan
ketukan jari pada lingkaran kemudi.

“….I’m really happy….lebih happy dari mendengar good news….”, aku
bergumam senang…karena manusia ternyata ada juga dimana-mana.
padahal aku sedang serius berpikir untuk pulang saja….
kembali ke negeri yang mengenal pemecatan sebagai keanehan.

—————–
Bristol, 20020515
DjayaWikarta

JEMPOL Kaki

Hari ini aku melihat cakrawala.
Kemarin dia masih menjawab saat kutanya
“Dibelakangku masih ada sejuta langkah…”, selalu.
Tapi hari ini cakrawala diam saja.

Lalu aku meratap pada jempol kaki
jari terbesar yang selalu aku andalkan
“Masihkah kamu mau menuntun aku ?”
ternyata jempol kaki pun diam…
malah pelototan kukunya pun pudar menghitam.

Kupegangi jempol kaki erat-erat
kuguncang-guncang
kuciumi….bahkan kugigit
“Bawalah aku kemana saja…..”, pintaku.

Pelahan Jempol kaki menunjuk-kan kehidupan
mulai bisa merasakan sakit
siap menggendong rasa sakit seperti biasanya

“Belilah sepatu baru…lalu kita pergi lagi”, bisiknya.

“Lalu bagaimana dengan diam-nya cakrawala ?”, aku hawatir.

“Cakrawala hanya membatasi penglihatan matamu…
tapi aku tak pernah peduli dengan cakrawala…”,
aroma jempol kaki diujung hidungku serak bergetar.

“Tapi….aku sungguh lelah.”, aku malu jika harus bilang takut.

“Tidurlah, pejamkan saja mata dan melangkahlah…”,
sekarang jempol kaki tampak lebih hidup dan segar-bugar

Dia tersenyum mengulum nyeri, perih, bedarah dan bernanah.

———————————

20020719
DjayaWikarta

Kecelakaan Pesawat

 Data kecelakaan penerbangan di Indonesia menurut database ASN

sejak tanggal 17 agustus 1945 DC-3 RAAF di Tarakan sampai terakhir
21 Feb 2007 Boeing 737-300 Adam air di Surabaya.
Total tterjadi 188 kali kecelakaan. Diantaranya 86 kali fatal accident.
dengan menelan total korban meninggal 1936 jiwa.

Data kecelakaan penerbangan seluruh dunia per 19 February 2007
Summary:
Accidents  9549
Criminal Occurrences (excl. hijackings) 397
Hijackings  1026
Incidents  169
Other occurences 596
Unknown occurences 820
TOTAL 12557

Yang menarik adalah deskripsi kecelakaan….
ternyata hampir semuanya…atau malah semuanya terkait masalah
kekuatan struktur !!!!   Exceed load/temperatur limit atau fatigue.

Mulai dari akibat korslet listrik – kebakaran – kekuatan turun -
dan applied stress melampaui ultimate – pesawat separated – jatuh.

Pesawat terkena angin puting beliung – applied load hampir 7 G -
applied stress melamapui ultimate – pesawat separated – jatuh.

Elevator tiba-tiba ketekuk – macet – pesawat menukik tajam -
arah kecepatan pesawat aneh – terjadi load lebih dari 6 G -
dan seperti biasa…. AC separated dan jatuh…

Adam Air juga yang jatuh di Sulawesi ternyata soal struktur….
cuma saja, apakah ultimate load nya terjadi di udara atau
terjadi saat pesawat swiming di laut.

Kecelakaan akibat hijacking atau bom…Juga ternyata soal struktur
exceeded limit load …ultimate strength terlampaui.
Mungkin maksud dari uraian kronologis kecelakaan…
kalau struktur pesawat tetap utuh sekalipun jatuh bebas dari 10000 feet,
atau terkena rudal tomahawk….maka belum tentu terjadi “kecelakaan”.

Semua system boleh macet, semua avionic boleh ngadat, landing gear
boleh loyo hanya sekedar mampu jongkok. Boleh jatuh bergulingan,
tapi kalau Seluruh struktur pesawat tetap intact….ya SELAMAT.

Seolah-olah, penentu satu-satunya keselamatan pesawat cuma STRUKTUR.

Sebagai orang yang berpenghidupan dari struktur….saya sekarang
bisa optimis karena banyak kerjaan,
atau juga bisa jadi kecil hati atau bingung.
Salam,

Halaman Berikutnya »